
Bang Huda menggeliat gelisah tidak nyaman sampai wajahnya memucat, efek jamu sudah bekerja tapi tidak ada pelepasan sama sekali.
Papa Ranggi menggeleng tak tau harus berkomentar apa karena dirinya pun juga laki-laki dan pastinya tau bagaimana lika liku laki-laki.
"Istirahat sana kalau 'capek', Papa mau temui Cherry dulu, tadi sudah janji ajak Intan jalan-jalan" kata Papa Ranggi.
"Iya Pa" jawab Bang Huda lemas.
Mama Hana tidak tau apa yang terjadi dan mengira memang menantunya sedang kelelahan.
"Huda kenapa Pa?" bisik Mama Hana sambil sesekali melirik Bang Huda yang terpejam gelisah meremas perut bawahnya.
"Biasa lah, kamu nggak usah ikut campur urusan laki-laki" jawab Papa Ranggi.
"Iya Pa" Mama Hana meraih tangan Papa Ranggi yang mengulurkan tangannya mengajak sang istri menuju rumah Kak Cherry.
:
Ayu mengambilkan Bang Huda segelas air putih hangat.
"Masih nggak enaknya Bang?" tanya Ayu.
"Sudah lebih baik" jawab Bang Huda dengan bualannya yang gagal. Ada rasa canggung, malu, merasa gagal dan kalah sebelum bertempur di medan laga, harga dirinya terasa mati.
Ayu tau suaminya sedang berbohong. "Abang nggak mau live show lagi?" pertanyaan itu setengah membujuk Bang Huda.
"Nggak, sudah nggak pengen lagi" jawab Bang Huda tapi reaksi tubuhnya tidak sesuai dengan perkataannya.
Ayu melepas kimono tidurnya di hadapan Bang Huda dan menunjukan lekuk tubuhnya di balik baju umpan berwarna hitam. Perut Ayu yang menyembul menunjukan betapa seksinya bumil di hadapan sang suami.
Mata Bang Huda berkedip-kedip, denyut nadinya berdesir. Ia bergeser salah tingkah, tersenyum menginginkan tapi gengsi.
"Bagaimana kalau Ayu saja yang live show??" tanya Ayu kemudian mengikat rambutnya ke atas dan meliuk merangkak duduk di antara kedua paha Bang Huda.
Bang Huda menutup mata dengan sebelah lengan merasakan setiap gerak Ayu yang menggodanya. "Usil sekali kamu dek"
Ayu menarik lengan Bang Huda kemudian merentangkan bebas di samping kanan dan kiri. Mata Bang Huda yang tadinya tertutup kini terbuka semakin lebar melihat Ayu yang lebih berani mengeksplor dirinya.
"Abang mau diam aja?" tanya Ayu karena Bang Huda begitu terpana menatap ke arahnya.
"Aahh.. oohh.." Bang Huda tersentak bengong, bingung sekaligus salah tingkah melihat perlakuan Ayu padanya apalagi saat Ayu menarik tangannya untuk menyentuh pinggangnya.
"Ayu kangen Bang" kata Ayu, agaknya setelah melihat live show tadi.. dirinya sempat berdesir memikirkan Bang Huda.
Senyum Bang Huda mengembang sempurna. Hatinya berbunga-bunga. Itu berarti Ayu begitu menginginkan dirinya dan live show tadi tidak gagal. "Benar nih, istri Abang kangen???" tanya Bang Huda.
Ayu mengangguk malu-malu.
"Banyak atau sedikit??" bisik Bang Huda.
"Sudah menumpuk Bang" jawab Ayu pun berbisik kecil di telinga Bang Huda.
Mendengar itu, gairah Bang Huda semakin terpancing. Rasa malu karena merasa gagal tersebut seakan menjadi rasa bahagia tak terkira membuncah dalam hatinya.
Bang Huda menyerusuk ke sela leher Ayu, nafasnya memburu, desahnya terdengar berat. "Abang longgarkan..!!" ia pun segera merebahkan Ayu di atas ranjang dan merangkak di atasnya. "Kita mulai" ucapnya sembari menindih Ayu.
***
Papa Ranggi menggeleng melihat wajah menantunya begitu segar saat bersiap berangkat kerja. "Waaahh.. sudah di lemesin Da?" tegur Papa Ranggi.
"Aahh.. Papa ini" wajah Bang Huda memerah saat Papa Ranggi menegurnya.
"Urat tegangmu sudah hilang. Pasti sudah selesai" kata Papa Ranggi. "Mana Galar dan Ghania? Papa ajak jalan ya..!!"
