
"Zahira, kenapa kamu tidak jujur padaku dari awal?"
"Aku takut Mas," lirih wanita itu masih dengan deraian air mata.
Zico segera meraih bahu wanita itu dan membawa dalam dekapannya bersama buah hati mereka. "Apa yang kamu takutkan, Dek?" tanyanya sembari mengusap punggung Zahira memberi ketenangan.
"Aku, aku takut kamu akan mengambil Zafran dariku, Mas. Aku tidak ingin berpisah dari Anakku," cicit wanita itu masih terisak.
"Hei, kenapa pikiran kamu sedangkal itu? Mana mungkin aku melakukan hal itu, bahkan kalau bisa aku akan memberimu anak yang banyak," jawab Pria itu segera mendapat pukulan dari sang istri.
Bugh!
Zahira memukul bahu Pria itu dengan geram. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu. "Apaan sih kamu Mas? Nggak usah yang aneh-aneh, bukankah kamu tidak mencintai aku, kamu menikahiku juga karena balas dendam, mana mungkin aku mau mempunyai anak yang banyak dari Pria seperti kamu," ucapnya melerai pelukan sembari menarik air hidung yang ikut meleleh bersama tangisnya.
"Hahaha.... Lucu banget sih kamu? Bagaimana jika balas dendam itu aku ganti dengan balas cinta," ucap Pria itu yang membuat Zahira menatap tidak percaya.
Zahira ingin mengatakan sesuatu dengan bibir sudah terbuka, tetapi terhenti karena Pria itu terlebih dahulu memotong.
"Nggak ada intrupsi! Sekarang pilih, kamu ingin cinta atau sayang?" tanyanya yang membuat wajah wanita itu semakin memerah di balik cadarnya.
Zahira masih belum paham maksud ucapan Pria itu, mana mungkin bisa percaya begitu saja. Dia juga belum tahu dengan perasaannya saat ini bagaimana terhadap ayah dari anaknya itu.
"Kenapa diam saja? Apakah kamu tidak menginginkan hal itu dariku?" tanya Zico ingin jawaban.
"A-aku tidak tahu Mas."
Pria dewasa itu menghela nafas dalam, ia lupa bahwa tak semudah itu bagi wanita yang pernah menanamkan benci pada musuhnya, dan sekarang memintanya untuk mencintai musuh itu sendiri.
"Za, aku tahu mungkin bagimu ini tidak mudah, tetapi aku akan tetap sabar menunggu rasa cinta dan sayangmu tumbuh dalam hati untukku," ucap Zico mencoba menekan rasa sabarnya.
"Terimakasih, Mas. Ta-tapi bagaimana dengan perasaan kamu?" Akhirnya wanita itu tak tahan untuk tidak menanyakan.
"Zahira, perlu kamu ketahui. Niat awal aku menikahi kamu bukanlah untuk balas dendam, tetapi aku sudah mencintaimu sejak pandangan pertama. Aku ingin membahagiakan kamu dan Zafran," jelas Zico jujur sekali.
"Pandangan pertama?" tanya perempuan itu tidak paham, bukankah pandangan pertama saat mereka bertemu di hotel?
"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat kamu datang menemui aku di hotel. Jujur, selama ini aku tidak pernah tertarik pada wanita manapun, tetapi saat kamu hadir didepanku, adrenalinku terpacu. Tubuhku benar-benar merespon dengan baik, aku merasa kamulah pawang seluruh anggota tubuhku yang selama ini terbiasa kaku," jelas lelaki itu membuat Zahira terdiam menyimpan rasa malu saat Pria itu mengatakan dirinya sebagai pawang.
"Apaan sih ngomong begitu? Pawang, enak aja," rungut wanita itu dengan malu.
"Eh, tapi benaran. Aku bicara fakta Dek. Perlu kamu ketahui, Za. Semua orang sempat berpikir negatif padaku, mereka mengatakan bahwa aku lelaki tidak normal, tetapi aku tidak ambil pusing, toh nyatanya saat bersamamu aku menjadi lelaki sejati. Dan tentunya kamu sendiri dapat merasakannya, bukan?" tanya Zico membuat Zahira segera membuang tatapannya.
Ah ya Allah, kenapa sevulgar itu.
"Hei, kenapa wajah kamu merah seperti itu? Kamu pasti membenarkan apa yang aku ucapkan," timpal Pria itu kembali.
