
Setibanya dirumah, Zahira tampak murung. Wanita itu masih takut dan was-was bila sewaktu-waktu ia melupakan anaknya.
Zahira segera menuju kamar, tak minat untuk bergabung dengan keluarga suaminya yang ada diruang tamu. Karena ini malam puasa, maka keluarga besar Hamdi berkumpul dalam acara halal bihalal saling memaafkan agar puasa mereka afdhol.
Hamdi Wijaya adalah Abang tertua dari tiga bersaudara, maka semua adik-adik dan ponakannya datang menyambangi kediamannya untuk memohon maaf. Karena kedua orangtua mereka telah meninggal dunia, maka dialah yang jadi pengganti untuk kedua adik-adiknya.
"Zi, kamu udah pulang, bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Mama penasaran.
"Zahira diagnosa amnesia ringan,Ma," lirih Pria itu juga ikut murung.
"Astaghfirullah, terus, apa solusi dari Dokter?"
"Zahira harus melakukan pemeriksaan syaraf di RS, untuk mengetahui ada syaraf otak yang bermasalah. Zahira harus minum obat. Dokter bilang, jika Zahira minum obat teratur dan kontrol rutin, maka bisa sembuh," jelas Pria itu.
"Ma, Pa, dan yang lainnya, jika nanti sewaktu-waktu istriku melakukan hal tak terduga, dan atau membuat kalian merasa tidak nyaman atas sikapnya, aku mohon jangan memarahinya, karena dia tidak sadar berlaku seperti itu," ujar Zico memberitahu terlebih dahulu agar mereka tidak merasa terkejut.
"Mana mungkin kami memarahinya, Nak, kami sangat memahami. Dia sudah sadar dan kembali lagi ditengah-tengah keluarga kita saja, kita sudah sangat bersyukur," jawab Tante Sharen.
"Kamu jangan sedih Zi, kamu harus tetap tersenyum dihadapan istrimu. Karena hanya kamu penyemangat yang paling ampuh untuknya," sambung Tante Efni, yaitu adik Papa.
"Ya, insya Allah, aku akan tetap menjadi penyemangat untuk istriku, Do'akan semoga Zahira cepat sembuh," balas Pria itu merasa lega setelah mendapat dukungan dari keluarga.
"Ma, Zafran mana?" tanya Zahira yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.
"Zafran sudah tidur, Nak, ada dikamarnya," jawab Mama menatap sedih.
Zahira menatap semua orang yang ada di ruangan itu. Wanita itu segera menghampiri satu persatu untuk memohon maaf.
"Ma, Pa, aku minta maaf atas segala salah dan dosaku selama ini. Mungkin aku banyak berbuat salah, atau aku pernah membuat hati Mama dan Papa terluka atas perilakuku selama ini."
Zahira menyalami tangan Papa dan Mama dengan takzim, begitu juga dengan keluarga yang lain. Wanita itu meminta maaf kepada keluarga besar suaminya.
Saat Zahira ingin menyalami adik sepupu suaminya yang sedang menggendong bayi diperkirakan seumuran Zafran, Zahira dengan spontan meraih bayi itu.
"Hai, anak Umi belum bobok, tapi kata nenek kamu udah tidur, Nak," ujar Zahira menggendong bayi itu. Karena melihat orang asing, maka bayi itu menangis dengan keras.
"Ssshh... Jangan nangis Sayang, kamu ngantuk ya, yaudah, bobok sama Umi ya," Zahira segera membawa bayi itu kekamar. Bayi itu menangis semakin kuat.
"Bang, tolong ambil Amar, dia takut karena belum kenal dengan Kakak ipar," ujar adik sepupunya meminta Zico mengambil bayinya.
"Bentar ya, Dek," Zico segera menyusul istrinya, sebelumnya Pria itu mengambil Zafran terlebih dahulu di kamarnya.
"Sayang, ini Zafran, itu anaknya Andin, ini anak kita, Dek," Zico menidurkan Zafran diatas ranjang mereka.
"Bukan, Mas, ini Zafran. Bawa bayi itu keluar. Anak siapa yang kamu bawa itu?" tanyanya acuh.
