
"Iya Bang" jawab Bang Arial melemah.
Tak lama ada seorang bidan menghampiri. "Dok.. ruang bersalin hanya tersisa satu. Ibu Ayu dan Ibu Syarin indikasi partus normal. Ibu Ayu pembukaan enam dan ibu Syarin pembukaan tujuh."
"Masukkan dalam satu ruangan sekarang juga, berbatas tirai saja..!!" arahan dari Dokter Alamsyah.
"Maaf ya, keduanya sama-sama bermasalah dan ada trauma fisik. Jadi penangan harus cepat"
"Sudahlah.. Ayo cepat jalan..!!" kata Bang Huda.
...
"Syarin nggak mau melahirkan" teriak Syarin memekin memekakan satu ruangan.
"Nggak boleh bicara begitu dek. Abang tau rasanya sakit. Kalau bisa Abang tanggung.. Abang akan menanggungnya." kata Bang Arial tidak tega sembari mengusap wajah Syarin.
"Ini gara-gara Abang.. Semua gara-gara Abaaaang..!!!!!" terdengar suara Ayu berteriak, tangannya menarik pakaian Bang Huda sekuatnya dan terkadang menggigit tangan Bang Huda.
Bang Huda tetap membelai lembut punggung Ayu dan memijatnya dengan sabar, tak di rasakan sakitnya gigitan, cakaran dan pukulan sang istri karena dirinya tau Ayu lebih merasa kesakitan.
"Semuanya sakit Bang, Ayu capek"
"Iya sayang, sabar ya" Bang Huda memberi satu kecupan untuk sang istri.
"Rasanya mau lepas Bang" rintih Ayu memegangi bawah perutnya.
"Owalah le.. jangan buat Mama mu sakit begini to, cepat keluar le..!! Papa nggak kuat lihatnya" gumam Bang Huda sembari memijat pangkal hidungnya, sungguh ia tak tega melihat Ayu kesakitan. Dengan sabar kemudian Bang Huda juga mengusap perut bawah Ayu.
"Aaaaahh.. Abaaaaang..!!!" pekik Ayu, terdengar pula jeritan Syarin yang membuat hati Bang Huda terasa ngilu.
"Bang Aaarr.. Syarin mati saja Bang, Syarin terlalu banyak dosa."
"Nggak baik bicara begitu dek. Anak itu berkah" Bang Arial pun melakukan hal yang sama seperti Bang Huda, memeluk dan mengusap punggung Syarin.
"Kenapa dia bukan anak Abang saja..!!" ucap Syarin terisak.
"Bicara apa kamu ini dek. Dia anak Abang, anak Arial. Siapa yang berani bilang dia bukan anak Abang??????" nada suara Bang Arial sedikit meninggi namun ia menyadari kondisi mental Syarin sedang down. "Sudah Abang katakan berkali-kali, jangan pernah bicara seperti itu lagi. Kamu menyakiti hati Abang dek..!!" tegur Bang Arial ingin menghindari Syarin karena kedua bola matanya sudah buram tergenang air mata.
"Aaaaaaa.. sakiiiiiiit" pekik Syarin membuat Bang Arial mengurungkan niatnya.
"Sudah waktunya Ar" kata dokter Alamsyah memberi peringatan untuk Bang Arial. "Kamu siap??" tanya dokter Alamsyah akhirnya tau permasalahan Arial dan Syarin
"Laam.. cepat tolong Ayu" Bang Huda ikut panik di balik tirai sebelah.
...
"Satu lagi Bu Hudaa..!!" kata Bu Bidan.
Ayu benar-benar tak kuat saat kepala bayi sudah terlihat. Ayu malah tak sadarkan diri.
"Ya Allah dek..!!!" Bang Huda mengusap wajahnya dengan gusar, jantungnya seakan mau lepas dari raga. Terdengar suara bayi di samping tirai.
"Alhamdulillah.." ucap di sebelah dan terlihat Bang Arial duduk dengan kasar dengan tangis harunya.
"Pak Huda, tolong bantu dorong perut Ibu..!!" pinta Bu Bidan.
Dengan sigap dan hati-hati Bang Huda mendorong atas perut Ayu, tak lama bahu bayinya keluar dari pintu dan meluncur begitu saja. Refleks Bang Huda menangkapnya. "Allahu Akbar.. Alhamdulillah Ya Allah..!!!!" Bang Huda memeluk bayinya yang baru saja terlahir, bayi yang cukup gemuk dalam ukurannya.
-_-_-_-_-
Bang Arial begitu bahagia menggendong 'anak pertamanya', wajahnya berseri dan terus menciumi pria kecil itu.
Tak menyangka ada sedikit kemiripan wajahnya tercetak dalam paras wajah si jagoan.
