Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
22. Cobaan.


"Bangun dek..!!" Bang Huda menggosok telapak tangan Ayu yang dingin seperti es.


"Pakai minyak kayu putih Pak" kata Bu Zafir sambil menyerahkan sebotol kecil minyak kayu putih dan Bang Huda segera membalurkan minyak kayu putih itu ke sekitar perut Ayu.


"Sebenarnya apa tidak ada anggota yang membantu istri saya Bu?" tanya Bang Huda.


Bu Zafir dan Bu Dahlan saling pandang.


"Katakan saja Bu. Kalau terus diam masalah tidak akan clear..!!" kata Bang Huda.


"Iya Pak, tidak ada yang membantu ibu" jawab Bu Dahlan.


"Astagfirullah.. Apa salah istri sayaaa????????" suara Bang Huda menggema di seluruh ruang kesehatan.


Ayu mulai terbangun dan merasa mual mencekik leher. Bang Huda menyambar tong sampah kecil di samping Ayu. Benar saja, Ayu muntah hebat sampai badannya kembali lemas.


"Kita ke rumah sakit saja ya..!!" Bang Huda sudah bersiap mengangkat Ayu tapi Ayu menolaknya.


"Abang selesaikan dulu acaranya. Nggak enak.. Abang orang baru disini" kata Ayu.


"Abang nggak peduli, yang penting kamu aman dan baik-baik saja."


"Ayu nggak apa-apa Bang"


"Nggak apa-apa bagaimana? baru buka mata saja kamu mual" jawab Bang Huda tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.


Tak lama Bang Saka datang menghampiri. "Komandan Mabes sudah hampir tiba. Kamu sama Ayu bisa hadir nggak?" tanya Bang Saka.


"Aku nggak hadir. Kalian saja yang hadir." tolak Bang Huda.


"Baiklah, nanti akan kusampaikan alasan yang logis. Istri Kapten Huda tiba-tiba drop dan harus beristirahat" kata Bang Saka.


"Ya sudah begitu saja. Aku mau menemani Ayu"


#


"Kalau sampai ada apa-apa sama Ayu bagaimana? Mikir nggak kamu??"


"Terus saja bela Ayu. Sejak bertemu Ayu yang ada dalam pikiran Abang hanya Ayu dan Ayu saja. Apa hebatnya perempuan yang bisa mengandung? Abang nggak bangga lihat badan istri yang tetap stabil, seksi, enak di pandang. Banyak wanita yang menginginkan body seperti ini dan banyak pria yang ingin menjajal tubuhku" kata Nadia berujar sengit.


"Bicara apa kamu ini. Sudah menikah sama kamu ya tidak ada perempuan lain lagi, termasuk Ayu. Dia sudah punya suami dan suaminya juga sangat sayang sama dia" bentak Bang Anggara, ia sudah pusing dengan sikap Nadia hari ini. "Sekarang kamu urus saja body indahmu, tidak usah pikir hamil. Sayang sama anaknya Ayu juga nggak masalah" ucap Bang Anggara kemudian berlalu pergi.


Nadia terduduk kasar, perasaannya terpukul mendengar ucap sang suami. Ia mengingat beberapa bulan yang lalu suaminya pernah kunjungan kerja ke pulau Jawa, tepatnya di daerah Markas milik Bang Huda. Nadia tersentak kaget. "Jangan-jangan Ayu hamil anak Abang." gumamnya.


...


"Oohh.. jadi istri Kapten Huda sedang hamil muda? Ya sudah nggak apa-apa." kata Pejabat Markas Besar.


"Siap.. terima kasih Komandan"


"Sama-sama. Kapten Saka dan Kapten Huda khan kembar, jadi saya bisa melihat langsung wajah Kapten Huda melalui Kapten Saka"


"Siap" Bang Saka merasa lega karena akhirnya semua baik-baik saja.


"Pa, saya dengar konsep kerja ini juga pemikiran dari Bu Huda, usianya masih sembilan belas tahun lho Pa" kata istri pejabat tersebut.


"Waahh.. bagus donk Ma. Nanti Papa laporkan ke Panglima agar di teruskan ke


...


Sore hari telah tiba, acara usai tanpa di hadiri Bang Huda. Kini Bang Huda berdiri di hadapan seluruh anggota kompinya.


"Saya tidak pernah mau tau segala selentingan yang mengarah untuk saya pribadi di belakang punggung saya. Tapi kali ini selentingan itu mampir ke istri saya dan saya tidak bisa menerimanya..!!!!"


Para anggota menunduk, rata-rata mereka tidak tau apa yang terjadi di lapangan sampai Danki C begitu marah di hadapan mereka.


Bang Arial yang berdiri di samping Bang Huda pun tak bisa berbuat banyak menghadapi marahnya seniornya itu.


"Saya tidak butuh anggota ceroboh yang tidak bisa mendidik istri, saya tidak butuh anggota yang bisanya hanya mencari muka dan saya merasa tidak punya muka di hadapan kalian semua..!!!" bentak Bang Huda.


Mata Bang Huda merah padam.


"Kardi, Madya...tolong ambilkan kursi dan tenangkan Danki..!!" perintah Danton.


