Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Candaan Zi


"Jadi Zahira itu adalah istri Bapak?" tanya Pak dosen dengan sedikit terkejut.


"Benar, Pak, maka dari itu saya minta tolong atas pengertian Bapak dosen dan jajarannya yang ikut andil dalam membimbing istri saya. Tolong di pertimbangkan atas permohonan saya," ujar Zi dengan sopannya, Pria yang mempunyai jabatan tinggi di pengadilan negeri itu sama sekali tidak terlihat sombong dalam bicara. Ia benar-benar mempunyai adab dan akhlak yang baik.


"Baiklah Pak Zico, saya akan menerima usulan dari Bapak, karena Zahira mempunyai bayi yang sangat membutuhkan perhatian dari ibunya, maka saya akan menugaskan Zahira bertugas di kantor pengadilan negeri yang Bapak minta," ujar Pak dosen yang membuat senyum membingkai di bibir Zi.


"Ah, terimakasih banyak atas pertimbangannya, Pak," ucap Zi sembari menyalami tangan lelaki itu sekali lagi saking senangnya.


"Sama-sama Pak Zico." Pria itu membalas tak kalah ramah dan bersahabat.


Akhirnya Pria itu keluar dari ruang dosen dengan senyum bahagia. "Semoga kejutan ini membuatmu senang, Dek," gumamnya sembari berlalu untuk menuju kendaraannya.


Setelah urusan Zico selesai, maka ia segera melajukan kendaraannya untuk pulang. Rencananya lusa ia akan kembali menjemput istrinya, sesuai dengan kesepakatan dengan para dosen yang akan menugaskan Zahira Akhir minggu ini.


Sementara itu Zahira yang baru saja selesai mengikuti materi pertamanya. Ia di panggil pihak kampus untuk menghadap dosen pembimbing PKL.


Kembali hati wanita itu gamang bila akan menghadapi dosen yang terkenal tak bisa dibantah dan bernegosiasi atas perintah yang telah ia terapkan.


"Ya Allah, aku harus bagaimana jika aku tugaskan ke tempat yang jauh? Mana Mas Zi tidak memberiku solusi lagi," ujar wanita itu bimbang sembari melangkahkan kakinya menuju ruangan Pak dosen.


"Selamat pagi, Pak, apakah Bapak memanggil saya?" tanya Zahira ramah.


"Benar, ayo duduklah," titah Pak dosen mempersilahkan.


"Begini, Zahira. Sesuai kesepakatan kita bahwa kamu akan menjalani praktek kerja lapangan selama tiga bulan kedepan. Maka dari itu saya sudah memutuskan untuk menugaskan kamu di sebuah kantor pengadilan negeri..."


"Dimana Pak?" tanya Zahira begitu kesal karena Pak dosen menghentikan ucapannya. Dan bahkan lelaki itu menatap Zahira lebih lama untuk mengamati ekspresinya.


"Apakah kamu akan berjanji untuk menyelesaikan tugasmu dengan benar?" tanya Pak dosen masih menggantung ucapannya.


"Iya, tapi saya harus tugas dimana, Pak?" tanya Zahira masih ingin tahu terlebih dahulu dimana dirinya akan di tugaskan. Seandainya tidak sesuai ekspektasi, maka Zahira lebih baik kembali cuti kuliah hingga bayi Zhera sudah besar.


"Kamu akan saya tugaskan di kantor pengadilan negeri yang ada di kota Xx."


Seketika wanita itu menutup mulutnya dengan senyum mengembang. Ia berasa benar-benar mimpi bisa satu kantor dengan suaminya.


"Apakah Bapak serius?" tanya Zahira masih belum percaya.


"Tentu saja. Kenapa ekspresi wajahmu tampak senang sekali?" tanya lelaki itu pura-pura tidak tahu.


"Ah, tidak apa-apa, Pak. Saya hanya senang karena kebetulan disana adalah kediaman saya," jawab Zahira masih menyembunyikan identitas suaminya.


"Baiklah, mulai Senin besok kamu sudah bisa mengikuti praktek lapangan. Dan saya harap kamu dapat menjaga sikap profesional, meskipun suami kamu orang berpengaruh di kantor itu," ucap Pak dosen membuat mulut Zahira ternganga.


"M-maksud Bapak?"


"Ya, saya sudah tahu bahwa ketua hakim yang bernama Zico Hamdi itu adalah suami kamu, bukan?" tanya Pak dosen.


"B-benar, Pak," jawab Zahira gugup. Ia sangat takut bila Pak dosen berubah pikiran setelah mengetahui siapa suaminya.


"Ya, tadi beliau datang menemui saya untuk meminta pertimbangan kami sebagai dosen pembimbing agar menempatkan kamu di kantor pengadilan negeri yang ada di kota itu. Dan saya yakin bahwa kalian adalah orang yang amanah dan penuh tanggung jawab setiap tugas yang kalian lakukan, maka saya yakin menempatkan kamu di sana," ungkap Pak hakim yang membuat Zahira tak bisa berkata-kata.


