Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
69. Perjuangan.


Nara mengucapkan banyak terima kasih karena belakangan ini sudah banyak sekali komentar positif yang membangun dan tidak untuk meruntuhkan nilai karya. Sehat selalu untuk pembaca cerita Nara dan tetap semangat 😘😘😘😘.


🌹🌹🌹


"Tadi ada apa Bang?" tanya Ayu.


"Hanya masalah anak-anak saja. Mereka harus tetap di inkubator sampai beberapa hari lagi. Maklum lah dek, lahir kurang bulan" jawab Bang Huda.


Tapi dari raut wajah Bang Huda, ia tak percaya begitu saja perkataan suaminya.


"Benarkah hanya itu saja?" tanya Ayu lagi.


"Iya, nggak ada yang lain" jawab Bang Huda mengurai senyumnya.


...


Bang Huda merokok sendirian jauh dari kebisingan hilir mudik rumah sakit. Disana Papa Juan menghampiri putranya seakan tau kemana langkah sang putra akan berjalan.


"Semua pasti ada jalan keluarnya. Tenangkan dulu pikiranmu, tata hatimu. Seorang ayah pastinya juga punya feeling yang kuat untuk anak-anaknya" kata Papa Juan kemudian juga ikut merokok di samping Bang Huda.


"Iya Pa, dadaku sesak memikirkan Ghania. Dia masih terlalu kecil untuk merasakan sakit seperti ini. Aku merasa tidak berguna sebagai ayah" jawab Bang Huda.


"Jangan bilang begitu, selama kita masih ada nafas.. setiap hembusannya adalah perjuangan dan pengorbanan kita sebagai laki-laki, untuk anak dan istri. Kamu jangan lemah, Ayu dan kedua anakmu sangat membutuhkan kamu."


"Iya Pa"


***


Baby Galar jauh lebih sehat di bandingkan dengan adiknya.


"Heehh jagoan.. Abang yang baik harus do'akan adik biar cepat sehat. Kalian mau khan main sama-sama?" Bang Huda menyentuh pipi Galar.


"Huda, gendong Ghania mode kangguru ya, peluk dia skin to skin, biar dia hangat.


"Papa peluk adik dulu ya, kamu jangan iri..!! Jatahmu berantem sama Papa nggak manja-manja seperti mama sama adik" kata Bang Huda kemudian mengusap pipi baby Galar lagi.


~


Air mata Bang Huda menetes merasakan detak jantung sang putri juga nafas kecil begitu terasa. Banyaknya selang penopang kehidupan membuat batinnya sakit sendiri. Kini yang ia rasakan adalah patah hati melihat gadis kecilnya saat ia mulai jatuh cinta lagi.


"Cepat sehat sayang, Papa mau main sama dedek. please cantik..!!" di peluknya malaikat kecil itu. Saat air mata Bang Huda mengalir semakin deras, ada cekukan kecil dari sang putri.


"Dokter, ini Ghania kenapa dok???" tanya Bang Huda cemas.


Dokter segera menghampiri dan memeriksa kondisi Ghania.


"Ghania berproses untuk belajar menangis Pak, Alhamdulillah Ghania pintar berjuang untuk hidup." jawab dokter menjelaskan.


"Alhamdulillah ya Allah.. pintar sayang..!! Ayo jangan nyerah demi satu set makeup dari Papa..!!"


...


"ASInya terlalu sedikit Bang" Ayu sangat sedih melihat Aksinya sulit keluar.


"Kamu jangan stress, jangan banyak pikiran. Anakmu baik-baik saja, semuanya sehat" kata Bang Huda membesarkan hati Ayu. "Makan yang banyak, terutama sayur-sayuran. Kamu mau lihat anakmu sehat khan?"


"Iya Bang, Ayu pengen lihat Galar dan Ghania sehat"


"Bagus.. itu baru istri Abang"


\=\=\=


Sepuluh hari berlalu, Ayu sudah sangat sehat pasca kelahiran normal. Ia memilih mengalah dan tidur di rumah sakit selama kurang lebih satu minggu lamanya karena baby Ghania harus menginap beberapa lebih lama dari Abangnya. Yang Ayu tau, berat lahir Ghania lebih kecil dari Abangnya hingga proses pemulihannya jauh lebih lama.


"Akhirnya kita pulang juga ya Bang" Ayu mengembangkan senyumnya. Ia memang sedang bahagia menikmati rasanya menjadi ibu baru.


