
"Sengaja kasih kejutan buat kamu, Sayang," jawab Zi tersenyum sembari mengusap mahkota sang istri yang masih di tutupi hijab.
"Anak-anak bagaimana kabarnya, Mas? Aku kangen banget sama mereka," ucap Zahira dengan wajah sedih bila teringat dengan kedua buah hatinya.
"Alhamdulillah mereka baik-baik saja. Baby Zhera semakin gembul, tapi tidak rewel kok. Kamu tidak perlu khawatir ya, Anak-anak selalu aman bersama Mama," jelas Zi mencoba untuk meyakinkan istrinya.
"Mas, aku lagi galau nih," keluh Zahira pada suaminya.
"Galau kenapa, Dek?"
"Minggu depan aku harus kembali mengulang PKL," jelasnya.
"Terus?"
"Ya tentu saja aku bingung dan bimbang, Mas. Mana mungkin aku sanggup harus berpisah jauh dari anak-anak, sedangkan berpisah seperti ini saja harus aku kuat-kuatin," ujar wanita itu dengan wajah sendu.
"Jadi maksud kamu sekarang bagaimana? Apakah kamu ingin mundur saja? Dari awal aku sudah katakan padamu, Dek. Kamu harus pikirkan kembali dengan matang agar hal seperti ini tak terjadi pada dirimu," timpal Zi yang tak tahu harus bagaimana menyikapinya .
"Kok kamu begitu ngomongnya, Mas? Kamu marah sama aku?" tanya wanita itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku tidak marah, Sayang. Aku tu cuma tanya bagaimana maumu sekarang," timpal Pria itu serba salah.
"Bilang saja kamu seneng bila berpisah jauh dariku 'kan?" tuduh Zahira yang membuat Zi harus menekan rasa sabar dalam hatinya.
Zico menghela nafas panjang. "Kenapa pikiran kamu seperti itu? Udahlah, aku kesini bukan ingin bertengkar denganmu, Sayang. Tapi aku ingin kita bersenang-senang," ujar Zi tersenyum sembari mencuri kecupan di pipi wanita itu.
Zahira tak menyahut lagi ucapan suaminya. Hatinya masih kesal dengan tanggapan yang di berikan oleh lelaki itu.
"Kamu ngambek? Kok istri aku sekarang sensian banget sih?" tanya Zi tersenyum lembut.
Zahira memilih memejamkan mata. Moodnya memang sedang tidak baik-baik saja efek kedatangan tamu bulanan.
"Sayang, kita jalan-jalan dulu mau nggak?" tawar Zi mencoba membuat mood wanitanya kembali stabil.
"Nggak, aku mau pulang saja, lagi mager," jawabnya datar.
"Yaudah, aku beli makanan dulu ya, biar nanti kita makan di kost saja."
"Terserah," jawabnya singkat.
Lelaki itu kembali memasok rasa sabar semakin dalam agar tak terpancing dengan sikap istrinya yang tetiba saja berubah.
Zico menghentikan kendaraannya di sebuah restoran untuk membeli beberapa macam menu makanan. Dan setelah itu ia memesan dua cup coklat hangat untuk memperbaiki mood istrinya yang sedang rusak.
Sementara itu Zahira yang memang sedang lelah dan mengantuk, maka ia benar-benar ketiduran menunggu Zi yang sedang membeli makanan.
Zico kembali masuk kedalam mobilnya, ia melihat Zahira sudah terlelap dengan nyaman. Pria itu hanya menggeleng kecil melihat wanitanya yang mudah sekali tidur.
"Dasar panda," gumamnya sembari mengecup kening istrinya dengan rasa sayang.
Zi kembali mengendarai mobilnya tanpa membangunkan Zahira. Ia membiarkan saja Zahira tidur sejenak agar suasana hatinya kembali membaik.
Sesampainya di depan kost, Zico tak tega membangunkan istrinya yang masih begitu lelap tidurnya. Pria itu berinisiatif untuk membopong saja.
Dengan perlahan Zi membawa wanita itu dalam gendongannya. Namun, langkah Zi terhenti saat seorang wanita penghuni kamar lain mencurigai Pak hakim itu.
"Kamu siapa? Ada hubungan apa kamu dan Zahira? Kenapa kamu berani sekali membopong Zahira?' tegur wanita itu dengan tatapan penuh selidik.
Zico hanya tersenyum. "Mbak, bisa minta tolong bukain kunci kamar ini?" ucap Zi tak menghiraukan pertanyaan wanita itu.
"Hei, Om, saya tanya anda siapa? Dan kenapa Zahira sampai pingsan begitu?" tanya wanita itu kembali.
"Kamu panggil saya, Om?" tanya Zi gemas sekali dengan panggilan wanita itu.
"Ya, memang anda sudah tua," jawab wanita itu enteng.
"Astaghfirullah, bocah ini," rutu Zi segera membuka kunci kamar Zahira tanpa menghiraukan wanita itu.
"Awas kamu, saya akan panggil Ibu kost!" ancamnya segera beranjak menuju kediaman Ibu kost yang kebetulan nyatu dengan kamar-kamar itu.
