Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
26. Main perasaan.


Nara mohon untuk tidak bertanya kenapa cerita Nara ada yang tidak selesai. Semua pasti ada alasannya.


🌹🌹🌹


Bang Huda kesetanan, sifat buruknya muncul.. ia mencabut pistol di belakang pinggangnya. Kepanikan terjadi, Bang Khaja menghalangi tindakan brutal Bang Huda. Tindakan terlarang yang bisa membuat nyawa orang lain bahkan dirinya sendiri melayang jika tidak mawas diri.


"Hudaaa.. kebiasaan kamu ya..!!" bentak Bang Khaja.


Tak lama berselang, beberapa orang perawat mendorong brankar Ayu. Bang Huda histeris dan langsung menghambur memeluk Ayu. "Jangan tinggalin Abang dek. Abang nggak mau hidup tanpa kamuu Ayuuu..!!!!" Bang Huda menodongkan pistol tepat di kepalanya.


"Astagfirullah Hudaaaa..!!" Bang Khaja geram akhirnya menghajar Bang Huda hingga terkapar pingsan tak sadarkan diri.


"Ada apa Bang?" lirih suara Ayu antara sadar dan tidak.


"Cepat kamu bangun..!! Suamimu ini merepotkan semua orang..!!" kata Bang Khaja geram.


Bang Langsang ternganga melihat reaksi Bang Huda yang sama sekali di luar perkiraan.


...


Bang Huda menyumpal hidungnya dengan tissue, hidungnya berdarah dan bibirnya sobek akibat hantaman dari Bang Khaja. Pria yang biasanya lebih sabar itu akhirnya marah besar melihat kelakuan adik iparnya.


"Kau ini mau cari masalah seperti apalagi Huda??? Belum lihat keadaan Ayu sudah mengambil kesimpulan. Otakmu memang pintar dalam taktik, mungkin juga segalanya.. tapi soal Ayu kamu bisa jadi bodoh.. dungu.. mati akal..!!" tak hentinya Bang Khaja membentak keras Bang Huda. "Ayu masih hidup. Calon anakmu juga sehat"


Mata Bang Huda berkaca-kaca, tapi jujur dirinya baru saja tenang. Bang Langsang menyodorkan minum untuk adik iparnya, Bang Huda pun menerima dan meneguknya. "Sebegitu cintakah kamu sama adik ku yang selalu membuat ulah itu?"


"Aku terpaksa. Adikmu sangat menakutkan" jawab Bang Huda lebih santai.


"Kau lihat dulu siapa Abangnya..!!" kata Bang Khaja.


Perlahan mata Ayu terbuka, ia mual dan muntah efek baru tersadar dari pingsannya. Bang Huda tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya.


"Alaaam..!! Cepat kesini..!!!!!" teriak Bang Huda. Para perawat yang kurang lebih berjumlah sepuluh orang segera mendatangi kamar rawat istri Kapten Huda, mereka cemas Kapten Huda akan kembali mengamuk.


Dokter Alamsyah berlari tergopoh-gopoh dari ruangannya karena mendengar teriakan Bang Huda yang mungkin terdengar hingga penjagaan pos depan rumah sakit.


"Ada apa?" dokter Alamsyah sampai terpeleset saking paniknya.


"Ayu muntah. Katanya sudah kamu tangani, kenapa Ayu masih muntah?"


"Allahu Akbar.. itu efek obat bius, lagipula wajar saja Ayu mual, dia sedang hamil" jawab Bang Alamsyah.


"Buat dia jangan muntah..!!" kata Bang Huda membuat perintah seenak jidatnya.


Bang Alamsyah ternganga mendengar ucapan Bang Huda. "Kau pikir bisa mengatur orang hamil. Kau saja yang mual, kau ini suami yang paling panikan dan merepotkan"


"Kau kira mual bisa ditransfer??"


"Kalau kau terus menerus seperti ini, lama-lama kamu bisa terkena syndrom couvade." kata Bang Alamsyah.


"Opo iku?? Nggak ngerti aahh.. pokoknya buat Ayu nggak mual lagi..!!" perintah Bang Huda tegas. Tapi belum sampai mulutnya tertutup, ia meremas perutnya yang terasa teraduk-aduk tak karuan. Ia berlari menuju toilet.


"Apa kubilang..!!!!!!"


Bang Khaja dan Bang Langsang menggeleng gemas.


:


"Pijat yang benar Lang..!!" pinta Bang Huda pada Bang Langsang. "Kurang asam nih es jeruknya" ucapnya pada Bang Khaja.


