
"Apa banyak orang di luar?" tanya Ayu.
"Iya, para tamu undangan sudah datang" jawab Bang Huda.
Mata Ayu terpejam sesaat. "Kita lanjutkan saja acaranya Bang..!!" kata Ayu.
"Kamu yakin? Kamu kuat?" Bang Huda memastikan pada Ayu sekali lagi.
"Iya Bang, Ayu yakin."
:
Tradisi tujuh bulanan di laksanakan secara adat kepercayaan keluarga Bang Huda. Air mengucur perlahan dari puncak kepala Ayu. Air matanya menetes entah apa yang di rasakannya. Hati Bang Huda pun rasanya tak karuan melihat tangis sang istri.
Sesaat kemudian Ayu meraih tangan Bang Huda dan mencium punggung tangannya. "Ayu mohon maaf jika selama ini banyak membuat Abang cemas dan kecewa. Ayu meminta keridhoan Abang untuk ikhlas dan mendo'akan Ayu agar dapat menjalani kehamilan ini dengan sehat dan tanpa hambatan juga bisa melahirkan anak kita tanpa kekurangan suatu apapun." pikiran Ayu yang sudah berantakan hanya bisa mengucap kata itu saja dan Huda sangat mengerti keadaan mental Ayu saat ini.
"Abang ikhlas dan pasrahkan segala ketetapan yang telah Allah berikan tapi sebagai seorang suami, Abang masih berhak memohon pada Yang Maha Kuasa agar melindungi dan menjagamu dari segala kesulitan yang akan kamu hadapi. Abang juga meminta maaf sering terlupa menempatkan diri hingga membuatmu kecewa tapi dalam hati Abang tak akan mengurangi rasa dan sayang Abang untukmu Ayu.. istri Abang seorang" ucap Bang Huda kemudian menunduk dan berganti mencium jemari Ayu, beralih mengecup kening, kedua pipi dan akhirnya mendarat sekilas kecupan hangat pada bibir ranum Ayu. "Sehat-sehat ya ndhuk.. istri Abang sayang, terima kasih banyak sudah bersedia mengandungnya. Abang sadari nyawa ini pun masih belum cukup untuk menggantikan seluruh perjuanganmu. Papa sayang kamu Ma" Bang Huda kembali mengecup bibir Ayu lebih dalam hingga Papa Juan menyadarkan putranya.
"Wes le, malam saja di lanjut lagi..!!"
Bang Huda pun memeluk Ayu hingga pakaiannya ikut sedikit basah kemudian mencium perut besar Ayu. "Sehat-sehat kalian di dalam sana. Papa tunggu kalian sampai nanti akhirnya kita bertemu..!!" ucap lembut Bang Huda.
"Waahh.. Ayah dari calon jabang bayi ternyata hatinya begitu lembut nggih hadirin, sampai meneteskan air mata. Pak Huda begitu trenyuh ikut merasakan awal perjuangan istri tercinta." kata seorang MC ikut trenyuh melihat ekspresi wajah Bang Huda. "Ini belum lahir nggih Pak Huda, masih sekitar dua bulan lagi."
Bang Huda tersenyum dan mengangguk membawa senyum harunya menata perasaan hingga Bang Huda menerima mic yang di sodorkan seorang MC lainnya saat Ayu di bawa ke belakang panggung untuk berganti pakaian.
"Apa perasaan Pak Huda saat ini?"
"Perasaan saya tentu saja sangat bahagia, takjub, terharu, cemas.. semua bercampur menjadi satu. Jika dulu pandangan saya melihat wanita yang sedang hamil adalah biasa saja.. kini pandangan itu telah berubah, khususnya untuk istri saya. Setiap hari saya melihat prosesnya" Bang Huda kembali menitikan air mata. "Dari awal perut itu yang masih datar, kini sudah membesar hanya karena saya yang menginginkan malaikat kecil ada di dalam rahim istri saya dan ternyata berkah itu tak hanya sampai di situ.. saya mendapat dua sekaligus dimana di setiap harinya hati saya sebagai seorang suami selalu was-was memikirkan mereka bertiga."
