
Sore ini Ayu memantau persiapan kegiatan. Mau tidak mau ia harus tetap berangkat meskipun tubuhnya terasa remuk. Entah siapa yang harus di persalahkan. Semalam Bang Huda dan dirinya saling menuntut hingga tak terasa jam terus berputar hingga pagi menjelang.
Ayu mengembangkan senyumnya. Terbayang wajah Bang Huda mulai ujung rambut cepaknya hingga ujung kaki tanpa sisa. Hatinya berdesir saat terbayang sesuatu yang membuat dirinya salah tingkah.
"Ayu.. kamu nggak ikut makan rujak sama mbak-mbak yang lain?" tanya Geya sambil membawakan sepiring rujak untuk Ayu.
"Nggak, badanku rasanya remuk"
"Kamu kenapa? Sakit??"
"Semalam aku di hajar habis-habisan sama Bang Huda" bisik Ayu kemudian mencomot sepotong mangga muda.
"Haaahh.. kok bisa Bang Huda KDRT??? Ayo lapor ke Ibu Danyon" ajak Geya dengan polosnya.
"Bukan itu..!!!!"
"Terus apa?? Kekerasan tidak bisa di benarkan" kata Geya.
Tak lama Nadia sebagai Bu Wadanyon lewat di depan mereka.
"Mbak Nadia.. aku mau bantu Ayu lapor, katanya semalam dia di hajar Bang Huda"
Mata Mbak Nadia melotot. Ia sanksi.. seorang Huda bisa sampai melakukan kekerasan pada istrinya pasalnya ia sendiri tau bagaimana sayangnya Kapten Huda pada istrinya.
"Kalau memang benar, langsung lapor saja ke WaDan atau Danyon. Saya tidak punya kapasitas lebih untuk meneruskan kasus seperti ini. Permisi" jawab Mbak Nadia.
"Kamu apa-apaan sih Gey. Abang tuh......."
"Bang Anggara.. Ayu di hajar Bang Huda semalam..!!"
Seketika seluruh wajah para perwira dan para istri pengurus ranting menoleh menatap Ayu kemudian beralih menatap wajah Bang Huda yang posisinya tak jauh dari mereka sebagai tersangka.
"Benar itu Huda??" tanya Bang Anggara.
"Nggak Bang, saya nggak pernah main tangan sama istri"
"Itu.. kata istri Leo barusan"
"Ya Allah.." Bang Huda menatap Bang Leo yang sudah nyengir menghadapi ulah istrinya. "Kau sama Geya sama saja.. sama-sama rusuh. Jangankan aku pukul Ayu, nyentuh sampai sakit aja nggak pernah" kata Bang Huda.
Bang Leo segera menghampiri istrinya lalu mendekapnya. "Maaf.. maaf.. Geya kalau bercanda memang suka asal" Bang Leo segera mengajak Geya untuk menjauh.
~
"Lain kali meskipun ada banjir bandang jangan pernah kamu bilang sama Geya. Hancur sudah harga diri Abang di buatnya" gerutu Bang Huda.
"Iya Bang, makanya Ayu juga suka jaga jarak sama Geya. Dia itu terlalu polos" jawab Ayu.
Sekarang Bang Huda yang sampai nyengir karena sebenarnya Ayu dan Geya sama-sama memiliki tingkat 'IQ rendah'. "Kau tau, setelah ini Abang harus klarifikasi soal berita pemukulan istri"
Benar saja, tak lama Komandan POM yang juga adalah senior Bang Huda menghubunginya.
"Selamat siang, ijin arahan.. Abang..!!"
"Ke kantor ya, ada laporan masuk..!!"
Bang Huda menepuk dahinya. "Siap Bang, saya merapat sekarang juga..!!"
:
"Ya Tuhan Bang, Jangankan mukul. Istri tercakar kuku saya aja nggak pernah..!!" kata Bang Huda. "Ini salah paham Bang, biasa mulut perempuan kadang suka nggak terarah"
"Tapi benar khan, kamu nggak ada tindak KDRT??" tanya Komandan POM memastikan.
