
Bang Huda memastikan kedua bayinya dalam keadaan aman, Ayu juga sudah tertidur pulas. Ia melihat ada puluhan panggilan telepon dari ajudannya.. Madya. Ia pun segera kembali menghubungi Madya.
"Ada apa??"
"Ijin.. Danton dan Letda Arnold terlibat perkelahian dan sekarang Letda Arnold berada di unit kesehatan di samping cafe" lapor Om Madya.
"Astagaa.. ada apa sih mereka???" gerutu Bang Huda. "Baiklah, saya ke sana sekarang"
...
"Kenapa kalian ribut??" bentak Bang Huda di belakang unit kesehatan sambil melempar jaket agar Syarin menutupi tubuhnya.
"Siap salah Abang..!!" jawab Bang Arial dan Bang Arnold bersamaan.
"Saya minta jawaban pasti..!!"
"Siap.. masalah pribadi saja..!!" jawab Bang Arial lebih tegas.
Bang Arnold hanya bisa memercing merasakan sobek di bibirnya karena hantaman Bang Arial seniornya.
"Masalah pribadi apa yang buat kamu kalap menghajar juniormu??" Bang Huda tak habis pikir dengan kelakuan Bang Arial beberapa hari ini.
"Saya hanya ingin melindungi kehormatan seorang wanita, yang menurut saya berharga" jawab tegas Bang Arial tanpa takut, seketika Bang Arnold terpancing emosi dan bersiap menghajar seniornya tersebut tapi Bang Arial menahan tangan Bang Arnold.
"Saya mungkin tidak seberani kamu, yang pandai mengambil keputusan. Yang saya punya hanya sekuat-kuatnya do'a, mungkin do'a yang salah dari keteguhanmu dan usahamu selama ini. Saya tidak masalah jika dia bahagia tapi kamu menyakitinya." ucap Bang Arial menegaskan pada Bang Arnold.
Langkah kaki Bang Arial menghampiri Syarin. Ia melepas jaketnya kemudian menyampirkan di kedua bahu Syarin. Bang Arial membuka tas kecilnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Tak di sangka ia mengambil sebuah pashmina kemudian menutup rambut indah Syarin. "Abang tau kamu gadis yang baik, jangan sampai kamu melakukan kesalahan yang sama.. di dalam tubuhmu akan ada kehidupan baru yang akan mengubah dirimu menjadi seorang ibu. Ajarkan hal yang baik. Mahkota boleh rontok, gelas boleh retak tapi tidak untuk putik dan keindahannya."
Syarin begitu terpukul mendengarnya hingga tangisnya pecah.
Bang Arial kembali menghadap Bang Huda. Ia memberikan penghormatan untuk seniornya itu. "Ijin.. saya pamit mendahului..!!"
Bang Huda terdiam masih meraba makna dari setiap ucapan Bang Arial.
...
Syarin memeluk Ayu dengan erat. Ayu pun bingung bahkan sejak pulang tadi Bang Huda tak hentinya membawa aura panas.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ada masalah di antara kamu, Bang Arnold dan Bang Arial?" tanya Ayu.
Syarin hanya menggeleng dengan tangisnya.
"Apa maksudnya mahkota rontok dan gelas retak? Awas saja kalau kamu sampai macam-macam, Abang hajar kamu sampai remuk.. Abang nggak peduli kamu perempuan..!!" ancam Bang Huda.
***
Pagi ini Syarin demam tinggi, ia pun tak ikut mengantar keberangkatan Bang Arnold untuk penugasan. Bang Arnold pun pasrah menerima kekacauan yang terjadi semalam sebelum hari keberangkatan ia hanya menitipkan pesan untuk Syarin melalui Om Edwin dan Syarin pun membacanya.
Seusai keributan semalam, Abang sudah berniat membulatkan tekad untuk memiliki keyakinan yang sesuai denganmu, bukan untukmu semata.. tapi juga untuk diri ini. Abang tau ada kesalahan fatal yang mungkin tidak termaafkan, tapi Abang janji.. Abang akan kembali padamu.
Sayang.. maafkan Abang sudah menitipkan beban seberat ini sama kamu. Jaga dirimu baik-baik. Kamu mungkin memang bukan cinta pertamaku, tapi Abang pastikan kamu cinta terakhirku.
Syarin memeluk surat itu, air matanya berlinang. "Ada rasa dalam hati Syarin Bang, tapi Abang sudah membuat Syarin kecewa"
\=\=\=
Sudah kurang lebih sebulan lamanya Syarin lebih banyak berdiam diri di dalam rumah. Ia memilih membantu Mbak Ayu mengasuh Galar dan Ghania. Kini usia keponakan kembarnya sudah berusia dua bulan.
"Hhkkk.." cuaca hujan dan ekstrim beberapa hari ini membuat Syarin tidak enak badan.
"Kamu kenapa??" tanya Papa Juan melihat putrinya mual. Papa Juan datang bersama Mama Sasti karena Mbak Syahila akan melahirkan dan sekarang sudah berada di rumah sakit.
bruugghh..
"Astagfirullah.. ibu..!!!" Om Madya segera mengangkat Ayu yang pingsan di depan pintu mobil.
Papa Juan segera berjalan cepat menuju depan rumah. "Ya Allah, kamu kenapa ndhuk??" Papa Juan panik melihat kening Ayu sampai berdarah.
"Ayo cepat bawa masuk..!!" pinta Papa Juan pada Om Madya. "Danki mu dimana? Apa belum sampai disini??" tanya Papa Juan.
"Ijin Dan, baru saja sampai homebase" jawab Om Madya.
"Biar saya telepon saja..!!"
:
Ayu merintih memegangi perutnya.