Zico hanya menggelengkan kepala melihat tingkah wanita aneh itu. Ia segera membaringkan Zahira di tempat tidur.
"Windi, ada apa ini?" ucap Ibu kost mengikuti langkah wanita yang bernama Windi itu.
"Pokoknya Ibu cepat lihat ke kamar Zahira, tadi ada seorang lelaki yang membawa Zahira kedalam kamar ini, dan lelaki itu menutup pintu dari dalam," adu wanita itu dengan percaya dirinya.
"Kamu serius?" tanya Bu kost.
Tok! Tok!
"Zahira! buka pintunya!" panggil bukost.
Zahira sedang terlelap merasa terganggu karena suara yang begitu bising diluar kamarnya. Sementara Zico sedang berada di kamar mandi.
Zahira segera turun dari ranjangnya dengan mata yang masih terasa ngantuk.
"Ada apa, Bu?" tanya Zahira saat membuka pintu.
"Za, tadi Windi bilang kamu membawa lelaki masuk kedalam kamar ini, benarkah?" tanya bukost minta penjelasan.
"Benar, dia suami saya," jawab Zahira jujur.
"Suami?" ucap Windi terperanjat.
"Ada apa, Sayang?" tanya Zi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Nak Zico rupanya," sambung bukost merasa malu karena ulah Windi yang belum tahu bahwa Zahira sudah mempunyai suami.
"Ya, Bu. Tidak apa-apa kan saya nginap di kamar istri saya? Atau perlu saya bawa Zahira untuk menginap di hotel saja?" tanya Zi dengan selorohnya.
"Ah tidak perlu, Nak Zi. Kalian kan pasangan halal, jadi Ibu tidak melarang bila suami para putri yang menghuni kost ini datang dan ingin menginap disini," jelas bukost.
Wandi yang tadi begitu galak, kini hanya bisa menunduk malu. "Maaf, Om jika saya sudah salah sangka," ujar wanita itu.
"Baiklah bocah, Om maafkan kamu. Lain kali jangan begitu," jawab Zi membalas ucapan gadis itu.
"Baik, Om." Dengan wajah malu Windi segera beranjak dari hadapan mereka.
"Kalau begitu Ibu juga pamit ya. Sekali lagi Ibu minta maaf atas kerusuhan Windi," jelas bukost.
"Iya Bu, tidak apa-apa."
Setelah mereka pergi, Zahira kembali masuk kedalam kamarnya, dan ia kembali menaiki tempat tidur.
"Sayang, kok tidur lagi?" tanya Zi menduduki bibir ranjang.
"Aku ngantuk, Mas," jawab Zahira masih tidak berminat untuk berinteraksi dengan lelaki itu.
"Ayo makan dulu, Dek. Kamu kok begini sih?" Zi selalu mencoba untuk mengalah.
Zahira hanya diam, sebenarnya bingung dengan perasaannya yang saat ini tak menentu. Ia sangat sadar bahwa sang suami tidak melakukan kesalahan, tetapi dasar moodnya yang sedang tidak bagus.
"Yaudah kalau kamu memang ingin sendiri. Aku balik ya," ucap Zi segera turun dari ranjang wanita itu.
Seketika Zahira bangkit dan mengejar langkah suaminya yang akan memutar kenop pintu.
"Mas jangan pergi," rengeknya sembari memeluk dari belakang.
"Bukannya kamu tidak ingin di ganggu, yaudah kalau begitu biar aku pulang saja. Lagian percuma disini kalau hanya di diemin," jawab Zi pura-pura ngambek.
"Nggak, Mas. Aku minta maaf, tolong jangan pergi tinggalkan aku," lirih wanita itu segera memutar tubuh suaminya dan menatap mata teduh itu dengan dalam.
Zico tersenyum menangkup kedua pipi Zahira dengan lembut. "Sayang, jika kata-kata tadi membuatmu kesal dan marah, tolong maafkan aku. Tapi jangan diemin aku begini," ucap Zi terdengar begitu lembut dan sikapnya begitu dewasa.
Zahira kembali membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu. "Beneran aku tidak marah padamu, Mas, tapi aku tidak tahu dengan mood aku yang sedang buruk," sambung Zahira dengan isakan kecil.
"Apakah kamu sedang datang tamu?" tanya Zi yang sudah menduga.
Zahira mengangguk, namun tak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh kekar lelaki yang berprofesi sebagai ketua hakim itu.
"Sudah kuduga, apes dong," timpal Zi dengan wajah lesu.
"Tu kan... Kamunya kecewa," rengek Zahira sembari memukul dada suaminya.
"Hahaha... Tidak tidak, aku hanya bercanda, Sayang. Udah jangan ngambek lagi. Ayo sekarang kita makan. Oya, tadi aku beli coklat hangat untuk kamu agar moodnya baik lagi," ucap Zi melerai pelukannya lalu mengambil cup yang berisi minuman coklat itu dan menyerahkan pada Zahira.
Zahira tersenyum menerimanya. Mereka segera menikmati makanan yang sudah mereka beli tadi.
Bersambung..
Happy reading 🥰