Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
77. Hasilnya.


"Abang berangkat ya dek..!!" Bang Arial berpamitan usai sarapan.


Subuh tadi Syarin menyiapkan nasi goreng ala kadarnya di mess bujangan karena mereka masih belum menempati rumah dinas dan masih dalam tahap renovasi.


"Iya Bang, maaf Syarin nggak bisa masak"


"Masakanmu paling enak, Abang suka" jawab Bang Arial meskipun tenggorokannya nyaris putus karena masakan Syarin terlalu pedas dan asin.


Bang Arial memberikan tangannya, layaknya suami istri, ia menempatkan posisinya sebagai seorang suami untuk Syarin. Syarin menunduk tersipu malu, ia meraih tangan Bang Arial dan mencium punggung tangannya.


"Iya Bang, hati-hati" jawab Syarin.


Bang Arial berjongkok di hadapan Syarin kemudian mencium perut Syarin yang masih datar. "Papa berangkat ya sayang, jangan nakal dan jaga Mama. Kalau dedek pengen sesuatu.. bilang sama Mama biar Papa belikan" gumam Bang Arial memancing reaksi Syarin.


"Syarin mau onde-onde" jawab Syarin.


Bang Arial berdiri lalu mengecup kening Syarin. "Nanti Abang belikan..!!" ada senyum kelegaan dalam hati Bang Arial.


...


"Lho.. bukannya istri saya semalam pergi sama Pak Ardan?" tanya Bang Huda bingung saat Bu Zafir meminta kunci gudang untuk mengambil arsip lama.


Bu Zafir tertawa di buatnya. "Ibu bercanda Pak, ibu pergi dengan saya, Bu Dahlan dan ibu-ibu pengurus cabang."


"Astagfirullah.." Bang Huda menepuk keningnya. "Keterlaluan sekali Ayu. Bercandanya menjadi-jadi" gumam Bang Huda.


"Ada apa Pak?" tanya Bu Zafir.


"Istri saya belum makan Bu" alasan Bang Huda.


"Oohh.. biar nanti saya pesankan makan buat ibu. Kasihan adek bayi kalau belum sarapan" kata Bu Zafir.


"Saya minta tolong ya Bu, nanti siang saya kesana. Sekarang saya sibuk sekali. Pelepasan anggota yang mau berangkat latihan gabungan"


"Baik Pak."


...


Ayu lemas sekali mengerjakan tugas-tugas di dalam ruangannya. Perutnya kram sekali hingga bergerak pun sulit.


"Ijin Bu, semua sudah selesai di kerjakan" kata Bu Dahlan.


"Terima kasih banyak ya Bu, maaf saya tidak banyak membantu. Saya kurang enak badan."


"Nggak apa-apa Bu, kemarin ibu sudah mengerjakan semuanya. Sekarang biar kami yang kerjakan. Ibu bisa istirahat" Bu Dahlan melihat Ayu sedikit pucat.


"Ibu dan yang lain duluan saja. Ambil makan siang, saya sudah pesankan untuk ibu-ibu. Anak-anak di suapin dulu Bu..!!" kata Ayu tidak tega melihat anak-anak bermain sendirian atau di asuh om-om bujangan karena ibunya terlampau sibuk membantu dirinya.


"Baik kalau begitu Bu"


:


"Saya pamit ya, saya minta tolong arahan untuk Arial..!!"


"Arial sangat dewasa Bang, tenang saja" jawab Bang Huda.


"Semalam sibuk apa sampai nggak bisa makan malam sama Abang?" tanya Bang Ardan.


"Ada rapat pelepasan anggota untuk latihan gabungan Bang. Mohon maaf tidak bisa memenuhi undangan Abang." kata Bang Huda.


"Oiya.. Abang juga mau tanya, bolehkah nanti sesekali Abang kirimkan hadiah untuk Ayu? kalau tidak boleh.. minimal untuk anak-anak, sebab kemarin Ayu sangat marah waktu saya tanya sama dia."


"Oyaa?? Masa sih Bang?" Bang Huda sampai melotot mendengar ucapan Bang Ardan.


"Ini lho, pesan singkat istrimu. Galak sekali ibu Danki.


Ayu nggak mau terima barang apapun dari pria lain. Barang dari suami sudah buat rumah Ayu penuh sesak. Lebih baik Abang nikah saja dan belikan untuk istri Abang karena sejak menikah dengan Bang Huda, selera Ayu jadi tinggi.


Bang Huda sampai menggaruk kepala saking tidak enaknya dengan senior.


