Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 56


Tak terasa waktu satu bulan cepat sekali berlalu, kini tiba saatnya Mila untuk mengundurkan diri dari tempat pekerjaannya, seperti janjinya kemarin.


Pagi ini Mila sudah bersiap untuk pulang ke kampung halamannya. Ia sudah siap untuk bicara pada kedua orangtuanya prihal hubungan mereka yang masih berlanjut.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Adri yang sudah standby menunggu di mobilnya.


"Sudah, Mas." Mila menyerahkan koper bawaannya kepada sang kekasih.


Pria itu segera memasukkan kedalam bagasi mobil, setelahnya menghampiri Mbak Amera untuk berpamitan. Mereka juga mengatakan pulang kali ini untuk melangsungkan pernikahan. Tentu saja disambut senang oleh Mbak Amera, karena mereka sudah cukup lama menjalin hubungan.


Adri kembali mengantarkan Mila pulang ke kampung halamannya. Kali ini ia tak ingin gagal lagi untuk menghalalkan kekasihnya itu. Tak peduli apapun resiko dan rintangan yang harus ia hadapi.


Ditengah perjalanan Mila merasa mual dan meringis pusing, sakit kepala. Adri tampak cemas melihat kondisi gadis itu yang tak biasanya mabuk perjalanan.


"Sayang, kamu kenapa? Apakah kamu masuk angin?" tanya Adri sembari menepikan mobilnya di sebuah rumah makan. Ia ingin membawa Mila istirahat sejenak.


"Sayang, kita rehat disini saja ya. Kamu mau makan sesuatu?" tanya Adri penuh perhatian sembari memijit kepala gadis itu dengan lembut.


"Nggak, Mas. Aku hanya mual saja," jawab Mila memejamkan matanya menikmati pijitan lelaki itu.


"Terus, gimana? Nggak pengen turun?" tanya Adri masih fokus memberi pijitan lembut agar sedikit mengurangi rasa pusingnya.


"Nggak, Mas. Mending jalan lagi aja, nanti juga hilang sendiri pusing dan mualnya," ucap Mila.


"Baiklah, jika kamu merasa tak nyaman beri tahu aku ya." Adri kembali menjalankan mobilnya, karena perjalanan mereka masih cukup jauh.


Mila mencoba untuk memejamkan mata agar pusingnya segera hilang. Sementara Adri tetap fokus mengemudi, ia membiarkan calon istrinya istirahat.


Entah berapa lama Mila tertidur, perlahan ia membuka mata dan menatap keluar sembari membaca tulisan deretan ruko yang ada di pinggir jalan. Membaca alamat dimana mereka sedang melalui kota itu sekarang.


"Mas, sudah masuk kota Payakumbuh ya?" tanya Mila ingin memastikan.


"Belum sampai kotanya, Dek. Baru memasuki kecamatan lima puluh koto," jawab Adri. "Kamu sudah tak pusing lagi?" tanyanya memastikan sekilas menatap pada gadis itu.


"Alhamdulillah, udah nggak Mas." Mila masih menatap keluar. Netranya seperti melihat sesuatu.


"Mas Adri, aku pengen galamai asli khas Payakumbuh ini," ujar Mila menatap pada Pria yang sedang fokus mengemudi.


"Iya, nanti kita mampir di pusat oleh-oleh ya," jawab Pria itu mengikuti keinginan wanitanya.


"Aku nggak mau yang ada di sana, aku maunya langsung baru mateng," jelas Mila yang membuat Adri sedikit heran.


"Kenapa seperti itu, Dek? Bukankah sama saja. Lagian gimana caranya kita beli yang baru mateng," ungkap Pria itu tak mengerti.


"Ya nggak tahu, pokoknya aku maunya yang seperti itu," rajuk wanita itu memutar posisi duduk membelakangi Adri.


Pria itu menepikan mobilnya tepat berada di depan toko oleh-oleh yang ada di kota Payakumbuh itu. Sedikit heran melihat perubahan sikap kekasihnya yang tiba-tiba manja dan ngambekan.


"Ayo turun, Sayang, kita tanya disini ya," bujuk Adri yang tak tahu sebenarnya.


Mila tak menyahut, tapi mengikuti Pria itu turun dari mobil. Adri segera menemui penjag toko Sanjai itu untuk menanyakan keinginan sang kekasih.


