
Setelah Zico pergi, Zahira segera mengurus Zaf, dari mulai menyediakan bekal, hingga perlengkapan sekolah bocah yang berumur delapan tahun itu.
"Bang, ayo sarapan dulu!" panggil Umi sudah menyediakan sarapan untuk putranya.
"Baik, Umi!" Zafran segera menuju meja makan.
"Umi, hari ini Abang boleh minta uang saku?" tanyanya sembari menyuap nasi goreng putih kesukaannya.
"Buat apa, Nak? Kok tumben minta uang saku?" tanya Zahira sembari fokus menata bekal kedalam kotak makan bocah itu.
"Iya, Umi. Abang mau beliin sesuatu buat adik kelas yang hari ini perpisahan. Karena orangtuanya akan pindah ke kampung halamannya," jawab bocah itu dengan jujur.
"Oh, boleh. Nanti Umi kasih ya."
Selama ini Zahira dan Zico memang tidak memberikan putra mereka uang jajan agar bocah itu tidak jajan sembarangan. Dan mereka menyediakan bekal dari rumah agar terjamin kebersihannya. Tapi hari ini Zafran meminta uang saku untuk alasan sesuatu. Dan tentu saja Zahira akan memberikan.
"Oya, kok Abang perhatian sekali? Emangnya dia teman Abang?" tanya Zahira sedikit tertarik dengan ucapan putranya yang baru menduduki bangku dua dasar.
"Iya, Umi. Dia wanita yang baik, kami juga sering bertukar makanan," jawab Zaf dengan senyum Pepsodent.
"Oh, jadi dia seorang cewek?" ucap Umi menggoda bocah itu.
"Iya, tapi kami hanya berteman, Umi," jawab Zaf dengan malu-malu.
"Hihi... Emang siapa yang bilang kamu ada hubungan yang spesial. Lagian masih bocah juga iya, kan?" tutur Umi sembari mengusak rambut putranya dengan tawa kecil.
Setelah selesai sarapan, Zaf segera diantarkan oleh Pak Iwan ke sekolah. Dan tak lupa Zahira memberikan uang saku yang di minta oleh bocah itu.
"Berangkat ya, Umi. Assalamualaikum...," pamit bocah itu melenggang masuk kedalam kendaraan yang di kemudi oleh supir pribadi sang ayah.
"Wa'alaikumsalam... Jangan lupa bekalnya di habiskan!" pesan Umi sembari melambaikan tangan pada anak sulungnya itu.
Di perjalanan, Zafran meminta Pak Iwan untuk berhenti di sebuah toko aksesoris untuk anak perempuan.
"Pak Iwan, berhenti sebentar ya. Abang mau beli sesuatu dulu," titah Zaf.
"Baik, Den." Pak Iwan menuruti perintah Zaf, lalu lelaki itu ikut mendampingi Zafran untuk membeli sesuatu.
Zafran mengamati deretan aksesoris untuk anak perempuan. Dari mulai pita, jepit, boneka, dan yang lainnya.
"Pak Iwan, untuk anak perempuan yang berusia enam tahun kira-kira bagusnya diberi apa ya?" tanya Zaf meminta pendapat sang supir.
"Lebih baik kasih boneka Barbie saja, Den," saran lelaki baya itu.
"Benarkah?" Zafran segera menuju los bagian khusus boneka. Netranya tertuju pada boneka Barbie yang mode Kawai pirang. Zaf tertarik dengan boneka itu.
"Tante, ini harganya berapa?" tanya Zaf menunjukkan pada kasirnya.
"Ini yang asli, Dek. Harganya cukup mahal," jawab wanita itu.
"Berapa, Tante?"
"Sebentar di cek dulu harganya ya," wanita itu segera melihat harga boneka itu. "Harganya lima ratus lima puluh lima ribu, Dek," jelasnya.
Zafran seketika terdiam sembari menatap uang yang ada di tangannya. Umi hanya memberi sehelai uang berwarna biru, yaitu limapuluh ribu rupiah.
Kini tatapan lelaki itu tertuju pada Pak Iwan yang masih setia mendampinginya.
"Bagaimana, Dek, apakah jadi membelinya? Kalau tidak ambil yang biasa saja, lebih murah, Dek," ujar pegawai itu.
"Tidak, saya maunya yang itu. Tunggu sebentar ya, Tante." Zafran segera menarik tangan Pak Iwan untuk menjarak dari mereka.
"Ada apa, Den?" tanya lelaki itu sedikit tergesa mengikuti langkah bocah itu.
"Pak Iwan, Abang pinjam ponsel Pak Iwan," ujarnya.
"Ah baiklah. Tapi untuk apa?"
"Abang mau telpon Abi," jawabnya segera memanggil nomor sang ayah.
"Tapi jam segini Abi sedang memimpin sidang, nanti Bapak di marahi," ucap Pak Iwan tampak cemas.
"Biar Abang yang ngomong. Ayo segera telpon Abi!" titah bocah itu tak bisa di bantah.
Dengan berat hati Pak Iwan memanggil nomor majikannya. Padahal ia sangat paham di jam segini Pak hakim tidak boleh di ganggu, namun permintaan putranya maka Pak Iwan tak bisa menolak.
