Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
68. Pasca kelahiran.


Tengah malam Ayu menggigil kedinginan. Mama Sasti ikut sibuk merawat menantunya itu.


"Ya Allah, badanmu sampai demam begini." Mama Sasti memakaikan kaos kaki untuk Ayu.


"Abang kompres saja ya dek..!!" kata Bang Huda.


"Nggak mau Bang, sakit sekali" rintih Ayu.


"Kalau begitu minum obatnya dulu ya..!!"


Ayu mengangguk.


~


Ayu malah muntah hebat usai menelan obat. Akhirnya dokter Alamsyah terpaksa memberi cairan infus untuk Ayu.


"Ini demam pasca persalinan. Perawatannya juga harus khusus. Ada trauma pasca persalinan, juga mental Ayu sedikit kaget.. makanya sampai demam." kata dokter Alamsyah.


"Apa ini bahaya?"


"Semoga saja hanya sampai disini. Asal dukungan keluarga dan perhatian yang cukup, pasti semuanya akan baik-baik saja" jawab dokter Alamsyah.


***


"Mana sambal gorengnya Bang?" tanya Ayu menagih di jam 00.25 WITA.


Bang Huda melotot mendengarnya, pasalnya ia mengira Ayu sudah lupa tapi ternyata istrinya itu menagih janji di tengah malam padahal Ayu sudah makan bubur dan porsi itu juga tidak besar.


"Abang kira kamu sudah lupa dek"


Wajah Ayu seketika mendung.


"Abang lupa? padahal Ayu sudah lapar" kata Ayu.


Tanpa banyak cakap lagi, Bang Huda mengambil ponsel dari sakunya. "Madya.. tolong belikan saya nasi sama sambal goreng kentang..!!"


...


Bang Farid datang ke rumah sakit saat keadaan sudah menjelang dini hari. Beliau datang membawakan nasi sambal goreng kentang karena kebetulan Kak Cherry sedang memasak sambal goreng kentang.


"Kenapa bisa sampai begini? Kamu benar-benar Abang mutasikan kalau sampai terlibat perselingkuhan..!!" ucap tegas Bang Farid.


"Please Bang, kalau kabar sepotong ini datangnya dari Leo, tolong jangan di dengar karena dia juga dengar kabar hanya sepotong saja." kata Bang Huda.


Papa Juan akhirnya turun tangan dan menepuk pundak Bang Farid. "Saya bukannya mau bela anak, tapi Huda memang sedang bercanda, bercanda di luar kontrol dan tidak berpikir panjang sampai akhirnya masalah ini terjadi."


Bang Farid menepuk dahinya. "Bagaimana bisa ide bodoh itu muncul dari salah seorang prajurit yang di segani di dunia kemiliteran karena jejak karirnya."


"Saya khilaf Bang"


"Untung saja Ayu dan kedua bayimu baik-baik saja meskipun kita semua harus bekerja keras demi kehidupan mereka" kata Bang Farid. "Sekarang bangunkan Ayu, jangan sampai nasinya dingin. Nggak masalah kalau Ayu nggak mau makan, yang penting kita sudah bawakan apa yang dia minta. Usai melahirkan pasti rasanya sangat lelah dan lapar sekali"


:


"Oya, kok Ayu nggak tau kalau Bang Farid datang"


"Kamu tidur pulas, Bang Farid juga nggak lama. Anak keduanya Bang Farid suka bangun tengah malam kalau nggak di temani" jawab Bang Huda.


"Oohh begitu"


"Iya, mungkin nanti siang atau sore mereka kesini lagi. Mereka nggak nyangka kamu melahirkan secepat ini" Bang Huda mengusap pipi Ayu yang masih menggembung karena mengunyah makanannya.


"Sudah Bang, Ayu kenyang" Ayu memundurkan sendok di hadapannya.


"Makan yang banyak biar ASI nya cepat lancar dek. Sekarang kamu harus ekstra asupan gizi. Ini saja masih sangat kurang, hanya ada double carbo." kata Bang Huda. "Apa perlu Abang tambah susu formula ya? Abang takut kamu nggak kuat, kelihatannya jagoan Abang gampang lapar nantinya."


"Sama seperti papanya" gumam lirih Ayu.


"Apa kamu bilang? Abang sudah lama tahan lapar. Sejak kejadian beberapa bulan yang lalu mana ada Abang ganggu kamu lagi. Semua demi anak, demi kamu" ujar Bang Huda akhirnya kesal.


