
Akhirnya Zahira bisa menjalani tugas PKL di kantor pengadilan tempat suaminya bertugas. Tentu saja membuatnya sangat bahagia karena tak harus berpisah dengan suami dan anak-anaknya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Setelah selesai menjalani praktek kerja lapangan selama tiga bulan, Zahira lanjut menyusun skripsi. Semua di jalaninya dengan semangat. Apalagi dukungan dari orang-orang yang ia sayangi maka membuatnya menjadi mudah menjalani pendidikannya.
Kini Zahira sudah menyelesaikan studinya di strata dua. Dan berkat ilmu yang ia miliki, Zahira sukses menjadi seorang pengacara di bidang hukum. Dan bahkan wanita yang kini berusia dua puluh delapan tahun itu sudah mempunyai kantor advokat sendiri.
Zahira dan Zico benar-benar sibuk bergelut di dunia hukum. Bahkan tak jarang pasangan suami istri itu bertemu di pengadilan saat mereka melakukan tugas masing-masing.
Hari ini Zahira pulang lebih awal dari Zico. Waktu yang ia miliki digunakan untuk berbaur dengan kedua anak-anaknya.
"Umi, Bang Rayy nakal," adu sicantik Zhera pada sang ibu yang baru saja rapi karena selesai mandi. Zahira duduk di ruang keluarga menemani anak-anaknya bermain. Dan tentu saja disana ada Rayyan. Karena bocah itu seperti tak bisa di pisahkan oleh kedua anaknya.
"Oya, Bang Rayy kenapa, Sayang? Sini peluk Umi dulu," bujuk Zahira merentangkan kedua tangannya.
"Dia selalu mencubit pipi aku," jawabnya sembari masuk kedalam pelukan sang Ibu.
"Uuu... Kacian, nanti Umi marahin Bang Rayy ya." Zahira memeluk gadis kecil yang berumur tiga tahun itu sembari mengecup seluruh wajahnya.
"Habisnya aku geram dengan pipi Zhera Umi," jawab Rayy terkekeh kecil.
Zahira hanya menanggapi dengan kekehan kecil. Saat ia sedang menemani anak-anaknya di ruang keluarga, terdengar suara ucapan salam dari Zi. Ternyata Pak hakim baru saja pulang.
"Baru pulang, Mas," sambut Zahira sembari menyalami tangan sang suami.
"Iya, Sayang." Zi membalas dengan kecupan lembut di kening wanita itu.
"Abi! Gendong!" seru gadis kecil itu merentangkan kedua tangannya meminta sang ayah untuk menggendongnya.
"Abi, nanti Adek jatuh!" teriak Zhera saat tubuhnya di lambungkan berulang kali oleh ayahnya.
"Hahaha... Wangi banget anak Abi, udah mamam?" tanya Zi sembari menyayangi putri kecilnya.
"Belum, Adek minta buatin dadar telur, tapi Umi tidak mau," adunya pada sang Ayah.
"Bukan tidak mau, Nak, tapi Umi bilang tunggu sebentar, karena Umi masih capek. Pinter banget kamu ngadu ya," ujar Zahira mencubit pipi putrinya dengan gemas.
"Hahaha... Benaran Umi tidak mau buatin buat Adek? Ayo biar Abi yang buatkan telur dadar spesial," ujar Zico.
"Eh, biar aku saja, Mas," larang Zahira saat melihat suaminya hendak beranjak menuju dapur.
"Tidak apa-apa, Sayang, kamu istirahat saja. Kamu pasti capek banget kan? Mungkin itu karena perdebatan kita di persidangan tadi," goda Zi pada istrinya. Ya, hari ini pasangan itu itu bertemu di pengadilan. Karena Zahira menjadi salah satu kuasa hukum dari kliennya yang kasusnya mengenai hak asuh anak dan harta Gono gini. Kebetulan suaminya sedang menggantikan tugas rekannya yang sedang izin sakit.
"Ish, bisa saja kamu, Mas. Tapi apa yang aku bela Itu memang kebenaran," timpal Zahira yang masih sedikit jengkel pada suaminya karena tadi sedikit memberi pembelaan pada pihak laki-laki.
Zico kembali terkekeh mendengar ucapan istrinya dengan wajah sedikit cemberut.
"Aku hanya memenengahi saja, Sayang. Nggak boleh begitu dong, harus profesional, walaupun kita adalah pasangan suami istri. Namum, kita sudah berkomitmen untuk amanah dalam menegakkan hukum," timpal lelaki itu.
Zahira tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya. "Ya, kamu memang benar, Mas. Apapun keputusanmu nanti, semoga itu adalah sebuah keputusan yang cukup adil untuk kedua belah pihak," ujar Zahira sembari mencuri kecupan di pipi suaminya.
Bersambung....
Happy reading 🥰