
Bang Huda dan Ayu berendam air hangat di bathtub. Usai pertempuran tadi mereka memilih berendam untuk menstabilkan tubuh yang lelah hingga tak sengaja keduanya tertidur.
...
Pukul lima pagi Bang Huda terbangun. Air sudah berubah menjadi dingin. Ia segera membuang air yang telah dingin dan menggantinya dengan air hangat yang baru. Akhirnya Ayu pun ikut terbangun.
"Abang kenapa berani pulang?" tanya Ayu.
"Kita ketiduran, Abang takut kamu masuk angin" jawab Bang Huda tapi dirinya sendiri merasa mual.
"Berani-beraninya Abang pulang" Ayu memang terlihat baik-baik saja daripada Bang Huda yang menahan kuat rasa mualnya.
"Pulang kemana? Kita masih di hotel dek" Bang Huda mulai bingung.
"Beraninya Abang bawa pramugari bernama Ella itu disini. Mentang-mentang Ayu lagi berenang.. Abang kira Ayu nggak tau????" ucap keras Ayu sambil berdiri dan menyambar handuknya.
"Ngomong apa sih dek, Abang nggak ngerti. Ella ya di bandara. Buat apa dia disini?? Kamu lihat Abang bawa dia dimana????"
"Disini..!!'
"Kapaaaaann???"
"Barusan di mimpi Ayu" Jawab Ayu tegas dan jelas.
"Lailaha Illallah.. hiiiiiiihh.." rasanya Bang Huda ingin menjitak ubun-ubun Ayu. "Mimpi ya mimpi, kenapa juga sampai harus kamu ingat????"
"Kenapa di dalam mimpi Abang nggak tolak dia??" tuduh Ayu.
"Astagfirullah.. Abang nggak tau, itu khan mimpimu"
Ayu menghentak kaki keluar dari kamar mandi lalu memakai pakaiannya. Bang Huda pun mengikuti Ayu dan melihat istrinya itu memakai pakaian dengan cepat lalu menyambar koper seperti sudah menjadi kebiasaan Ayu jika sedang marah.
"Kalau Abang masih punya perasaan sama mantan Abang, kenapa harus menikahi Ayu?? Apa benar kata Mbak Nadia.. kalau hamil perempuan akan jadi gemuk, badannya rusak, suami nggak cinta lagi" Ayu memakai sepatunya dengan cepat lalu beranjak meninggalkan Bang Huda.
"Aduuh Tuhan..!!!" Bang Huda melilitkan handuk lalu secepatnya menghadang langkah Ayu. "Ya sudah Abang minta maaf, Abang salah. Nggak akan pernah Abang ulangi selingkuh di mimpimu" ucap Bang Huda terdengar bersungguh-sungguh meskipun mungkin anak ayam saja tertawa jika tau kekonyolan ini.
"Tapi salah Abang nggak bisa di maafkan..!!" Ayu emosi sampai menangis. Ia mengambil ponsel di tasnya.
"Eehh.. kamu mau apa dek?? hubungi siapa??"
Ayu tak peduli, pikirannya kalut dan sedih.
"Assalamu'alaikum dek. Tumben hubungi Abang pagi sekali?" tanya Bang Farid.
Bang Huda menepuk dahinya karena tak tanggung-tanggung, Ayu langsung menghubungi Danyon.
"Wa'alaikumsalam.. Ayu mau lapor, Abang selingkuh"
"Haaahh.. astagfirullah. Kok bisa dek?? Terus dimana Huda??" tanya Bang Farid serius sampai sempat terbawa emosi.
"Ini ada di samping Ayu"
Bang Huda merebut ponsel Ayu. "Bang.. sumpah ini hanya salah paham"
"Apa maksudnya?? Kamu main gila di belakang Ayu?????"
"Sumpah mati Bang..!! Pulang dari sini saya berani di tembak kalau sampai saya selingkuh"
"Abang selingkuh di mimpi Ayuuu...!!!!!!!" teriak Ayu.