"Iya, Alhamdulillah. Tapi di rumah nanti, anak-anak harus tetap tidur di inkubator karena berat badan mereka belum stabil. Setiap harinya akan ada visit dokter untuk memantau keadaan Galar dan Ghania" kata Bang Huda.


"Berarti kita harus siap inkubator ya Bang?"


"Sudah Abang siapkan di rumah"


...


Perwakilan pengurus cabang dari kompi datang menjenguk baby kembar Danki.


"Waahh.. mirip sekali dengan bapak ya Bu, apalagi Bang Galar. Wajahnya nggak mau senyum, beda sama si demplon, masih mau senyum" kata Bu Zafir.


"Laah ya itu Bu, Abang serakah sekali. Semua di ambil sendiri. Bang Galar sudah tertular wabah sangar Papanya, kalau demplon masih malu-malu" jawab Ayu menimpali ibu-ibu anggota meskipun wajahnya terlihat sedih karena bayinya terlahir sangat kecil.


"Jangan cemas Bu. Lahir prematur juga nantinya juga bisa tumbuh normal seperti anak saya dulu." Bu Dahlan seakan mengerti perasaan Ayu.


Hati Ayu sedikit lega mendengarnya, ia seperti mendapat angin segar dan semangat baru untuk merawat buah hatinya.


***


Ayu semangat memompa ASI di tengah malam demi buah hatinya dan disana Bang Huda tetap setia menemani sang istri.


"Setelah pompa ASI kamu cepat istirahat dek. Karena siang Abang nggak selalu ada di rumah. Pergunakan tenaga mu sebaik mungkin karena anak kita ada dua" kata Bang Huda mengingatkan. "Nanti Abang usahakan cari pengasuh untuk anak-anak biar bisa bantu kamu di rumah"


"Jangan dulu lah Bang, Ayu nganggur dan masih sanggup jaga anak-anak" jawab Ayu.


"Abang tau, tapi kalau nanti ada acara-acara yang tidak bisa di tinggal.. Abang juga sedang sibuk, anak-anak mau sama siapa?" Bang Huda sudah memikirkan hal itu dari beberapa hari yang lalu. "Abang minta tolong Mama mu, biar hatimu tenang. Nggak ada ceritanya di rumah kita muncul pengasuh seksi. Yang paling seksi ya Mama Ayu, buat ngasuh Papanya si kembar"


Ayu pun tersenyum mendengar ucap Bang Huda. "Terima kasih Abang, Abang memang paling TOP" Ayu mengacungkan dua jempolnya.


Bang Huda ikut tersenyum melihat wajah ceria Ayu. "Ya sudah cepat istirahat..!!"


...


Waktu subuh tiba.


Bang Huda terbangun dan kembali menidurkan baby Ghania yang lebih rewel dari baby Galar. Sebenarnya bukan karena tidak sayang dengan putranya, tapi karena Galar jauh lebih tenang.. maka baby Ghania yang lebih sering mendapat gendongan kangguru dari sang Papa.


"Maaf ya le, kita jarang main sama-sama. Ngalah sebentar sama perempuan ya. Nanti ada saatnya kita me time berdua. Rahasia antar pria" ucap Bang Huda pada baby Galar. "Pintar ya anak Papa".


...


"Ijin, ada surat perintah untuk penugasan ke perbatasan. Ijin arahan.. saya atau Arnold yang berangkat?" tanya Lettu Arial.


"Seharusnya Arnold yang berangkat, karena kamu stay bersama saya untuk jadi Dantim sniper pengawalan Panglima" jawab Bang Huda.


"Siap.. Letda Arnold yang berangkat..!!"


:


Bang Arnold melihat surat perintah tugasnya. Ia datang menemui Bang Huda di ruangan.


"Benarkah saya yang akan berangkat?" tanya Bang Arnold.


"Iya, karena Arial harus standby Dantim" jawab Bang Huda.


"Ijin Abang, sekembalinya dari penugasan. Bolehkah saya melamar Syarin?"


"Saya mengijinkan siapapun yang berniat baik pada keluarga saya termasuk adik saya, tapi.. saya harap kamu pikirkan kembali baik dan buruknya. Masalahmu itu tidak bisa selesai hanya dengan membalikkan telapak tangan" kata Bang Huda.


"Baiklah Bang, sebelum berangkat.. saya akan buktikan pada Syarin. Saya mampu menjadi imam yang baik untuk dia."


"Kamu yakin?" Bang Huda memastikan.


"Insya Allah"


Kata itu terdengar sangat fasih di telinga Bang Huda.


.


.


.


.