Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
44. Kenakalan Ayu.


"Hhkkk.."


Pagi usai sholat subuh, Ayu sudah mual membuat Bang Huda cemas.


"Iki piye Lam??? Ayu mual terus ini..!! Pengaruh sama baby nggak???" tanya Bang Huda panik dalam sambungan telepon.


"Seharusnya nggak begitu mabuk lagi sih, tapi memang ada beberapa kasus ibu hamil yang masih mual. Tapi ngomong-ngomong, Ayu masih mau makan??"


"Masih, cuma aku nih yang nggak ada perubahan.. masih mual" jawab jujur Bang Huda.


"Gitu ya, selama Ayu nggak lemas atau sampai pingsan sih kamu masih bisa tenang. Bawaan bayi beda-beda bro" kata Dokter Alamsyah menjelaskan. "Vitamin dan susu harus lanjut ya..!!"


Ayu menguping pembicaraan Bang Huda dan dokter Alamsyah. Tangannya berpegangan pada wastafel kemudian merosot.


Bang Huda yang melihatnya kaget setengah mati sampai tak sengaja membanting ponselnya hingga mati. Ayu ambruk memeluknya hingga tak sadarkan diri.


"Deekk.. Allahu Akbar.. stress Abang lihat kamu begini..!!!" Bang Huda segera mengangkat Ayu ke atas ranjang. Ia kelabakan mencari minyak angin. Pikirannya berantakan tak karuan.


Ayu sedikit membuka matanya dan mengintip Bang Huda yang sedang mondar-mandir mencari minyak angin. Terlihat beberapa kali Bang Huda tersandung bahkan sampai terpeleset.


braaakk..


"Aduuuhh.. pinggangku..!!" Bang Huda meringis merasakan sakit tapi ia segera menepisnya mengingat Ayu belum sadar juga.


Secepatnya Bang Huda menggosok tangan Ayu. "Ayo bangun sayang..!! Jangan buat Abang cemas..!!" gumamnya.


Tak lama Ayu menggeliat membuka matanya. Di lihatnya Bang Huda masih begitu tegang menatapnya. "Bang, Ayu mau bakso"


"Iya.. iyaa.. kita beli sekarang..!!"


"Kalau Ayu beli baju baru boleh nggak Bang, pakaian Ayu sesak."


"Iya, beli apa saja yang kamu mau..!!" tanpa penolakan, Bang Huda menuruti keinginan Ayu.


"Ayu mau di usap dulu, si dedek kangen Papanya" pinta Ayu lagi.


Sekali lagi tanpa ada penolakan dari Bang Huda tapi tangan itu mengusap perut Ayu. "Masih sakit perutnya? Masih terasa mual??" Bang Huda memastikan.


"Nggak semua Bang, Ayu sudah sehat"


"Alhamdulillah..!!" Bang Huda mencium perut Ayu. "Manjanya anak-anak Papa. Boleh manja tapi jangan buat Mama sakit ya nak, anak Papa anak Sholeh dan Sholehah khan, kasihan Mama sudah capek"


...


Tak ada komplain dari Bang Huda karena Ayu berhasil menghabiskan tiga mangkok bakso sedangkan Bang Huda sendiri baru menghabiskan tiga perempat makanannya karena merasa mual.


"Masih lapar nggak?" tanya Bang Huda.


Ayu menggeleng tapi raut wajahnya terlihat begitu sedih.


"Ada masalah apa lagi?" Bang Huda sedikit membenahi letak kerudung Ayu.


"Barang yang Ayu beli kemarin rusak"


"Ya sudah beli lagi saja..!!"


"Tapi barang itu hanya ada disana"


"Barang apa yang kamu beli kemarin?"


"Gantungan kunci kura-kura"


"Ya ampun.. masalah kura-kura saja sampai murung begitu." gumam Bang Huda.


"Abang bilang apa?" tanya Ayu.


"Nanti kita ke pusat peraknya saja. Jangankan kura-kura.. b*bi laut pun mereka bisa buat." jawab Bang Huda.


"Ya sudah sekarang saja Bang..!!" ajak Ayu.


"Sabar dulu, Abang mau ketemu seseorang di kantor Reskrim" kata Bang Huda.


"Hmm.. Reskrim mana Bang?" tanya Ayu ragu.


"Ya Reskrim pusat di daerah sini" jawab Bang Huda santai.


...


Ayu menunduk melihat seseorang yang di kenalnya sedang berbincang dengan Bang Huda. Suami Ayu itu terlihat sangat emosional saat bertemu dengan pria yang sudah mencekiknya semalam sampai Pak polisi ikut menenangkan.


"Saya masih memberimu satu nyawa karena sekarang istri saya dalam keadaan sehat, jika saja semalam istri saya ada apa-apa.. jangankan kamu, satu keluargamu akan saya obrak-abrik..!!!!" ancam tegas Bang Huda tanpa ampun.


