
"Sekali lagi kau buat ulah.. akan kulempar kau ke kubangan samping kompi"
"Aku cuma bercanda."
"Bercanda mu itu nggak lucu, aku hampir ribut sama Ayu" bentak Bang Huda. "Puding kepalaku lihat kelakuanmu" Bang Huda menyambar bungkus rokoknya.
Bang Leo pasrah mendengar Omelan Bang Huda di kantin.
"Astaga.. kau ini. Rokok ku juga kau habiskan sendiri???"
"Ya ampun, perhitungan sekali. tadi hanya sisa enam" jawab Bang Leo.
"Sisa itu satu..!!!!!!"
"Jangan marah terus. Kenapa kau ini jadi laki tidak sabaran. Ayu bisa mual punya suami macam kamu" kata Bang Leo.
Bang Huda bersiap menghajarnya tapi Bang Madya menghadangnya. "Sabar Dan.. ini rokok saya masih banyak" Bang Madya menyerahkan rokoknya.
Bang Huda mengambil sebatang rokok milik Bang Madya dan mulai tenang. Sejak dulu memang dirinya tidak pernah akur dengan Bang Leo.
"Nah, begitu khan beres. Kenapa segala hal selalu kau buat tarik urat."
Mata Bang Madya melotot kaget melihat Kapten Leo. Memang perwira satu itu biang onar nomer satu.
"Siap salah..!!" ucap Bang Madya menengahi candaan pembawa emosi.
...
Ayu melihat data di bukunya sudah genap sepuluh juta rupiah. Ia kemudian menghitung uang cash yang ada di dompet seksi keuangan. Memang bukan tugasnya untuk memikirkan masalah seksi keuangan tapi selama ia menjabat sebagai ibu Danki.. segala apapun harus melalui persetujuan darinya dan butuh tanda tangan darinya.
:
"Ini sudah fix ya Bu Zafir.. suami saya sudah buat semua ini clear. Lain kali saya minta tolong jika memang ibu Danki lama tidak mau menyelesaikan tanggungan.. sebaiknya langsung menjadi laporan saja ke tingkat atas."
"Siap ibu. Menyesuaikan arahan" kata Bu Zafir.
"Sekarang uang ini masuk ke rekening pengurus ranting saja. Nanti kalau ada proses simpan pinjam baru di keluarkan sesuai kebutuhan. Mohon maaf kalau dari permintaan saya, untuk keluar masuk dana, besar kecilnya harus mengetahui saya dan Danki" arahan Ayu disana memberikan ketegasan.
"Siap ibu"
"Ya sudah Bu, silakan di share saja.. untuk simpan pinjam sudah bisa di buka ya..!!" kata Ayu.
-_-_-_-
Ayu masih menghubungi beberapa rekannya yang baru. Akan diadakan lomba volly antar Matra dan donor darah.
Sejak pulang tadi Ayu hanya menjawab pelan salam Bang Huda kemudian melanjutkan lagi acara ngobrolnya sambil membuatkan Bang Huda teh hangat tapi tetap sama sekali tidak ada fokus untuk suaminya itu.
Satu jam berlalu membuat Bang Huda kesal karena merasa di abaikan.
"Kamu itu telepon siapa? Lama sekali" protesnya tak sabar.
"Batalyon biru laut" bisik Ayu.
"Celana pendek Abang mana?" tanya Bang Huda.
Ayu segera menuju lemari dan mengambil celana Bang Huda lalu menutup pintu lemari dan meletakan di atas nakas.
"Dal*man??"
Ayu kembali membuka lemari lalu mengambil barang pribadi milik suaminya di dalam laci, meletakan di atas nakas lalu menutupnya kembali.
"Kaosnya???"
Ayu melirik Bang Huda lalu melakukan kegiatan seperti apa yang di lakukan ya tadi.
"Abang mau susu" ucap Bang Huda lagi.
Ayu menoleh sekilas, ia berjalan menuju pintu kamar lalu menutupnya rapat. Bang Huda bengong dengan apa yang dilakukan Ayu yang kini berjalan menuju ke arahnya.
"Nanti saya hubungi lagi ya Mbak, kucingku minta susu." pamit Ayu pada rekannya.
Ayu membuang ponselnya lalu membuka kancing bajunya.
"Kamu mau apa dek?"
"Abang minta susu khan?" tanya Ayu.
"Iya.............."
Saat Bang Huda masih menerka keadaan.. Ayu mendorong Bang Huda di atas ranjang lalu naik di kedua paha Bang Huda. Ayu melepas apa yang melekat di tubuhnya hingga tersisa raga Ayu saja membuat mata Bang Huda hampir melompat dari tempatnya.