"Makanya kamu jangan telat makan. Masa dua hari Abang tinggal dinas sudah sakit begini??" ledek Bang Huda sambil menempelkan plester di kening Ayu.
Tak lama ponsel Bang Huda berbunyi. Matanya membulat besar membaca berita tersebut. "Astagfirullah hal adzim.. innalilahi wa Inna ilaihi raji'un"
"Ada apa Bang?" tanya Ayu masih lemas.
"Arnold gugur dalam tugas dek..!!" jawab Bang Huda.
"Ya Allah Bang, benarkah itu??"
"Iya, Abang ke kantor sebentar ya dek. Jenazah dan perawatannya mau langsung disini. Posisi jenazah sedang dalam perjalanan kesini" kata Bang Huda sembari menyambar kopel. "Pulihkan dulu kesehatanmu ya..!!" Bang Huda mengecup kening Ayu.
Baru akan berangkat, Bang Huda melihat Syarin bersandar di sisi kamarnya. "Bang, benarkah Bang Arnold gugur??" tanya Syarin memegangi lengan Bang Huda. Tangannya dingin sedingin es.
"Iya.. Nanti saja kita bicara ya, Abang sibuk sekali" jawab Bang Huda kemudian berlalu pergi.
...
"Syarin harus tunggu Bang Arnold..!!!!" Syarin sungguh histeris mendesak kabar tentang Bang Arnold dari Bang Arial.
"Sudah berapa bulan?" tanya Bang Arial sambil memegang perut Syarin.
Karena Syarin terus menangis, Bang Arial mempertegas suaranya. "Lihat mata Abang.. sudah berapa bulan???"
"Lima minggu"
Mata Bang Arial terpejam sejenak, kemudian memeluk Syarin. "Jangan nangis..!! Tahan tangismu..!!"
"Syarin harus bagaimana Bang??" ucapnya penuh kekalutan.
"Nanti Abang yang selesaikan. Jangan banyak pikiran..!!" pinta Bang Arial.
...
Malam hari Bang Huda buang air kecil di kamar mandi rumahnya. Tak sengaja matanya melihat testpack di tempat sabun. Ia pun mengambilnya. "Duuuhh.. mati aku"
~
"Kamu mual dek?" tanya Bang Huda.
Ayu mengangguk.
"Tadi siang kamu minta mangga muda sama Abang, buat apa?"
"Mau buat manisan Bang, pengen yang segar-segar aja." Jawab Ayu malas menanggapi Bang Huda.
"Hmm.. dek, sebenarnya selama ini Abang sudah berusaha hati-hati. Tapi kalau memang Abang langsung di kasih rejeki lagi sama Allah ya nggak apa-apa. Alhamdulillah" Bang Huda meletakan sebuah testpack di pangkuan Ayu dengan senyum penuh arti.
Ayu melihat dan mengambil benda kecil bergaris dua di pangkuannya. "Apa ini Bang?????" tanya Ayu kaget melihatnya.
"Test kehamilan khan?" jawab Bang Huda.
"Apa Abang mau bilang kalau Abang selingkuh dan selingkuhan Abang hamil???????" bentak Ayu penuh emosi. Ayu menangis sejadi jadinya membuat Bang Huda bingung setengah mati.
"Kamu ngomong apa sih??"
"Abang bisa bilang dengan Siska nggak ada hubungan, tapi dia selalu ajak Abang keluar..!!"
"Tapi Abang nggak pernah tanggapi dan nggak pernah pergi berdua sama Siska" jawab Bang Huda.
"Bohong..!!!!!"
"Abang nggak bohong dek. Kamu jangan ngerjain Abang lagi ya..!!" nada Bang Huda mendadak meninggi.
"Kalau bukan punya Siska janda genit itu lalu punya siapa?????????" pekik Ayu. "Aaaaaaahh" tiba-tiba Ayu memegangi perutnya.
"Kenapa dek??"
"Perut Ayu kram Bang. Ya Allah sakiiit Bang..!!" Ayu merosot sampai pingsan menimpa Bang Huda.
"Astagfirullah.. Ono opo to iki..!!" Bang Huda merebahkan Ayu di atas ranjang.
...
Papa Juan dan Mama Sasti ikut menenangkan Ayu yang histeris di pelukan Mama Sasti.
"Ya ampun Pa, sungguh..!! Aku nggak main gila. Aku nggak tau darimana datangnya testpack itu" jawab Bang Huda tegas.
"Dimana Syarin??" tanya Papa Juan kemudian mencari putrinya.
Bang Huda baru tersadar ada Syarin yang selama ini tinggal bersamanya.
"Apa Syarin??" mata Bang Huda kesal menajam.
...
"Kalian berdua pakai testpack itu..!!" bentak Papa Juan setelah Syarin datang dengan di antar oleh Bang Arial.
~
"Positif???? Dua-duanya positif???????????" suara Papa Juan menggelegar satu ruangan.
Bang Huda melirik testpack tersebut. "Astagfirullah.. kamu hamil beneran dek?" tanya Bang Huda.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu Huda?? berani-beraninya kau buat istrimu hamil lagi..!!!!!!!!!!! Otakmu hanya s**********n saja..!!!!!" bentak Papa Juan tak bisa menahan emosinya sampai menarik kerah seragam Bang Huda lalu menghempaskannya begitu saja. Ingin meluapkan amarah tapi Huda adalah suami Ayu.
Pikiran Bang Huda terpecah ia mencemaskan Ayu tapi juga kesal melihat Syarin yang membuat perkara sebesar ini. Hatinya hancur berkeping. "Kamu Syarin.. kamu benar-benar mencoreng nama Papa. Siapa bapaknyaaaaaaa??????????"
"Saya..!!" ucap Bang Arial tegas dan tanpa takut.
.
.
.
.