Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
83. Gagal jadi.


"Rasakan nyamannya terik matahari yang membakar tubuh kalian..!! Sauna ternikmat ala Dankimu..!!!" Bang Huda benar-benar menghukum enam orang Taja senior plus Om Edwin karena terlalu sering membuatnya kesal.


"Siap Danki..!!"


Om Edwin berkali-kali ambruk tapi Bang Huda membiarkan ajudannya merasakan buah dari hasil keusilannya sendiri.


"Enak Win??" tanya Bang Huda.


"Siap.. enak sekali Danki" jawab Om Edwin.


"Tugas mu tambah, membersihkan kamar mandi barakmu..!!!" perintah Bang Huda.


"Siap" jawab Om Edwin melemah.


"Lain kali kalau berani usil lagi, akan saya tambah dengan guling botol sampai kalian mabuk..!!" ancam Bang Huda.


"Siap.. tidak berani" jawab mereka sembari tersenyum geli menahan tawa.


Bang Leo duduk santai sambil menyantap es krim panda melihat anak buahnya mendapat tulah karena ulahnya.


"Heeehh Danki bodong..!! kenapa kamu nggak ikut jungkir balik??" tegur Bang Huda.


"Kaki ku sakit, lagipula aku disini duduk berjaga kalau kamu akan bersikap brutal pada anak buahmu. Kalau kamu marah nggak lucu. Semua bisa kena amuk" kata Bang Huda.


"Kau ini memang pusat keributan..!!!!!!" bentak Bang Huda.


...


Sore telah tiba, Ayu melihat laporan keuangan kasar usai para anggotanya menutup gerai bazar untuk lanjut esok hari.


"Alhamdulillah.. ini bagus Bu, ada peningkatan" kata Ayu. "Nanti silakan pengurus anak cabang disini yang mengurus. Saya ingin ruangan di beri wallpaper dan gorden yang baru...!!"


"Siap ibu, terima kasih banyak bantuannya untuk kami" jawab Bu Zafir begitu mengapresiasi perhatian Ayu terutama pada kesiapan ruangan yang perlahan mulai menua belum ada perubahan bahkan Ayu gigih membantu mencari dana untuk perbaikan hal tersebut.


"Sama-sama Bu Zafir"


Tak lama Bang Huda datang menjemput Ayu, Galar dan Ghania di tempat bazar.


"Sudah selesai kegiatan dek?" tanya Bang Huda sembari menghapus sisa keringat di kening Ayu dengan telapak tangan.


"Sudah Bang"


"Ayo pulang..!! Mau beli makan atau minta tolong Madya belikan makanan?" Bang Huda memberikan pilihan pada istrinya.


"Ayu pengen jalan-jalan Bang tapi badan Ayu capek sekali" kata Ayu.


"Kalau capek ya besok saja. Nanti Bang minta Madya beli makan malam"


Ayu tidak menjawab tapi wajahnya nampak memelas dan terlihat sangat sedih membuat hati Bang Huda lemah, luluh dan tidak tega.


"Ini sudah hampir malam sayang. Memaksa pergi bawa anak-anak kasihan. Udara di sini kalau malam khan dingin. Kamu nggak enak badan juga, sudah capek. Kalau kamu pingsan lagi gimana?? Abang nggak mau sampai kamu pingsan lagi. Nyeri lihatnya dek" kata Bang Huda.


Ayu mengangguk tapi tetap saja raut wajah tidak bisa berbohong.


"Yo weess.. Ayo berangkat, tapi sampai kamu pingsan.. Abang tinggal kamu ya..!!" ancam Bang Huda.


"Yeeaayy.. terima kasih banyak Abaaang..!!!" senyum bahagia Ayu ternyata menjadi pusat kebahagiaan tersendiri bagi Bang Huda.


"Sama-sama? Sekarang kita pulang dulu dan bersiap supaya badan jauh lebih segar" saran Bang Huda mengajak Ayu.


"Iya, Ayo Bang" Ayu bersemangat sekali seakan tak merasakan lelah lagi.


Bang Huda melirik Ayu.


Kalau kecapekan mana bisa live show. Lagipula besok juga masih kegiatan bazar selama seminggu.


...


