
"Perut Ayu sakiiitt..!!" Ayu menatap nanar wajah Bang Huda.
"Bagian mana yang sakit? Disini??" Bang Huda menyentuh perut bawah Ayu.
Ayu mengangguk dengan pandangan nanar.
"Sejak kapan?"
"Selesai begituan" jawab Ayu jujur.
"Astagfirullah.. kenapa nggak bilang??" bentak Bang Huda. "Ada tanda bahaya nggak?"
Ayu menggeleng melegakan nafas Bang Huda. "Flek aja"
"Astagaaaa.. dan kamu diam aja???"
Ayu tak bisa menjawab apa-apa lagi.
"Ini nyawa anak, apa kamu masih niat main-main?" tegur Bang Huda tapi kemudian ia memindahkan Ayu ke sofa. "Kalau memang sakit ya bilang saja, nggak apa-apa. Abang nggak akan marah juga tidak akan memaksa. Masa istri sakit Abang mau memaksa demi kepuasan sendiri?"
Bang Huda pun segera menghubungi dokter Alamsyah.
~
"Jangan terlalu cemas, itu masih lumrah karena Ayu mengandung bayi kembar. Mungkin 'tekanan' dari luar harus sedikit di kurangi." kata dokter Alamsyah memberi arahan.
"Gitu ya bro, padahal seingat saya.. saya masih pakai perasaan" Bang Huda berusaha mengingat kejadian kemarin.
"Kadang kita kurang kontrol, saya juga sering merasa masih kalem saja padahal istri sudah setengah mati menahannya. Wajar aja sih.. perut sudah besar, kita yang bagian eksekusi kadang tidak terasa. Coba kamu tanya sama istrimu, mungkin saja ada benarnya apa yang saya bilang" kata dokter Alamsyah.
"Oke.. nanti saya tanyakan langsung."
~
Bang Huda menatap mata Ayu usai menghubungi dokter Alamsyah, sudah tak tau lagi bagaimana menata hatinya. Selama kehamilan Ayu, ada saja hal yang membuatnya syok. "Untung saja nggak ada hal fatal yang terjadi"
"Ayu masih bisa memperkirakan Bang" jawab Ayu.
"Tapi jelas Abang yang khawatir. Suami mikir sampai seperti ini tuh wajar, kecuali Abang nggak sayang sama kamu." Bang Huda mengusap perut besar Ayu. "Dua bulan lagi kandunganmu sudah tujuh bulan, Abang mau buat acara kecil-kecilan di kompi"
"Iya Bang, terserah Abang saja."
...
Sore hari Bang Huda persiapan lepas dinas. Siang tadi usai mengantar Ayu pulang, Bang Huda segera kembali ke kompi karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.
Saat melewati jalan ke arah lapangan tembak, Bang Huda mendengar seseorang membaca do'a dengan nada putus sambung dan terbata. "Siapa yang baca do'a disini?" gumam Bang Huda kemudian menghampiri.
Bang Huda mengintip seseorang yang sedang membaca do'a namun sungguh kaget dirinya saat melihat suara tersebut adalah suara Bang Arnold.
"Lho...kamu baca do'a??" tegur Bang Huda.
Bang Arnold pun menghentikan bacaan do'a nya yang masih jauh dari kata lancar. "Siap Bang"
"Ada apa nih??" tanya Bang Huda.
"Dorongan perasaan saja Bang, ada yang mengetuk pintu hati saya" jawab Bang Arnold. "Ijin Bang, jika Abang berkenan.. bisakah Abang mengajari saya mengaji dan membaca do'a? Saya dengar suara Abang bagus."
"Kenapa nggak sama ustadz atau kyai saja. Saya masih banyak kurangnya. Nggak pantas untuk mengajari mu" kata Bang Huda.
"Saya minta tolong Bang..!!"
Bang Huda terdiam sejenak kemudian ia menatap mata Bang Arnold. "Kalau hanya dasar-dasar ringan saja saya masih mampu, tapi kalau lebih dari itu saya tidak pantas Ar"
"Siap.. ijin.. semua sambil berjalan Bang"
"Ya sudah, kamu ke rumah saya saja nanti. "Syarin nggak kerja khan?" tanya Bang Huda.
"Siap.. hari ini Syarin free"
...
Bang Huda cukup terkejut karena ternyata adik littingnya itu bisa membaca beberapa surat pendek dan beberapa lembar bacaan Al-Qur'an meskipun masih ada kesalahan di sana sini.