"Apa kau bermanis muka, mau cari perhatian di depan istriku??" Bang Huda sungguh tidak suka berhadapan dengan polisi tersebut. "Kau pikir aku tau tingkah kau yang keluar dari jalur akal sehat."


"Sabar Mas, setelah saya selesaikan.. Ayo kita ngopi barang sebentar saja. Ada yang mau saya jelaskan lebih terperinci" kata polisi tersebut.


"Saya bukan Mas mu. Jangan sok akrab Le" jawab Bang Huda.


:


Ayu duduk bersebelahan dengan Bang Huda yang terus menghisap rokoknya menatap wajah Pak polisi.


"Aahh buang-buang waktu, katakan saja kalau saudara mu Arnold Sibarani yang mempermainkan Ayu"


Bang Ajum tampak gelisah dalam duduknya. Ayu pun diam seribu bahasa karena Bang Huda tau segala tentang dirinya.


"Kami nggak macam-macam Bang. Sumpah."


Bang Huda tersenyum sinis melihat Bang Ajum. "Lihat saja.. sesampainya adikmu di Tarakan.. akan kubuat dia jadi pecel lele..!!!"


"Semua hanya masa lalu dari kebodohan kami Bang" jawab Bang Ajum.


"Paling tidak.. Arnold kenalan dulu lah sama saya.. Abangnya" senyum ancaman Bang Huda terkembang tajam.


...


"Kenapa nih istri Abang nggak ada suaranya?" Bang Huda mencubit gemas dagu Ayu.


"Seberapa banyak Abang menyelidiki tentang Ayu..??????"


"Ya sebanyak kamu menyelidiki mantan Abang" tawa Bang Huda akhirnya merekah juga. "Memangnya kamu saja yang bisa jadi badan intelijen??"


"Tapi Ayu pacaran normal saja, nggak seperti Abang yang nyosor sana sini" kata Ayu mulai jengkel.


"Itu khan sudah lama yank. Sejak menikah mana ada Abang nakal seperti dulu. Abang mencari tahu tentang kamu juga nggak bermaksud buruk. Abang nggak mau ya, pikiranmu terganggu karena Abang juga nggak ada main sama perempuan lain..!! Fokus sama kamu, anak dan karir" jawab Bang Huda.


"Ayu juga nggak peduli mantan"


"Terus kenapa kamu masih punya chat dunia maya sama Ajum, masih menanggapi Arnold juga di akun mu yang lain."


Ayu terdiam mendengarnya. Tangannya gemetar ketakutan padahal Bang Huda tidak membentaknya.


"Abang nggak menuntut kamu sempurna, Abang sendiri juga nggak sempurna. Tadinya Abang nggak mau bahas hal ini sampai kapanpun, tapi ternyata saat kamu tertidur di bathtub.. kamu lupa mematikan akun cadanganmu dan terus bunyi, puncaknya semalam Abang malah melihat orang-orang dari masa lalumu. Abang juga punya perasaan yank..!!"


"Abang marah sama Ayu?"


Bang Huda tersenyum mendengar pertanyaan Ayu. "Nggak akan marah kalau kamu jujur. Kenapa kamu nggak bilang kalau kita sudah menikah?"


"Ayu nggak mau Abang malu karena kelakuan Ayu, lagipula nama Abang bisa kotor." jawab Ayu.


"Itu resiko Abang. Dimana soft copy hasil kamu hura-hura sama Arnold? Apa misi Arnold sebenarnya?"


"Bang Arnold nggak mau di putusin karena waktu itu Ayu memilih Bang Leo, menyelingkuhi Bang Asnan juga. Bang Arnold nangis waktu Ayu putusin. Foto itu sebagai jaminan kalau Ayu nggak bakalan nikah sama mereka" ungkap Ayu panjang lebar.


"Bukan main kamu ya dek. Bisa-bisanya itu lho kamu main banyak laki-laki."


"Gimana donk Bang, Abang bisa celaka"


"Celaka apanya??? Sudah kamu diam saja. Dia yang celaka kalau berani berurusan sama Abang. Coba ganggu istri senior, apa dia mau jadi pecel lele???" gerutu Bang Huda. "Makanya kalau mau berulah itu pikir panjang. Jangan asal terima laki, pacaran, bosan...di tinggal"


"Abang nih marah terus seperti nggak pernah gonta ganti perempuan" ucap Ayu kesal.


"Kamu ini kalau di bilangin ya..!!"


Baru saja suara Bang Huda mulai meninggi.. Ayu secepatnya menunduk meremas perutnya. "Aaaaaaahh.. perut Ayu sakit Bang..!!" akal Ayu mulai muncul karena takut melihat mata Bang Huda mulai melotot.


"Eehh.. kenapa dek??" seperti dugaan Ayu, Bang Huda selalu lemah setiap tau dirinya kesakitan.


"Sakiiitt.. jangan teriak..!!"


"Iyaa nggak lagi.. maaf ya yank..!!" Bang Huda mengusap kening Ayu tidak jadi marah karena takut terjadi sesuatu pada kandungan istrinya.


.


.


.


.