Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
74. Keputusan.


Mohon maaf untuk tidak mengkritisi dalam bentuk apapun karena ini hanya sebuah cerita..!! Dalam setiap cerita Nara selalu masalah.. ego yang berlebihan akan membuat. Ambil makna cerita bukan 'kesamaan cerita yang Nara sengaja'.


🌹🌹🌹


"Istilahnya tanah yang baru di panen, masih belum stabil, masih bongkahan tapi sudah harus di tanami lagi. Subur ya memang subur tapi ya begitulah keadaannya" kata dokter Alamsyah yang ikut berada di sana.


"Apa berbahaya? lalu sekarang harus bagaimana?"


"Kita usahakan saja yang terbaik" jawab dokter Alamsyah.


~


"Minum dulu dek..!!" Bang Huda mengangsurkan sedotan ke sela bibir Ayu, wajah Ayu benar-benar pucat.


"Ayu nggak haus" jawab Ayu ketus.


"Masih marah ya sama Abang?" Bang Huda melirik cemas raut wajah Ayu.


"Marah lah, Ayu mau pulang ke tempat Papa..!!" ancam Ayu seperti biasa jika sedang marah.


"Siska minta maaf ya Mbak..!!" Siska berdiri di belakang Danyon yang menengahi keributan disana.


"Abang harap tidak ada kekonyolan seperti ini lagi. Ini masa berkabung tapi kamu buat masalah Siska..!!" tegur keras Danyon. "Ada etika berteman dan menjalin komunikasi sesama rekan kerja. Bagaimana kalau tadi istri seniormu sampai keguguran??"


"Siap salah Abang..!!" jawab Siska.


Ayu benar-benar kesal. Hatinya sungguh tidak puas dengan penyelesaian dengan cara seperti itu. Ayu kembali meraba perutnya dan meremas tangan Bang Huda.


"Kenapa dek?? Sakit lagi???" tanya Bang Huda panik.


Ayu mengangguk lalu kembali pingsan.


"Laam.. Alaaaamm..!!!!!" kepanikan Bang Huda semakin menjadi.


"Ada apa??" dokter Alamsyah sampai berlari menghampiri Bang Huda lagi.


"Tolong istriku Lam.. cepat..!!!!!"


~


Dokter Alamsyah ternganga karena keadaan Ayu amat sangat stabil tapi begitu sulit untuk di sadarkan dan kini dirinya yang mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ia pun mengikuti permainan Ayu, ia menganggap kelakuan Ayu adalah hiburan langka di sela jam kerjanya yang padat.


"Istrimu terlalu syok."


"Apa parah?? Apa perlu aku membawanya keluar kota??" tanya Bang Huda.


Tak lama mata Ayu terbuka.


"Sayang.. kamu minta apa dek?"


"Mau usap rambutnya Om Edwin" jawab Ayu.


"Apaaaaa???? Enak aja.. Nggak ada yang begitu..!!!!" tolak tegas Bang Huda.


"Ya salam.. Abang stress lihat kalian" kata Bang Farid. "Kamu jaga istrimu, pimpinan Abang ambil alih ya?"


"Siap Abang..!!"


"Kamu juga keluar dari sini Siska..!!" imbuh Bang Huda.


Setelah Bang Farid pergi, Bang Huda melihat raut wajah Ayu yang tidak bersahabat. "Yang lain lah neng, masa minta yang begitu?"


"Aawhhhh.. Perut Ayu mulas nih Bang..!!" kata Ayu sembari menunduk memasang wajah kesakitan.


"Siapa saja.. tolong panggil Edwin kesini..!!"


:


Bang Huda berwajah datar bercampur kesal, lirikannya penuh aura mistis melihat Om Edwin tersenyum saat Ayu mengusap rambut Prada Edwin.


"Mudah-mudahan mirip saya ya Bu anaknya"


"Amit-amit jabang bayi, kamu pengen sepatu jenggel ini salam sayang ke bibirmu??????" tegur Bang Huda.


"Ijin Dan, sepertinya anak Danki ini senang dengan saya" kata Om Edwin dengan senyum penuh kemenangan.


"B******n, jangan ge_er kamu. Apa juga maksudnya senyum bahagia seperti itu?" tegur Bang Huda.


"Siap.. tidak berani Danki..!!" jawab Om Edwin.


"Kembali ke tempatmu..!! Anak saya bisa trauma berat lihat wajahmu" ucap Bang Huda saking jengkelnya.


Ayu puas sekali melihat kekesalan Bang Huda, tapi sungguh ia ingin melihat kecemburuan yang mendalam dari diri suaminya dan ingin melihat batin Bang Huda tersiksa.


...


Syarin menahan kuat tangisnya. Dalam hatinya ada ribuan rasa sakit tak terlukiskan. Ia sedang mengandung bayi dari pria yang kini terbujur kaku dalam peti mati tertutup bendera kebanggaan. Terpampang foto pria yang telah merenggut kesuciannya yang ada pada dirinya dengan paksa.