"Iyaa.. Abang hebat sekali, terima kasih banyak ya Bang atas pengertiannya." senyum Ayu sangat cantik meskipun wajahnya masih terlihat pucat.


"Hudaa.. jangan macam-macam." tegur Papa Juan yang ternyata masih terjaga. Entah kenapa dirinya tidak bisa percaya seratus persen pada Bang Huda.


"Nggak Pa, Aahh Papa ini selalu di ambil hati. Mana mungkin aku tega sama Ayu" kata Bang Huda saat ketahuan belangnya.


"Kamu ini nggak bisa di percaya. Jangan sampai kamu kebablasan. Anakmu baru bisa lihat, sudah kamu buatkan adik lagi..!!" kata Papa Juan sembari tersenyum nakal membalas pesan singkat istri tercinta yang sedang menemani Syahila di rumah Bang Saka.


"Begini nih, orang tua selalu curiga. Harusnya Papa mendukung usahaku." jawab Bang Huda dengan semangatnya. "Untuk punya anak lagi" ucap lirih Bang Huda.


"Sempruuuuull.. edan..!! Lebih baik Ayu Papa bawa saja. Bahaya kamu ini Huda" kata Papa Juan.


...


Ayu memercing menangis sesenggukan di dalam kamar mandi saat pertama kali mencoba B*K


"Dek.. lama sekali kamu di dalam. Abang masuk saja ya...!!" Bang Huda cemas sekali menunggu Ayu di luar pintu kamar mandi.


"Ayu nggak apa-apa. Tunggu sebentar ya Bang" ucapnya tapi perut Ayu yang biasanya terasa penuh, kini seakan tiba-tiba kosong menggantung tanpa beban. Bagian bawah terasa sakit dan perih penuh sayatan.


Tak percaya begitu saja dengan ucapan Ayu, Bang Huda menerobos masuk ke dalam kamar mandi.


Ya Allah, Allahu Akbar..


Bang Huda terus beristighfar dalam hati, perasaannya resah, gelisah melihat begitu banyak sisa kelahiran dari rahim Ayu.


"Pegang tangan Abang.. jangan di lihat..!!" Bang Huda memeluk Ayu, sebenarnya ia sendiri pun takut, tapi jika bukan dirinya yang merawat Ayu, lantas siapa lagi.


"Ayu pusing..!!" ucapnya bersandar pada dada bidang Bang Huda.


"Iya dek. Sabar ya..!!" Bang Huda membersihkan tubuh Ayu terlebih dahulu kemudian merawatnya dan membawa Ayu kembali ke ranjang.


:


Bang Huda baru saja membersihkan kamar mandi, dokter Alamsyah datang bersama dokter anak.


"Kita harus bicara..!!"


"Ada apa?" perasaan Bang Huda tiba-tiba tidak enak. Ia melirik Ayu yang sedang melihat ponselnya. "Cukup saya dulu yang tau, istri saya baru saja tenang"


~


"Terus terang keadaan putri kecilmu kurang baik, jalan nafasnya tidak stabil.. selain kurang bulan saat lahir. Berat badannya pun sangat kecil" kata dokter Alamsyah mewakili dokter anak di sampingnya.


"Lalu saya harus bagaimana dok? tolong usahakan yang terbaik untuk putri saya..!!"


"Baru saja kami pindahkan putri bapak di ruang NICU" jawab dokter anak.


deg...


"Bisakah saya melihat putri saya?" tanya Bang Huda.


"Silakan Pak..!!"


~


Bang Huda menyentuh jemari kecil yang bahkan tidak utuh melingkar di jari telunjuk nya. Hati seorang ayah tersayat pedih melihat putrinya yang baru terlahir beberapa jam harus menerima rasa sakit seperti ini.


"Papa minta maaf ya sayang, karena ulah Papa kamu harus lahir lebih cepat. Demi kamu bidadari kecil Papa.. Papa rela melakukan apapun. Berjanjilah untuk bertahan, papa sayang sama dedek" Bang Huda menyandarkan keningnya di cungkup kaca inkubator.


Tangan kecil itu merespon sang Papa. Bang Huda pun tersenyum dalam pedih hati. "Dedek mau main sama Papa?" tanya Bang Huda. "Cepat sehat dulu, nanti Papa belikan satu set alat make up.. ini Papa sendiri yang belikan, bukan Opa" ucapnya dengan suara bergetar.


.


.


.


.