Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
53. Bersahabat dengan keadaan.


"Muntahkan..!! Apa saja yang kamu telan???" kepanikan Bang Huda semakin panik saat melihat gelas jamu yang telah kosong di meja ruang tengah rumah.


Bang Huda sampai menundukan kepala Ayu di wastafel dan memasukan dua jarinya ke rongga mulut Ayu agar istrinya itu bisa memuntahkan apa yang sudah di telannya.


tok.. tok.. tok..


"Masukkan..!!!!" teriak Bang Huda dari dalam rumah.


Bang Arnold pun melangkah masuk. "Ijin Bang..!!"


"Kesini kamu..!! Ke belakang..!!" kata Bang Huda mengarahkan.


"Permisi Bang..!!" Bang Arnold mengikuti perintah dan segera menuju belakang rumah.


Bang Arnold melihat Bang Huda sedang mengurus seorang wanita yang pastinya adalah istri seniornya itu, tapi saat wanita itu berusaha tegak.. wanita itu ambruk di pelukan Bang Huda.


"Astagfirullah.. Ayuu???" Bang Arnold terpekik kaget, kakinya refleks melangkah maju tapi terhenti karena langsung menyadari bahwasanya Ayu sudah pasti istri Bang Huda.


"A_yu.. kenapa Bang?" tanya Bang Arnold terbata, sesungguhnya dirinya benar-benar kaget melihat Ayu dengan keadaan sangat memprihatikan.


"Kamu bisa lihat dengan jelas???? Lihat dengan jelas..!!!!!!" tegur Bang Huda sambil membawa Ayu di kasur lipat depan ruang televisi.


"Siap..!!"


"Ayu adalah istri saya dan dia sedang mengandung darah daging saya..!!!!"


Hati Bang Arnold hancur berkeping. Niatnya memberi 'jamu' karena memang jengkel karena Ayu menikah dengan orang lain, tapi dirinya sama sekali tidak tau kalau Ayu adalah istri seniornya yang rekam karir dan prestasinya begitu membuat bulu kuduk merinding menyamai Bang Langsang, kakak kandung Ayu.


"Tanpa mencari informasi yang jelas, beraninya kamu buat masalah dengan saya. Punya nyawa berapa kamu berani buat istri seniormu celaka???? B******n kamu Arnold..!!!" bentak Bang Huda.


"Siap salah Bang, semua di luar kontrol saya..!!"


Bang Huda menekan ponselnya, setting ponsel untuk memanggil petugas piket jaga, Danton dan kedua ajudannya.


~


"Arial.. saya minta tolong, urus masalah saya dengan Arnold" suara Bang Huda bergetar namun masih terdengar tegas.


"Siap Abang...!!" Bang Arial melihat Ayu terbaring lemah tanpa daya.


"Kamu apakan istri Danki??" tanya Bang Arial pada juniornya.


"Siap salah Abang"


"Ikut saya ke belakang..!!" perintah tegas Bang Arial.


~


"Sungguh saya tidak tau Ayu adalah istri Danki C."


"Sekalipun Ayu istri anggotamu, kamu tidak boleh melanggar batasanmu..!! Wanita yang sudah menikah dengan pria lain bukanlah jodohmu, kamu jangan jadi manusia picik Arnold..!!" Bang Arial menasihati juniornya. "Sekarang kamu lihat Ayu.. istri Abangmu sampai melakukan percobaan bunuh diri karena ancamanmu. Sampai terjadi hal fatal pada Ayu, jangan harap kamu bisa nafas lagi..!!"


Arnold terdiam penuh penyesalan. Tak menyangka ancamannya pada Ayu karena rasa cintanya yang begitu besar sudah membuat kekacauan sebesar ini.


"Saya menyesal Bang, Jika Ayu memang bahagia bersama Bang Huda.. saya ikhlas" kata Bang Arnold.


"Kenapa baru sekarang kamu katakan?? Saat istri Danki sudah seperti itu." tegur Bang Arial.


:


Dua petugas piket jaga berjaga di depan rumah Bang Huda. Bang Arial membantu Bang Huda menyiapkan segala sesuatu yang di butuhkan untuk Ayu bersama Bang Arnold dan Om Edwin.


"Alhamdulillah.." Bang Huda beringsut di sisi ranjang saat Ayu baru membuka matanya. "Masih pusing? Perutnya panas?" tanya Bang Huda lembut.


Mata itu melihat Bang Arnold berdiri di belakang punggung Bang Huda. Secepatnya Ayu memeluk Bang Huda, jelas sekali Ayu gemetar dan ketakutan. "Ayu sudah meminumnya.. jangan sakiti Bang Huda..!!"


"Tolong tinggalkan saya berdua dengan Ayu..!!" perintah Bang Huda. Bang Arial, Bang Arnold dan Om Edwin menunggu Bang Huda di ruang tamu.


Bang Huda lalu mengarahkan wajah Ayu agar bisa menatapnya. "Lihat Abang, tidak akan ada yang bisa menyentuh Abang termasuk Arnold..!!"


"Ayu istri yang nggak berguna, Ayu bukan ibu yang baik, Ayu hanya bisa buat Abang malu..!!" Ayu semakin histeris merasakan ketakukannya.


