
Setelah acara perpisahan itu selesai, Zafran dan Rayyan menghampiri gadis kecil yang bernama Sesilia Azzura. Gadis itu tampak buru-buru ingin segera meninggalkan sekolahnya.
"Sesil! Tunggu!" panggil Zaf sedikit berlari menghampiri bocah itu.
"Bang Zaf!" seru gadis itu tersenyum manis melihat Zaf datang menghampirinya.
"Tante, aku ingin bicara sebentar dengan Sesil, boleh ya, Tante? Cuma lima menit saja," pinta bocah itu dengan wajah berharap.
"Baiklah, Tante tunggu di sana ya. Sayang, Ibu tunggu di luar ya. Jangan lama-lama, sebentar lagi Ayah datang menjemput," seru Ibu muda itu pada putrinya.
"Baik, Bu."
Zafran segera meraih tangan Sesil untuk membawanya duduk di pelataran yang ada di teras sekolah.
"Sesil, ini buat kamu," ucap Zaf memberikan kotak yang berbungkus kado itu.
"Wah, apa ini Kak?" gadis kecil itu tersenyum senang mendapatkan hadiah dari Pria itu.
"Nanti saja kamu bukanya. Oya, semoga ini akan menjadi kenang-kenangan hingga kita besar nanti. Aku berharap kamu akan selalu menyimpan kenangan dariku. Dan aku juga berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali," ujar Zaf tersenyum teduh.
"Baiklah, aku akan selalu menyimpannya. Dan aku juga berharap suatu saat nanti kita masih bisa bertemu kembali. Aku pamit ya, Bang. Semoga hari-harimu menyenangkan," ucap Sesil berpamitan.
"Do'a yang sama untukmu, Dek," jawab Zaf sembari mengusap mahkota gadis kecil itu yang masih menggunakan hijab.
Sesil segera beranjak dari hadapan lelaki itu. Kini tinggal Zaf sendiri yang masih termangu menatap kepergiannya.
"Udah, nggak usah sedih!" seru Rayy menepuk bahu Zaf.
"Eh, siapa yang sedih," kilah Zaf berusaha untuk tetap baik-baik saja. Tak bisa ditampik kepergian gadis itu membuat hari-harinya tak lagi indah seperti biasanya. Entah kenapa Sesil bisa membuatnya selalu tersenyum bahagia.
"Udah, yuk kita masuk kelas. Bentar lagi bel berbunyi," ajak Rayy.
Akhirnya kedua bocah itu masuk kedalam kelas mereka. Dan Sesil sudah meninggalkan sekolah itu untuk segera berkemas, karena mereka akan segera pulang kampung.
Sore ini Zico baru saja pulang setelah mengurus kasus Adri. Dan Alhamdulillah Sekarang Adri dinyatakan bebas, dan di buktikan bahwa dia tidak bersalah dalam insiden tersebut. Para keluarga korban juga menyetujui atas tawaran perdamaian dari pihak perusahaan. Dan tentunya pihak perusahaan mengeluarkan uang kompensasi yang cukup besar untuk masing-masing pihak korban, agar masa depan anak-anak mereka tetap terjamin, baik itu dari segi pendidikan maupun ekonomi.
"Capek banget kayaknya?" ucap Zahira sembari memijit kedua bahu Zico.
"Lumayan, Dek. Dan Alhamdulillah kasus Adri sudah selesai," jawab Zi sembari menyandarkan kepalanya di dada sang istri yang posisinya berdiri di belakangnya.
"Alhamdulillah... Akhirnya usaha kamu tidak sia-sia ya Mas," ucap Zahira tersenyum senang.
"Ya, aku senang bisa membantu mereka. Dan bahkan pihak keluarga korban juga tampak senang karena bisa mendapatkan hak mereka," jelas Zi.
"Semoga lelah kamu menjadi lillah ya, Mas. Aku senang sekali suamiku bisa menjadi hakim yang adil bagi rakyat kecil yang sangat membutuhkan pertolongan agar mendapatkan hak mereka," ucap Zahira.
"Aamiin... Terimakasih, Sayang. Ini semua karena kamu yang telah menyadarkan aku. Semoga selamanya jabatanku ini bisa menjadi manfaat bagi orang banyak, dan semoga aku tetap amanah dalam mengemban tugas ini," ucap Zi sembari memutar posisi tubuhnya menghadap pada Zahira, lalu memeluk erat pinggangnya.
