Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Sudah dewasa


Mila masih menangis sembari memeluk erat tubuh lelaki yang ada dibawah tubuhnya. Rasanya ia begitu rindu dengan tubuh itu.


"Kenapa kamu bebas tidak memberi tahu diriku, Mas?" rengeknya sedikit merenggangkan tubuhnya dari sang suami.


"Ayo turun dulu, Sayang. Kalau seperti ini sesuatu dibawah sana sudah semakin sesak," Adri menggoda wanitanya.


"Biarin, aku bahkan sudah merindukannya," lirih Mila membuat Adri menjadi bersemangat.


"Kamu serius? Kalau begitu kita olahraga dulu satu ronde, habis itu baru kita bicara, gimana, mau nggak?" tawar Adri yang segera di jawab dengan anggukan oleh sang istri.


"Hmm, boleh," jawab Mila dengan keyakinan penuh damba.


"Eh, tapi jangan disini. Nanti jagoanku bangun," bisik Adri.


"Ah, iya aku sampai lupa. Ayo kita ke kamar tamu," ajak Mila segera beranjak dari tubuh suaminya.


Adri segera merangkul pinggang istrinya sembari mengecup bibirnya berulang kali. Dengan spontan ia menggendong tubuh wanita itu untuk membawanya ke kamar lain.


Mila semakin mengalungkan tangannya di leher Pria itu. Senyum manis selalu ia ukirkan, berharap mereka tak lagi berpisah.


"Mas, jangan tinggalkan aku lagi ya," lirihnya dengan wajah sendu.


"Maafkan aku ya, Sayang. Semoga kasusnya segera selesai," jawab Adri sembari membaringkan tubuh seksi itu diatas ranjang.


Adri mulai mengecup bibir Mila dengan lembut, semakin lama kecupan itu semakin menuntut dan mereka saling membalas satu sama lain hingga pergumulan hangat kembali terjadi di malam nan syahdu.


Sementara itu Zico baru saja sampai di kediamannya. Pria itu sedikit terlambat sampai di kediamannya, karena ada hal penting yang harus ia selesaikan. Hingga saat ia sampai di rumah hujan sudah mencurah.


Kepulangan Pria itu di sambut hangat oleh Zahira. Ia membantu membukakan setiap kancing baju yang sedang di kenakan oleh sang suami.


"Sudah selarut ini baru pulang, Mas. Apakah sangat sibuk?" tanya Zahira masih fokus dengan pekerjaannya.


"Iya, Sayang. Hari ini adalah hari yang begitu melelahkan. Bayangkan saja, aku harus membuka sidang secara dadakan di sebuah kantor di perusahaan migas untuk membuat mereka mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Adri," jelas Zi


"Kamu serius? Terus, gimana hasilnya?" tanya Zahira begitu semangat mendengarkan penjelasan suaminya.


"Hasilnya Alhamdulillah Adri bisa bebas bersyarat untuk sementara waktu hingga kasus itu selesai," jawab Zi.


"Alhamdulillah... Aku senang banget dengernya, Mas," jawab Zahira tersenyum senang.


"Seneng banget dengar Adri bebas," ledek Pria itu.


"Astaghfirullah, kamu cemburu?" timpal Zahira.


"Nggaklah," jawab Zi dengan cepat. Meskipun begitu Zahira dapat melihat dari mata indahnya.


"Jangan bohong padaku. Mata kamu itu tidak bisa berbohong suamiku sayang," ucap Zahira sembari mencubit hidung mancung pak hakim.


Zi menatap sang istri begitu dalam, tangannya meraih pinggang Zahira sehingga membuat tubuh mereka semakin rapat.


"Aku benar-benar takut kehilanganmu, Sayang. Tetaplah mencintaiku untuk selamanya," lirih Pria itu sembari mengecup bibir tipis istrinya.


"Mas, tidak ada nama lelaki lain di hatiku selain dirimu. Sampai kapanpun hanya kamu lelaki yang aku cintai," ucap Zahira menangkup kedua pipi suaminya.


Zico tersenyum bahagia mendengar jawaban istrinya. "Terimakasih, Sayang. Aku sangat mencintai kamu. Jangan pernah pergi tinggalkan aku. Karena hanya kamu satu-satunya wanita yang aku mau," balasnya mendekap erat tubuh Zahira.


Zahira mengangguk, lalu melerai pelukannya. "Ayo sekarang mandi. Habis itu aku siapkan makanan buat kamu," ucapnya dengan lembut.