Zahira menatap wajahnya dari spion, mana ada kelihatan wajahnya memerah, hah, dasar Hakim sotoy banget. Wanita itu berusaha tetap tenang walau hatinya sedari tadi merasa tidak tenang saat yang mulia Hakim memutar kembali peristiwa silam yang hampir satu tahun yang lalu.
"Benar 'kan?"
"Apa sih Mas! Udah ah, nggak perlu membahas hal itu lagi. Aku ingin pulang," ucap wanita itu ingin segera mengalihkan topik pembahasan mereka.
"Nanti saja pulangnya, kita lanjutkan liburan singkat ini dulu, soalnya lusa aku sudah kembali bertugas. Aku ingin membawa jagoanku ini menikmati suasana alam yang indah ini," jelas Zico mendadak bersemangat kembali setelah mendapat mood booster dari segala pengakuan sang istri tentang buah hatinya.
"Itu kan tadi, beda dengan suasana hatiku sekarang. Aku ingin membahagiakan anak dan istriku."
"Baiklah, tapi aku harus beri Zafran ASI terlebih dahulu," ujar Zahira.
"Oh, iya. Ternyata anak Abi belum mimik dari tadi ya, uuu.. Kasihan sekali." Zico kembali mengecup seluruh wajah bayi mungil itu dengan gemas. "Mimik dulu sama Umi ya, tapi sisain buat Abi" ucapnya pada bayi berumur empat bulan itu dengan senyum nakal menatap Zahira.
"Mas!" seru wanita itu merasa sangat gemas dengan ucapan suaminya yang semakin mesum.
"Kenapa, Dek?" tanyanya berlagak polos.
"Ish, apa sih ngomong begitu sama anak sendiri, mesum banget," ucapnya masih sangat malu karena selalu di goda oleh Ayah anaknya.
"Hahaha... Yaudah, ayo beri ASI yang kenyang buat kesayanganku," ucapnya tanpa beranjak dari duduknya.
"Kamu keluar dulu, Mas. Aku malu," ucap Zahira.
"Kenapa malu? Aku ini suami kamu, apa yang ada pada dirimu halal untuk kulihat. Lagipula dulu aku sudah pernah melihatnya, dan kamu..."
"Mas!" potong Zahira menghentikan ucapannya, telinganya terasa semakin panas mendengar ocehan Zico yang tak berhenti.
"Hehe... Baiklah Sayang, aku akan keluar sekarang." Pria itu cengengesan saat ditatap tajam oleh sang istri.
Akhirnya Zico keluar, dan membiarakan Zahira memberikan ASI untuk putranya.
Sepuluh menit kemudian, Zahira sudah keluar dari mobil dengan menggendong Zafran. Bayi itu tampak begitu ceria, mungkin karena sudah kenyang.
"Udah mimiknya Nak, yuk sini, gendong sama Abi." Zico segera mengambil Zafran dari gendongan Zahira.
"Za, kita makan dulu ya, kebetulan ini juga sudah siang," ucap Zico minta pendapat pada isteri yang mengikuti langkahnya.
"Baiklah." Wanita itu ikut saja.
"Dek, mau menu apa? Ayo kita lihat ikannya dulu."
Pasangan itu melihat ikan segar yang ada didalam wadah khusus ikan segar yang masih hidup, begitu juga seafood segar. Mereka pesan terlebih dahulu baru segera di eksekusi oleh chef-nya.
Sembari menunggu, pasangan itu menikmati pemandangan laut lepas dari tempat duduk mereka. Zico begitu asyik bermain dengan bayi mungilnya. Pria itu sungguh bahagia dengan kenyataan yang sebenarnya.
Zahira hanya mengamati kebahagiaan sang suami, tampak Zico begitu menyayangi Zafran dengan tulus. Tanpa disadari Zahira tersenyum melihat pemandangan yang menghangatkan jiwanya.
"Jangan lihat aku begitu, Dek, nanti kamu jatuh cinta," ucap Zico yang membuat Zahira segera membuang tatapan.
"Apa sih, Mas. Aku tuh benci sama kamu," balasnya masih membuang muka.
"Benci tidak dilarang, tetapi banyakin cintanya," timpal Zico. Pria kaku itu mendadak jadi lembut dan kang gombal.
Bersambung....
Happy reading 🥰