
Warning..!! Kebijakan dalam membaca..!!
🌹🌹🌹
"Eghh.. Ya Allah, rasane ora karuan..!!" Bang Huda mencoba beradaptasi dengan apa yang ia alami sekarang. Ia sedang menikmati fase bahagia ada kan menjadi seorang ayah.
"Aku harus segera kembali. Kasihan Andin di rumah sendirian."
"Aku juga, Naya tingkahnya nggak karuan. Buat jantungku nggak aman" imbuh Bang Khaja.
"Ya sudah sana, aku sudah baikan" kata Bang Huda berbanding terbalik dengan ucapannya. Ia juga tidak ingin merepotkan kedua Abang iparnya.
"Nadia hamil" Bang Langsang tiba-tiba buka suara.
"Baguslah, biar dia tidak merepotkan semua orang" jawab Bang Huda.
"Tapi kemungkinan besar Bang Anggara tetap menceraikan Nadia" kata Bang Langsang.
"Lah.. bukankah seharusnya Bang Anggara senang??" tanya Bang Huda sebenarnya tidak ingin tau tapi terbersit penasaran dari dalam hatinya.
"Itu bukan anak Bang Anggara" jawab Bang Khaja.
"Astagfirullah hal adzim.." Bang Huda mengusap wajahnya. "Kok bisa?? Mereka suami istri"
"Ya tadi keributan yang kudengar begitu. Dua bulan ini mereka nggak 'dekat'. Nadia sering keluar bertemu teman-temannya untuk party dan malah hari ini ada kabar Nadia hamil" kata Bang Langsang. "Aku jadi berpikir.. jangan-jangan Bang Anggara........."
"Iya, aku juga sempat berpikir begitu. Bersyukurlah kita yang masih bisa membuahi pasangan dan memiliki keturunan. Selain perkara harga diri.. pasti kita akan mengalami tekanan batin jika berada di posisi Bang Anggara" kata Bang Huda.
"Mungkin Mbak Nadia juga stress karena merasa tidak puas dengan suami" tiba-tiba Ayu bersuara setelah sekian lama hanya terdiam mendengar para pria sedang berghibah.
"Huusshh..!!" Bang Huda meremas dan menjepit bibir Ayu dengan cepat.
Bang Khaja dan Bang Langsang tertera mendengar celetukan adik perempuannya.
"Oohh jadi Huda sangat memuaskan?" goda Bang Khaja.
"Iya Bang" jawab Ayu dengan polosnya.
"Masa??? Huda suka bagaimana??" Bang Langsang pun ikut menggoda karena penasaran.
"Bang Huda suka......."
"Wes pulang sana..!! bojomu kangen" sambar Bang Huda sambil menutup bibir istri kecilnya yang hampir membongkar tak tik perang rahasia miliknya.
"Ya sudah lah, kami pamit pulang ya. Titip Ayu dan jangan ribut lagi..!!" pesan Bang Khaja.
Kedua Abang itu memeluk Ayu kemudian mencium pipi kemudian perut Ayu. Ada rasa tidak tega di hati keduanya. Meskipun Ayu sudah menikah tapi hati mereka seakan tetap menganggap Ayu gadis kecil mereka dan di sana Bang Langsang yang terasa berat meninggalkan Ayu.
"Jangan berbuat seperti itu lagi. Sekuat-kuatnya laki-laki, kalau sudah menyangkut anak dan istri pasti hatinya lemah.. begitu juga dengan Huda. Dia juga nyaris mati karena mikir kamu. Dewasa lah sedikit. Ayu nggak mau lihat Abang-abang sedih khan?" ucap Bang Langsang.
"Iya Bang, maaf"
Bang Langsang tersenyum berat. Adik kesayangannya sudah tidak bisa ia perlakukan seperti dulu lagi. "Nurut apa kata Huda ya, jangan jadi istri yang pembangkang. Andai Abang masih bujang, Abang akan menemanimu disini.. tapi Abang sudah punya istri, dia butuh perhatian Abang. Sekarang sudah ada Huda yang menemanimu.. seperti hal nya Abang yang harus bertanggung jawab penuh untuk istri Abang"
"Iya Bang, Ayu ngerti." jawab Ayu.
Bang Huda beranjak dari posisinya kemudian berpamitan dengan Bang Huda. "Titip Ayu..!!"
:
Ayu termenung menatap langit-langit kamar rumah sakit. Matanya terbuka tapi perasaannya entah pergi kemana.
"Mikir apa?" Bang Huda membelai rambut Ayu.
"Ayu kadang mikir Bang, Mbak Andin.. Mbak Naya, mereka sangat di sayangi Bang Khaja sama Bang Langsang. Apa Ayu juga bisa di sayangi seperti itu?" tanya Ayu.
"Kamu pengen sayang yang bagaimana lagi? Apa Abang kurang sayang?"
Ayu terdiam. Masalah Nadia membuatnya cukup sedih. "Abang hanya milik Ayu" ucapnya tiba-tiba.
"Mana ada dari Abang bukan milikmu, semua ini milikmu."
Bang Huda sejenak berpikir, ia mengingat masa lalunya dengan Nadia.
flashback 1 on..
