
"Bang.. Abaaang..!!" bisik Ayu di telinga Bang Huda.
"Lho dek, kamu nggak apa-apa???" tanya Bang Huda masih dalam mode paniknya.
"Hsssttt.. jangan bahas tentang Ayu. Sepertinya Syarin naksir Bang Arnold deh Bang" kata Ayu.
Bang Huda pun menurunkan Ayu dari gendongannya dengan sedikit kasar kemudian berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil. "Keterlaluan kamu dek..!! Jantungan betul Abang lihat kamu seperti tadi..!!!" bentak Bang Huda.
"Kalau Ayu nggak begitu, mana Ayu tau kalau ternyata Syarin naksir Bang Arnold" kata Ayu. "Tapi betul Bang, perut Ayu juga sedikit sakit..!!" ucap jujur Ayu.
"Terus apa yang mengucur dari sela pahamu??" tanya Bang Huda.
"Softdrink dari Mama" jawab Ayu kemudian membuang nafas pelan.
"Halaaahh.. paling juga bohong lagi..!!" Bang Huda malas menanggapi Ayu lagi meskipun sebenarnya Ayu berkata benar.
Ayu terdiam sejenak, ia melakukannya agar Bang Arnold cepat mendapatkan jodoh, juga sebenarnya ia mengalihkan perhatiannya sendiri akan berita kepergian Oma dan Opa.
"Bisa-bisanya bawa minuman di atas ranjang. Abang kaget, Abang kira itu darah bercampur air ketuban" Bang Huda mengusap wajahnya, ia menata perasaan yang tidak karuan. "Mama juga kenapa sih malah kasih softdrink untuk Ayu" gerutu Bang Huda gemas.
tok..tok..tok..
Bang Arnold mengetuk kaca mobil Bang Huda. "Bang, jadi ke rumah sakit nggak?"
"Nggak jadi, Ayu sudah nggak sakit lagi." kata Bang Huda.
"Siap..!!"
***
Sampai tengah malam masih terdengar Papa Juan mengomeli putri kecilnya. Bagaimanapun juga Papa Huda mencemaskan calon cucu pertamanya dari Bang Huda, sedangkan Bang Huda sendiri mondar mandir di ruang tengah.
Ya Allah, gemas sekali hatiku daritadi. Bagaimana caranya aku balas tingkah konyol Ayu. Usilnya nggak ketulungan.
-_-_-_-_-
Bang Huda melihat rumahnya sudah sepi. Pagi sekali Papa Juan, Mama Sasti dan Syarin lari pagi. Tinggal lah Bang berdua dengan Ayu. Melihat Ayu datang, Bang Huda mengendap ke belakang rumah, ia mengangkat ponselnya.
"Iya sayang, nanti Abang bilang sama Ayu. Tenang saja, Ayu pasti akan pasrah kalau tau hubungan kita" kata Bang Huda melirihkan suaranya tapi pastinya terdengar oleh Ayu.
~
Memang benar, samar suara itu masih terdengar jelas di telinga Ayu, ia pun menghampiri Bang Huda.
"Siapa dia?" tanya Ayu.
"Teman" jawab Bang Huda santai.
"Teman atau teman??? Ayu sudah dengar, hubungan apa yang buat Ayu pasti pasrah??" tanya Ayu lebih menyelidik.
Bang Huda terdiam sejenak. Ia mengambil nafas dalam-dalam kemudian menatap mata Ayu.
"Dek, kalau Abang mau poligami.. kamu mengijinkan apa nggak?" tanya Bang Huda hati-hati.
"Apaa Bang???? Poligami???" Ayu memperjelas pendengarannya.
"Iya dek.. boleh apa nggak??"
"Abang masih tanya boleh atau nggak?? Abang nggak lihat perut Ayu sebesar ini??? Nggak mikir Bang??" air mata Ayu mulai menetes. "Ayu tau, Ayu masih banyak kekurangan.. kenapa Abang tidak pulangkan Ayu saja ke rumah Papa.. kenapa Abang tidak menceraikan Ayu saja? Ayu nggak mau di duakan..!!" pekik Ayu tak bisa menahan emosinya sampai akhirnya nafas Ayu seakan terhenti, perutnya berlipat-lipat merasakan kram tak tertahan. "Eegghhh.." Ayu sampai ambruk lemas tak sanggup berdiri.
"Eehh dek.. Ya Allah Tuhan.. Ayuu..!!" Bang Huda panik saat melihat Ayu pingsan. Tepat saat itu pintu rumah terbuka.
"Ada apa ini?? Suara teriakan Ayu terdengar sampai luar??" Papa Juan bertambah kaget saat melihat Bang Huda mendekap Ayu. "Ini ada apa Huda????? kamu jangan main-main..!!!!!!!" bentak Papa Juan yang tiba-tiba sudah kembali dari olahraga pagi.
~
"Sakiiiiiiit..!!" Ayu benar-benar merintih kesakitan membuat Bang Huda semakin panik.
"Abang hanya bercanda dek.. sungguh..!!" ucap Bang Huda takut dan penuh sesal.
"Abang menikah saja sama perempuan itu, jangan pedulikan Ayu dan jangan pernah mau tau lagi tentang anak ini..!!" teriak Ayu dengan keringat berlelehan.
"Jawab jujur Huda, ada apa???" suara Papa Juan terlontar lebih keras.
