Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 53


Mila terdiam mematung saat mendengar pengakuan Pria yang ada dihadapannya. Hatinya begitu sakit, kenapa dia tega sekali melakukannya. Mila menyorot tajam dengan netra yang sudah membendung air mata.


"Apa yang kamu lakukan, Mas? Kenapa kamu tega sekali melakukan hal ini padaku, apakah kamu tidak menyadari bahwa perbuatanmu akan menambah masalah," lirih wanita itu, sudah tak mau menggunakan urat untuk bicara pada lelaki yang sejujurnya masih sangat ia cintai.


Adri mendekati gadis itu, dia tahu telah salah mengambil langkah dan keputusan, tapi rasanya sudah tak ada jalan lain lagi, Pria itu mendekap erat tubuh kekasihnya yang kembali menangis.


"Dek, aku mohon untuk kali ini jangan menolakku lagi, maafkan kesalahanku, tapi ketahuilah Dek, apa yang aku lakukan sekarang adalah bentuk rasa takutku kehilanganmu. Aku tidak rela bila kamu harus menikah dengan lelaki lain. Aku sangat mencintai kamu," ucap Adri terdengar lirih ditelinga gadis itu.


Mila tak bisa bicara apapun. Hatinya benar-benar kacau, sebenarnya hatinya juga tak jauh berbeda dengan Pria yang sedang memeluknya, hanya saja dia masih mampu untuk menyimpan dan berusaha ikhlas melepaskan. Berbeda dengan Adri yang mengambil jalan pintas untuk menuju agar keinginannya tercapai.


Adri melerai pelukannya, dengan lembut mengecup kening calon istrinya itu, restu tak restu yang penting mereka akan tetap menikah. Tangannya menghapus air mata yang masih setia menetes di pipi mulus wanita itu.


"Jangan menangis lagi ya, percaya padaku, aku tidak akan pernah menyakiti perasaan kamu. Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu," ujar Pria itu menatap begitu dalam.


Mila tak tahu sekarang dia harus bersedih atau bahagia, karena sudah pasti dia akan menikah dengan Pria yang dicintainya. Tapi, bagaimana dengan perasaan Ayah dan Ibu? Dan bagaimana pula dengan Mama lelaki itu.


"Mas, apa yang harus kita lakukan?" tanya Mila serak.


"Kita harus menikah besok, Dek," jawab Adri jujur.


"Jangan cepat-cepat, Mas."


"Kenapa, Dek? Apakah kamu tidak takut bila nanti kamu hamil?" tanya Pria itu tak tahu jalan pikiran calon istrinya.


"Semoga saja tidak Mas, biarkan satu bulan ini aku menyelesaikan pekerjaan aku bersama Mbak Amera, setelah itu aku akan kembali bicara pada Ayah dan Ibu. Aku yang akan meminta dengan memohon pada Ayah agar mau memberi restu.


"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Adri memastikan.


"Ya, aku yakin."


"Baiklah, Sayang, kalau begitu aku ikut maumu. Tapi ingatlah, kamu tidak akan pernah bisa pergi dariku, karena aku sudah memberimu Depe," ujarnya tersenyum menatap gadis itu.


Bugh!


"Masih bisanya kamu bicara seperti itu. Kenapa kamu menganggap masalah ini enteng Mas? Bahkan aku saja rasanya sulit untuk bernafas," kesal wanita itu memukul dada Pria itu dengan gemas.


Adri tersenyum kembali membawa calon istrinya masuk kedalam dekapan. "Maafkan aku ya, Sayang. Aku hanya terlalu bahagia membayangkan bahwa sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya. Aku tidak peduli sebesar apa masalah yang harus aku hadapi, Dek, asalkan kita tetap menikah. Aku rela menerima hukuman dari kedua orangtuamu, asalkan kita tak dipisahkan."


Rasa tak percaya dengan ucapan lelaki itu, sebesar itukah rasa cintanya pada wanita miskin seperti dirinya. Rasanya tak tega jika nanti dia yang akan mendapatkan hukuman dari kedua orangtuanya.


Mila hanya diam sembari melerai pelukannya. Dengan perlahan Adri membawanya duduk di sofa ruang tamu.


"Janji jangan tinggalkan aku ya, Dek," ucap Adri masih begitu parno bila suatu saat Mila akan pergi kembali dari hidupnya.


"Bagaimana aku bisa pergi darimu, Mas, bukankah kamu sendiri yang telah memberiku Depe," jawab gadis itu balik mengatakan hal itu.


Adri tersenyum gemas, dan menggusal mahkota wanita itu dengan lembut. Senyum bahagia membingkai di bibirnya. Namun, ia tidak tahu apakah rencana akan sesuai keinginan? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu jalan selanjutnya.


"Mau kemana, Sayang?" tanya Adri saat melihat sang kekasih beranjak dari tempat duduknya.


"Ah, Mas, aku lapar. Apakah aku boleh masak sesuatu disini?" tanya Mila sungkan.


"Kenapa masak, Dek? Udah biar aku pesan makanan aja," ujar Adri tak membiarkan wanitanya masak.


