Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
80. Celaka tak di duga.


Selamat Hari Merdeka ke 77 Tahun INDONESIA RAYA. ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBang Huda mengerjakan seluruh tugas dengan lancar. Laporan pada atasan pun sudah teratasi dengan tertib. Senyumnya merekah melihat si kembar yang menemaninya di ruangan hingga tertidur karena Ayu sedang sibuk ikut kegiatan.


Tak terbayang olehnya selama tiga bulan ini Ayu mengasuh Galar dan Ghania seorang diri jika dirinya sedang padat dalam pekerjaan. Menggendong si kembar di kanan dan kiri dengan perut yang selama ini di sembunyikan Ayu darinya.


"Sekarang Papa sudah tau, ada dedek di perut Mama. Terima kasih banyak kalian jadi anak baik dan tidak nakal selama Mama berjuang."


Tak lama Ayu masuk ke ruangan Bang Huda dan langsung duduk di sofa menjulurkan kedua kakinya.


Bang Huda segera menghampiri Ayu kemudian melepas sepatu high heels lima centimeter nya.


"Jangan pakai setinggi ini yank.. bahaya..!!" kata Bang Huda mengingatkan kemudian mengambil minyak gosok dan memijat kaki Ayu.


tok.. tok.. tok..


"Selamat siang.. Ijin Abang...!!" seorang Letnan muda yang baru menghadap ke ruangan Bang Huda.


"Masuk..!!" Bang Huda sedikit menurunkan rok Ayu. Saat Ayu ingin menurunkan kakinya, Bang Huda melarangnya.


"Ijin.. Bang." Bang Fatih juga sedikit membungkuk memberi salam pada Ayu.


"Kenapa??"


"Tempat latihan tembak untuk besok pagi sudah finish. Hanya saja kami baru tau ternyata baru tau kalau tiang penyangga kanopi sisi kanan tidak begitu stabil dan miring.. arahan dari Bang Arial di ganti saja dengan tiang besi yang baru." jawab Bang Fatih.


"Untuk kanopi yang mana!"


"Ijin.. untuk bazar"


"Oohh, langsung ganti tiang besi saja karena besok ada ibu-ibu juga. Cuma saya pesan betul untuk tiang yang baru saja si perbaiki, ada satu atau dua orang Taja yang jaga. Saya takut fondasi penyangganya belum kering dan tersenggol anak-anak atau ibu-ibu yang hadir..!!" jawab Bang Huda.


"Siap.. kursi khusus juga sudah di turunkan"


"Kursi apalagi Bang?" tanya Ayu.


"Kursi untuk kamu sama Syarin to"


"Buat apa Bang, nggak enak sama ibu-ibu yang lain."


"Itu juga ada ruang kecil untuk Galar dan Ghania tidur. Jam kerjamu mulai jam lima pagi sampai jam enam sore, ujung-ujungnya kamu pulang paling telat. Kalau kamu kecapekan, pingsan dalam kegiatan bagaimana?? Abang sudah tau pasti kamu nggak akan mau meninggalkan anggotamu" Bang Huda bernada tegas. "Ini jam satu siang dan kamu sudah kecapekan. Bagaimana besok. Ini jagoan Abang di perut juga harus kamu pikirkan..!!"


"Iya Bang, Ayu ngerti."


"Kalau ngerti ya sudah. Diam saja.. nurut apa kata suami..!!"


...


Bang Arial sedikit meragukan jika Ayu dan Syarin akan kuat dalam kegiatan esok hari, pasalnya kedua bumil sudah terlihat sangat kelelahan.


"Kuat betul nggak nih Bang, Bang Leo mah enak. Mbak Geya masih off karena baru melahirkan. Nah istri kita full kegiatan karena kekurangan istri perwira.


"Nah itu dia, sudahlah jangan banyak mengeluh. Besok kita saja yang lebih sigap mondar-mandir mengawasi kedua bumil. Terutama saya, ada duo krucil juga tuh harus di awasi"


"Siap Bang..!!"


***


Bang Huda menggulingkan tubuhnya perlahan dari Ayu yang sedang tertidur pulas. Rindunya sungguh tidak tertahan tapi ia harus sadar diri untuk tidak mengganggu waktu tidur Ayu. Ia tau betul istrinya sudah sangat kelelahan.


"Solo karir juga nggak apa-apa, yang penting pikiranku nggak semrawut, kerjaan aman" gumam Bang Huda.


-_-_-_-


"Benar semalam Abang nggak buat apa-apa?" tanya Ayu.


"Iya, Abang tidur dek" jawab Bang Huda karena Ayu mencurigai dirinya.


"Kalau Abang tidur, kenapa Ayu berantakan sekali?"


"Sejak kapan tidurmu rapi? Setiap malam Abang yang sibuk tutup warung." kata Bang Huda beralasan. "Abang ini penyelamat, nggak mungkin buat kamu berantakan. Sepertinya tanpa sadar.. kamu yang buat dirimu berantakan." raut wajah Bang Huda terlihat meyakinkan.


"Oiya ya Bang, sepertinya Ayu benar-benar capek" Ayu pun percaya tanpa banyak perdebatan.


Bang Huda tersenyum nakal karena sudah berhasil memperdaya Ayu.


...


Ayu menidurkan si kembar pada ruang kecil yang memang sudah di siapkan Bang Huda demi kenyamanan anak dan istrinya.