"Cukup begini saja..!!" tolak Bang Huda sambil menaikan resleting celananya tapi Nadia mencegahnya. Ia bukannya tidak tergoda dengan Nadia apalagi ia melihat tubuh Nadia dari ujung rambut hingga ujung kaki dan itu membuat darahnya memanas.
Jika hanya sedikit melihat belahan dada, mungkin batinnya tidak akan merasa bersalah dan terbebani dosa seperti ini, tapi matanya sudah melihat Nadia tanpa sisa. Lain halnya jika ia melihat bentuk tubuh w*s, ia tidak akan merasa susah. Tapi saat ini status Nadia adalah kekasihnya.
"Ayo lah Bang..!!" pinta Nadia sembari menyodorkan kedua bukit yang sudah tak lagi tertutup.
Bang Huda adalah pria normal, ia pun terhanyut dan ikut menikmatinya sesaat. Tangannya mengepal kuat tidak berani menyentuh hal lain meskipun dasar hatinya menginginkannya.
Nadia merosot turun dan membuka peralatan perang milik Bang Huda yang sudah siap menantang. Bang Huda bersandar lemas, d*****n kecil terlepas dari bibirnya hingga keringat dingin. Ingin rasanya ia menyelesaikan semuanya tapi ada sekelebat terlintas wajah adik perempuannya.
"Astagfirullah.." Bang Huda menutup pakaiannya sebelum Nadia sempat menikmati miliknya lalu menyambar jaket dan melemparnya pada Nadia.
"Kenapa Bang, Abang nggak suka?"
"Pakai.. Abang benar-benar minta kamu jaga yang satu itu sampai Abang menikahimu" kata Bang Huda.
"Sekarang saja Bang, bukannya Abang mau menikahiku?"
"Abang nggak mau ada anak yang lahir tanpa ikatan yang jelas"
"Kita main cantik Bang"
"Nggak Nadia..!!" Bang Huda segera menuju toilet karena dirinya sudah kacau balau.
"Aku belum mau punya anak Bang"
Bang Huda tak menjawab. Kepalanya pening.
~
Bang Huda mengurai kelegaan sesaat dan ia terpaksa melakukannya sendirian daripada pikirannya harus berantakan karena Nadia. Perlahan dalam hati kecil merasa ragu menjadikan Nadia seorang istri. Jika ia harus menikahi Nadia, itu karena dirinya sudah tak sengaja melihat Nadia apa adanya.
flashback 2 on..
Bang Huda memandangi tubuh Ayu, ia sudah menikahinya dan kali ini benar-benar sudah tidak sanggup menahan gejolak perasaan. "Aahh.. bagaimana ini, hatiku ingin menunda tapi 'yang ini' tidak" gumamnya. Jemarinya membelai pipi Ayu kemudian menunduk mengecupnya sekilas. "Wangi permen karet.. Abang nggak lagi main sama gadis di bawah umur khan?"
Ayu menggeliat menunjukan sisi lehernya yang putih hingga batas dada. Nalurinya pun ikut menggeliat. "Usshh.. uusshh.. Abang colek sedikit nggak apa-apa khan?"
Ayu mengangguk. Entah apa yang terjadi pada dirinya, entah sadar atau tidak.. dirinya tidak bisa mengendalikan hawa nafsu.
"Abaaang.. mau begini..!!" bisik Ayu.
"Bener nggak apa-apa?" tanya Bang Huda. Ayu mengangguk dan menyentuh perlahan bagian kembar yang membuatnya penasaran. Bang Huda pun semakin nakal, ia mengarahkan jemari Ayu agar menyenangkan tubuhnya yang sudah siap perang.
Lama semakin lama Bang Huda semakin terlena, ia mengambil posisi menguasai tubuh Ayu. Awalnya ia hanya ingin sekedar 'perkenalan' tapi sentuhan hangat dari tubuh mereka membuatnya tembok pertahanan imannya hancur lebur. Hasratnya tak terkendali. Akhirnya Bang Huda menyatukan diri dengan Ayu.
"Aaaaaa.." suara rintih kecil dari Ayu sampai tangis lirih nya membuatnya semakin kesetanan.
~
Bang Huda berniat mengangkat tubuhnya saat fase penyelesaian segera tiba tapi siapa sangka Ayu mendekapnya erat. "Cara Abang mungkin salah, tapi Abang berharap jika memang dia segera datang di rahimmu, semoga dia menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah" Bang Huda pasrah, ia mengecup Ayu menumpahkan segala rasa disana, lepas, tuntas tanpa sisa. "Alhamdulillah.." ucap Bang Huda setelahnya dan ia bergeser perlahan dari tubuh Ayu. Ia bisa merasakan dan dengan sangat jelas, istrinya itu belum terjamah pria lain. Mulai detik itu tumbuh rasa sayang di hati Bang Huda, memang Ayu belum pintar melayani hasratnya tapi justru itu yang membuat Ayu sangat berharga baginya.
flashback off..
"Pengen jawaban jujur atau bohong?" tanya Bang Huda tersenyum penuh arti.
.
.
.
.