"Tapi aku pengen masak, Mas, aku tidak terlalu suka masakan diluar," jawab Mila jujur apa adanya.


"Hmm, baiklah. Ayo aku bantu." Adri segera beranjak mengikuti langkah gadis itu menuju dapur.


Memang stok bahan masih lengkap di dalam lemari pendingin, karena Adri tinggal disana, maka dia meminta Art untuk belanja dan memasak untuknya setiap hari.


"Sini aku yang potong-potong, Dek, kamu kerjain yang lain saja," ujarnya mengambil alih pekerjaan Mila yang sedang mengiris sayuran dan bawang.


"Kamu tidak perlu ikut, Mas, sana duduk aja," tolak wanita itu tak ingin merepotkan kekasihnya.


"Biarkan aku membantu kamu, jangan menolak. Aku ingin menikmati momen indah bersamamu. Nanti setelah kita menikah, aku berharap kemesraan ini janganlah cepat berlalu.


Mila hanya diam tak ingin menanggapi, hatinya masih ragu apakah mereka bisa bersatu. Yang paling ia takutkan adalah wanita yang telah melahirkan kekasihnya yang sampai saat ini belum memberi restu.


Selesai masak, Mila segera menyajikan diatas meja makan, pasangan itu terlihat begitu mesra. Adri selalu berusaha menghibur dan bersenda gurau untuk membuat hati gadis itu kembali nyaman bersamanya.


Memang dasarnya Mila masih sangat mencintai Pria itu, maka tidak sulit baginya mengeluarkan senyum dari bibirnya saat aksi bujuk rayunya berselancar membuat hatinya nyaman, sesaat ia bisa melupakan masalah yang terjadi diantara mereka.


"Ayo, makan Mas," ucap Mila menyerahkan piring telah ia isi makanan untuk kekasihnya.


"Terimakasih calon Ibu dari anak-anakku," ucap Pria itu menyambut dengan hati yang gembira.


Mila hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Adri yang kelewat manis, Pria itu mampu melambangkan angannya. Berharap kebahagiaan itu benar-benar ia dapatkan nanti setelah menikah.


Pasangan itu makan dengan suasana hangat, sudah tak sabar diantara keduanya untuk menjadi pasangan halal agar selalu bersama. Adri menatap dalam wajah cantik wanita yang sedang fokus makan dihadapannya.


Selesai makan, Adri segera mengantarkan Mila kembali ketempat kerjanya, dengan beralasan bahwa ia membawa Mila menginap dikediaman orangtuanya. Dan tentu saja Mbak Amera tak merasa keberatan, hitung-hitung bersilaturahmi dengan calon mertua.


Setelah memberi penjelasan pada majikan kekasihnya, Adri pamit untuk pulang kembali, karena hari ini dia masuk malam, maka siang tak bertugas.


"Sayang, aku pulang dulu ya, ponsel kamu jangan dimatikan. Aku selalu ingin kabar darimu," ujar Adri pamit dan berpesan.


"Baiklah, hati-hati ya," jawab Mila singkat tapi padat.


Pria itu segera menjalankan mobilnya kembali. Mila masih menatap kepergian sang kekasih. Kembali kejadian tadi malam memenuhi otaknya. Potongan-potingan pergulatan panas itu membuat wajahnya memanas seketika.


Ada rasa malu dalam hatinya. Entahlah, semua sudah terjadi. Bersyukurnya Pria itu bersungguh-sungguh dengan niatnya. Mila tak bisa lagi menolak keinginannya. Jika tidak, maka masa depannya akan hancur.


Mila segera masuk dan bersiap untuk melaksanakan aktivitas seperti biasa. Perempuan berusia dua puluh enam tahun itu bekerja dengan perasaan yang masih tak menentu. Tapi ia harus profesional dalam mengemban tugas yang di berikan.


Malamnya Adri tugas masih di lokasi yang sama. Walaupun Kantin Mbak Amera sudah tutup, tapi Pria itu tetap menyambangi untuk menemui sang pujaan hati.


Mila membuatkan secangkir kopi hitam untuk Pria itu, dan menemani duduk di pelataran yang ada di depan Kantin. Pria itu menyerahkan beberapa cemilan dan buah-buahan yang tadi sengaja ia beli sebelum berangkat kerja.


"Udah break Mas?" tanya Mila sembari memposisikan duduknya berhadapan dengan sang kekasih.


"Iya, Sayang, kopi team. Oya, ini buat kamu." Adri menyerahkan kantong plastik yang bermerek Alfa itu.


"Apa ini Mas?" tanya Mila menilik isi kantong plastik itu.


"Hanya cemilan dan buah-buahan untuk kamu," jelasnya sembari menyeruput kopi hitam buatan kekasihnya.


"Kamu tidak memberiku obat terkutuk itu lagi 'kan?"


Uhuk! Uhuk!


Pria itu tersedak mendengar ucapan gadis yang ada dihadapannya. Ia menaruh kembali cangkir kopi yang belum seberapa usak dari porsinya semula.


Bersambung....


Happy reading 🥰