
"Sayang, aku minta maaf atas segala sikap buruk Mamaku. Ayo, masuklah," Adri meraih tangan gadis itu dengan lembut untuk membawa masuk kedalam mobilnya, tetapi sayangnya wanita itu sudah tak berminat untuk ikut dengannya.
"Tidak, Mas. Aku rasa hubungan kita cukup sampai disini saja. Aku sadar dengan segala kekuranganku. Kita memang tak pantas untuk bersanding." Mila segera beranjak meninggalkan Adri yang masih berdiri disana.
"Mila, dengarkan aku dulu! Jangan pergi Mil!" seru Pria itu meraih tangan wanita itu.
"Mas Adri, lepas Mas!" sentaknya tak ingin lagi membuat masalah dengan keluarga Pria itu.
Walaupun hatinya teramat sayang, tapi ia harus bisa merelakan dan melepaskannya demi kebaikan bersama. Mila masih berusaha melepaskan dari pegangan Adri.
"Mas, tolong lepaskan. Jangan mempersulit diriku," ujar Mila memohon.
"Tidak, Mila. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, aku tidak ingin kita berpisah," sanggah Adri sembari menggiring wanita itu untuk masuk kedalam mobilnya.
"Mas, aku tidak mau! Lepas!" Mila masih memberontak.
"Mil, kamu mau kemana? Apakah kamu tidak takut jika kamu dijahati oleh preman disini?" ujar Adri memperingati.
"Tidak, aku tidak takut. Pokoknya tinggalkan aku. Pergilah! Hubungan kita sudah berakhir!" sentak gadis itu masih keukuh dengan pendiriannya.
"Kenapa kamu mudah sekali mengatakan berakhir, Mila? Aku akan tetap mempertahankan dirimu," jelas Pria itu juga tak mau kalah.
"Tidak, Mas! Aku sudah tidak mau. Sekarang pergilah!" seru Mila membuat emosi Pria itu naik seketika.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Terserah padamu. Apapun yang terjadi aku tidak peduli!" Adri segera meninggalkan gadis itu di kegelapan malam, dan melajukan kendaraannya dalam kecepatan tinggi.
Mila termenung sendiri menatap kendaraan roda empat itu meninggalkannya di kegelapan malam. Kembali air matanya jatuh.
"Maafkan aku, Mas, aku rasa kita tidak akan pernah bahagia bila tak ada restu dari orangtuamu," ujar wanita itu sendiri sembari meneruskan perjalanannya.
Beberapa meter perempuan itu berjalan, ia dikejutkan oleh suara gelak tawa seorang Pria yang sudah berdiri dihadapannya. Seketika Mila terjingkat dengan jantung yang berasa ingin lompat.
"Hai, cantik. Kok sendirian? Mending kencan sama Abang. Hahaha..."
Tawa Pria itu menggelegar, membuat nyali Mila ciut. Ia mencoba untuk mengabaikan dan meneruskan langkahnya. Namun Pria itu segera meraih tangannya dan meraih tubuh wanita itu hingga mengikis jarak.
"Apa yang kamu lakukan? Lepas!" pekik wanita itu dengan suara keras.
"Hahaha... Silahkan kamu menjerit, tidak akan ada orang yang mendengar. Ayo, ikut aku!" bentak Pria itu sembari menarik tangan Mila dengan kasar.
"Tolong! Tolong!" Mila jejeritan meminta pertolongan. Mungkin memang jalanan itu sepi, maka tak ada satu orangpun yang lewat.
Pria itu masih berusaha menarik Mila dengan paksa menuju sebuah gubuk yang tak jauh dari sana. Mila berusaha memberontak untuk lepas darinya. Dengan sadar gadis itu menggigit tangan preman itu begitu kuat.
"Aaawkh! Dasar wanita jala ng. Beraninya kau menggigitku. Awas kau!" Pria itu mengejar Mila.
"Hei! Jangan lari! Mau kemana kau, Hah!" teriaknya masih berusaha mengejar gadis itu.
"Tolong! Tolooong!" gadis itu berlari masih berteriak, berharap ada bantuan yang datang.
"Hap! Kena kau. Mau kemana kau, Hah! Ayo ikut aku!" Pria itu kembali memeluk Mila dari belakang dan berusaha menyentuh tubuh sensitifnya dari luar.
"Lepaskan aku! Lepas!"