"Ya... saya akui pernah Bang. Tapi nyatanya istri saya minta di sakiti lagi"
"Astaga, kamu keterlaluan"
"Ijin Bang, kalau nggak nyakitin.. bagaimana bisa buat istri saya hamil, itu nyakitin tapi istri saya minta terus Bang"
"Semprul.. kurang ajar kowe Hudaaaa..!!!!" Komandan POM menggaruk kepalanya melihat wajah tanpa dosa Bang Huda.
"Tanya istri saya Bang, kalau dia nggak senang.. Abang boleh hukum saya..!!"
"Edan opo piye???" sergah kesal DanPom.
...
"Jadi bagaimana?"
"Kau harus bantu aku akting, supaya Geya dan Ayu mawas diri.. tidak asal bicara dimana pun berada" ucap Bang Huda sebelum memarkir mobil masuk ke dalam garasinya.
"Gampang itu" jawab Bang Leo.
~
"Kenapa nih??"
buugghh..
"Aaarrgghh.." Bang Huda sampai tak sanggup bicara merasakan nyeri di bagian perut.
"Abang kenapa??" pekik Ayu.
"Ini gara-gara mulut perempuan. Makanya kamu jangan asal bicara. Kamu juga dek..!!" tegur Bang Leo mengingatkan Geya yang juga ada di rumah Bang Huda. "Huda di hantam DanPOM"
"Apaaaa???? Kenapa nggak tau ceritanya tau-tau menghajar suami orang.
Ayu tidak terima, ia masuk ke dalam rumah, menyambar kunci motor.
"Eehh dek, mau kemana kamu??" tanya Bang Huda.
"Mau melabrak DanPom." jawab Ayu terdengar sangat jelas.
"Lahdalaah.. nggak usah dek..!!" Bang Huda berusaha mencegah Ayu tapi istrinya itu langsung melesat.
"Kau lagii.. kau lagi.. sampai ada apa-apa sama Ayu.. tamatlah riwayatmu..!!"
"Bang Huda mengambil kunci motor dari tangan Bang Leo kemudian menyusul Ayu.
~
"Pelan dek..!!" teriak Bang Huda.
"Mana remnya???" tanya Ayu.
"Kamu naik motor tapi nggak tau dimana remnya???????" bentak Bang Huda.
"Mana remnyaaa?? Jangan banyak bicara???" jawab Ayu.
"Itu di depan tangan kiri dan kananmu..!!"
Ayu memperhatikan tangan sampai tak fokus dan tak melihat ada barisan kebun tebu di area samping kantor POM.
gubraaakkk..
"Ayuuuuuuu..!!!!" Bang Huda panik melihat Ayu tersangkut di antara barisan tanaman tebu. Ia segera menghampiri Ayu.
"Abaaaanngg.. toloong.. perut Ayu terjepit..!!"
"Lailaha Illallah.. bisa nggak sih sehari aja kamu nggak buat Abang panik????" Bang Huda mencoba mematahkan batang tebu tersebut tapi Ayu masuk pada celah batang tebu yang kokoh.
Bang Huda berniat menghubungi rekannya tapi tiba-tiba ada suara disana. "Ada orang disini??"
"Iya saya..!!"
"Saya siapa?? Ini dengan anggota POM, tidak boleh masuk area kebun tanpa ijin..!!"
"Bantu saya.. saya Komandan Kompi C."
"Siap salah Komandan.. kami segera cari bantuan..!!"
~
"Cepat Bang, perut Ayu sakit..!!"
"Sabar sayang, ini batangnya besar.. kalau kecil sudah Abang patahkan dari tadi" jawab Bang Huda.
"Ini juga gimana sih bisa sampai tersangkut???" tegur DanPOM.
"Ini karena istri Huda emosi Bang..!!"
"Emosi kenapa?" tanya DanPOM.
"Sudah, jangan dibahas..!!" Bang Huda mengingatkan.
"Aduuhh.. cepat tebang batangnya Bang, kalau sampai telat lima menit.. segala hal berbentuk batang.. Ayu patahkan semua..!!" ancam Ayu.
"Ayo Kardi.. Madya.. mana parangnyaa??????" bentak Bang Huda was-was mendengar ancaman Bu Danki.
.
.
.
.