"Oke, terimakasih ya." Zi kembali mencuri kecupan sebelum masuk kedalam kamar mandi.


Zahira hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya. Pria itu terkesan bucin akut terhadap dirinya.


"Semoga cinta kamu akan selalu seperti ini hingga selamanya, Mas," gumamnya sembari memungut pakaian kotor suaminya dan memasukkan kedalam keranjang.


Siang ini pak hakim kedatangan tamu, kebetulan karena hari ini weekend, maka ia mempunyai waktu bersama keluarga di rumah.


"Senang bisa di kunjungi oleh kamu," ucap Zico menyambut kedatangan tamunya.


"Ah seharusnya aku yang senang bisa bertemu ke kediaman orang berpengaruh ini," timpal Adri.


"Hahaha... Bisa aja kamu, ayo kita masuk sekarang." Zico membawa pasangan itu menuju ruang tamu.


"Sayang! Ini ada tamu!" panggil Zi pada istrinya.


"Iya bentar, Mas!" sahut wanita itu masih repot mengurus bayinya.


Setelah selesai, Zahira menggendong baby Zhera untuk menemui tamu Abinya. Kebetulan Oma dan opanya sedang keluar, jadi Zahira mempunyai banyak waktu untuk bersama putrinya.


"Eh, ada Tante Mila!" seru Zahira tersenyum sembari menghampiri mereka.


"Hei, apa kabar adek Zhera? Sini sama Tante," ucap Mila meminta bayi mungil itu untuk ia gendong. Zahira segera menyerahkannya. Sesaat tatapan tertuju pada lelaki yang ada disamping Mila.


"Hai, Zahira, apa kabar kamu?" sapa Adri dengan senyum khasnya. Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa kembali bertemu.


"Alhamdulillah sehat. Mas Adri sendiri bagaimana?" jawab Zurra dengan ramah.


"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat," jawab Adri.


Zahira hanya mengangguk dengan ucapan syukur. Tak ada lagi percakapan kedua orang itu. Zahira sibuk ngobrol dengan Mila, begitu juga dengan Zaf dan Adri. Kedua lelaki itu membahas tentang kasus yang kini sedang mereka tangani.


"Adek Zhera cepat besar, nanti biar main sama Abang ya," celoteh Rayyan sembari mencubit pipi gembul bayi mungil itu.


"Ayo Rayy kita main lagi!" panggil Zaf sembari menarik tangan Rayyan.


"Nanti dulu, Zaf. Aku masih pengen main sama Adek Zhera," jawab bocah itu enggan beranjak.


Mila dan Zahira hanya terkekeh melihat tingkah kedua bocah itu.


"Sepertinya Rayy ingin punya adik ya, Mil," ucap Zahira.


"Iya, Do'ain semoga Allah titipkan kepercayaan lagi ya, Za."


"Aamiin..." Zahira mengaminkan.


Tak terasa waktu berjalan, kini waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Mereka segera melaksanakan ibadah empat rakaat, setelah itu di lanjutkan makan siang bersama.


Selesai makan, mereka kembali ngobrol sebentar, lalu Mila dan Adri pamit untuk pulang.


Akhirnya silahturahmi kedua pasangan itu terjalin dengan baik. Dari orangtuanya hingga anak-anak mereka.


Tak terasa tahun berganti, bulan berlalu. Kini anak-anak mereka sudah tumbuh dewasa. Zafran dan Rayyan memasuki universitas yang sama.


Ternyata Rayy memang tak di takdirkan untuk mempunyai seorang adik. Sehingga lelaki itu menyayangi adik dari sahabatnya. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa sayang yang di miliki oleh Rayy menjadi berbeda.


Rayy sering merasa tidak rela bila Zhera mempunyai teman laki-laki. Bahkan ia sering merasa benci sekali dengan perasaan itu.


Hari ini adalah waktunya Zaf dan Rayy bertolak keluar kota untuk menempuh pendidikan.


Mereka diantarkan oleh orangtua masing-masing. Dan tak lupa secantik Zhera ikut mengantarkan Abangnya. Saat ini gadis itu baru menduduki bangku kelas 6 dasar.


"Adek ikut juga?" tanya Rayy saat melihat gadis belia itu sudah cantik dengan gaun syar'i.


"Ikut dong Bang. Aku juga ingin tahu bagaimana kampus Bang Rayy dan Bang Zaf," sahutnya dengan senyum manis.


Bersambung....


Happy reading 🥰