Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
45. Godaan terberat.


Sore ini Ayu dan Bang Huda berjalan-jalan di pantai. Puluhan foto sudah Bang Huda abadikan untuk istri tercinta.


"Cantik sekali kamu dek. Surga dunia akhirat Abang" gumamnya begitu mengagumi kecantikan sang istri.


Sedang asyiknya menikmati cantiknya paras istri tercinta, ada keributan di belakang Bang Huda dan ternyata itu adalah suara Bang Leo dan Geya.


"Nggak ada maaf, beraninya Abang kasih uang untuk perempuan itu..!!"


"Maaf dek, sebagai hiburan aja kok. Nggak ada niat macam-macam"


"Bohong..!!!!"


"Sumpah sayangkuu"


"Astagfirullah.. kena kutuk apa hidupku di setiap tempat bertemu kamu lagi Le" tegur Bang Huda malas. "Kalian ribut apa??"


"Bang Huda nih Bang, kasih uang untuk perempuan lain" jawab Geya.


"Cuma dua ribu saja Geya marahnya nggak kira-kira" kata Bang Leo.


"Eehh Bang, ada kapasitas apa dia dalam hidup Abang sampai Abang harus kasih dia uang?? Jangankan dua ribu, seratus perak saja Geya nggak ikhlas Abang kasih uang ke janda genit itu. Ambil nggak uangnya sekarang..!!" Geya sangat marah sampai Ayu ikut mendatangi mereka bertiga.


"Leo.. kusarankan dengan penuh rasa hormat, lebih baik kau ambil saja uang duka itu daripada prahara satu lagi datang membentuk dukungan" Bang Huda bermanis muka tersenyum memeluk Ayu lalu mengecup keningnya agar jiwa solidaritas Ayu untuk Geya berkurang.


Bang Leo segera menuju tempat parkir dimana ada seorang penyanyi wanita jalanan yang membawa alat musik seadanya untuk mencari uang.


"Kasihan sekali, niat kasih janda muda malah kena semprot Geya.


~


"Bagaimana?" bisik Bang Huda.


"Aman.. uangnya kutukar dengan dua ribu yang lain" jawab Bang Leo.


"Hahahaha.. kau ini benar-benar sampah. Setan kau" ledek Bang Huda.


"Daripada aku celaka" Bang Leo pun berbisik pasrah.


Tak lama Ayu dan Geya kembali dari memesan banyak makanan hingga meja mereka nyaris full.


Bang Huda dan Bang Leo saling pandang. Pasti di akhir cerita, saat mereka berempat sudah kenyang dan bumil tak sanggup lagi melahap makanan itu pasti Bang Leo akan menjadi pahlawan penyelamat untuk menghabiskan makanan tersebut.


"Kurang nggak sih Gey?" tanya Ayu.


"Kurang ya, aku juga mikir begitu sih. Kita tambah yuk..!!"


"Jangaaaann..!!! Beli secukupnya dulu. Kalau memang kurang baru tambah lagi. Mubadzir lho dek..!!" kata Bang Huda mengingatkan.


Ayu dan Geya duduk dengan wajah cemberut kemudian mereka menggigit burger dengan wajah di tekuk.


"Makan nggak boleh sambil marah. Nggak sopan sama makanan..!!" Bang Leo ikut mengambil suara.


"Lha iya, heran aku.. itu lambung apa karung sampai beli banyak sekali" ketakukan Bang Huda jika makanan tersebut tidak habis malah membuat Ayu dan Geya kehilangan selera makan.


Ayu dan Geya bersamaan meletakan makanannya. Keduanya semakin murung.


"Pergi aja yuk Gey, kita nggak boleh makan..!!"


Bang Huda dan Bang Leo kelabakan melihat wajah sedih istri mereka.


"Kamu sih, mereka belum makan sudah main larang saja.. jadi ngambek khan????" kata Bang Leo.


"Bukannya kamu juga ikut bicara? kenapa jadi hanya aku yang salah?????" jawab Bang Huda.


"Aaaaahh kamu ini, bagian celaka saja aku yang tanggung..!!!"


Hutan mulai gelap, Ayu dan Geya berhenti melangkah melihat keadaan sekitar. Tiba-tiba ada yang memeluk Ayu dari belakang.


"Jangan masuk area ini. Bahaya.. ada pejantan yang suka nyambar perempuan..!!" kata Bang Huda.


Tubuh Ayu gemetar. Tak lama menyusul Bang Leo membawa dua kantong besar berisi makanan lalu menyerahkan satu kantong pada Bang Huda.


"Iya Gey, kera jantan yang suka ngincar perempuan" liriknya menyindir Bang Huda dengan santainya. "Ayo cantik pulang sama Abang...!!" bujuk Bang Leo semanis mungkin sekilas mengecup kening Geya.


Bang Huda kemudian menggandeng tangan Ayu, membawa Ayu berjalan berlawanan arah menjauh dari Bang Leo dan Geya.


