
"Abang.. bukannya itu Bang Ardan?" tanya Ayu.
"Kamu kenal??" kening Bang Huda sampai berkerut mendengar pertanyaan Ayu.
"Kenal lah Bang"
"Dimana??" tanya Bang Huda penasaran.
"Ada deeehh" jawab Ayu membuat Bang Huda melirik jengah.
"Yang benar kalau ngomong dek..!!"
"Pokoknya dulu satu bulan kami pernah melewati hari bersama-sama"
"Maksudmu apa??" Bang Huda semakin berpikir keras.
Ayu tersenyum saja melihat kesalnya Bang Huda.
...
Malam hari Bang Ardan bertandang ke rumah Danki C sekalian bersilaturahmi karena akhirnya mereka menjadi satu keluarga.
Ayu menghidangkan suguhan untuk para tamunya. Saat menghidangkan kopi, pashmina Ayu sempat menjuntai dan Bang Huda menyampirkan ke belakang pundak Ayu.
"Abang nggak nyangka Da, ternyata Ayu istrimu" kata Bang Ardan. "Sekarang dia berubah total sejak jadi Nyonya Huda"
"Ijin Bang, sebenarnya Abang bertemu Ayu dimana?" tanya Bang Huda penasaran.
Sekilas Bang Ardan dan Ayu saling lirik sampai kemudian Ayu kembali masuk ke dalam rumah.
"Abang akui dulu sempat naksir Ayu sih, umur belasan tapi.. ya begitulah, kamu tau sendiri" kata Bang Ardan.
Bang Huda hanya bisa nyengir meskipun dalam hatinya mengumpat tak karuan.
"Dia tidak berubah" raut wajah Bang Ardan menunjukan bahwa ia masih mengingat kenangan lama bersama Ayu.
Tanpa Bang Ardan sadari ada mata menyipit dan melirik penuh rasa kesal.
***
Tengah malam sudah lewat. Bang Huda memperhatikan wajah Ayu yang tengah tertidur pulas. Paras cantik, sangat menawan.
"Pantas banyak pria yang tergila-gila padamu. Termasuk juga Abang. Setelah Abang menikah denganmu.. Abang tau indahnya dirimu" gumam pelan Bang Huda. Tangannya mengusap pipi lembut Ayu, bersih tanpa jerawat seperti p****t bayi.
Bang Huda tersenyum tipis. Sebenarnya Ayu sangatlah dewasa, bijak.. namun juga manja dan usil dengan berbagai keunikan yang ada pada wanita.
"Kenapa saingan Abang harus orang-orang yang Abang kenal? Sekarang malah harus berhadapan dengan senior, tidak masalah juga jika Abang harus berhadapan dengan mereka.. Abang tetap pemenangnya. Lihat saja, perutmu tidak berhenti Abang beri tanda" gumam Bang Huda nakal. "Mungkin lebih baik harus begini biar tidak ada yang berani mendekatimu..!!"
-_-_-_-_-
Usai pemakaman dan pernikahan dirinya dengan Bang Arial, Syarin lebih banyak terdiam.
"Ada apa dek?" sapa Bang Arial karena sejak semalam Syarin hanya terdiam.
"Kenapa Abang melakukan semua ini? Syarin tidak akan bisa membalas segala kebaikan Abang. Syarin juga tidak mencintai Abang. Syarin bisa membesarkan anak ini sendirian atau mungkin Syarin gugurkan saja"
Bang Arial tersenyum tipis. "Abang tidak memintamu untuk membalas semuanya. Abang mengerti kalau kamu tidak bisa cinta sama Abang. Jika setelah kelahiran si kecil ini kamu tetap tidak bisa mencintai Abang.. kamu boleh meminta pisah dari Abang..!!" ucap Bang Arial. "Tapi selama Abang masih menjadi suamimu, Abang berhak mengusahakan untuk membuatmu bisa menerima Abang apa adanya, karena Abang secara sadar dan tidak pernah terpaksa menikahimu"
Syarin menunduk mengurai tangis, ia tidak bisa memahami perasaannya sendiri.. mengapa dirinya tidak bisa mencintai pria sebaik Bang Arial, mungkin karena kejadian malam itu, dirinya tidak bisa dengan mudah membuka hati untuk pria lain.
"Abang tidak ikhlas kalau kamu mau menggugurkan kandunganmu. Biarkan dia hidup, dia anak Abang"
Syarin semakin terisak di buatnya.
"Nanti kita ke dokter, kita periksakan kandunganmu..!!"
...