"Aamiin ya Allah..." Zahira membalas mengusap rambut hitam legam Pria itu yang begitu tampak manja.
"Mana putriku?" Zi merenggangkan pelukannya.
"Lagi sama Mama di kamarnya."
"Putraku mana?"
"Apakah tadi pagi dia minta uang padamu?" tanya Zi.
"Hmm, kamu tahu untuk apa uangnya, Mas?" tanya Zahira antusias ingin menceritakan pada suaminya.
"Untuk membeli boneka buat temannya 'kan?" jawab Abi.
"Hah, kok kamu tahu boneka? Tadi dia nggak bilang boneka sama aku," timpal Zahira heran.
"Tapi tadi dia bilang boneka, Sayang. Dan apakah kamu tahu harga boneka itu berapa?" kini giliran Zi yang bertanya.
"Tidak. Tapi aku rasa uang yang aku berikan cukup untuk membelinya," jawab wanita itu percaya sekali.
Zico hanya tersenyum tipis. "Kamu beri dia uang lima puluh ribu mana cukup, Dek. Bahkan bonekanya itu seharga lima ratus lebih," jawab Zi yang membuat mata Zahira terbelalak.
"Apa! Kamu tahu darimana, Mas? Kok anak itu tidak bicara denganku?" tanya wanita itu heran.
Zico terkekeh melihat ekspresi wajah sang istri. "Mana mungkin dia berani bicara sama Umi. Kamu tahu, tadi dia menghubungi aku melalui ponsel Pak Iwan, dan meminta uang untuk membelinya," jelas Zi membuat Zahira benar-benar sulit untuk percaya.
"Masya Allah, kenapa putraku bisa senekat itu? Memangnya spesial apa sih gadis kecil itu?" tanya Zahira tak habis pikir.
"Hahaha... Sudahlah, Abang Zaf itu sama seperti Abi. Jika dia menyukai seorang wanita, maka apapun akan dia lakukan," timpal Zico dengan senyum khasnya.
"Iya, dia memang copyan kamu. Lihat saja bagaimana nekatnya kamu waktu menculik aku," ucap Zahira mengiyakan kata-kata suaminya.
Zico terkekeh sembari meraih pinggang wanita itu hingga terduduk di pangkuannya.
"Tapi nyatanya sekarang kamu juga bucin akut kan sama aku?" ucap Zi tersenyum penuh arti.
"Untungnya kamu pria yang bertanggung jawab. Dan yang membuat aku semakin mencintaimu, yaitu karena kamu benar-benar sudah berubah seperti yang aku mau. Yaitu menjadi penegak hukum yang adil dan amanah. Maka sebesar apapun kesalahanmu dulu bisa terhapuskan oleh segala kebaikanmu sekarang," ungkap Zahira membuat Zico semakin erat memeluknya.
"Ya, aku berjanji selamanya akan selalu seperti yang kamu mau. Semua atas izin Allah karena telah mempertemukan aku dengan wanita Sholehahku ini," gumamnya sembari mengusak wajahnya di dada wanita itu.
"Mas, jangan begini. Aku geli, Mas!" pekik wanita itu menahan wajah Zi dengan kekehannya.
"Sayang, apakah masih lama?" tanya Zi begitu manja.
"Tidak, mungkin sekitar satu minggu lagi aku sudah bersih," jawab Zahira menangkup kedua pipi suaminya.
"Kalau begitu kita akan memproses adik untuk Zhera," jawab Zi tersenyum sembari menarik turunkan halisnya.
"Hehe.. Nggak usah ngadi-ngadi kamu ya, Mas. Bayi masih merah begitu sudah kepikiran mau memberinya adik," timpal Zahira mencubit hidung suaminya dengan gemas.
Zico kembali terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya. Pasangan halal itu menghabiskan waktu dengan bersenda gurau di sore hari. Lelah yang dirasakan oleh Zico seakan hilang seketika saat mendapat penghibur dari wanita tercintanya.
Tak berselang lama Kedua bocah itu sudah keluar dari kamar dan terlihat sudah rapi dan wangi karena sudah mandi.
"Abi! Umi!" panggil Zaf mengetuk pintu kamar orangtuanya.
Bersambung.....
Happy reading 🥰