
Baru saja Bang Huda tertidur, si kecil sudah menangis kencang. Ayu bukannya tidak ingin menggendong si bungsu tapi Giras tidak mau lepas dari gendongan Papanya.
Benar saja, baby Giras langsung tidur saat Bang Huda menggendongnya dan tersenyum kecil seakan mengejek sang Papa.
"Kamu dendam sama Papa apa gimana nih??" kata Bang Huda dengan wajah sangarnya. "Mau gelud?? Ayo gelud..!!" tantang Bang Huda.
"Apaan sih Bang, anaknya kok di ajak ribut." protes Ayu.
"Abang nggak ngajak ribut, si dedek yang ngajak ribut" jawab Bang Huda membela diri.
"Pokoknya jangan sampai Giras nangis..!!!" kata Ayu memperingatkan.
"Iya dek..!!!!"
***
Dua jam berlalu, Bang Huda sudah ingin buang air kecil tapi jika dirinya menidurkan Giras, pasti si kecil biang onar itu akan terbangun, menangis dan ribut di tengah malam.
"Turun dulu ya le, Papa sudah nggak tahan pengen p***s nih" gumamnya mengajak Giras bertukar pendapat.
Si kecil Giras langsung menggeliat dan menangis karena Papanya akan meninggalkan dirinya barang untuk dua menit lamanya. "Uusshh.. jangan nangis, Mama bisa ngamuk sama Papa..!!"
Tak lagi punya banyak pilihan, Bang Huda tak peduli lagi. "Aiiisshh.. masa bodoh lah, bawa saja ke kamar mandi..!!"
~
"Dek.. sayang, bantu Abang sebentar..!!" Bang Huda membangunkan Ayu yang tengah terlelap dalam tidurnya.
Perlahan Ayu membuka matanya. Terpampang nyata di hadapannya sesuatu yang berdiri tegak menantang. "Ya ampun Bang, nggak tau ya Ayu baru lahiran.. Abang mau minta????" suara Ayu meninggi membuat dua ajudan Bang Huda di luar sana terlihat tiba-tiba ikut terbangun dan refleks berdiri mendengar suara ribut karena kamar VVIP Ayu di dominasi oleh kaca.
"Huusshh.. bukan, Abang nih pengertian. Ini si Giras nggak bisa di tidurkan, jadi Abang bawa ke toilet" kata Bang Huda. "Tolong naikan resleting, Abang nggak bisa naikan sendiri..!!"
"Oohh.." Ayu pun paham dan menaikan resleting celana Bang Huda.
Raut wajah Bang Huda terlihat datar tapi ia terus memperhatikan wajah cantik Ayu yang tidak sengaja menyenggolnya.
Astagfirullah.. reaksi setan macam apa ini. Bisa-bisanya begini saat istri sakit.
"Kenapa Bang?" tanya Ayu kemudian kembali merebahkan diri.
"Nggak apa-apa."
"Abang pengen ya?" tanya Ayu menebak tiba-tiba.
Bang Huda tertawa mendengarnya. "Ini jam berapa? Biasalah laki-laki di jam subur suka upacara sendiri. Bukan berarti lagi pengen, sudahlah kamu istirahat saja..!! Jangan urus yang ini, biar Abang saja yang urus..!!"
"Iya Bang"
"Hmm.. Bang, jangan di gas lagi ya. Anak kita sudah tiga nih" pinta Ayu.
"Iya, Insya Allah dek. Abang belajar hati-hati. Jarak kehamilan yang terlalu dekat buat Abang was-was nggak jelas setiap hari. Setiap kamu lemas, Abang yang rasanya jantungan."
"Terima kasih banyak Bang"
"Abang yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah memberikan kebahagiaan ini untuk Abang. Maafkan Abang yang masih banyak kekurangan..!!" Bang Huda mengecup sayang bibir Ayu.
\=\=\=
Enam tahun kemudian.
Ayu masuk ke ruangan Wadanyon. Saat ini sang suami sudah berpangkat Mayor dan sudah menjabat sebagai Wadanyon di sebuah Batalyon di Pulau Jawa.
"Bang..!!!"
"Ya Allah dek, buat kaget saja. Kenapa terburu-buru begitu. Tadi jadi ke rumah sakit nggak??"
"Sudah Bang, sama Bang Pratama langsung" jawab Ayu.
"Lalu.. apa hasilnya, kenapa kamu baru sadar haidmu telat?" tanya Bang Huda.
"Ayu menyodorkan foto USG di meja kerja Bang Huda"
Bang Huda mengambil dan memperhatikan dengan jelas hasil foto USG itu. "Hamil?????" ekspresi wajah Bang Huda seakan tak percaya.