"Sungguh Abang tidak ada maksud apa-apa. Yah sudah berlalu biar berlalu, tapi Ayu takut Abang menggodanya. Apa ini karena ancaman Kapten Huda?" tanya Bang Ardan.


"Nggak apa-apa juga sih. Bagus juga istrimu punya sikap seperti itu" jawab Bang Ardan. "Jadi bagaimana? boleh khan? Arial menikah dengan adikmu, otomatis anakmu keponakan Abang juga. Masa om nya nggak boleh kirim barang?"


"Ya boleh donk Bang" Bang Huda mengalah karena menilai setidaknya Bang Ardan tidak berbahaya pada rumah tangganya tapi kini kecemasan mulai menjadi mengingat tadi pagi ia 'menghajar' Ayu habis-habisan dan tanpa ampun, ucap Ayu yang memintanya sedikit lebih lembut pun tidak ia indahkan.


...


Bang Huda berlari ke ruangan ibu ketua anak cabang dan itu adalah ruangan Ayu istrinya. Bu Zafir sempat menghubungi Bang Huda lewat telepon ruangan karena Ayu mendadak semakin drop.


"Istri saya mana Bu?" tanya Bang Huda tergesa-gesa membuka pintu tanpa menunggu jawaban Bu Zafir yang ada di dekat pintu.


"Mohon maaf bapak, apakah ibu memang sedang hamil lagi?" tanya Bu Dahlan.


"Iya Bu" jawab Bang Huda sembari memindahkan Ayu ke sofa tapi Bang Huda merasakan rok bagian belakang Ayu basah. "Astagfirullah.. apa ini?" degub jantung Bang Huda berdetak kencang.


"Pak, boleh saya periksa?" Bu Dahlan juga dulu adalah seorang perawat di rumah sakit.


"Silakan Bu..!!" dengan sangat hati-hati Bang Huda membaringkan Ayu.


"Apa kita bisa buat pemeriksaan darurat disini?" tanya Bu Dahlan.


"Lakukan saja Bu, saya yang tanggung jawab." jawab Bang Huda. Kemudian melepas seragam luarnya karena tau prosedur yang akan di lakukan Bu Dahlan.


Bang Huda menyampirkan seragamnya dan membantu membuka paha Ayu.


Sekali melihat, Bu Dahlan sudah tau apa yang terjadi. "Ijin bapak, ini keguguran secara spontan"


Bang Huda beringsut terduduk di lantai dengan lemas. Matanya menatap nanar memandang kedua bola mata Ayu.


"Dia belum mau main dengan papanya" kata Ayu. "Jangan nangis dan jangan minta maaf. Ini pilihan Abang"


Bang Huda sungguh kehabisan kata, ia menghubungi ajudannya. "Madya.. tolong siapkan mobil. Antar saya pulang kemudian cepat ke rumah sakit jemput dokter Alamsyah..!!"


"Siap Dan. Ijin Danki.. ini ada Dan Langsang baru tiba di Batalyon."


:


"Ini sudah hilang total. Nanti aku kasih resep untuk pembersihan dan pemulihan Ayu" kata dokter Alamsyah.


Bang Huda tidak banyak bicara. Wajahnya datar menyimpan ribuan penyesalan dan kesedihan.


"Kamu ribut sama Ayu????" tegur keras Bang Langsang melirik Bang Huda.


"Sudahlah Bang, Ayu kecapekan" jawab Ayu.


"Nggak mungkin, ada apa sebenarnya???" Bang Langsang seakan lebih peka karena tau sifat Bang Huda.


"Nggak ada Bang, perempuan capek itu biasa khan. Abang tau sendiri kegiatan ibu-ibu." ucap Ayu masih penuh dengan logika.


"Awas kalau kamu buat masalah..!!" ancam Bang Langsang menatap mata Bang Huda.


...


Malam hari Bang Huda menemani Bang Langsang karena besok pagi-pagi sekali littingnya itu harus segera kembali ke kesatuan. Tapi disana Bang Huda hanya menanggapi Bang Langsang seadanya. Batinnya remuk, hancur lebur baru saja kehilangan calon anak.


"Aku tau mungkin kita sama saja, kurang sabaran menghadapi wanita kita.. yang sudah terjadi jangan di sesali. Asal jangan pernah di ulang lagi" kata Bang Langsang akhirnya menangkap kesedihan hati Bang Huda.


"Sakit sekali rasanya kehilangan anak" tiba-tiba air mata Bang Langsang menggenang.


"Semangat bro, jika belum beruntung berarti harus coba lagi" jawab Bang Langsang menyemangati iparnya.


.


.


.


.