"Untuk rekan anggota, mungkin ada yang belum paham tentang kejadian belakangan ini dan mungkin puncaknya adalah hari ini. Biar saya sampaikan sedikit.. Di antara para ibu pengurus ranting, dan para istri anggota.. sama sekali tidak peduli dengan ibu ketua, disini adalah istri Danki C.. istri Kapten Huda. Ibu Huda bekerja sendirian dan hanya di bantu Ibu Zafir dan Ibu Dahlan saja........"


Belum selesai Bang Arial membahasnya, Bang Huda sudah menghentikannya.


"Saya akui istri saya masih terbilang sangat muda, tapi istri saya juga punya perasaan. Saya tidak akan menggunakan jabatan saya untuk menekan kalian, tapi tolong rasakan dengan hati kalian.. tidak ada suami yang tidak sakit hati, tidak terluka melihat istrinya yang sedang hamil di perlakukan tidak manusiawi hanya karena gosip murahan." Bang Huda melepas badge tanda kesatuan mereka dan melemparnya ke tanah. Ia sungguh marah, hatinya sangat kecewa sampai membuang 'lambang kepemimpinannya' di kompi.


"Siap salah Danki..!!" satu persatu wajah anggota merasa malu di hadapan Danki mereka.


:


Setelah mendapatkan penjelasan secara lugas tentang duduk perkaranya, para anggota merasa sangat bersalah. Mereka ikut kecewa dengan perlakuan istri mereka pada istri atasan.


"Pantas Pak Huda sangat marah. Istri Pak Huda sedang hamil muda dan sampai pingsan begitu karena kelelahan, wajar Pak Huda marah besar. Kita harus bagaimana sekarang?"


"Maka dari itu kalau kita tidak tau duduk perkaranya, maka jangan mengambil kesimpulan sendiri. Kata istri saya, Bu Huda itu tegas dan dewasa dalam usianya dan kita tidak boleh memandang usia, bagaimana pun juga.. Ibu Ayu adalah istri komandan.. kita harus pahami itu." kata Pak Dahlan.


"Betul Pak. Istri saya saja senang membantu Ibu Huda karena beliau sangat pintar, pemikiran nya membuat anggota sejahtera" imbuh Pak Safir.


"Kita harus membujuk Danki, beliau sedang kecewa dengan kita. Kalau sampai ada apa-apa dengan ibu Danki kita. Kita semua bisa hancur lebur. Saya tidak menakuti, tapi kita sudah tau siapa Kapten Huda dan Kapten Saka" ucap Pak Dahlan.


-_-_-_-


"Ayu sudah lebih baik Bang"


"Jangan bohong kamu..!!" Bang Huda tau Ayu masih sangat lemas, rasa lelah itu pasti belum sepenuhnya hilang.


"Iya Bang"


tok.. tok.. tok..


Terdengar suara ketukan pintu di ruangan Bang Huda.


"Ini Abang"


Bang Huda tau itu suara Bang Anggara.


"Silakan masuk Bang..!!" ucapnya meskipun malas.


Ayu bangun perlahan agar lebih sopan berhadapan dengan senior suaminya.


Bang Anggara masuk. Terlihat ada Nadia berjalan di belakang punggung Bang Anggara.


"Silakan duduk Bang..!!"


Bang Anggara duduk bersama Nadia berhadapan dengan Bang Huda dan Ayu. "Abang kesini untuk minta maaf atas kekacauan yang di timbulkan Nadia."


Bang Huda masih terdiam, ia mengatur emosinya agar tidak lepas kontrol menghadapi Nadia karena dirinya juga tau siapa Nadia.


"Apa kamu sudah baik-baik saja Ayu?" tanya Bang Anggara.


"Alhamdulillah saya sudah sehat Om" jawab Ayu dengan sopan.


"Nggak usah akting kamu Ayu.. Mengaku saja kalau itu anakmu dan Bang Anggara saat kemarin ada kunjungan kerja"


"Lancang sekali mulutmu Nadia.. Sebelum belaga sok suci.. kuharap kamu sudah mengakui anak yang kamu lahirkan dulu. Dengan siapa kamu hamil dan kamu kemana kan anak itu" ucap kasar Bang Huda mengagetkan Ayu dan Bang Anggara tak terkecuali Nadia sendiri.


Tubuh Nadia gemetar ketakutan.


"Benar itu dek????" tanya Bang Anggara.


Nadia bingung dan gelisah ia seperti menemukan jalan buntu.


"Anak itu aku.. titipkan di pan_ti a_suhan" ucapnya terbata. A_ku hamil anak Bang Huda" jawab Nadia.


"Apaaaa???" Bang Huda dan Bang Anggara bereaksi bersamaan.


"Bicara yang betul kamu Nadia..!!!!" bentak Bang Huda.


Ayu tetap tenang duduk bersandar di tempatnya. Ia menarik lengan Bang Huda. Ayu tersenyum menghadapi Nadia.


"Bagaimana rasanya Kapten Huda di masa lalu?? Enak?? Saya saja tergila-gila" kata Ayu.


"Apa-apaan kamu ini dek?"


"Itu masa lalumu Bang, kalau itu memang anak Abang, Ayu ikhlas menerimanya" jawab Ayu.


Bang Huda memijat pelipisnya, tiba-tiba kepalanya terasa berat. "Kamu ikhlas, Abang stress dek"


.


.


.


.