"Waahh.. pengalaman yang indah ya Pak?" sambung MC tersebut.
"Amat sangat indah dan tentunya sangat berharga" jawab Bang Huda.
...
Satu persatu acara di laksanakan dengan lancar. Papa Juan meletakan dua kelapa untuk di belah dan ternyata satu buah terlihat sangat lurus dan satu buah lagi menyamping pertanda si calon jabang bayi adalah laki-laki dan perempuan.
"Alhamdulillah.." ucap Bang Huda penuh syukur.
"Lanang wedhok dek" senyum bahagia Bang Huda menatap mata Ayu.
Ayu tersenyum kecil melihat kebahagiaan Bang Huda karena mendapat putri dan pangeran sekaligus dalam adat tersebut.
...
Acara telah usai dengan sempurna. Bang Huda duduk di sudut ruangan mengurangi rasa penatnya menyambut para tamu undangan yang hadir dalam acara kecilnya. Tiba-tiba Ayu berlutut dan bersandar di pahanya mengurai tangis.
"Kenapa sayang? Capek ya, mau Abang antar istirahat?" tanya Bang Huda menyambar tissue di sampingnya kemudian mengusap air mata Ayu.
"Bolehkah Ayu ikut pemakaman Opa?" tanya Ayu.
"Tadi Abang sudah bilang, boleh asalkan kamu sehat. Bukan perkara mudah melakukan penerbangan dengan usia kandungan besar seperti ini. Sabar ya, nanti Alam cek ulang kandunganmu..!!" jawab Bang Huda. "Tapi kamu juga harus janji, tidak akan memaksa kalau ternyata keadaan mu kurang sehat..!!"
"Mau ke kamar?"
Ayu menggeleng dan tetap menyandarkan kepala di paha Bang Huda.
"Sini duduk di samping Abang..!!"
Ayu kembali menggeleng, ia hanya merasakan sedih atas kepergian Oma dan Opanya.
Papa Juan dan Mama Sasti menghampiri Bang Huda dan Ayu.
"Ayu kenapa?" tanya Papa Juan.
"Ingat Opa." jawab Bang Huda sembari membantu Ayu berdiri.
Badan Ayu sangat lemas, begitu Bang Huda mengangkatnya.. Ayu lunglai dan tak sadarkan diri.
"Astagfirullah.. di rebahkan di dalam kamar saja. Istrimu capek, di tambah banyak pikiran" kata Mama Sasti ikut panik.
Bang Huda pun mengangkat dan membawa Ayu ke dalam kamar.
:
"Ini nggak bisa ikut terbang ya. Beresiko kalau di paksakan, takutnya kontraksi di atas pesawat" dokter Alamsyah menjelaskan keadaan Ayu.
"Oke Lam.. aku paham. Nanti aku yang jelaskan sendiri sama Ayu" jawab Bang Huda.
~
Bang Huda berusaha menenangkan Ayu. Di peluknya Ayu dan ia beri pengertian hingga akhirnya Ayu bisa tenang.
"Hidup dan mati adalah ketetapan Allah, sekarang kita yang masih ada di dunia.. mendo'akan saja semoga Opa dan Oma tenang disana."
"Iya Bang" jawab Ayu dengan suara yang nyaris hilang karena terlalu banyak menangis.
"Abang suapin ya, kamu belum makan lho. Si dedek pasti lapar" bujuk Bang Huda lagi.
"Ayu nggak lapar"
"Sepiring berdua sama Abang, biar romantis" Bang Huda memainkan alisnya mengalihkan perhatian Ayu.
Ayu mulai bisa tersenyum walaupun terlihat di paksakan. "Tapi sama ikan asin ya..!!"
Bang Huda sedikut terkejut, tapi ia pun menyanggupi permintaan sang istri. "Oke.. Abang siapkan dulu..!!"
.
.
.
.