"Jangan lewat sini Bang, nanti ada kera jantan..!!" Ayu menarik tangan Bang Huda saat suaminya itu menggandengnya jauh ke tengah hutan apalagi ada papan peringatan 'Dilarang melewati sisi garis merah..!!'.


Melihat Ayu takut, jiwa usil Bang Huda tergerak. Bang Huda menarik pinggang Ayu merapat padanya. "Kamu dengar suara itu. Itu suara angin untuk cari perempuan yang suka nggak nurut, cari perkara sama suaminya"


Sebenarnya Ayu bukanlah wanita yang bodoh, tapi raut wajah Bang Huda begitu nampak meyakinkan membuat Ayu terperdaya. Refleks Ayu mengeratkan pelukannya. "Ayo kembali ke hotel saja Bang, Ayu takut di sambar penunggu disini" ajak Ayu berjinjit-jinjit ngeri.


Wajah Ayu terlihat begitu menggodanya, batinnya terusik di saat yang tidak tepat apalagi gerak tubuh Ayu tak sekali dua kali membuat tubuh mereka saling bergesekan. "Nurut Abang..!! Matahari sudah mau terbenam, kalau nggak nurut nanti ada l**k. Kamu mau di sambar????"


Disaat Ayu menggeleng cemas, Bang Huda menarik tengkuk Ayu. Ia mulai tergoda dan tidak tahan melihat paras Ayu yang cantik. Antena sinyalnya mendadak menangkap aliran gelombang tenaga tinggi. Direngkuhnya tubuh Ayu, Bang Huda mendekatkan wajahnya.


Semilir angin sore menambah dalamnya naluri dan perasaan Bang Huda. Denyut jantungnya berdebar dan berdesir kencang. Sadar tempat mereka tidak baik untuk menguraikan rasa sayang dan rindunya, Bang Huda pun menyudahi. Sekilas ada raut wajah malu-malu dari sang istri.


Bang Huda menggigit kecil bibirnya menyerap sisa rasa manis yang tertinggal kemudian tangannya mengusap bibir Ayu. "Balik ke hotel yuk..!!" ajak Bang Huda.


...


Baru saja pintu terkunci rapat, Bang Huda sudah mengunci Ayu di sudut ruangan. Nafasnya tersengal dan memburu mengejar bibir Ayu lagi, ia begitu menginginkan Ayu. Bang Huda pun kembali menyambar bibir Ayu dan membawanya hingga ke ranjang.


Dengan tergesa-gesa Bang Huda membuka pakaiannya juga pakaian Ayu sampai akhirnya ia menyadari pesan dokter kemarin. Ia pun mundur, ada rasa tak bisa ia utarakan.. pikiran dan hatinya berperang berantakan.


"Kenapa Bang?" tanya Ayu melihat Bang Huda yang seakan tidak menginginkan dirinya. Apalagi Bang Huda menutup tubuh Ayu dan Bang Huda kembali mengenakan celana pendeknya kemudian mengikatnya kuat.


"Kasihan duo rusuh kalau si ajak Papanya keramas terus." kata Bang Huda.


"Tapi Ayu nggak apa-apa"


Bang Huda mengecup kening Ayu. "Kamu mungkin nggak apa-apa, kasihan yang di dalam. Kalau soal lain Abang masih berani ambil keputusan tapi kalau soal yang ini, Abang nggak mau ambil resiko dek." jawab Bang Huda.


Ayu mengangguk mengerti maksud Bang Huda, Ayu menarik tangan Bang Huda agar ikut duduk bersila di ranjang bersamanya, kemudian Ayu beralih duduk di pangkuan Bang Huda dan memeluk suami tampannya itu. "Ya sudah begini saja, yang penting kangennya berkurang"


Tak tau apa yang terjadi, bukannya menolak.. Bang Huda malah ikut terhanyut mengikuti tingkah nakal Ayu. Akalnya terasa mati, hatinya tak sanggup menolak 'pemberian' sang istri yang sudah mengobrak abrik hasratnya.


"Bang, senggol dikit boleh nggak?" bisik Ayu pelan, agaknya Ayu merasakan senjata makan tuan karena ulahnya sendiri. Apalagi sentuhan demi sentuhan dari Bang Huda membuatnya rindu.


"Aduuhh kamu ini dek.." Bang Huda pusing tujuh keliling tapi tangannya aktif membuat tubuh Ayu steril dari penghalang.


"Abaaaanngg.." suara lembut Ayu membuatnya semakin tidak tahan.


"Halaah tubruk lampu merah saja lah, kena tilang urusan belakang..!!" Bang Huda membanting punggung Ayu di ranjang kemudian membuka p**a istrinya dengan lebar dan sedikit menindih tubuh Ayu


"Abang nggak takut??" tanya Ayu sudah merasakan senjata perang yang siap bertempur menyerempet ladang sejengkal miliknya.


"Tanggung lah, kamu sudah cabut sumbu granat.. kalau nggak di ledakan, Abang mumet sendiri urusnya dek..!!" ucap jujur Bang Huda kembali melonggarkan tali k***r di celana pendeknya.


.


.


.


.