Pria itu banyak-banyak istighfar dalam hati untuk kesembuhan sang istri. Hatinya mendadak sedih dan pilu melihat pemandangan itu. Bagaimana jika nanti Zahira juga melupakan dirinya.
Zico mencoba untuk memahami, karena kata Dokter sekeras apapun kita mengingatkan, jika Zahira sedang mengalami lupa, maka tidak akan ingat. Zico membawa Zafran keluar kembali dan memberikan pada Mama.
"Bagaimana Nak?" tanya Mama dan yang lainnya tampak cemas.
"Dia tidak ingat Zafran, Ma," lirih Pria itu.
"Tunggu sebentar ya." Zico kembali masuk kamar.
Pria itu melihat sang istri riweh sendiri mendiamkan bayi yang diperkirakan sebaya dengan Zafran. Zico masuk kedalam kamar mencoba mengambilnya.
"Kenapa Sayang?" tanya Pria itu berlagak tidak tahu.
"Nangis terus, Mas," jawabnya sembari menyerahkan pada Zico.
Pria itu menerima dengan senang. "Ayo sini sama Abi," ucapnya mengambil anak ponakannya, dan menimangnya dengan sayang. "Udah, kamu istirahat saja ya, Zafran biar aku yang urus," ujarnya pada wanita itu.
"Kamu tidak apa-apa, Mas, aku tinggal tidur?" tanya Zahira merasa sungkan.
"Iya, tidak apa-apa, Sayang, tidurlah."
Zico membawa bayi mungil itu yang sudah tampak tenang ditangan pamannya. Pria itu segera menyerahkan bayi yang bernama Amar itu pada Mamanya.
"Abang minta maaf ya, Dek, atas ketidak nyamanan kamu karena Kak Zahira, tolong jangan membencinya," ujar Zico yang merasa jadi serba salah dan takut bila ada keluarganya yang tak bisa memahami kondisi istrinya saat ini.
"Iya tidak apa-apa, Bang, aku paham bagaimana kondisi Kakak ipar sekarang," balas sang adik memahami.
"Sabar, Nak, Mama percaya Zahira pasti bisa sembuh kembali," ujar Mama mengusap bahu putranya dengan lembut.
Zico mengusap wajahnya dengan lembut, raut murung tampak nyata. Perasaannya tak menentu saat melihat kondisi sang istri saat ini. Kenapa ada saja ujian rumah tangganya. Pria itu mengambil Zafran dari pelukan Neneknya.
"Aku kekamar dulu ya, Ma." Zico pamit membawa bayinya kembali kekamar.
Terlihat Zahira sudah terlelap. Zico kembali menidurkan putranya yang tadi terganggu tidurnya. Namun, bayi mungil itu tak kunjung menemui kantuknya. Zico bertahan menjaga putranya, beruntung besok hari libur, jadi bebas begadang.
"Belum tidur Mas?" tanya Zahira terbangun dari tidurnya.
"Eh, kok bangun, Sayang?" tanya Zico membelai pipi wanita itu.
"Hai, anak Umi kok begadang, sini, sayang Umi dulu," ujar wanita itu sembari memeluk dan mengecup wajah bayi mungil itu.
Zico sedikit lega melihat Zahira sudah ingat kembali dengan Putranya. Pria itu menatap wajah cantik sang istri, tatapannya tampak kosong.
Zico memeluk istrinya dari belakang, takut sekali bila nanti wanita itu melupakan dirinya. Hatinya begitu nelangsa dan takut bila hal buruk terjadi pada wanita kesayangannya.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Zahira merasa aneh melihat tingkah suaminya yang tampak begitu manja.
"Nggak pa-pa Dek, tidur lagi ya, biar Zafran Mas yang jaga," ujarnya masih memeluk begitu agresif.
"Kamu kenapa, Mas, apakah tadi aku melakukan sesuatu?" tanya Zahira sembari memutar tubuhnya menghadap pada Pria itu.
"Ah, nggak Sayang, kamu tidak melakukan apapun. Aku cuma ingin peluk kamu," ujar Pria itu jelas berbohong.
"Yaudah, kamu yang tidur sekarang. Biar aku yang jagain Zafran. lagian udah larut banget," ujar Zahira meminta suaminya untuk segera istirahat.
Bersambung...
Happy reading 🥰