Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 40


Sudah satu minggu di RS, hari ini Zahira sudah diperbolehkan untuk pulang karena kondisinya sudah membaik dan sudah di pastikan pulih oleh dokter. Zico sengaja izin tidak tugas demi menyambut kepulangan sang istri.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Zico baru saja selesai mengemas barang-barang wanita itu.


"Sudah, Mas," jawab Zahira sembari memperbaiki hijabnya.


Zico mendorong isterinya dengan kursi roda. Setibanya di loby sudah ditunggu oleh supir. Sementara ajudannya selalu mendampingi mereka.


Diperjalanan pulang pasangan itu tampak begitu mesra, Zico yang selalu nempel, seperti luka dan kain kasa. Zahira tak merasa keberatan lagi, rasanya kehadiran Pria itu membuat hatinya begitu nyaman.


"Kamu mau sesuatu, Sayang?" tanya Zico menyandarkan kepala sang istri dibahunya.


"Tidak mau apa-apa Mas, cuma ingin cepat sampai biar segera bertemu dengan pangeran kecilku," jawab Zahira jujur.


Setibanya dikediaman keluarga Hamdi Wijaya, wanita itu disambut begitu penuh kegembiraan dan kebahagiaan oleh pasangan setengah abad itu.


"Selamat datang Sayang, Alhamdulillah, akhirnya kamu sampai juga dikediaman Mama," ucap Mama Dian memeluk anak menantunya dengan sayang.


"Terimakasih banyak Mama, aku bahagia sekali mempunyai mertua sebaik Mama," ujar Zahira membalas pelukan sang Mama mertua.


"Ayo duduk, Nak." Papa menggiring anak dan menantunya untuk duduk diruang keluarga.


"Wah, ini istrinya Zi?" sapa seorang wanita yang diperkirakan adik Mama Dian, karena wajah mereka terlihat mirip.


Zahira segera menyalami keluarga suaminya yang sesama muhrim. Jika yang lelaki wanita itu cukup menangkup kedua tangannya Dida. Ternyata kehadirannya dirumah itu sangat di istimewakan.


Zahira merasa sangat sungkan, ternyata masih ada keluarga kaya raya yang begitu menyayangi anak menantunya melebihi sayangnya pada anaknya sendiri. Apakah mereka selama ini memang mengidamkan kehadiran seorang menantu?


Zahira masih tidak percaya bahwa mereka begitu baik. Karena sejatinya menantu wanita sangatlah sulit untuk bisa diterima dan dihargai sedemikian rupa oleh keluarga suaminya. Tapi tak semuanya, hanya sebagian saja. Zahira hanya mengucapkan syukur berada di tengah-tengah keluarga yang begitu tulus menyayanginya.


"Zahira, Mama punya sesuatu buat kamu," ujar Mama Dian memberikan kotak beludru pada wanita itu.


"Tante juga punya buat kamu, Nak," ujar sang Tante juga memberikan sebuah bingkisan.


"Tapi, nanti saat kamu mengenakannya, Tante boleh ya, lihat wajah kamu. Tante penasaran banget dengan wajah kamu," ucap wanita yang diperkirakan berumur empat puluh lima tahun itu.


"Terimakasih Tan, iya, tentu saja," jawab Zahira mengiyakan permintaan sang Tante.


"Ma, Terimakasih banyak atas hadiahnya." Zahira juga mengucapkan terimakasih pada Mama mertua.


Setelah bersilaturahmi, keluarga itu segera beranjak menuju meja makan. Mereka makan dalam kekeluargaan yang hangat. Zahira begitu diratukan. Zico hanya tersenyum melihat tingkah malu sang istri.


"Ayo makan, Nak, kamu mau ini, atau ini?" tanya Mama memberi pilihan pada lauk yang begitu banyak terhidang.


"Jangan heran, Sayang, saking pedulinya pada menantu dan cucu, maka mereka akan lupa pada anaknya sendiri," ucap Zico menyindir keluarganya.


"Hahaha... Ada yang cemburu Mbak," sambung sang Tante.


"Biarkan saja, lagian aku masih kesal, bisa-bisanya menyembunyikan pernikahan mereka. Pokoknya Mama mau bulan depan habis lebaran kalian harus melaksanakan resepsi pernikahan agar khalayak umum tahu bahwa kamu sudah menikah," jelas Mama mengutarakan keinginannya.


"Aku terserah dengan istriku saja, Ma, aku ikut maunya saja," jawab Zico pasrah.