"Benar Bang, semua dari hati."
Bang Arnold menunduk menyimpan senyumnya.
"Ya sudah ayo lanjut..!!"
\=\=\=
Beberapa bulan kemudian.
Acara tujuh bulanan Ayu sudah di persiapkan secara matang, acara yang sejatinya terlaksana tepat pada waktunya harus tertunda beberapa hari karena kesibukan kantor, tapi saat ini Ayu malah lsangat bersedih karena semalam Oma Jihan sedang menjalani perawatan intensif di Jepang.
"Apaa?? Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, kapan Lang?? Iya nih, acara tujuh bulanan sudah mau mulai" kata Bang Huda cukup kaget mendengar kabar meninggalnya Oma Jihan dan Opa Rico. Ia sampai melirik ke dalam rumah agar Ayu tak mendengarnya dulu.
"Baru sekitar satu jam yang lalu. Ya sudah Ayu jangan sampai tau, takut Ayu kepikiran saat acara" jawab Bang Langsang dalam sambungan telepon. "Salam untuk Ayu, semoga sehat dan lancar menunggu masa persalinan"
"Oke.. thanks infonya, nanti kusampaikan pelan-pelan sama Ayu..!!"
Ponsel masih dalam keadaan terhubung tapi Ayu sudah berdiri tepat di belakang punggung Bang Huda. "Siapa Bang?" tanya Ayu dengan riasan wajah yang amat sangat cantik sekali.
"Huda, aku dengar Pak Rico dan istrinya meninggal di Jepang??" Bang Leo pun tiba-tiba ikut masuk ke ruang ganti di samping rumah Bang Huda.
Terlihat Bang Huda cemas sekali melihat perubahan wajah cantik istrinya.
"Itu dek.. hmm.. Abang bisa jelaskan..!!"
"Apa benar Opa dan Oma meninggal??" tanya Ayu.
Melihat situasi sedang tidak baik-baik saja, Bang Leo mundur teratur tanpa penjelasan. apapun membuat Bang Huda bingung dan mati kutu.
"Jawab Bang..!!!!" Ayu kembali menekan Bang Huda.
"Iya dek, Oma dan Opa meninggal bersamaan di Jepang' jawab Bang Huda.
Tangis Ayu seketika pecah, bagaimana pun juga dirinya sangat menyayangi Oma dan Opa yang selalu memanjakan dirinya. "Kenapa nggak ada yang beritahu Ayu??? Kenapa semua merahasiakan dari Ayu??????" Ayu berteriak histeris hingga nafasnya terasa sesak.
"Bukan mau di rahasiakan dek, Abang belum sempat bilang..!! Langsang hubungi Abang biar kamu nggak kepikiran"
"Kalau Abang nggak cerita malah semua buat Ayu jadi kepikiran. Ayu mau lihat Oma sama Opa..!!" teriaknya lagi sampai mengundang banyak orang.
"Sabar dek.. sabaarr..!!! Kita do'akan Opa dan Oma juga ya nanti..!!" bujuk Bang Huda tapi semua seakan sia-sia. Pandangan mata Ayu gelap.
"Allahu Akbar.. dek..!!!!" Bang Huda mengangkat Ayu masuk ke dalam kamar.
~
"Bagaimana ini Bang, lanjut atau batal?" tanya Syarin.
"Tunggu Mbak mu sadar dulu. Abang nggak bisa memutuskan apapun saat ini"
Tak lama mata Ayu terbuka.
"Ayu sudah sadar nih." dokter Alamsyah memeriksa Ayu secara dadakan padahal posisinya saat ini adalah sebagai tamu undangan.
Bang Huda pun mendekat pada Ayu. "Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit nggak?"
Wajah Ayu masih terlihat syok dan sangat sedih.
Bang Huda mengusap punggung Ayu. "Kalau nggak ingin melanjutkan acara ya nggak apa-apa.. Abang mengerti, yang penting acara ini sudah Abang niatkan untuk anak kita" kata Bang Huda.
Ayu kembali terisak sesak dalam dekapan Bang Huda. "Ayu sedih sekali Bang. Ayu pengen lihat Oma sama Opa." ucapnya sesenggukan.
"Kalau kondisimu stabil, Abang ijinkan, tapi kalau keadaan mu tidak baik-baik saja.. Abang mohon jangan ya sayang..!! resikonya sangat besar" bujuk Bang Huda.
.
.
.
.