Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
71. Rasa dari Bang Huda.


"Ada apa Ar? Kenapa kamu suruh Arnold berguling di lapangan? Nggak enak sama anggota yang lain" tegur Bang Huda.


"Pelanggaran disiplin saja Bang, pulang lewat tengah malam" jawab Bang Arial mencari alasan yang tepat.


"Oohh.. lanjut..!!" Bang Huda pun mengijinkan tindakan jika menurutnya logis agar bisa menjadi contoh.


~


plaaaakk.. buugghh..


Rasa sakit di hati Bang Arial belum juga usai. Ia yang baru saja memiliki hubungan yang kandas dengan sang kekasih menjadi sedikit temperamen.


"Kamu sudah tau bagaimana adik Bang Huda, tapi kenapa kamu masih gelap mata. Jika Syarin yang kurang kontrol, maka tugasmu sebagai pria yang seharusnya punya rem.. bukan malah semakin menghancurkan kepercayaan seseorang. Kamu telah membuat nyawa istri Dankimu melayang, tapi beliau masih percaya padamu.. lantas kenapa sekarang kamu masih menikungnya???" tegur keras Bang Arial. "Semoga kelakuamu tidak menimbulkan masalah, entah bagaimana kamu akan menanggungnya kalau adik Danki sampai celaka..!!"


"Siap salah Abang..!!"


***


Bang Huda memanggil Bang Arnold dan Bang Arial ke ruangannya.


"Maaf ya saya minta kalian kesini, badan saya capek sekali hari ini. Saya malas jalan keluar. Begini.. karena Arnold berangkat besok pagi.. jadi malam nanti Arial ikut mengawal Syarin agar tau situasi lapangan. Saya juga handle tugas Arial disini..!!" kata Bang Huda.


"Baik Bang, insya Allah" jawab Bang Arial.


"Bang, apa boleh saya minta waktu satu jam saja berdua dengan Syarin. Abang boleh mengawasi saya kalau Abang tidak percaya sama saya" Bang Arnold meminta ijin pada seniornya itu.


"Baiklah.. saya ijinkan.. satu jam, di lingkungan Kompi, tidak lebih..!!" kata Bang Huda.


"Siap.. Terima kasih banyak..!!"


...


"Besok pagi Abang pergi, kamu baik-baik ya disini. Soal semalam.. Abang sungguh minta maaf, Abang hanya takut kehilangan kamu. Abang sayang kamu Syarin...!!"


"Kalau Abang sayang sama Syarin.. kenapa Abang lakukan itu?? Apakah Syarin seburuk itu di mata Abang?? Syarin bernyanyi Bang, bukan menjual diri..!!!" ucap Syarin dengan nada tinggi.


"Maaf dek..!! Abang memang kurang ajar, tapi Abang sungguh mencintaimu"


"Syarin kecewa sama Abang..!!" Syarin berlari pulang hingga tanpa sengaja menabrak Bang Arial.


"Syarin kenapa dek?? Kamu sakit??" tanya Bang Arial.


"Kenapa Syarin di pandang hina?? Apa seorang penyanyi itu pendosa???" Syarin kesal sampai memukuli Bang Arial.


Bang Arial hanya bisa menerima perlakuan Syarin tanpa ada bentuk balasan apapun, bahkan membalas Syarin yang akhirnya bersandar padanya pun tidak. Tangannya bertaut di belakang, tidak berani memberi respon. "Jadilah wanita yang kuat dan punya pendirian. Jangan jadikan air mata mu untuk menunjukkan kelemahan mu..!!"


Syarin berhenti menangis. Ia pun berlari pulang. Seketika Bang Arial bersandar dan mengusap dadanya. "Ya Tuhanku.. aku lelah memulai dari awal, tapi semakin aku melawannya, hatiku semakin sakit"


-_-_-_-_-


Malam ini Bang Huda bahagia sekali karena baby Galar sudah mampu lepas dari inkubator, hanya tinggal Ghania saja yang belum begitu kuat.


"Bang, kenapa ya Ayu merasa aneh.. kenapa keadaan Ghania tidak seperti Galar?" tanya Ayu.


"Perasaanmu saja dek" jawab Bang Huda.


"Nggak Bang, Ayu rasa nafas Ghania berbeda. Ghania juga sering memuntahkan ASI"


"Nggak apa-apa" tapi Bang Huda seakan menyembunyikan sesuatu dari Ayu.


"Ada apa sebenarnya Bang, jawab jujur..!!" tanya Ayu masih merasa curiga. "Baaang.. Ayu ibunya..!!!!"


Ayu pun menurut meskipun hatinya tidak sabar mendengarnya.


"Apa Bang?"


"Kondisi paru-paru Ghania kurang sehat dan kurang begitu matang untuk persalinan awal, sebenarnya Galar juga begitu hanya saja Ghania lebih lemah" jawab Bang Huda.


"Jadi Abang menyembunyikan hal ini dari Ayu sejak kelahiran Ghania??"


"Kamu sendiri kurang stabil dek, Abang nggak punya banyak pilihan.. kalau kamu stress bisa mempengaruhi ASI mu dan anak-anak butuh ASI..!!" kata Bang Huda mencoba menjelaskan. "Sekarang saja kamu sudah sebegitu syoknya. Bagaimana kalau saat keadaan mu masih sakit seperti kemarin, Abang sudah kalang kabut memikirkan kalian bertiga"


Ayu menangis melihat baby Ghania dalam inkubator. "Maafin Mama ya sayang, Mama bukan ibu yang baik"


"Kamu ibu yang hebat, perjuangan mu untuk melahirkan anak-anak Abang sangatlah besar.. antara hidup dan mati" jawab Bang Huda.