Ayu menggeliat, menaikan rambutnya lalu memeluk Bang Huda tepat di dadanya. Kelakuannya membuat Bang Huda terhanyut dan terlena. Tubuhnya sigap siap perang, tapi Ayu malah menarik diri.
"Ayu itu lagi kerja, kenapa Abang ganggu. Sudahlah.. Ayu mau lanjut kerja..!!" Ayu beranjak tapi Bang Huda menarik Ayu lagi.
"Mau kemana??"
"Lanjut kerja" jawab Ayu polos.
"Enak saja. Abang sudah mode on fire, kamu mau lari dari tanggung jawab???" Bang Huda menggulingkan Ayu di atas ranjang.
"iihh.. Abang mau apa?"
"Patroli"
"Ayu nggak mau kalau hanya jadi bahan kamuflase" kata Ayu.
"Kamu nggak percaya kalau Abang laki-laki normal???"
"Sudah ada buktinya. Abang sama Bang Arial"
"Lailaha Illallah.. kenapa kamu percaya sama Leo???? Abang ini normal" suara Bang Huda sampai meninggi merasakan berontaknya Ayu. Ia mengobrak abrik pakaiannya sendiri.
"Ayu nggak mau.."
"Harus mau..!!!!!" bentak Bang Huda mengunci tubuh Ayu sampai akhirnya Bang Huda bisa menyatukan diri.
Untuk beberapa saat Ayu memberontak tapi beberapa menit kemudian ia malah membalas dan menikmati permainan Bang Huda. Melihat Ayu sudah mulai naik, Bang Huda menyamankan ritme permainan untuk membuktikan kejantanannya pada sang istri. Ia pun ikut terhanyut merasakan nikmatnya surga dunia.
tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu cukup keras, refleks Bang Huda berhenti sejenak.
"Hudaaa... Hudaaaaa..!!!" sapa seseorang dari luar.
"J****k.. Ada apa sih, apa ada sesuatu yang genting??" gumam Bang Huda geram.
"Jangan berhenti..!!" pinta Ayu yang sudah terbuai dengan servicenya.
Tapi sialnya karena ketukan pintu tersebut, konsentrasi Bang Huda hilang. Tubuhnya sudah lemas tanpa penyelesaian.
M****s, pistolku macet. Mana Ayu lagi senang-senangnya.
"Bang.. Ayoooo..!!!!" Ayu sudah begitu berantakan menginginkan Bang Huda.
"Nanti lagi ya sayang. Ada trouble sistem" bujuk Bang Huda penuh penyesalan. Ia menggeser tubuhnya perlahan. Terlihat Ayu sangat kecewa, wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca.
"Bilang saja kalau memang Abang nggak suka perempuan" kata Ayu sebegitu kesalnya.
"Astagfirullah.. jangan memancing emosi Abang..!!!!" Bang Huda secepatnya memakai pakaian dan segera keluar dari kamar melihat siapa yang sudah memanggilnya.
~
"Ya salaaaamm.. kamu kesini hanya mau pinjam gula??????? Memangnya di koperasi nggak adaa??????" ubun-ubun Bang Huda rasanya terbakar melihat Bang Leo merusuh di rumahnya. "Gara-gara kamu.. aku ribut sama Ayu.
"Kenapa ribut, aku hanya mau pinjam gula, nggak pinjam istrimu" kata Bang Leo.
"Kau ini benar-benar masalah besar bagiku. Ayu sudah mengira aku ini g*y"
Seketika tawa Bang Leo membahana. Tawa bahagia di atas penderitaan orang lain. "Jadi kau gagal pembuktian?? Dengan Nadia kau bisa membuktikan gagahnya seorang Huda tapi dengan Ayu kau kalah sebelum perang??"
Entah sejak kapan Ayu ada di belakang Bang Huda dan Bang Leo. Ayu menenteng tas kopernya dan bersiap keluar dari rumah.
"Ya Allah Ya Tuhanku.." Bang Huda berjongkok resah mengacak-acak rambut cepaknya. Bang Huda segera berdiri memeluk Ayu. "Mau kemana malam begini. Ayo masuk, kita bicara dulu..!!"
Ayu tak lagi bicara, hatinya sedang sensitif sekali malam ini. "Nggak mau, Ayu mau pulang"
"Iya, Ayu boleh pulang. Masuk sebentar, si dedek minta di sayang Papanya dulu" bujuk Bang Huda sambil mendorong Ayu masuk.
"Laahh.. gulanya????" kata Bang Leo saat Bang Huda meninggalkannya sendirian.
"Bodo amat, sana gigit tebu..!!"
.
.
.
.