
Zico keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk setengah, ia mengambil pakaian ganti sendiri tanpa niat untuk mengganggu istrinya yang kembali terlelap.
"Sayang, ayo bangun. Katanya mau pergi," ujar Zico membangunkan dengan lembut sembari mengecup keningnya.
"Mas, capek," rengek wanita itu. Entah kenapa semenjak sadar dari koma, tubuhnya terasa cepat lelah, mungkin tenaganya belum pulih sempurna setelah dua bulan hanya berbaring diatas tempat tidur.
"Benarkah? Ayo Mas gendong." Zico segera menggendong tubuh ramping itu dan menurunkan dengan pelan di dalam bathtub yang telah berisi air hangat sengaja ia sediakan untuk mandi istrinya.
"Mau dibantuin mandinya?" tanya Zico menawarkan diri.
"Nggak, aku bisa mandi sendiri, Mas," tolak Zahira masih menikmati rendaman air yang beraroma wangi lavender.
"Yaudah, aku keluar ya. Buruan mandinya, nanti kita telat nyampe disana," pesan Pria itu ingin beranjak keluar dan tak lupa mencuri kecupan di kening istrinya.
Zahira hanya mengangguk dan segera merampungkan mandinya. Perempuan itu bersiap karena takut ke sorean tiba disana, kampungnya cukup jauh dari kota bertuah, yaitu memakan waktu tiga jam perjalanan.
Zahira memoles wajah cantiknya dengan tipis, walau yang melihat hanya kekasih halalnya, tapi ia tetap ingin terlihat cantik dan mempesona didepan ayah dari anaknya itu.
"Sudah Dek?" Pria itu masuk dengan menggendong jagoan kecilnya.
"Iya, bentar lagi, Mas." Zahira segera memasang tirai penutup wajahnya.
"Hai, anak Umi udah rapi dan tampan sekali, siapa yang mandiin kamu, Sayang?" ujarnya mengambil alih bayi mungil itu dari gendongan Abinya.
"Nenek yang mandiin," jawab Zi mewakili sang anak.
"Udah, hanya ini saja semua barang-barang yang ingin dibawa?" tanya Zico sembari menenteng tas berukuran sedang bawaan istrinya yang berisikan pakaian ganti untuk Zafran dan juga ada beberapa helai untuk Abi dan Uminya.
"Iya Mas, tinggal sufor Zafran dan peralatan minumnya sudah disiapkan Mbaknya," jawab Zahira melangkah keluar kamar di ikuti oleh Pria tampan yang dulunya sangat dingin, tapi kini sudah menjadi begitu lembut dan penuh perhatian.
"Mbak, peralatan minum Zafran sudah disiapkan?" tanya Zico pada pengasuh Putranya.
"Sudah Tuan," jawab pengasuh sembari menyerahkan tas kecil yang sudah disiapkan.
"Ma, Pa, kami pamit dulu ya," ucap Zahira pada kedua mertuanya.
"Ya Sayang, kalian nginep disana?" tanya Mama sembari mengecup wajah cucunya.
"Mungkin nginep satu malam, Ma," jawab Zico sebagai pemegang kemudi.
"Baiklah, kalian hati-hati. Yang penting tetap waspada ya, Zi," pesan Papa pada putranya.
"Baik, Pa, berangkat dulu ya."
Pasangan suami istri itu menyalami kedua orangtuanya dengan takzim. Zico dan Zahira menaiki mobil yang di kemudi oleh driver pribadi keluarga Hamdi Wijaya, sementara itu dua ajudannya mengiringi di belakang menggunakan mobil satu lagi.
"Capek Dek? Sini biar aku yang peluk," ucap Zico mengambil buah hatinya dari pelukan sang istri agar wanita itu bisa mengambil PW.
"Sayang, kamu ada rencana ingin meneruskan sidang skripsi kamu?" tanya Zi serius.
"Baiklah, setelah acara resepsi pernikahan kita, kamu lanjutin lagi kuliahnya ya."
"Tapi bagaimana dengan Zafran, Mas?" tanya Zahira ragu, ada rasa tak tega mengabaikan putranya.
"Tidak apa-apa, Dek, kan Zafran sudah ada pengasuh, lagian juga ada Mama yang ikut mengawasi," jelasnya.