"Masih di suapin Ayu pa" jawab Bang Huda.
"Ya sudah berangkat sana. Kamu sudah telat khan. Masa Danki datangnya telat"
Bang Huda hanya bisa nyengir mendengar ucapan Papanya.
\=\=\=
******* panjang terdengar dari bibir Bang Huda usai pelepasan. Usia kandungan Ayu yang sudah mencapai usia sembilan bulan membuatnya semakin giat membangun jalan sepetak agar tempat seluncur si dedek lebih mudah untuk di lewati.
"Sudah Bang" pinta Ayu.
"Iya, ini sudah. Nggak enak ya?" tanya Bang Huda cemas.
"Mulai semalam perut Ayu mulai kram, nyeri sekali" jawab Ayu.
"Apa ada tanda dedek mau lahir?"
"Mungkin Bang." Ayu memercing nyeri. Bang Huda sedikit bergeser dari posisinya.
"Aaaawwwhh.. jangan dulu Bang..!!" Ayu menahan Bang Huda agar tidak bergeser.
"Jangan dek, kalau Abang nggak geser nanti bisa on lagi. Kamu terlalu banyak gerak" kata Bang Huda.
Ayu bingung mengatur dirinya sendiri sampai tingkahnya pun membuat Bang Huda kelabakan.
"Eghh.." Bang Huda bergerak perlahan tapi lama-kelamaan gerakannya semakin intens, tak terasa sudah kembali menjadi pergulatan manis antara dirinya dan Ayu. Desahannya kembali terdengar sampai tak terasa gerakannya terlalu dalam. Bibirnya tergigit kecil.
"Abaaaanngg.. sakiiiiiiiiit..!!!!!" pekik Ayu bersamaan dengan cairan hangat yang mengalir deras.
"Opo iki dek?" tanya Bang Huda masih memejamkan mata merasakan dirinya hampir menyelesaikan hasratnya tapi terganggu dengan sesuatu. Bang Huda menarik nafas panjang ketika rasa lega mulai meraba ujung pelepasan.
Sekuat-kuatnya Ayu mendorong Bang Huda tapi jelas tenaganya yang tidak ada apa-apanya tak menjadi arti apapun.
"Sabar..!!" Bang Huda mengunci Ayu dan semakin menekan diri tak tau apa yang sedang terjadi. "Hhgghh.." bibirnya semakin kuat menggigit merasa ada yang tumpah dari dirinya
"Bang, Ayu mulas.. dedek pengen keluaaaarr..!!!!!"
"Hhaaahh?????" Bang Huda menarik diri dengan susah payah karena belum sepenuhnya tuntas hingga tak sengaja miliknya tercecer ke atas perut Ayu. "Yang benar kamu dek????" tanyanya masih belum sepenuhnya sadar" Bang Huda melihat ke arah bawah dan benar saja, ranjangnya sudah basah. "Waduuhh deekk, kamu ini. Seharusnya kamu bilang kalau memang sudah terasa. Kamu khan tau Abang nggak bisa pelan."
"Jangan ribut Bang, ini sakit sekali..!!"
"Jagoan Abang ngamuk lah, kena jitak papanya dari tadi" ucap Bang Huda segera mencari pakaiannya kemudian memakainya dengan cepat, tak lupa ia mencarikan Ayu pakaian sebelum akhirnya berangkat ke rumah sakit.
~
"Biii.. bibiiii..!!"
"Iya Pak" bi Saroh datang menghampiri tuannya.
"Titip rumah sama anak-anak ya..!! Saya mau antar Ayu ke rumah sakit." pinta Bang Huda sambil menggendong Ayu ke dalam mobil.
"Ya Allah Pak, apa ibu mau melahirkan?" tanya Bibi.
"Insya Allah bi. Minta do'anya..!!" jawab Bang Huda.
...
"Lam, kamu piket hari ini??" tanya Bang Huda saat melihat dokter Alamsyah berada di UGD.
"Nggak, tapi Arial telepon aku"
"Kenapa dia??"
Dokter Alamsyah membuka tirai di samping ranjang Ayu. "Syarin terpeleset, mau lahiran juga"
Bang Arial tidak menyapa Bang Huda sama sekali. Wajahnya pias dan pucat memegangi tangan Syarin.
"Wes nggak apa-apa Ar, santai aja..!!" kata Bang Huda menenangkan adik iparnya tapi tangannya sendiri gemetar tak karuan.
.
.
.
.