Tiba-tiba ada seorang ibu menghampiri Syarin dengan begitu emosi. "Kau.. kau pasti wanita yang telah membuat putraku lupa daratan. Membuatnya terlupa darah apa yang telah mengalir dalam tubuhnya"


Bang Arial segera bergeser memasang badan di hadapan Syarin. "Siapa yang ibu maksud?? Syarin?"


"Iya.. dia wanita yang selalu di banggakan putraku padahal aku sudah memilihkan wanita yang baik untuknya." teriak ibu Almarhum Bang Arnold. "Wanita membuat putraku lupa segalanya, selamanya aku tidak akan pernah mengakui anak yang ada dalam perutmu sebagai darah dagingku..!!!!" pekik histeris ibu tersebut.


Syarin hampir pingsan mendengarnya, wajahnya serasa tertampar keras di muka umum.


"Tak perlu anda repot mengatakan semuanya..!! yang ada dalam kandungan Syarin adalah darah saya.. Dia anak saya dan Syarin adalah istri dari Lettu Arial Pranajaya..!!" ucap Bang Arial tegas terdengar seisi ruangan.


Seketika ibu Almarhum Bang Arnold bungkam seribu bahasa. Bang Arial menggandeng tangan Syarin agar bisa menjauh dari ruangan.


~


"Abang mengijinkanmu menangis..!! sekuatmu, sepuas hatimu..!! Tapi hanya untuk sisa masa lalumu.." kata Bang Arial.


"Tinggalkan Syarin sendiri Bang, Syarin ingin sendiri.. Syarin ini sampah yang tidak pantas mendapatkan belas kasihan" Syarin mulai frustasi dengan keadaan dirinya.


"Abang tidak sedang memberimu belas kasihan."


"Pergilah Bang, dekat dengan Syarin akan membuat Abang malu..!!!"


Bang Arial mengarahkan wajah Syarin agar mata itu bisa saling menatap. "Lupakan..!! Lupakan kejadian malam itu, lupakan dia..!! Hidupmu hanya ada Abang, Abang akan menghujanimu dengan cinta dan sayang..!!" Bang Arial menyentuh perut Syarin.. "Tekankan dalam hatimu.. dia anak Abang..!!"


Mendengar itu seketika Syarin terhuyung ke dalam pelukan Bang Arial dan pria itu mendekapnya erat.


:


"Apa katamu????"


"Syarin hamil Pa"


"Papa dengar Ar..!! maksud Papa.. kamu hamili dia?? Putrinya Om Juan??" tanya Papa Lingga menanggapi putra bungsunya.


"Iya Pa"


"Yang benar saja kamu Ar, Papa ada pekerjaan penting di Palembang."


"Sebentar saja Pa, daripada aku tinggal nyawa karena di hajar Om Juan" kata Bang Arial sengaja memelas.


"Kamu memang pantas mati. Berani sekali kamu perawani anak gadis orang???" bentak Papa Lingga. "Bang Ardan perwakilan, Abangmu ada di Berau"


"Aku di restui khan Pa?" tanya Bang Arial.


Papa Lingga terdiam sejenak. "Jaga menantu dan cucu Papa baik-baik..!!"


-_-_-_-_-


Dengan berbagai pertimbangan matang, juga permohonan maaf yang tulus dari Bang Arial, juga karena seluruh anggota kompi telah mengetahui bahwa Syarin adalah istri Lettu Arial, maka Papa Juan bersedia menikahkan Bang Arial dan Syarin.


"Sah.." ucap para saksi dari beberapa anggota dan keluarga karena prosesi sakral tersebut berlangsung tertutup.


Papa Juan sampai menangis karena harus menikahkan putrinya dengan cara seperti ini. Mama Sasti ikut menangis pilu sembari memeluk Papa Juan. Bang Saka lebih banyak diam memendam perasaan tapi tidak dengan Bang Huda yang tak sanggup melepas adiknya untuk menikah.


Kata Sah itu membuat Syarin lemas dalam pelukan Bang Arial.


:


plaaaakk..


"Begitukah caramu memperlakukan perempuan?" tegur Kapten Ardan terkait hal yang sedang di alami adik kandungnya. Ia paham betul bagaimana sifat adiknya.


"Sudahlah Bang, adikku yang salah" kata Bang Saka yang dulu dalam fase pendidikan memang dekat dengan Bang Ardan bersama Bang Huda. "Ayo kita ngopi saja..!! biarkan pengantin baru ini..!!" ajak Bang Saka.


Saat meninggalkan tempat, mata Bang Ardan sempat melihat seorang wanita yang saat itu menusuk jantungnya. "Bukannya itu Ayu?" tanya Bang Ardan.


"Iya Bang, istrinya Huda" jawab Bang Saka.


"Apaaaaaaa?????"


.


.


.


.