"Tidak akan aku lepaskan! Kau harus melayani aku dulu."
Pergulatan masih terjadi di jalanan itu. Mila masih berusaha melawan dengan sekuat tenaganya. Ia sudah memohon dan menghiba minta di lepaskan. Tetapi Pria itu sudah dirasuki setan, sehingga tak menghiraukan jerit dan tangis wanita itu.
Saat Pria itu hendak menyentuh bibir Mila, tiba-tiba sorot lampu kendaraan roda empat menerangi perbuatan Pria itu sehingga membuatnya berhenti sejenak menatap asal cahaya yang menerangi.
"Mas Adri! Mas tolong!" jerit wanita dengan tangis menghiba saat melihat Pria yang dicintainya keluar dari mobil.
Adri segera menyongsong preman itu dengan tangan yang telah mengempal kuat. Air muka Pria itu tampak begitu berubah menjadi garang dan bringas.
"Beraninya kau menyentuh wanitaku!"
Bugh! Bugh! Bugh!
Tangan Pria itu memberi Bogeman mentah pada wajah preman jalanan yang hampir merenggut kehormatan kekasihnya. Adri menghajarnya tanpa memberi kendor sedikitpun.
Saat Preman itu sudah jatuh tersungkur, Adri mendekati Mila untuk membawanya segera menjauh dari tempat itu. Namun Pria itu kembali berdiri sembari mengeluarkan pisau kecil dari sakunya.
"Mas, awas!" jerit Mila memberi tahu. Adri segera menangkis benda tajam itu, hingga telapak tangannya yang robek saat menahan mata pisau itu saat ingin menyentuh organ tubuhnya.
Dengan keras Adri menyikut Pria itu hingga kembali jatuh tersungkur dan benda tajam itu terlepas dari tangannya. Adri segera mengambilnya, lalu mengarahkan pada lawannya untuk sekedar menakuti. Pria itu segera berlari ngacir meninggalkan pasangan itu.
Adri menatap gadis yang dicintainya masih berdiri dengan tubuh bergetar. Wanita itu segera masuk kedalam dekapannya.
"Mas... Hiks." Mila memeluk dengan erat, ia tidak tahu apa yang akan terjadi bila Pria yang sedang ia peluk tak datang menyelamatkannya.
"Tenanglah, kamu sudah aman," ujar Adri membalas pelukan wanita itu dengan sayang.
"Ssshh... Tenanglah, Dek, aku tidak akan meninggalkan kamu. Maafkan aku, tadi aku hanya terbawa emosi," ujar Adri merasa menyesal.
"Tidak, Mas, aku yang salah. Huu... Hiks." Tangis wanita belum reda, dan semakin memeluk dengan erat.
"Sudah, Dek, ayo, kita pergi dari sini. Adri merangkul gadis itu dan membawanya masuk kedalam mobil. Setelah memastikan duduk dengan nyaman, Pria itu segera menduduki. bangku kemudi.
Kini mobil sudah meninggalkan tempat yang menyeramkan bagi Mila. Adri masih fokus dengan kemudinya, sesekali ia menatap gadis itu yang masih terdengar isaknya.
"Sayang, jangan menangis lagi. Aku tidak bisa konsentrasi mengemudinya," ujar Adri sembari menepikan kendaraannya.
Adri kembali memeluk gadis itu untuk memberi ketenangan, sepertinya Mila trauma atas kejadian yang menimpa dirinya. Ia begitu takut saat kejadian itu masih berputar dalam otaknya.
Cukup lama Adri berusaha menenangkan wanitanya, kini tangisnya sudah mulai reda. Mila menyusut sisa air matanya, dan menatap lelaki yang ada disampingnya.
"Terimakasih, Mas, sudah nolongin aku," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, karena sudah kewajiban aku untuk melindungi kamu."
"Tapi tangan kamu berdarah, Mas!" jerit wanita itu melihat da rah segar masih mengalir di telapak tangannya.
"Tidak apa-apa, Dek, nanti cari klinik untuk diobati," jawab Adri santai.
Mila segera meraih tissue dan membekap luka itu untuk menghentikan da rahnya. Mila baru menyadari bahwa Pria itu terluka cukup serius.
"Kamu masih bisa mengemudi, Mas? tanya Mila masih cemas.