Andai saja suaminya masih ada disana, maka ia akan memeluknya dan mengucapkan terima kasih beribu kali atas apa yang telah dilakukan untuk dirinya. Ah, rasanya Zahira merasa sangat bersalah karena sempat berpikir bahwa lelaki itu tak mempedulikan dirinya. Tapi lihatlah apa yang telah dilakukan lelaki kesayangan itu. Dia telah membuatnya begitu bahagia hari ini.


Zahira mengucapkan terima kasih kepada Pak dosen, lalu ia segera beranjak meninggalkan ruangan dosennya. sesampainya di luar, Zahira segera menghubungi sang suami.


"Assalamualaikum," ucap Zi di ujung sambungan.


"Wa'alaikumsalam, Mas," jawab Zahira dengan suara yang sudah tercekat. Wanita itu sungguh tak mampu menahan haru dan mengekspresikan perasaannya saat ini pada lelaki terhebatnya.


"Nangis?" Tanya Zi tersenyum lucu. "Dasar cengeng," sambungnya.


Zico hanya tersenyum gemas mendengar tangis manja wanitanya, andai saja ia ada disana maka ia akan mendekap tubuhnya dengan erat sembari mengecup seluruh wajahnya.


"Sayang, aku sengaja memberimu kejutan untuk membuatmu tersenyum bahagia, bukan menangis seperti ini. Jadi, berhentilah menangis dan perlihatkan senyummu itu," ucap Zi sembari mengalihkan panggilannya ke mode video.


"Mana mungkin aku bisa memperlihatkan senyumku padamu, Mas, aku tidak mungkin membuka niqabku disini," gumam wanita pada suaminya.


"Sekarang masuk toilet, dan perlihatkan senyummu padaku," titahnya yang membuat Zahira tak mampu menolak sedikitpun.


Wanita itu mengangguk patuh, ia segera menuju toilet wanita, dan memastikan pintunya sudah terkunci. Zahira membuka kain penutup wajahnya lalu mengukir senyum semanis mungkin untuk kekasih halalnya.


"Nah, begitu kan terlihat cantik," ujar Zi sembari fokus mengemudi.


"Kamu masih di jalan, Mas?" tanya Zahira masih menatap layar ponselnya sembari menatap wajah tampan Pria dewasa itu.


"Iya, Sayang, bentar lagi sudah mau sampai."


"Yaudah, kalau begitu kamu hati-hati ya, aku mau masuk kelas kembali. Masih ada satu mata kuliah lagi," ujar Zahira ingin mengakhiri sambungan telepon selulernya.


"Eh, tunggu dulu!" ucap Zi membuat Zahira menatap heran.


"Ada apa, Mas?" Zahira melihat suaminya menepikan kendaraannya di pinggir jalan.


"Kamu cuma memperlihatkan senyum saja padaku?" tanya Zi menatap fokus pada ponselnya.


"Iya, kan kamu yang minta," jawab Zahira begitu polosnya.


"Kamu tidak ingin memberiku hadiah?" tanya Zi kembali.


"Kamu hadiah apa dariku, Mas?" tanyanya tak mengerti. Andaipun Zi menginginkan suatu hal pasti akan ia berikan.


Zico tersenyum penuh arti menatap ke kameranya. Sehingga membuat Zahira bingung.


"Dek, pengen lihat dong," ucap Zi benar-benar ingin mengerjai wanita bercadar itu.


"Lihat apa, Mas?" tanya Zahira semakin bingung.


"Itu," tunjuk Zi menggunakan bibirnya dengan tatapan mengarah ke dada Zahira.


"Mas Zi!" pekik wanita itu begitu gemas melihat perangai suaminya yang tak ubahnya seperti lelaki hidung belang.


"Hahahah.... Kenapa wajah kamu seperti itu, Sayang," jawabnya dengan kekehan.


"Mas, sumpah, wajah kamu terlihat seperti Om-om genit," ucap Zahira membuat tawa Zico semakin terbahak.


"Bisa aja kamu. Sesekali video mesum sama istri sendiri nggak pa-palah," ujar Zi tersenyum genit.


"Mas, udah ah, aku masih ada satu makul lagi," sahut Zahira menatap gemas pada suaminya.


"Hahaha.... baiklah, Sayang. Kamu semangat ya. Besok lusa aku jemput kamu," ujarnya sebelum mengakhiri obrolan mereka.


"Baik, Mas, kamu juga hati-hati mengemudi. Bye suamiku tersayang, tercinta, dan juga termesum. Hahaha...," ujar wanita itu terkekeh.


Zico juga ikut tertawa mendengar julukan yang diberikan oleh wanita kesayangannya. Akhirnya sambungan itu berakhir. Dan Zahira bergegas mengenakan cadarnya kembali lalu segera menuju kelasnya.


Bersambung...


Happy reading 🥰