"Aku hanya pura-pura Pa, bilang mau poligami ke Ayu" jawab Bang Huda.
"Ya salaam....!!!!!"
plaaaakk..
"Sakiit.. Ayu nggak kuat..!!!" Ayu terus merintih hingga akhirnya kembali pingsan.
"Dek..!!!!!!!" Bang Huda pun kembali panik.
"Terus sekarang bagaimana kalau sudah jadi begini Hudaaaaa..!!!!!"
"Jangan marah terus Pa, Ayo kita bawa Ayu ke rumah sakit..!!" Mama Sasti yang dari tadi masih terdiam akhirnya bersuara karena mencemaskan menantunya. "Astagfirullah.. Ayo Hudaa..!!! Ini nggak bisa di remehkan..!!!!" pekik Mama Sasti melihat lelehan darah dari sela paha Ayu.
Bang Huda segera mengangkat dan membawa Ayu ke dalam mobil.
:
"Ini mau lahiran Hudaa.. sudah pembukaan lima..!!!" dokter Alamsyah segera menghubungi rekan bidannya kemudian mempersiapkan diri untuk persalinan Ayu.
Papa Juan langsung menjitak ubun-ubun Bang Huda sekencangnya karena sudah membuat ulah sampai berakibat sebesar ini. "Kalau sampai ada apa-apa sama cucu Papa, kau tamat Huda..!!!"
Mulut Bang Huda benar-benar bungkam seribu bahasa. "Abang bersumpah, tidak ada wanita lain selain kamu dan Abang berjanji.. hanya ada Ayu.. satu-satunya pendamping hidup Abang..!!"
"Dasar penipu, gombal rusak..!!" ucap kesal Ayu.
Bang Huda tersenyum getir. "Biar rusak sedikit yang penting masih ada gunanya to sayang..!!"
:
Dada Bang Huda rasanya begitu sesak, tak tega rasanya melihat Ayu meremas tangannya saat kontraksi mulai datang.
"Ayu nggak kuat Bang..!! Sakit sekali..!!" kata Ayu.
"Kamu pasti bisa sayang.!!" Bang Huda mengusap punggung Ayu dan sedikit memijatnya. "Andaikan bisa Abang gantikan, Abang rela menanggung nya dek. Sungguh..!!"
Mama Sasti ikut mengusap punggung menantunya, Papa Juan gelisah di dekat pintu sampai akhirnya memilih untuk keluar.
Ayu menyamping dan memeluk Bang Huda sekuatnya saat lagi-lagi kontraksi itu datang. "Astagfirullah.. sakit sekali Bang..!! Ayu mau mati aja Bang, Ayu nggak kuat lagi."
Hati Bang Huda begitu terpukul mendengarnya. "Nggak boleh bicara begitu dek. Nggak baik, banyak istighfar dan berdo'a..!!"
"Iya sayang, dulu Mama juga hampir menyerah tapi Alhamdulillah bisa lahir Huda dan Saka" imbuh Mama Sasti.
Terlihat dokter Alamsyah sudah memakai sarung tangan medis dan ia melihat Bang Huda terus memperhatikan dirinya. "Bidan yang berdiri disana, aku di samping sini..!!" kata dokter Alam seakan tau kecemasan littingnya itu.
Bu Bidan senior menepuk paha Ayu. "Jangan mengejan dulu ya Bu, pembukaan belum lengkap"
Tak lama berselang, Ayu sampai muntah karena terlalu sakit. Mama Sasti dengan setia merawat menantunya karena besannya tidak dapat menemani Ayu saat ini.
"Kamu naik di ranjang biar bisa membantu memegangi Ayu..!!" perintah dokter Alam.
"Aku harus bagaimana Alam??? Kenapa anakku nggak lahir juga..!!!!" darah Bang Huda mendadak merangkak naik karena stress memikirkan Ayu.
"Kamu jangan emosi dulu..!! sekarang ganti posisi jongkok..!!"
"Kamu jangan main-main Lam. Sudah begini saja, posisi normal saja..!!" nada Bang Huda terdengar meninggi.
"Aku ini dokter kandungan nya Ayu, aku yang lebih tau masalah riwayat kesehatan Ayu"
"Apa kau bilang, aku ini suaminya..!! Jangankan riwayat kesehatan.. letak tahi lalat pun aku tau..!!" ubun-ubun Bang Huda semakin panas. "Keluar kau dari sini..!!"
"Yang seharusnya keluar itu kamu, mengganggu saja..!!" kata dokter Alam.
"Aaaaahh.. bayinya Bu..!!" Mama Sasti melihat sosok kecil nyaris keluar.
Nafas Ayu terasa terpenggal, kesadaran hampir hilang.
"Ya Allah, Ayu..!!" Bang Huda kembali fokus pada sang istri.
"Tekan Bu..!!!" perintah dokter Alam pada bidan lainnya untuk membantu menekan perut Ayu.
"Heehh.. Kamu jangan kasar Lam, aku saja nggak pernah kasar..!!" Bang Huda menarik lengan dokter Alamsyah.
"Astagfirullah.. sekali lagi kau menggangguku.. bius total disana itu akan menembus jidatmu..!!!!!!" tunjuk dokter Alamsyah pada sebuah meja obat. "Bekerja sama lah denganku sedikit..!!!!"
.
.
.
.