"Tentu saja istrimu mau, benar kan, Za?" tanya Mama memastikan pada menantunya.


"Hmm, aku ikut Mama saja," jawab wanita itu menurut.


"Kalau soal baju, yaudah tinggal serahin sama Tante Sharen aja," potong Zico.


"Iya, sama Tante, tapi kamu dan istrimu harus datang ke Butik, mana mungkin Tante harus mengukur disini," jawab wanita itu.


"Apa salahnya sih Tan, kalau aku nggak sempat Tante aja yang datang," sangkal Pria itu masih ngotot.


"Ya ampun, anak ini! Kenapa nggak sekalian aja Tante samperin kamu di pengadilan negeri hanya untuk mengukur baju pengantinmu. Lagian apa susahnya datang sebentar, sesibuk apa sih kamu?" ujar wanita itu sedikit gemas dengan ponakannya.


"Iya, Mas, nggak sopan sekali sama orangtua, seharusnya kita yang mendatangi beliau," sambung Zahira membenarkan ucapan sang Tante.


"Tuh, dengerin ucapan istrimu," ujar Tante senang mendapat pembelaan.


"Iya, Tan, aku minta maaf. Aku sempetin untuk datang ke Butik," jawab Zi merasa terpojok dan mengakui kesalahannya.


"Bagus. Memang begitu harus nurut."


Mama dan Papa hanya menjadi pendengar saja. Mereka memang sangat mengenali sikap keras putranya, jika dia tidak mau, maka mau sampai kapanpun tak akan pernah menurunkan egonya. Namun kehadiran Zahira bisa membuat hati Pria itu lentur.


Mama dan Papa sangat bahagia melihat banyaknya perubahan pada diri anak mereka. Pasangan itu sangat bersyukur karena Allah telah mengirim seorang wanita Sholeha untuk anak semata wayang mereka.


Tak terasa waktu berjalan, kini sudah dua minggu Zahira berada di kediaman keluarga suaminya. Zahira sangat bahagia karena Mama begitu menyayanginya tak membedakan dengan anak kandung. Bahkan seringkali Zico yang selalu terkena ocehan Mama.


Hari ini adalah dua hari jelang Ramadhan, Zahira sudah bersiap untuk mengunjungi kediamannya yang dulu saat bersama kedua orangtuanya. Zahira ingin ziarah ke makam mereka.


"Mas Zi, bangun, nanti kita sampainya kesorean disana," intrupsi wanita itu sembari mengguncang tubuh suaminya yang tampak begitu nyenyak. Mungkin karena hari libur, maka Pria itu meresapi waktu weekend.


"Sudah jam berapa, Dek?" tanya Pria itu masih memejamkan matanya, tangannya merengkuh pinggang ramping Zahira yang duduk di bibir ranjang.


Zahira jatuh diatas dada bidang Pria itu. Senyumnya tersungging begitu penuh arti sehingga membuat jantung wanita itu tak karuan. Sejak siuman dari koma mereka memang belum pernah menjemput pahala yang satu itu.


"Sayang, aku kangen banget. Apakah aku sudah boleh meminta hakku pagi ini?" tanyanya sembari menahan perasaan nano-nano ditubuhnya. Sudah hampir tiga bulan senjata tumpul itu tak pernah di asah sehingga hampir karatan.


"Pengen banget ya, Mas?" tanya wanita itu begitu polos.


"Beuh! Jangan ditanya lagi Dek, Rasanya aku ingin memakanmu hingga habis."


"Ih, ganas amad Mas..."


"Nggak, kalau sama kamu sangat jinak. Coba saja sentuh," ujar Zico tersenyum nakal sembari menempelkan tangan sang istri di bagian sesuatu yang sudah mengeras di sarangnya.


"Mas Zi!" pekik wanita itu sembari menyembunyikan wajahnya didada bidang Pria mesum itu.


"Kenapa Dek? Dia minta di jinakkan oleh pawangnya," seru Zico terkekeh lucu melihat tingkah sang istri.


Akhirnya wanita cantik itu pasrah dibawah kungkungan lelaki halalnya. Setelah selesai ritual menjinakkan kadal buntung miliknya, maka wajah Pria itu tampak begitu memancarkan aura ketampanannya.


Senyum sumringah terukir nyata dibibir Pak Hakim. Zahira hanya senyum mesem dibawah selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya.


Bersambung....


Happy reading 🥰