"Hmm, baiklah, tapi nanti kamu bantuin aku lagi untuk menyusun skripsi ya, soalnya otakku sudah tak setajam dulu lagi semenjak sembuh dari tidur panjang itu," jelas Zahira jujur sekali. Ia memang merasa ada yang aneh pada dirinya, sering sekali ngeblank dan lupa secara tiba-tiba.
"Benarkah, Dek?" tanya Zico baru tahu apa yang dirasakan oleh sang istri, mungkin dikarenakan dia yang begitu sibuk beberapa minggu ini jadi tak terlalu memperhatikan.
"Iya, Mas, aku ingin sekali cerita sama kamu, tapi takut membuat kamu kepikiran, jadinya kamu tidak fokus mengemban tugas yang begitu menguras pikiranmu," jelasnya.
"Ya Allah, Dek, kenapa kamu harus memikirkan hal itu. Justru aku akan gila bila mengetahui kondisi kamu tidak baik-baik saja. Apapun yang kamu rasakan, tolong Dek, beritahu aku. Yaudah, setelah pulang dari ziarah. Besok kita akan periksa ke dokter," ujar Zi yang tak ingin menunda untuk kesehatan sang istri.
Zahira hanya mengangguk tak ingin membantah, dirinya juga ingin mendengar penjelasan Dokter atas apa yang dirasakannya. Disepanjang perjalanan yang cukup jauh itu, keluarga kecil itu terlihat begitu menikmati momen kebersamaan mereka.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam, kini mobil itu sudah menepi disebuah rumah minimalis yang berukuran empat lima. Rumah yang berwarna silver metalik itu tampak sepi tak terawat. Rumput-rumput kecil sudah merambat di sebagian terasnya.
Zahira turun dari mobil, membuka pagar terali yang sudah usang tak dirawat. Wanita itu mengedarkan pandangannya keseluruh pekarangan rumah yang telah hampir dua tahun ia tinggalkan.
Entah kenapa dadanya terasa sesak saat melangkah masuk. Seketika bayangan kedua orangtuanya terlihat jelas berada di teras rumah menempati kursi dimana tempat bersantai kedua Almarhum.
Sedih sekali saat pulang tak ada lagi pelukan hangat dari wanita yang telah melahirkannya kedunia ini, dan tak ada lagi tangan kasar sang ayah yang mengusap kepalanya dengan lembut.
Dengan perlahan wanita itu melangkah memasuki kediamannya dan mengucapkan salam. Zico mengikuti langkah istrinya sembari menggendong bayi mungil itu.
Zahira segera menuju kamar kedua orangtuanya, dan mengucapkan salam, lalu duduk diranjang yang tampak sudah mulai berdebu, mengambil sebuah kain selimut yang sengaja tak ia cuci, dengan lembut wanita itu mendekap didada dan mengendus aroma kedua orangtuanya.
"Buliran air mata jatuh dikedua pipinya. Zahira membacakan alfatihah saat rindunya begitu menyiksa. Zico duduk disampingnya meraih bahu wanita itu untuk masuk kedalam pelukannya.
"Sabar, Dek, insya Allah ayah dan ibu sudah tenang di alam sana. Kita kirim Do'a untuk beliau," ujar Zi memberi penghiburan pada istrinya.
"Kangen banget, Mas," lirihnya sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang Pria itu.
"Iya Sayang, aku bisa merasakan perasaanmu saat ini. Sabar ya, banyak istighfar."
Zahira hanya mengangguk dan melerai pelukannya. Perempuan dua puluh lima tahun itu kembali merapikan kain selimut kedua orangtuanya. Dan beranjak keluar.
Seketika wanita itu mengingat sesuatu yang ia simpan di kamarnya. Zahira bergegas menuju kamarnya dan mengambil sebuah camcorder. Wanita itu berniat ingin segera menghapus video yang sangat malu dan tak pernah ia lihat secara gamblang.
Sungguh ia malu untuk melihat adegan panas dirinya dengan Pria yang kini sudah menjadi suaminya. Zahira segera menghidupkan untuk segera mendelete agar tak terlihat oleh sang suami. Sialnya dayanya low, mungkin karena sudah hampir dua tahun ia tinggalkan.
"Apa itu, Dek?"
Bersambung...
Happy reading 🥰