"Semua sudah aman.. sudah Abang bereskan..!!!!" kata Bang Huda. "Semua foto itu Abang yang pegang, belum pernah dan nggak akan tersebar kemanapun..!!" ucap tegas Bang Huda.


Bang Huda mengambilkan Ayu segelas air putih lalu membantu istrinya itu untuk minum agar Ayu sedikit lebih tenang.


"Ini peringatan dari Abang.. lain kali jangan pernah kamu menyimpan rahasia apapun dari suamimu, juga jangan pernah kamu bermain-main dengan kandunganmu. Kamu nggak tau bagaimana nyerinya hati Abang lihat kamu sakit. Kamu bisa nurut apa kata Abang??" terpaksa Bang Huda sedikit keras dengan Ayu karena semua demi kebaikan Ayu sendiri.


Ayu mengangguk cepat. "Iya Bang, Ayu kapok" jawab Ayu sesenggukan.


Melihat istrinya sudah seperti itu, Bang Huda jadi tidak tega dan segera membawa Ayu untuk pindah istirahat di dalam kamar.


~


"Masih mau buat ulah apalagi kamu Arnold."


"Siap tidak berani Bang..!!" mata Bang Arnold berkaca-kaca.


"Atas nama istri saya.. Saya memohon maaf jika Ayu sempat menyakiti hatimu, tapi semua sudah terjadi di masa lalu dan masa depan Ayu ada bersama saya. Saya harap kamu bisa berlapang dada dan tidak ikut campur lagi dalam masalah rumah tangga saya. Saya yang akan menjaga Ayu dan mendidik dia. Apa kamu bisa ikhlaskan?" tanya Bang Huda.


"Ayu adalah gadis yang benar-benar saya sayang dan saya cintai Bang. Dulu saat Ayu menduakan saya dengan Bang Leo, saya tidak sungguh-sungguh menduakan dia, saya hanya ingin dia mengerti sakitnya di duakan agar Ayu tidak mengulangi lagi. Selama berbulan-bulan saya kehilangan kontak dan hanya bisa menghubungi Ayu dengan akun barunya dan berkomunikasi lewat jalur pribadi di sosmed. Saya diamkan dia karena saya ingin menemui dia langsung, tapi siapa sangka Ayu malah menikah dengan Abang."


"Berarti dengan kata lain, sebulan sebelum menikah dengan saya, Ayu masih ada hubungan dengan Leo??" Bang Huda memastikan kebenarannya.


"Siap.. benar Bang"


"Astagfirullah.. padahal waktu itu Leo juga mau menikah, bandelnya istriku" gumam Bang Huda.


"Saya juga mohon maaf yang sebesar-besarnya, cinta saya pada Ayu sudah hampir membuat calon anak Abang celaka. Saya khilaf Bang, sungguh" Bang Arnold berlutut di depan kaki Bang Huda.


Sebenarnya hati Bang Huda bergemuruh ingin meluapkan amarahnya, tapi baginya sekarang.. Ayu dan calon anaknya selamat sudah merupakan berkah, jika amarahnya akan semakin membuat Ayu stress.. maka ia akan mengurungkan niat itu dan membiarkan dirinya sendiri yang berpikir keras. Sungguh Bang Huda tak ingin lagi mengambil resiko dalam hidupnya.


"Saya tidak menghajarmu bukan berarti saya tidak marah. Ada istri yang harus saya lindungi mentalnya dan calon anak yang saya lindungi perkembangannya. Kamu boleh buat saya hancur, tapi tidak untuk anak dan istri saya..!!" ucap tegas Bang Huda tak main-main.


"Siap Abang.. saya paham."


"Suatu saat.. jika kamu sudah bertemu dengan jodohmu, kamu akan mengerti apa yang saya lakukan. Tingkat sayang dan cinta yang sesungguhnya.. ada dalam fase pernikahan. Bukan hanya ego semata tanpa berpikir baik dan buruknya"


Bang Arnold menunduk di lutut Bang Huda. "Saya titip Ayu Bang, akan saya hapus semua rasa tentang saya dan Ayu. Saya laki-laki Bang, Abang bisa pegang ucapan saya..!!"


"Oke, serahkan seluruh akunmu atau saya sendiri yang akan membuatmu susah. Mempermalukan Ayu sama saja dengan mencoreng wajah saya..!!" wajah Bang Huda garang menatap Bang Arnold.


"Siap Bang, semua ada di ponsel saya. Tidak ada yang lain lagi" jawab Bang Arnold sambil menyerahkan ponselnya dan Bang Huda menerimanya.


"Awas kalau saya menemukan fakta lain..!!" ancam Bang Huda. "Satu lagi.. sebenarnya ini tidak pantas saya tanyakan sebab saya sendiri juga punya masa lalu. Tapi karena ada kejadian seperti ini.. mungkin ada baiknya saya tanyakan, sejauh apa hubungan mu dan Ayu dulu? sebab saya tau, ada beberapa foto yang tidak real.. saya paham lekuk tubuh istri saya mulai ujung rambut hingga ujung kaki"


"Siap.. tidak ada..!!" jawab Bang Arnold.


"Saya ini b******n, kamu mau bohongi saya??" ancam Bang Huda dengan sengaja meskipun dirinya sudah tau jawabannya.


.


.


.


.