"Uni, ada galamai?" tanya Adri pada penjaga toko.


Mila dan Adri segera menuju rak itu "Yang ini, Dek?" tanya Adri memegang sebuah makanan yang telah di kemas dalam plastik.


"Bukan, Mas. Aku mau yang baru masak. Ini sudah dingin. Tidak enak lagi," jawab Mila.


Adri semakin bingung dengan keinginan Mila. Ia menghampiri penjaga toko itu kembali untuk menanyakan sesuai keinginan kekasihnya.


"Un, yang baru matengnya ada nggak?" tanya Pria itu menyingkirkan rasa malu, karena menanyakan hal yang rasanya tidak mungkin ada.


"Oh, Mas sama Mbak pengen yang baru mateng?" tanya gadis itu pada Mila dan Adri.


"Ah, benar sekali. Apakah ada?" tanya Mila sangat berharap.


"Ada, tapi besok pagi. Mbak tinggal datang saja di dapur kami. Bisa pesan dari sekarang," jelas wanita itu.


Mila hanya mengangguk paham, rasanya tak mungkin harus menunggu sampai besok pagi. Gadis itu mengurungkan keinginannya, tak ingin juga membuat calon suaminya repot.


"Oh, harus nunggu besok ya, Uni. Yaudah nggak jadi deh, Un. kelamaan, soalnya kami mau meneruskan perjalanan. Yaudah saya ambil yang itu saja," ujar Mila yang pada akhirnya mengambil satu bungkus makanan itu. Nggak pa-pa daripada tak ada sama sekali.


"Kalau Mbak lagi ngidam, mending di tunggu saja sampai besok pagi, kasihan bayinya besok ileran. Kan, bisa cari penginapan di dekat sini," ujar penjaga toko itu memberi solusi.


"Hamil?" Pasangan kekasih itu serentak mengucapkannya. Mila dan Adri saling pandang.


"Iya, bukankah istri Mas sedang hamil ya. Biasa keinginan orang hamil yang aneh-aneh begitu," timpal wanita itu lagi.


"Ah, ya. Yaudah, nanti kami pikirkan kembali. Sekarang hitung dulu berapa semuanya," ujar Adri segera mengalihkan percakapan. Tak bisa ditampik hatinya sedang tak tenang.


Setelah membayar makanan yang mereka beli. Pasangan itu kembali masuk kedalam mobil. Mila mendadak bisu, tak ingin bicara apapun. Hatinya merasa gundah gulana. Apakah benar dirinya sedang hamil? Benarkah mual yang dirasakan tanda wanita yang sedang hamil muda?


Mila diliputi segala pertanyaan dalam hatinya. Jika benar terjadi, maka apa yang harus ia katakan pada kedua orangtuanya. Tak terbayang bagaimana murkanya sang ayah bila mengetahui kondisi putrinya yang hamil diluar nikah.


Adri masih termenung, belum minat untuk menjalankan Kembali kendaraannya. Ia menatap Mila yang murung menatap lurus kedepan.


Adri meraih tangan wanita itu, lalu menggengam dengan lembut. "Sayang, jangan cemas. Kita akan segera menikah. Jadi tak perlu mengkhawatirkan bila memang benar kamu hamil," ucap Pria itu meyakinkan Mila.


Mila menatap manik mata indah yang ada dihadapannya. Rasa takut tetap saja membayangi. Mila masih tak bisa bicara apapun.


"Bagaimana jika benar aku hamil, Mas?" tanyanya lirih sembari menahan tangis.


"Biarkan saja, Dek. Anak itu tidak berdosa. Bahkan aku sangat menginginkannya. Tidak ada yang perlu dicemaskan, karena kita akan segera menikah," jelas Pria itu kembali.


"Bagaimana jika Ayah dan Ibu masih tak memberi restu? Aku takut, Mas. Hiks." Akhirnya Mila menumpahkan tangisnya.


"Sssst... Jangan takut, Sayang. Apapun yang terjadi aku akan tetap memperjuangkan dirimu. Udah, jangan menangis lagi ya." Adri melerai pelukannya dan menghapus air mata kekasihnya.


Bersambung...


Nb. Hai, raeder tersayang. Mampir yuk di novel terbaru author. Oya, disini ada yang masih ingat dengan Ikhsan Wibowo nggak 😊🤗