"Lima minggu ya Ar..!!" kata dokter Alamsyah.
"Siap Bang"
"Anak adalah rejeki Ar, di jaga baik-baik meskipun datangnya tidak di sengaja. Kamu kurang hati-hati" ucap dokter Alamsyah.
Air mata Syarin menggenang. Setiap hari Bang Arial harus menerima tuduhan demi tuduhan yang jelas bukan karena perbuatannya. Perkosaan malam itu membuat Bang Arial harus ikut menanggung beban hasil perbuatan Bang Arnold.
"Siap salah Abang..!!" jawab Bang Arial.
"Ini Abang kasih resep vitamin, nanti di tebus dan di minum secara teratur ya..!!"
Disana Bang Arial lebih aktif bertanya tentang kandungan Syarin. Terlihat raut wajah Bang Arial begitu bahagia tanpa di buat-buat.
"Waahh ternyata masih kecil sekali ya Bang" Bang Arial tersenyum melihat titik kecil di layar USG. "Kapan besarnya nih anak Papa? Mama susah sekali makannya. Bagaimana anak Papa bisa besar" Bang Arial mengusap perut Syarin dengan sayang.
...
Syarin sungguh tidak berselera makan, rasa mual terus saja menyerang.
"Abang suapin ya, si adek lapar" bujuk Bang Arial.
"Nggak enak makan Bang" Syarin menutup mulutnya, melihat nasi di hadapannya langsung menghilangkan selera makan.
"Sejak kemarin kamu nggak makan. Abang tau kamu nggak enak makan, tapi satu atau dua suap saja cukup asal tidak di muntahkan lagi"
Dengan sabar Bang Arial menyuapi Syarin hingga akhirnya tanpa terasa nasi di piring sudah habis setengah. Bang Arial tersenyum melihatnya.
...
Sore hari usai lepas kerja, Bang Huda melepas seragam loreng dan meletakan dengan sembarangan ke keranjang pakaian kotor, Ayu pun memungutnya tanpa banyak bicara karena terkadang Bang Huda memang sudah sering membuatnya naik darah.
Tak lama Om Edwin mengetuk pintu rumahnya.
tok..tok..tok..
Mendengar suara sapaan salam Om Edwin, Bang Huda segera membukanya.
"Ijin Dan, ada kiriman coklat dan bunga" kata Om Edwin.
"Dari siapa itu Bang?? Siska???" tanya Ayu saat Bang Huda membaca baik-baik nama pengirim coklat dan bunga tersebut.
"Bang Ardan" jawab Bang Huda berwajah datar apalagi disana ada tulisan yang membuat Bang Huda semakin meradang.
Semoga coklat ini bisa menambah semangatmu ya dek. Kamu hebat, sudah berhasil melewati fase tersulitmu.
❤️
Mata itu terus memperhatikan emoticon love yang manis disana.
"Ciyeeeee.. Danki cemburu sama Pak Ardan. Coklat mahal itu Dan..!!" ledek Om Edwin tanpa sungkan.
"Diam kamu Edwin..!!!!!" bentak Bang Huda merasa seakan ubun-ubun nya terbelah mendengar ledekan Om Edwin.
"Siap salah" Om Edwin tetap tersenyum meskipun Danki sudah panas meradang.
Ayu melihat Bang Huda menenteng coklat tersebut lalu melemparnya di ruang tengah dengan kasar.
"Iiihh.. kenapa di lempar? Ayu suka coklat" kata Ayu sedikit kesal walaupun ia sudah tau Bang Huda pasti sedang cemburu.
"Abang bisa belikan kamu coklat seperti itu, satu toko.. sama pabriknya sekalian kalau perlu" ucap ketus Bang Huda. "Kembalikan..!! Bilang kamu nggak suka coklat..!!"
"Ayu suka coklat"
"Sudah diam. Abang juga punya coklat. Pilih coklat ini atau coklatnya Abang???" tanya Bang Huda bernada tegas.
"Coklat ini" jawab Ayu.
Bang Huda sangat kesal mendengarnya sampai menendang bingkai pintu di sampingnya. "Ya sudah sana.. temui mantan-mantanmu..!!!"
"Kamu ikut saya..!!" perintah Bang Huda pada Om Edwin.
"Siap.. ijin Dan kemana?"
"Nggak usah banyak tanya" jawab Bang Huda.
"Komandan juga mau cari coklat??" tanya Om Edwin.
Seketika Bang Huda melirik Ayu, takut istrinya itu akan salah paham.
.
.
.
.