Zico yang sedang fokus mendengarkan pembelaan dari para terdakwa, maka sedikit mengalihkan perhatiannya saat ponselnya bergetar.
"Sidang di tunda lima menit, saya mau ke toilet!" lelaki itu terpaksa mengetok palu demi menerima panggilan dari sang supir. Zico takut bila ada hal penting. Karena sangat tumben Pak Iwan berani menghubungi di jam sibuknya.
"Abi, ini Abang!" jawab Zaf di ujung sambungan.
"Ada apa, Bang? apa yang terjadi?" tanya Zico begitu cemas.
"Abi, Abang cuma mau minta uang," jawab Zaf terdengar santai.
Zico mengerutkan keningnya. "Uang? Untuk apa uang, Nak?" tanya lelaki itu tak mengerti.
"Abang ingin beli boneka Barbie untuk teman, tapi harganya sangat mahal. Umi cuma kasih Abang lima puluh ribu," jelas bocah itu.
Zico menghela nafas panjang. "Baiklah, katakan Abang butuh berapa?"
"Cuma lima ratus, Abi."
"Baiklah, berikan ponsel itu pada Pak Iwan."
Zico bicara pada Pak Iwan, ia segera mentransfer uang ke rekening sang supir untuk memenuhi permintaan sang putra.
Setelah selesai, Zico kembali masuk keruang sidang. Ketua hakim itu kembali membuka sidang yang sempat tertunda beberapa menit.
Sementara itu Zafran tampak kegirangan setelah melakukan pembayaran. Dan boneka Barbie itu sudah terbungkus rapi di dalam balutan kertas kado.
Bocah itu segera meminta Pak Iwan mengantarkannya ke sekolah, berhubungan Zaf masuk jam sepuluh pagi, maka dia masih punya waktu luang untuk mengikuti acara perpisahan murid baru yang akan pindah sekolah itu.
Setibanya di sekolah, Zafran sudah di tunggu oleh sahabat baiknya, yaitu Rayyan, bocah yang bercita-cita ingin menjadi seorang polisi.
"Kenapa kamu lama sekali?" tanya Rayy, netranya mengamati kotak yang ada di tangan Zaf. "Kamu bawa apa itu?" tanyanya kembali.
"Ini kado untuk Sesilia," jawab Zaf.
"Apa itu isinya?" tanya Rayy kepo.
"Ada deh, anak kecil tidak boleh kepo," jawab Zaf membuat Rayy menatap jengkel.
"Ngatain aku anak kecil, emang kamu sudah besar? Masih sama-sama bocah juga," rutu Rayy.
"Hahaha... Ayo sekarang kita tunggu sesil disini," ucap Zaf merangkul pundak sahabatnya.
"Kamu dapat uang dari mana beli kado itu?" tanya Rayy yang masih saja penasaran.
"Aku minta sama Abi," jawab Zaf jujur.
"Wah, hebat kamu. Coba saja kita di beri uang jajan setiap hari, pasti sangat menyenangkan," timpal Rayy.
"Jangan bicara seperti itu, aku minta uang karena ada sesuatu yang penting ingin aku beli, kalau soal makanan kita sudah lengkap di sediakan. Jadi tidak boleh ngeluh," nasehat lelaki itu pada Rayy.
"Iya, tapi kan kita pengen juga nyobain jajanan yang lain seperti mereka," tunjuk Rayy pada anak-anak lain yang sedang belanja gulali.
"Kamu mau itu?" tanya Zaf menatap pada Rayy.
"Iya, apakah kamu masih punya uang?" tanya Rayy.
"Masih, ini yang yang di berikan oleh Umi masih utuh," jawabnya sembari menunjukkan uang kertas pecahan lima puluh ribu pada Rayy.
"Wow, banyak sekali. Ayo Zaf kita beli itu!" pinta Rayy sembari menarik tangan Zafran.
"Tapi acaranya sebentar lagi akan di mulai, Rayy."
"Ayolah, hanya sebentar saja."
"Tapi aku takut di marahi Umi karena jajan sembarangan."
"Tapi itu kelihatan bersih kok. Ayolah," ajak Rayy dengan wajah melas. Dengan terpaksa Zafran mengikuti langkah Rayy menuju gerobak gulali itu.
Akhirnya duo bocah itu membeli permen yang terbuat dari bahan gula pasir. Rayyan tampak antusias menikmati permen itu.
Tak berselang lama terdengar sebuah pengumuman bahwa acara perpisahan dari murid kelas satu akan di mulai. Karena sekolah itu adalah sekolah elit, maka setiap ada siswa-siswi yang ingin pindah sekolah, maka diadakan acara perpisahan.
"Rayy, ayo kita masuk. Acaranya akan segera di mulai," ajak Zaf menarik tangan Rayyan.
"Baiklah, kamu jangan tarik-tarik begini. Biarkan aku sembari menikmati permen ini," seru Rayy masih mengemut gulali itu.
"Zafran dan murid yang lainnya duduk dengan tenang mendengarkan kata sambutan dari kepala sekolah. Dan tak berapa lama gadis cantik itu naik keatas panggung untuk mengucapkan salam perpisahan kepada wali kelas dan teman-temannya selama satu tahun sekolah di tempat itu.
Bersambung....
Happy reading 🥰