"Galar dan Ghania tidur lagi?" tanya Bang Huda sambil membawa piring sarapan pagi untuk Ayu.


"Apa itu Bang?" Ayu melihat Bang piring Bang Huda penuh sesak sambil menenteng satu piring kecil lagi di tangan kiri.


"Nasi pecel. Lauknya rempeyek, ikan tongkol, bakwan, tempe goreng sama empal. Abang suapi ya?"


"Banyak banget Bang lauknya?? Ini masih pagi "


"Iya Bang, tapi ini enak"


"Tangan Abang yang bikin enak" jawab Bang Huda karena ia tau Ayu tidak akan makan banyak jika sendirian padahal segala kegiatan Ayu membutuhkan banyak tenaga.


Ayu tersenyum mendapat perhatian dari Bang Huda.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu nggak semangat?" tanya Bang Huda mencemaskan Ayu.


"Masa sih Bang?"


Bang Huda mengangguk sembari terus menyuapi Ayu. Dalam waktu sekejap satu piring besar nasi pecel habis untuk memanjakan perut mereka berdua terutama Ayu.


"Edwin..!!!!!" Bang Huda menyapa Om Edwin yang melintas tak jauh dari tempatnya.


"Cek ulang lokasi ini. Jangan sampai ada tali, pipa atau lubang tidak tertutup di sekitar sini..!!" perintah Bang Huda.


"Siap laksanakan Dan..!!"


...


Bazar di kompi sangat ramai, itu adalah hasil pemikiran Ayu untuk kegiatan sosial yang bisa di pergunakan untuk menambah kas pengurus anak cabang. Ayu lebih mengedepankan ibu-ibu dengan putra putri yang sudah bisa di tinggal untuk membantunya dalam kegiatan jual beli.


"Ada apa Bu?" tanya Ayu melihat Bu Dahlan celingukan.


"Ijin ibu, air galonnya habis" lapor Bu Dahlan.


"Waahh.. Om Edwin belum kembali ya. Biar saya hubungi Om-om yang lain" jawab Ayu.


"Baik Bu" Bu Dahlan segera kembali pada rekannya karena keadaan bazar sangat ramai. Banyak bapak-bapak dan para bujangan yang datang dari berbagai kesatuan yang ikut menjadi suporter dan peserta lomba menembak.


Melihat semua sedang sibuk, Ayu berinisiatif menarik troli untuk di bawa ke koperasi depan.


Dari jauh berlari om Madya karena melihat Ayu menarik troli. "Ijin ibu, mau kemana?"


"Mau beli air galon om"


"Aduh Ibu.. saya bisa di jungkir Danki kalau sampai tau ibu beli galon sendiri" Om Madya panik melihat istri Danki C yang sedang berbadan dua menarik troli galon. "Ijin ibu, mungkin Ibu tau Edwin ada dimana?" tanya Om Madya.


"Saya nggak tau om. Sejak tadi tidak ada Om Edwin. Memangnya Om Edwin dapat tugas apa dari suami saya?" jawab Ayu.


"Ijin ibu, menjaga keamanan di sekitar tenda bazar karena pondasi tiang penyangga masih basah, juga membantu ibu-ibu yang mungkin butuh bantuan"


"Oohh.. saya lihat pondasi dan tiangnya aman Om. Tapi memang kami sedang butuh bantuan." kata Ayu.


"Baik bu, saya akan segera kirimkan rekan untuk membantu ibu"


Dari jauh Bang Huda melihat Ayu sedang berbicara dengan Madya. Ia segera menghampiri karena sebenarnya ia meminta Madya membelikan minuman untuknya.


Disana Ayu segera kembali ke tenda bazar, tak sengaja langkah kakinya tersangkut tali tampar.


"Hwaaaa.." Ayu terpekik kaget, tubuhnya ambruk begitu saja.


"Astagfirullah hal adzim dek, kenapa nggak lihat jalan????" Bang Huda memeluk Ayu dengan erat, ucap syukur dalam hatinya karena masih sempat mendekap Ayu, terlambat sedetik saja pasti Ayu sudah jatuh tertelungkup. Mata Bang Huda melihat ada tali tampar pengikat tenda disana. "Kenapa ada tali disini??" gumam Bang Huda menahan geram.


"Abaang, perut Ayu nyeri..!!" Ayu memercing merasakan sakit, mungkin sempat kaget karena hampir terjatuh.


"Edwin mana??? Cari Edwin..!!!!!!!" perintah Bang Huda. Geram itu menjadi amukan karena melihat Ayu kesakitan.


:


"Ijin Dan, Saya khan jaga Salsa dan Sanya, sesuai perintah Danki untuk jaga perawannya Komandan"


"Huusshh.. jawab yang benar kamu..!!" Bang Huda ketar-ketir melirik Ayu karena jawaban Om Edwin.


"Ini benar Dan. Salsa dan Sanya sudah saya jaga. Hiburan Danki saat kesepian khan?" jawab Om Edwin.


"Siapa Salsa dan Sanya?? Selama ini Abang punya teman penghilang sepi?????" mata Ayu berkaca-kaca.


"Bukan.. bukan begitu dek......"


Duuhh.. mati aku..!!!


"Edwiiin.. sempat saya ribut sama istri.. habis kamu jadi abon..!!!!!" bentak Bang Huda.


"Dia siapa??? Dia siapa??" Ayu kesal mencubiti pinggang Bang Huda.


"Aduuduuuhh sakit to Ma..!!"


.


.


.


.