"Oohh begitu.. oke, nanti sesampainya kamu di sini.. Abang hajar itu si Huda. Beraninya main-main sama adiknya Danyon, pakai selingkuh lagi dalam mimpi."
Entah kenapa Danyon baru malah menanggapi laporan Ayu.
"Iya Bang.."
"Mana Huda?? Jangan di loudspeaker.. Abang mau bicara serius sama Huda"
Ayu memberikan ponselnya pada Bang Huda sesuai perintah Bang Farid.
"Ijin Bang..!!!"
"Hahahahha.. m****s lu Huda, enak nggak punya bini hamil??? Makanya jangan selingkuh, celamitan sih. Telan tuh puyeng momong istri ngambekan, Abang sudah khatam.. nggak mau lagi." Bang Farid tak hentinya menertawakan nasib Bang Huda.
"Siap Bang, ketiban sial saja ketahuan Ayu"
"Pulang nanti kamu sikap tobat ya, lanjut guling botol, pangkas rambut sampai habis sekalian pangkas rumput di belakang Batalyon. Kurang ajar kamu selingkuh segala. Belum sadar juga kamu kalau Ayu adik iparnya Danyon. Hahahaha" ledek Bang Farid.
"Siap salah.. laksanakan perintah luar dalam" jawab Bang Huda.
"Yo wes lanjut, Abang mau berangkat. Jangan lupa di sayang-sayang itu bumil. Assalamu'alaikum"
"Siap.. wa'alaikumsalam Bang..!!" Bang Huda mematikan sambungan telepon lalu mengembalikan pada bumil.
Bang Huda melirik Ayu yang nampaknya tetap tidak puas setelah melaporkan dirinya pada Danyon. "Masih marah yank, sampai Abang disana.. Abang kena hukum Danyon. Apa masih kurang??" tanya Bang Huda hati-hati.
Seketika Ayu memukuli Bang Huda membabi buta. Bang Huda hanya bisa sedikit menghindar tak berani melawan bumil cantik hingga Ayu bisa memegang tangannya dan menggigitnya kuat.
"Astagfirullah... laraa deekk..!!!"
Setelah puas menggigit Bang Huda, Ayu pun duduk di ranjang ia memalingkan wajahnya.
"Ampun to sayang.. sepertinya di mimpi mu itu Saka, bukan Abang" bujuk Bang Huda yang lama-lama ikut stress.
Ayu pun terdiam sejenak.
"Abang nggak mungkin lirik perempuan lain. Abang sayang sama Ayu, selera Abang bukan kelas pramugari, petugas kesehatan, pekerja kantoran ataupun wanita karir. Abang seleranya perempuan pakai mini dress di rumah dan menyambut Abang pakai Li*****e satin. Sedetik pun Abang nggak mau di tinggal, Abang ingin menikmati cantiknya istri sendirian. Biar Abang kerja keras siang malam panas hujan tidak dirasa, semua demi kamu. Kamu bukan obyek pemandangan pria lain.. kamu milik Abang seorang"
Wajah Ayu memerah, ucapan Bang Huda membuatnya tersipu malu.
"Jangan cemberut donk.. coba mana cantiknya..!!" Bang Huda mengarahkan wajah Ayu agar bisa menatapnya.
Ayu semakin tersipu menyimpan wajahnya. "Ayumuu tenanan, ora editan.. sing marai akuu kedanaan" goda Bang Huda bersenandung.
"Pancen salahku dewe. Ra ono seng ngongkon. Abot sanggane, aku angel move on. Ketika semua terasa begitu abot.. kucoba untuk tetap rapopo. Di saat cinta ini terasa begitu angel.. Angel"
"Mulai gombalnya"
"Owalaah.. Susah sekali merayu putrinya Pak Ranggi ini." Bang Huda membungkuk mengecup kening Ayu. "Nggak ada lawan, amung kowe marai sirahku ngelu, jungkir walik kocar-kacir. Pokoke I love you full Bu Komandan..!!" kecupan manis itu turun ke bibir, jika pertengkaran tak bisa di selesaikan dengan ucapan, maka ranjang menjadi jalur prestasi seorang Huda.
.
.
.
.