"Lihat sayang, dia ganteng sekali" bujuk Bang Arial melihat Syarin memalingkan wajahnya, tak tau apa yang terjadi hingga menjelang kelahiran si kecil.. Syarin malah menolak kehadiran putranya itu. "Ada apa sayang, bilang sama Abang..!! kamu terlihat sangat berbeda"
Sejenak Bang Arial terdiam tapi kemudian ia memahami pokok permasalahannya. "Diam di tempat dan jangan ada yang berani menyentuh barang atau anak Syarin disini..!!!!!!!!!!" bentakan Bang Arial yang tajam membuat seluruh preman diam di tempat dan tidak berani berkutik.
"Dia anak Arnold..!!!!!!" teriak ibu Almarhum Bang Arnold dengan lantang.
"Anak Arnold?????? dia anak saya...!!!!!"
"Tidak akan ada yang bisa menghalangiku untuk membawa anak ini..!!!!" kata ibu Bang Arnold berniat merampas bayi kecil itu dari gendongan Bang Arial.
"Kau tau.. putramu telah memperkosa Syarin dan saya saksinya" ucap tegas Bang Arial.
Syarin menangis menatap mata Bang Arial. Ia tidak tahu alasan mengapa saat itu Bang Arial tidak menyelamatkan dirinya dari Bang Arnold jika memang tau ayah dari bayi itu yang telah memperkosanya.
"Kalau kau tau, kenapa tidak kau cegah.. kau pun b******n" kata ibu Almarhum Bang Arnold.
"Bisakah anda bersikap baik layaknya seorang ibu?? Jika saja anda tidak bersikap sekeras itu.. mungkin semua tragedi ini tidak akan terjadi. Anak anda ingin menikah secara baik-baik. Bukan melalui pemaksaan seperti ini..!!!!!" nada keras Bang Arial mengingatkan ibu almarhum Bang Arnold. "Sejak awal kehamilannya.. saya melihatnya tumbuh di perut Syarin, karena putra anda tak lagi bersamanya. Saya tulus mencintai Syarin juga bayi ini. Saya akui dia bukan darah daging saya, tapi di setiap detiknya ada rasa sayang dan perjuangan saya untuk dia, mohon maaf.. silakan anda pergi, jangan usil keluarga saya..!!"
"Tidak, dia anak laki-laki"
"Saya tidak peduli atau saya akan menuntut kalian karena sudah pernah menolak anak ini saat jenazah almarhum Arnold datang. Saya sudah memiliki bukti itu beserta bukti yang lain tentang penolakan keluarga anda. Saya tau keinginan anda hanya sebatas persoalan warisan"
Ibu almarhum Bang Arnold tercengang. Jujur setiap berurusan dengan hukum memang nyalinya kecil karena dirinya memang salah.
"Keluar dari sini, atau anak buah saya menyeret anda tidak hormat untuk di perkarakan di jalur hukum..!!"
Saat itu juga ibu almarhum Bang Arnold segera mengambil langkah seribu tanpa bicara lagi.
Bang Arial menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar. "Sekali lagi kamu simpan perkara sebesar ini, apalagi tentang anak.. Abang akan menghajarmu..!!!! Abang ini suamimu.. apa kamu tidak bisa menganggap Abang ada disini???????"
Suara Bang Arial membuat si kecil menangis.
"Uusshh.. maaf sayang, Papa nggak marah sama Abang, Papa sayang Abang" ucapnya menenangkan sang putra kemudian menciumnya sebelum melirik Syarin dengan tajam.
"Maafin Syarin Bang"
"Abang merasa bodoh, Abang berusaha memberi cinta, sayang dan hidup Abang untuk kamu dan Risyad tapi kamu tetap tidak menganggap Abang ada disini." Bang Arial begitu kecewa dengan sikap Syarin yang masih banyak menyimpan rahasia.
"Syarin takut Abang kerepotan mengurusi masalah ini"
"Abang ini suamimu, bukan satpam mu Syarin..!!!" bentak Bang Arial lagi dengan jengkel.
"Maaf Bang..!!!" Syarin terisak-isak sampai memegangi perutnya.
Melihat Syarin sudah sebegitu takutnya, Bang Arial tidak tega. Ia mencoba memahami perasaan Syarin dan akan membahasnya di lain waktu, ia pun tak ingin moment kelahiran si kecil berubah menjadi tangisan yang akan mengacaukan kehangatan rumah tangga mereka.
Bang Arial mendekati Syarin kemudian mengecup keningnya. "Abang ingin melihat senyummu, bukan tangismu..!! Terima kasih banyak sudah melengkapi keluarga kita dengan hadirnya Risyad. I love you sayang"
//
"Rasanya bengkak Bang"
"Karena pinggulmu sempit, kamu juga kurang kuat" kata Bang Huda sembari membantu Ayu untuk duduk.
Tak lama terdengar suara tangisan yang mendengung di seisi ruangan.
"Iyaa.. iyaaa le, ini Papa datang." dengan cekatan Bang Huda menggendong Giras yang sudah mengamuk karena telat beberapa detik di gendong Papanya. "Nggak sabaran amat sih kalau ada mau, mirip siapa kamu ini..???" gerutu Bang Huda.
.
.
.
.