"Lu memang benar kurang ajar ya Da, kalau bukan suami Ayu, pasti sudah gue usir lu dari sini" kata Bang Langsang.


Ayu hanya menoleh sekilas melihat Bang Huda yang sedang mendapatkan perhatian khusus dari kedua Abangnya. Agaknya masih ada sedikit rasa cemburu yang tersimpan dalam hatinya. "Abang hajar saja Bang Huda, dia berduaan di ruangan sama Mbak Nadia"


"Sudahlah dek, kamu khan tau Huda nggak mungkin begitu.. Abang bukannya mau bela Huda, tapi Abang tau siapa dia. Dia sudah hampir mati mencemaskan mu" jawab Bang Khaja.


Seketika wajah Ayu berubah mendung dan seketika itu pula rasa mual Bang Huda kembali tak tertahan. Setitik air mata Ayu membuat Bang Huda tak karuan.


"Hhkkk.." akhirnya suami Ayu itu kembali berlari ke kamar mandi.


:


Situasi semakin tak kondusif. Bang Huda semakin lemas dan pucat, karena terlalu banyak muntah.. tubuhnya tak bertenaga dan harus di papah Bang Khaja dan Bang Langsang.


"Ayu malas lihat Abang" ucap Ayu berucap kesal.


"Hhkkk.. tolong Lang, aku mau muntah" Bang Huda merosot menimpa Bang Langsang saking lemasnya.


"Kau ini malah semakin menambah pekerjaan kita. Istri kita sedang hamil Lang, kalau Huda nggak cepat sehat.. kita pun jadi lambat pulang" tegur Bang Khaja.


"Maaf Bang, gemas sekali aku lihat Huda"


"Kau juga menggemaskan" bentak Bang Khaja.


:


Bang Huda tidur di kursi roda, infus menempel sempurna. Wajahnya bagai mayat hidup, tak bertenaga tanpa daya. Setiap membuka matanya, kepalanya pening terasa berputar-putar.


Bang Khaja dan Bang Langsang sibuk menghubungi istri mereka masing-masing yang terpaksa harus mereka tinggalkan karena permasalahan Ayu dan Bang Huda.


"Selamat malam." sapa seorang pria disana dan ternyata itu adalah Bang Anggara dan Nadia.


Bang Khaja dan Bang Langsang menoleh.


"Apa Huda dan Ayu di dalam?" tanya Bang Anggara.


Kedua kakak Ayu mematikan panggilan telepon mereka.


"Malam juga Bang. Ada.. tapi saran saya jangan temui Huda dulu karena.........." belum selesai Bang Langsang bicara, Nadia sudah menerobos masuk ke kamar rawat Ayu.


"Nadia.. jangan macam-macam..!!" kata Bang Anggara mengikuti Nadia.


~


"Pantas Bang Huda tidak berani berbuat apa-apa denganmu. Kamu akan mengancam bunuh diri kalau Bang Huda tidak menuruti inginmu. Kamu melemahkan Bang Huda dengan anak di dalam kandungan mu." ucap Nadia bersikeras menolak sadar dari segala masalah yang sudah ia timbulkan.


Ayu terbangun, begitu pula dengan Bang Huda. Suara Nadia sungguh memekakan telinga.


"Sadar Bang, dia bukan wanita yang baik untuk kamu..!!"


Bang Huda masih mengerjab mengumpulkan nyawa. Ia mendengar tapi masih setengah sadar sedangkan Ayu sudah sadar dan melihat siapa yang membuat kegaduhan.


"Bang, ibu Danki tidak mau dengar suara ribut. Calon keponakanmu meriang dengarnya. Kalau Abang nggak bisa selesaikan.. Ayu pecat kalian berdua jadi Abang..!!" ancam Ayu kemudian memejamkan matanya lagi dan menarik selimut menutupi dirinya hingga batas bahu.


"Dan yang merasa dirinya Kapten Huda..........." ucap Ayu masih menggantung tapi Bang Huda sudah mengantongi cairan infus di kantongnya, ia menarik tangan Nadia dengan kasar, begitu pun dengan Bang Langsang yang segera membuka pintu di barengi Bang Khaja yang mendorong punggung Bang Anggara.


"Ijin hukuman menyusul Bang"


"Siap salah Bang, daripada saya di pecat jadi suami lebih baik Abang bawa istri Abang ini keluar jauh dari sini..!!" ucap kesal Bang Huda bernada tegas dan kasar.


.


.


.


.