Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
41. Jalan-jalan.


Tak masalah bagi Bang Huda selalu membujuk Ayu dengan cara seperti ini, tapi lama-kelamaan dirinya takut Ayu akan kelelahan, pasalnya sejak kemarin belum ada jeda dari gempuran demi gempuran.


Bang Huda mengusap wajahnya, ia berusaha kuat menekan hawa nafsu yang meninggi dalam diri, melihat seorang Ayu membuatnya 'gelap mata'.


"Duuuhh.. mandi lagi donk ini. Sebaiknya setelah ini jalan-jalan saja daripada di kamar terus. Pikiranku terlalu jahanam" gumamnya lirih.


Bang Huda menepuk pelan paha Ayu. "Dek.. sayang.. Bangun dulu..!! Sholat sebentar yank.. nanti kita jalan-jalan..!!"


Ayu tak bergeming sampai Bang Huda harus mengangkat istrinya itu ke kamar mandi.


:


"Dingiin Abaaaanngg..!!!"


"Sholat sebentar saja dek, nggak ada sepuluh menit. Tadi waktunya sudah mau habis" jawab Bang Huda sambil mengeringkan rambut Ayu menggunakan hair dryer.


"Badan Ayu sakit Bang" rengek Ayu kesal.


"Maaf dek..!!" sebenarnya Bang Huda juga merasa sangat bersalah tapi mau bagaimana lagi, baru beberapa bulan menikah memang sedang panas-panasnya dan gemuruh lib*do dalam diri Bang Huda sedang tinggi-tingginya hasrat seorang pria.


"Kita jadi jalan-jalan pagi Bang??" tanya Ayu.


"Jadi donk.. jangan di dalam kamar terus. Kamu bisa habis Abang terkam" jawab Bang Huda.


"Nggak apa-apa. Ayu suka" wajah Ayu memerah dan malu salah tingkah.


"Huusshh.. Abang sih nggak apa-apa. Abang takut si dedek nggak kuat di guyur Papanya terus..!!"


...


Ayu melompat kegirangan melihat suasana salah satu Pura indah di pulau Dewata.


"Eeehh.. pelan dek..!! Si kecil jangan di ajak loncat" kata Bang Huda mengingatkan sambil menggapai pinggang Ayu.


Bang Huda memang sengaja memilih lokasi wisata yang tidak membutuhkan banyak tenaga untuk berjalan dan menanjak sebab ia pun harus mengingat calon jabang bayi dalam kandungan istrinya.


"Ayu mau naik batu besar disana..!!" tunjuk Ayu pada sebongkah batu besar.


"Jangan.. itu terlalu tinggi, yang pendek saja..!!"


"Ayu mau yang itu Bang, view nya lebih bagus" kata Ayu.


"Tapi nggak bagus buat si Unyil..!!" tolak Bang Huda memegangi Ayu agar tidak kabur naik ke atas batu besar.


Melihat Bang Huda sudah menatapnya tajam, ia tak mau lagi mencari ribut. Ayu ingin menikmati liburan tanpa omelan keras dari Bang Huda yang kaku. Ia pun merajuk manja memeluk Bang Huda. "Ayu mau manjat batu" pinta Ayu lagi.


"Kamu ini yang memang benar-benar kepala batu" Bang Huda ingin sekali menjitak Ayu.


Mau tidak mau akhirnya Bang Huda menggandeng tangan Ayu dan mengajaknya naik ke atas sebuah batu besar yang tidak terlalu tinggi.


~


"Sudah"


"Lho.. begini saja??" tanya Bang Huda.


Ayu mengangguk kemudian melangkah turun.


"Astagaaaa.." Bang Huda mendahului langkah Ayu agar tidak terpeleset. "Sabar, Abang turun duluuu..!!" Bang Huda menahan lengan Ayu saat istrinya mau melompat.


Perlahan Ayu turun, Bang Huda mendengar suara nyaring dari perut sang istri.


"Kamu lapar dek?" tanya Bang Huda padahal baru saja dua jam yang lalu mereka berdua sarapan pagi.


Ayu mengangguk, memang perutnya sudah terasa sangat lapar.


"Ya sudah, kita naik ke atas sedikit. Ada cafe tuh. Kita makan dulu disana..!!" ajak Bang Huda.


:


Terhidang nasi goreng seafood, nasi campur Bali, kentang goreng, es jeruk dan secangkir kopi hitam panas.


"Abang nggak makan?" tanya Ayu.


"Abang masih kenyang, kamu saja yang makan.. habiskan biar anak Abang gemuk" jawab Bang Huda sambil menghembuskan asap rokok berlawanan dengan arah angin agar asapnya tidak mengenai Ayu.


"Hmm.. Bang, Ayu mau kebab ya..!!" pinta Ayu.