"Bisa, Sayang, Udah, kamu jangan khawatir ya." Adri berusaha meyakinkan kekasihnya. Kembali menjalankan mobilnya dengan tangan bertumpu pada tissue yang di tempel di bola stir.
Mobil itu menepi di sebuah klinik. Dokter umum segera menangani luka yang di telapak tangan Adri, Mila hanya duduk diam disamping Pria itu sembari memperhatikan Dokter saat membersihkan luka.
"Lukanya cukup serius ya, Pak, apakah mau dijahit saja?" tanya Dokter memberi pilihan.
"Baik, Dok, lakukan yang terbaik saja," jawab Adri mengikuti saran Dokter.
Selesai dalam pengobatan, pasangan kekasih itu meninggalkan balai pengobatan. Adri mengemudi dengan tangan sebelah kanan. Meski sesekali dia masih harus menggunakan tangan kirinya untuk memutar bola stir saat ada belokan.
Mila melihat Pria itu pandai sekali menyembunyikan rasa sakit dan perih di tubuhnya, terlihat dari ekspresi wajahnya tak menampakkan saat menahan lara.
"Dek, sudah malam, kita nyewa kamar saja ya. Aku belum bisa mengemudi terlalu jauh. Besok pagi kita baru pulkam ya," ujar Adri memberi solusi yang ingin mengantarkan kekasihnya untuk mudik. Memang dari awal tujuan Mila ingin mudik ke Sumbar, tetapi Adri memintanya untuk bertamu kekediaman orangtuanya. Maka Mila tak bisa menolak.
"Tidur di hotel Mas?" tanya Mila sedikit ngeri mendengarnya.
"Iya, Dek, nanti kita ambil kamar dua," jelas Pria itu untuk meluruskan otak gadis itu yang sudah berkelana.
"Oh, Yaudah." Akhirnya wanita itu menurut saja setelah tahu maksudnya.
Setibanya di hotel yang dituju, Adri segera memesan dua kamar. Tetapi sepertinya mereka belum beruntung, karena malam lebaran, maka semua kamar penuh dengan para pemudik yang menginap.
"Maaf, Bapak, semua kamar penuh," ujar pegawai hotel memberi tahu.
"Ah, baiklah." Adri dan Mila mencari hotel lainnya.
Entah berapa hotel yang mereka singgahi, namun kondisinya tetap sama, yaitu tamu hotel membludak sehingga hotel terakhir yang mereka singgahi hanya menyediakan satu kamar kosong.
"Dek, gimana? Hanya ada satu kamar. Apakah kamu mau?" tanya Adri meminta persetujuan dari gadis itu.
Mila bingung harus Jawab apa, ia juga melihat wajah lelah Pria itu yang ingin segera istirahat. Akhirnya gadis itu mengiyakan dengan kesepakatan yang mereka buat, yaitu harus bisa jaga sikap.
Akhirnya pasangan itu menempati satu kamar berdua. Mila bersih-bersih terlebih dahulu sebelum tidur. Ada rasa was-was dihatinya saat berada diruangan ini hanya berdua saja.
"Udah selesai mandinya?" tanya Adri berada didepan pintu kamar mandi saat Mila keluar sudah menggunakan pakaian ganti yang lengkap. Tentu saja ia menggunakannya di kamar mandi.
"Ah, i-iya. Mas, mau mandi juga?" tanyanya sedikit gugup.
Adri hanya mengangguk dengan senyum tipis. Ia segera masuk, namun tangannya berhenti saat ingin menutup pintu kamar mandi.
"Mas, hati-hati lukanya jangan sampai kena air," ujar Mila mengingatkan.
"Oh, iya, bisa tolong bantu aku mandi, nggak? agar lukanya tak terkena air," ujar Pria itu tersenyum menggoda, sehingga membuat wajah wanita itu merah merona.
"Mas!" pekiknya dengan gemas. "Apaan sih, mesum banget." Mila menimpuk Pria itu dengan handuk yang ada di tangannya.
"Hahaha... Nggak pa-pa Dek, sekalian perkenalan, agar besok nggak kaget lagi setelah menjadi halal," jawab Pria itu masih terkekeh.
Jangan ditanya bagaimana panasnya wajah Mila saat kekasihnya bicara mengarah ke kiri. Mila tak menanggapi, dan segera berlalu, membiarakan Pria itu segera membersihkan tubuhnya.
Bersambung....
Happy reading 🥰