Sepanjang perjalanan Ayu tersenyum bahagia melihat lampu jalan menuju arah kota. Bang Huda merasa sangat bersalah, karena kesibukan dirinya yang padat jadi sering mengabaikan nafkah batin yang lain untuk Ayu. Istrinya pun butuh refreshing dan memanjakan dirinya sendiri setelah pastinya disibukkan dengan urusan rumah tangga atau mungkin dengan pekerjaan tambahan lain sebagai pendamping hidupnya.


Si kembar yang sudah kekenyangan langsung tertidur pulas di jok belakang dengan kasur angin yang aman dan nyaman.


Kini Bang Huda mengusap perut Ayu yang sudah terlihat besar karena dirinya juga ingin memberikan perhatian dan sayangnya untuk calon anak ke tiganya.


"Danau?? ini sudah malam dek"


"Lewat saja, Ayu pengen menghirup udara di sekitar Danau" kata Ayu.


"Hanya lihat dan menghirup udara saja khan?" tanya Bang Huda memastikan.


"Iya Bang"


Mau tidak mau Bang Huda melajukan cepat mobilnya karena perjalanan menuju danau lumayan jauh.


"Jangan terlalu kencang Bang..!!" pinta Ayu.


"Kenapa dek? Kita juga memburu waktu, besok pagi kita juga masih harus ikut kegiatan"


"Ya pokoknya jangan terlalu kencang" jawab Ayu karena ia juga menjaga kandungan yang sebenarnya memang sedikit terasa nyeri karena lelah.


Bang Huda pun mengurangi kecepatan laju mobilnya. Ia juga cemas jika sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada kandungan Ayu.


...


"Yank.. sudah sampai nih..!!" Bang Huda membangunkan Ayu yang tertidur pulas dengan gaya bebas karena Bang Huda merendahkan jok mobilnya.


"Ayu masih ngantuk Bang, badan Ayu capek sekali" rengek Ayu dalam tidurnya.


"Tuh khan kecapekan, nekat sekali ajak Abang main sampai sini. Terus bagaimana nih, jadi main nggak?" tanya Bang Huda.


"Berisik sekali sih Bang, cepat tidur..!!!" jawab Ayu.


"Duuuhh kamu ini..!! Sudah buat Abang nggak jadi live show, sekarang malah molor di mobil. " gerutu kesal Bang Huda.


Ayu memiringkan tubuhnya masih tak sadar jika mereka sedang berada di dalam mobil.


Bang Huda memperhatikan wajah Ayu yang tengah tertidur, cantik polos dan apa adanya tanpa di buat-buat dengan riasan sederhana yang tidak mencolok. Senyumnya tipis sendu mengingat perjalanan kisah rumah tangganya bersama Ayu.


"Kenapa Abang bisa tergila-gila sama kamu. Gadis cilik pengobrak abrik hati Abang." tiba-tiba Bang Huda teringat Nadia yang usainya tidak berjarak jauh dengannya. Tangan Bang Huda membelai pipi Ayu. "Nadia dewasa tapi sangat kekanakan, dia sangat egois. Tapi kamu beda sayang.. kamu sangat muda, baru saja dua puluh tahun tapi sebenarnya pikiranmu sangat dewasa.. Abang memaklumi manja mu karena kamu putri bungsu kesayangan Papa Ranggi dan sekarang jelas.. kamu si cantik kesayangan Bang Huda."


Wajah Bang Huda mendekati bibir Ayu.


Haaa.. tcciiiwwwww...


Tiba-tiba Ayu bersin saat Bang Huda berniat mengecup bibirnya.


"Astagfirullah dek..!!" Bang Huda menyambar tissue di dashboard mobil.


"Abang kenapa?" tanya Ayu saat wajah Bang Huda kusut sembari menyeka wajah dengan tissue kering kemudian dengan tissue basah.


"Hwuuuu.. wes marai gagal, nyolek sithik wae di satru" gerutunya jengkel.


"Mana Ayu tau kalau Abang mau punya niat c*bul" protes Ayu.


"Abang cuma mau cium, nggak niat macam-macam"


"Alaah bohong.. Ayu teriak nih kalau nggak ngaku..!!" ancam Ayu.


"Teriak saja...!! Paling juga langsung di kawinin" jawab Bang Huda menanggapi konyolnya Ayu.


.


.


.


.


.


.


.


.