Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
33. Harus di beri pelajaran.


"Lagi deh.. Abang ganti ya kesalnya..!"


"Nggak mau, Ayu mau pulang..!! Abang keluar dari kamar..!!!!" Ayu mendorong Bang Huda hingga keluar kamar.


jdeeerrr..


"Astagfirullah hal adzim.." Bang Huda mengusap dadanya berusaha mengalah dan tidak mengambil hati sikap bumilnya. Ia harus memaklumi memang terkadang ada masanya emosi bumil tidak dapat di kendalikan.


Terdengar suara Ayu yang menangis kencang terdengar dari luar.


Maaf ya dek, Abang sudah mengecewakan. Abang tau ini ekspresi kekesalanmu yang sudah menumpuk dan akhirnya saat amarahmu sudah penuh.. kamu ungkapkan semuanya tanpa sisa.


Bang Huda memilih tidur tepat di luar pintu. Ia takut Ayu kabur dan berbuat nekat lagi. Cuaca dingin di daerah itu pun tak di rasakannya lagi.


***


Ayam belum berkokok. Ayu terbangun dan melihat Bang Huda tidur meringkuk di depan pintu. Ayu masih kesal dan ingin menutup pintu lagi, tapi Bang Huda memegangi kaki Ayu. Bang Huda menggigil.


"Tolong Abang...!!" pintanya.


Ayu merasa tangan Bang Huda sedikit lebih panas. Ia membungkuk menyentuh kening Bang Huda. "Abang demam?????????"


:


Ayu merawat Bang Huda, baru sebentar saja ia menangani suaminya.. panasnya sudah turun tapi Bang Huda tetap menggigil.


"Ayu hubungi dokter saja ya Bang..!!"


"Nggak usah dek, kamu saja yang rawat Abang." ucap Bang Huda lirih. "Kompres Abang lagi..!!"


Ayu segera keluar kamar dan menyiapkan kompresnya.


Saat Ayu sedang sibuk, Bang Leo masuk ke dalam kamar. "Cepat kamu pakai selimut yang tebal biar suhu tubuhmu panas..!!" Bang Leo menutupi tubuh Bang Huda.


"Kenapa kamu kesini.. aku bisa sendiri..!!" Bang Huda mulai cemas.


Terdengar langkah kaki membuat Bang Huda panik. Sialnya Bang Leo yang ikut panik malah melompat masuk ke dalam satu selimut bersama Bang Huda. "Heeehh.. b******n, jangan disini" Bang Huda menarik Bang Leo. Bang Leo pun terseret ke atas tubuh Bang Huda.


Saat masih kasak kusuk ribut, Ayu masuk dan melihat pemandangan tak lazim di dalam kamar. "Abaaaaang..!!!!!!!!!!"


"Tutup matamu..!!" Bang Huda menghantam wajah Bang Leo agar menutup mata saat istrinya datang.


"Kita selesaikan baik-baik dek, ini nggak seperti yang kamu pikirkan..!!"


Tangan Ayu gemetar membawa baskom kompres. "Ayu nggak kuat hidup sama Abang, Ayu mau pulang ke rumah Papa"


byuuurr..


"Astagaa.. Dengar Abang dek..!!" Bang Huda secepatnya berdiri sambil mengusap wajahnya yang basah, menggapai tangan Ayu. Begitu pula Bang Leo yang basah tapi masih duduk diam memejamkan mata di tempat sambil memainkan boneka panda kesayangan Ayu.


Bang Huda memeluk Ayu. "Mau kemana? Masa mau pakai pakaian begitu?" tanya Bang Huda, tangannya perlahan mengambil alih koper Ayu. Ia menciumi wajah Ayu untuk mengalihkan perhatian sang istri.


"Ayu takut hidup sama Abang. Ayu nggak mau hidup sama laki-laki ACDC."


Bang Huda pusing tujuh keliling mendengar ucap Ayu. Ia mendekatkan wajahnya pada Ayu tapi sesaat kemudian ia mengingat masih ada Bang Leo di rumahnya. "Heehh keluar kamu.. makhluk gaib di larang di sini"


"Oohh sudah boleh ya.." tanpa rasa bersalah Bang Leo keluar dari dalam kamar Bang Huda. "Byee Ayuu" ucapnya tersenyum meninggalkan rumah.


"Hhhhhhh..." Bang Huda sudah kesal ingin menghajar Bang Leo tapi ia mengingat masih ada hal berat yang harus ia selesaikan, yaitu menenangkan Ayu.


Bang Huda melepas Ayu sejenak kemudian mengambil kertas HVS dan spidol dari dalam laci meja hias kemudian menulis. DANKI SEDANG KURVE, DINAS DALAM. lali menempelnya di depan pintu rumah.


"Eeehh mau kemana lagi" Bang Huda kembali panik melihat Ayu lagi-lagi menarik kopernya.


"Pulang" jawab Ayu ketus.


"Ya sudah, pulangnya nanti ya..!! Temani Abang kurve dulu." Bujuk Bang Huda sambil membawa Ayu masuk ke dalam kamar.


Baru saja Ayu mau melangkah menuju ranjang, Bang Huda menarik Ayu ke dalam pelukannya sambil menarik tengkuk Ayu. Tanpa ada persetujuan dari Ayu, Bang Huda ******* bibir manis sang istri. Semalaman tak bisa tidur membuat batinnya sungguh tersiksa dan ia pun tau Ayu juga gelisah semalaman karena kegagalan tempur yang fatal.


"Egh.." Ayu menolak perlakuan Bang Huda tapi suaminya itu terlalu pintar memaksa hingga dirinya terbuai dan tak ingin melepas begitu saja belaian hangat dari Bang Huda.


Sengaja Bang Huda melepas pagutannya. Ayu yang sedang menikmatinya, sekali lagi harus di landa kekecewaan. "Abang ini juga bukan suami yang selamanya selalu sabar. Jangan berpikir terlalu jauh, lihat dan rasakan baik-baik. Lebarkan akal pikirmu yang hanya nol koma satu digit itu. Dari Abang beranjak dewasa sampai sekarang, doyannya cucur.. bukan si lenjer. Paham kamu??"


"Tapi Abang selalu berduaan sama laki-laki"


"Apa kamu mau lihat Abang berduaan sama perempuan?? Kamu jalan gandengan sama teman perempuan mu.. Abang nggak bilang kamu jeruk sama jeruk." jawab Bang Huda. "Sialnya saja waktu Abang sama mereka.. pas sekali jam naasnya Abang tiba"


"Bohong.."


"Apalagi sih???"


"Abang banyak alasan, sebenarnya Abang nggak selera khan lihat Ayu???" kata Ayu masih saja kesal.


"Ya Allah Ya Rabb.. Bojo siji marai ngelu tenan. Di alusi ora iso opo njaluk di kasari????" Bang Huda yang sudah on sejak tadi sudah tak sanggup bersabar lebih lama lagi. Ia memanggul Ayu masuk ke dalam kamar. "Kamu itu hamil, Abang nggak berani kasar, tapi kalau kamu mau coba aliran tegangan tinggi ya silakan. Awas aja kamu kalau nangis..!!!!" Bang Huda membanting punggung Ayu di atas ranjang lebih dulu agar tidak menyakiti istrinya.


Ayu mundur teratur melihat wajah garang Bang Huda yang begitu menakutkan.


"Sini kamu..!!" Bang Huda sedikit meninggikan suaranya sambil menurunkan celananya. "Mau tau rasanya di hajar Danki?????" Bang Huda menarik kaki Ayu mendekat padanya.


.


.


.


.