"Iya, Abang pesankan dulu" Bang Huda berdiri lalu memesan kebab di cafe.


:


Ayu sudah menghabiskan semua makanannya, matanya melirik Bang Huda yang tidak hentinya menghisap rokok.


"Abang banyak sekali merokok, sudah dua pax Bang" Ayu menegur Bang Huda yang duduk mendekapnya, suaminya itu memang tak ingin jauh darinya.


"Kalau Abang nggak hisap rokok rasanya mual. Permen Abang sudah habis"


"Tapi jangan di biasakan Bang, sayangi paru-paru Abang juga" kata Ayu.


Mendengar ucapan istrinya, Bang Huda mematikan rokoknya yang masih ada setengah. "Apa bibirmu mau jadi gantinya?" Ia mengulum bibirnya yang tertinggal rasa manis.


"Iihh.. Abang.. jangan begitu kenapa sih?? mengundang pikiran setan" Ayu mengalihkan pandangannya melihat bibir Bang Huda.


Bang Huda tertawa mendengarnya. "Pikiranmu lah, bibir diam nggak macam-macam masih saja di salahkan"


Dari jauh melangkah tiga orang wanita mendekati mereka berdua. "Mas Huda disini juga?" tanya seorang wanita yang ternyata adalah Ella.


"Eehh.. iya La." jawab Bang Huda.


"Ella sama teman-teman boleh gabung duduk disini nggak??" tanya Ella langsung menarik kursi dan duduk tanpa sungkan. "Waah.. istri Mas Huda makannya banyak ya, pantas gemuk"


Tepat saat itu penyelamat dari Tuhan pun tiba. Tak tau sejak kapan Bang Leo dan Geya ada disana. "Lho ada Ella juga to??" sapa Bang Leo dengan senyumnya yang maha menawan.


Bang Leo tau dari raut wajah Bang Huda sangat membutuhkan pertolongan. Terjalin persahabatan sejak lama tentu saja sudah membuat sebuah ikatan di antara mereka.


"Mas Leo disini??" tanya Ella.


"Iya donk.. Aku dan Huda sedang memanjakan istri, kita lagi bulan madu nih. Hamilnya duluan.. bulan madunya belakangan" jawab bang Huda.


"Oohh.. pantas istri Mas Huda sama Mas Leo gendut semua" kata Ella.


Geya tersenyum sengit. "Iyalah gendut, gimana nggak gendut kalau pagi siang sore di gas terus."


"Yaaa.. mau bagaimana lagi ya, semakin gendut semakin seksi sih mbak.. namanya juga sama istri mbak, sudah halal maunya nempel terus, daripada belum halal cuma di umekin tapi nggak di nikahin" sambung Ayu.


Wajah Bang Huda dan Bang Leo memerah seperti udang rebus. Tak menyangka para istri menyikat habis ucapan Ella yang hanya beberapa kata tapi harus mati kutu karena sambaran Geya terutama Ayu.


~


Bang Huda dan Bang Leo menunduk tak berkutik setelah Ella dan kawannya pergi dari cafe itu.


"Senyum nggak jelas sama perempuan lain. Apa maksudnya Abang????" tegur Geya dengan suara tinggi. Baru kali ini Bang Leo mendapatkan omelan keras dari sang istri.


"Abang juga..!!" Ayu menendang tulang kering Bang Huda. "Apa nggak bisa itu mulut menolak mentah-mentah ada perempuan lain disini????? Masih suka Abang sama dia???" ucap Ayu tak kalah keras.


"Iya Yu, menang di body aja bangga." kata Geya jengkel.


"Badan Ayu kalau nggak di acak-acak Abang juga body goal" lirik Ayu masih penuh kejengkelan menatap Bang Huda.


Bang Leo menyenggol kaki Bang Huda meminta pertolongan padahal nasib Bang Huda pun tak kalah mengenaskan.


"Apa senggol-senggol..!! Diam dan merenung..!!" ucap Geya tegas.


Ayu menyambar tasnya. "Ayu mau minggat aja. Abang nggak sayang sama Ayu..!!"


Bang Huda berdiri meraih tangan Ayu. "Jangan sedikit-sedikit minggat kenapa sih yank.. Abang mau jantungan nih mikirnya" sebisanya Bang Huda membujuk Ayu, di peluknya hangat sang istri sampai marahnya mereda. "Ella datang sendiri itu urusannya, tapi Abang nggak mau punya urusan sama dia. Abang khan hak milik Ayu seorang"


Geya melirik Bang Leo. "Abang bisa nggak romantis begitu?? Jangan hanya waktu pacaran aja omongnya besar..!!"


"Jangan disini lah, nanti rayuan Abang di contek si doberman" bisik Bang Leo.


.


.


.


.