Ayu sesenggukan memeluk Bang Huda. "Ayu nggak mau kehilangan mereka, Ayu sangat sayang mereka. Dulu Ayu sempat menolak mereka karena tidak mencintai Papanya. Ayu sangat menyesalinya" Ayu tak dapat menutupi perasaan sedihnya.


"Sekarang bagaimana? Apa sudah bisa mencintai Papanya si kembar?" goda Bang Huda.


Ayu pun tersenyum getir. "Terpaksa, karena Papanya si kembar raja gombal"


"Ada saja jawabanmu itu" Bang Huda menarik tengkuk Ayu kemudian menyalurkan rasa sayangnya pada Ayu lagi, pagutan yang dalam dan begitu dalam hingga keduanya kembali terhanyut.. sesaat kemudian Bang Huda memberi Ayu jeda untuk bernafas.


"Abang kalah telak, pahamilah suamimu ini bukan seorang pria suci. Abang bukannya tidak paham aturan tapi Abang tidak sanggup berdekatan lama sama kamu dan hanya saling pandang. Maaf.. Abang menggiring mu ke jalan dosa"


Ayu sempat menangis, tapi dirinya tidak bisa berbuat apapun selain melayani hasrat Bang Huda yang tidak terkendali, di sisi lain ia tau kesalahannya sama seperti ucap Bang Huda tapi di sisi lain ia tau tekanan pekerjaan Bang Huda belakangan ini membuatnya sedikit was-was karena sering bekerja di luar Kompi.


Tak banyak berpikir panjang lagi, Ayu membalas kecupan kecil penuh tuntutan penyelesaian. Merasa ada balasan dari sang istri, Bang Huda gelap mata.


"Sekali saja ya dek.. nggak tahan nih" bisiknya di telinga Ayu.


Entah kenapa Ayu malah mengijinkan kesalahan itu terjadi.


~


"Bang, ponsel Abang getar" kata Ayu di 'tengah perjalanan'.


Bang Huda tak menjawabnya karena masih terfokus dan berkonsentrasi penuh. Janji tinggalah janji, janji hanya satu kali kini sudah nyaris kali yang ke tiga.


"Baang..!!" Ayu mendorong dada Bang Huda.


Bang Huda mengarahkan kedua tangan Ayu ke atas dan menguncinya dengan satu tangan. "Kamu bisa diam atau tidak?????" ucap Bang Huda sedikit membentak membuat Ayu cukup kaget dan syok. Bang Huda semakin terhanyut, mempercepat ritme permainan, menggigit kecil bibirnya sembari mendesah panjang menumpahkan rindunya pada Ayu yang tidak berkesudahan. Rasanya tuntas, lega dan benar-benar puas.


Bang Huda membuka mata dan melihat Ayu menangis memalingkan wajahnya.


"Maaf dek, Abang nggak bermaksud membentakmu, tapi kamu juga salah sayang. Abang punya fase 'terlanjur terbakar' yang tidak bisa kamu ganggu. Kalau kamu mengganggu suamimu di saat fase seperti itu, emosinya sedang 'rusak', blank.. jadi jangan pernah kamu ulangi lagi hal seperti tadi..!!" kata Bang Huda menjelaskan tapi melihat Ayu seperti itu jelas istrinya itu tidak menikmati belai sayangnya. Bang Huda mengusap rambut Ayu. "Mau lagi apa sudah? Abang belum turun nih" tanya Bang Huda lembut.


Sampai beberapa saat, tak ada jawaban dari Ayu. Bang Huda pun memilih bergeser, nafas masih tidak beraturan tapi ia tau apa yang di rasakan istrinya. Bang Huda menarik tangan Ayu dan mengarahkan pada miliknya. Matanya terpejam, perlahan tapi pasti.. gairah Bang Huda kembali terpancing.


"Bang, siapa perempuan yang suka menghubungi mu? Dia seksi sekali khan? Apa di saat seperti ini terbayang dalam benak Abang memikirkan dia?" tanya Ayu.


"Siska maksudmu? kalau seksi memangnya kenapa? Puas dan fantasinya Abang bukan dia. Normal saja dekat dengan wanita ada sedikit reaksi. Tapi menjurus pada khayalan mu itu tidak mungkin dek. Senjata organik Abang ini punya pawang. Nggak sembarang tau cara mengoperasikannya dan asal kamu tau, ledakannya terarah" Bang Huda menatap mata Ayu. "Jangan cemburu, Abang hanya kerja dan Abang janji untuk jaga sikap, pastinya menjaga perasaan istri Abang. Makanya Abang minta maaf sampai seperti ini. Oli yang panas butuh di ganti, perangkat stabil.. jangankan untuk mati mesin.. ngadat pun tidak akan terjadi. Sama seperti laki-laki. Di rumah selesai, di luar ada seribu kecantikan pun tidak akan tergoda.. karena hasrat sudah kenyang di puaskan istri." Bang Huda kembali beralih mendekap Ayu.


.


.


.


.