Ayu mengangguk.
"Berapa bulan??" pantas kamu selalu bilang sesak kalau sama Abang, Abang pikir kamu gemuk saja dek. Nggak fokus sama perutmu yang mulai menyembul."
"Delapan belas minggu Bang"
"Perempuan Bang"
"Alhamdulillah.. punya anak perempuan lagi. Ya sudah dek, nggak apa-apa. Di jaga baik-baik"
"Ayu takut Bang" kata Ayu.
"Ada Abang dek. Kasihan anak kita sudah hampir lima bulan. Sudah lincah khan di perutmu?"
Ayu mengangguk dan akhirnya berusaha berlapang dada menerima kenyataan.
...
"Heeehh.. kalian berdua ini kerjanya ribut saja..!!" Bang Huda menegur Galar dan Giras yang sedang baku hantam di teras depan rumah saat dirinya baru pulang kerja.
"Abang Galar duluan Pa" jawab Giras ya memang lebih emosional dari Bang Galar.
"Sebenarnya mereka salah semua Pa" sambar Ghania yang hobby makan dan menjadi komentator handal di antara kedua pria.
"Ada apa tadi?"
"Mama nggak kasih pisau, jadi Bang Galar dan Giras saling gigit jambu. Bang Galar dapat empat gigit dan Giras sudah lima. Batasnya sudah di coret di jambu itu pakai spidol Papa yang warna merah" jawab Ghania yang memang lebih pintar menjawab.
Bang Huda duduk dan mengambil jambu akar permasalahan kedua putranya. Matanya memperhatikan baik-baik jambu tersebut. "Ini masing-masing empat gigitan. Siapa tadi yang katanya makan lima jambu????" tanya Bang Huda.
"Bang Galar Pa" jawab Giras.
"Coba Galar berhitung..!!"
"Satu.. dua.. tiga.. empat........" Bang Galar menghitung dengan cepat dan tepat.
"Giras..!!!!" perintah Papanya seakan tak percaya pada anak ketiganya.
"Satu.. dua.. empat.. lima......."
"Cukup..!!!!" kata Bang Huda. "Kamu ini, menghitung angka saja masih salah, marah lagi..!!" Bang Huda menggeleng melihat putranya yang onar. "Ada apa-apa itu di pikir, jangan asal ngamuk, marah nggak jelas. Kamu memang pemarah, nggak sabaran sekali"
Papa Juan yang mendengarnya sampai nyengir dengan tatapan mengejek Bang Huda. "Anak-anak masuk sana. Minta Oma Sasti kupas apel di dalam..!!"
"Iya Opa.." ketiga cucu pun langsung mencium pipi Opa Juan yang sangat menyayangi mereka seperti Opa Ranggi.
"Pintarnya.. sudah sana masuk dulu..!!"
~
"Kamu tau, Giras itu ya seperti kamu dulu.. pecicilan, buat keributan, nggak sabar dan yang pasti emosian"
"Aku nggak segitunya Pa" kata Bang Huda berkilah.
"Kamu nggak percaya? Lihat saja nanti. Kalau Galar perpaduan kalian berdua, Ghania lebih mirip Ayu, tapi Giras.. seribu celaka mirip sepertimu"
Bang Huda mengurut pangkal hidungnya. "Terus yang keempat mirip siapa Pa?" tanya Bang Huda.
"Maksudmu??"
"Ayu hamil lagi. Aku nggak tau ternyata sudah mau lima bulan. Katanya perempuan nih Pa" jawab Bang Huda.
"Ya ampun.." Papa Juan menepuk dahinya. "Kamu ini memang rajin tabur benih"
"Ini sudah enam tahun Pa, Ini sudah maksimal usahaku berhati-hati. Mungkin kemarin ada masanya aku salah teknis, akhirnya nggak sengaja jadi" kata Bang Huda.
"Ya sudah lah nggak apa-apa, Syarin juga semalam baru kasih kabar.. hamil yang ketiga"
"Mantap banget si Arial, baru kembali dari Kongo langsung gol aja itu kecebong" gumam Bang Huda.
"Maklum Da.. mumet lah, puasa mati-matian enam belas bulan, apa nggak keliyengan itu kepala. Pulang langsung gas poool tanpa ampun" jawab Papa Juan.
"Hahaha.. perempuan luar mah nggak di ragukan, tapi yang halal lebih menggoda Pa. Nabung kangen tuh rasane nggak karuan. Aku nggak mau lagi Paaa"
Papa Juan mematikan puntung rokoknya. "Ya itu pokok masalahnya"
.
.
.
.