Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 36


"Ah, ti-tidak Ma, Mas Zico sangat baik. Dia begitu menyayangi aku dan Zafran," jawab Zahira jujur adanya. Ya, meskipun awal mula bertemu kembali, sikap Pria itu terbilang menyakitkan, tapi dirinya bisa memahami bahwa semua yang dilakukannya hanya bentuk rasa takut kehilangan.


"Syukurlah, jadi cucu Mama ini namanya Zafran?" tanya Mama sembari mengambil Zafran dari gendongan Zahira.


"Iya, Ma," jawab Zahira segera memberikan bayi mungil itu pada neneknya.


Wanita baya itu tampak antusias menimang dan menyayangi sang bayi, begitu pula dengan Papa. Pasangan setengah abad itu benar-benar bahagia hadirnya seorang cucu.


Zico tersenyum menatap Zahira, tidak tahu bahwa wanita itu masih sangat kesal karena ulahnya yang hampir saja membuatnya malu setengah mati pada kedua mertuanya.


"Ngapain senyum-senyum? Masih kesal tahu," ucapnya cemberut.


"Hehe... Udah dong Sayang, kan aku udah minta maaf, sungguh aku tidak tahu bagaimana caranya memberi kejutan," jelasnya sembari menyandarkan kepala di bahu sang istri.


"Za, Mama dan Papa pulang dulu ya, biar Zafran Mama yang bawa. Nanti kamu pulang kerumah Mama. Banyak hal yang ingin Mama bicarakan dengan kalian berdua. Mama juga ingin kasih kado spesial buat kamu, karena kata Zico hari ini kamu ulang tahun," ujar Mama yang ingin memberi waktu berdua pada anak dan menantunya.


"Oh, iya Ma, aduh nanti Zafran ngerepotin Mama dan Papa," ujar Zahira merasa tidak enak.


"Tidak, Za, Papa dan Mama sangat senang bermain dengan bayi kesayangan kami ini. Udah, kamu jangan pikirkan, pokonya nanti pulang kerumah. Dengar kamu Zi?" tanya Papa memberi peringatan pada putranya.


"Baik, Pa. Nanti aku akan bawa Zahira pulang kerumah," jawab Pria itu serius.


Akhirnya sang bayi dibawa oleh Kakek dan Neneknya. Kini tinggal pasangan halal itu duduk di kursi meja yang mereka pesan tadi. Zahira tampak melamun.


"Sayang, kenapa bengong?" tanya Zico mengusap bahunya dengan lembut.


"Hah, nggak, aku gak pa-pa Mas," jawab wanita itu tersenyum, bagaimanapun hatinya sedikit pasti ada kekhawatiran saat melepaskan kepergian bayinya. Zahira hanya merasa canggung berpisah walau hanya sesaat, mendadak rasa traumanya datang, takut jika sang bayi akan dipisahkan dengannya.


"Jangan takut, Dek, aku tidak akan pernah memisahkan kamu dan anakmu, kita akan terus bersama menjaga dan membesarkan anak-anak kita hingga mereka dewasa kelak," ujar Zico begitu lembut sembari menggengam tangan wanita itu.


"Ya, aku seharusnya tidak boleh takut. Maafkan aku ya, Mas." Zahira tertunduk sungkan.


"Yaudah, kamu tunggu disini, aku mau pesan makan untuk kita."


Zico beranjak dari tempat duduknya, sesaat mata Zahira terbelalak saat melihat seseorang berdiri diambang pintu restoran mengeluarkan senpinya dan mengarahkan pada sang suami.


Dengan spontan wanita itu berdiri mengejar langkah tegap itu dan menghalangi punggung bidang dari sasaran amunisi yang akan melumpuhkan Ketua Hakim agung itu.


"Mas Zi, awas!" Zahira memeluk dari belakang dan menjadikan tubuhnya sebagai benteng pertahanan untuk suaminya dari serangan seseorang yang tak dikenal.


Dor! Dor!


Dua tembakan terlepas dari pelatuknya, seketika tubuh Zahira terpaku menahan sesuatu di punggungnya. Zico segera memutar tubuhnya dan segera meraih tubuh sang istri yang sudah merosot.


"Sayang, Dek!" teriak Pria itu menahan tabuh wanita itu agar tak jatuh kelantai.


Seketika pengunjung restoran berkerumun menyaksikan peristiwa mengerikan itu. Zahira masih bisa menatap sayu pada sang suami.


"Tolong panggil ambulance sekarang!!" Teriak Zico pada mereka yang mengerumuni.


"Kami sudah menghubungi ambulance Pak," jawab salah seorang.


"Mas...," lirih Zahira dengan mata hampir tertutup.


"Iya, Sayang, kamu jangan bicara apapun. Aku kan membawamu ke RS. Rasanya lama sekali ambulance datang, Zico sudah tak sabar, ia segera menggendong tubuh sang istri yang telah berlumuran da rah.


"Ayo, tolong kemudikan mobil saya," ucap melempar kontak mobilnya pada salah seorang yang ada di sana.


Pria itu segera membawa istrinya menuju RS agar sang istri segera mendapatkan penanganan. Diperjalanan Zico memeluk erat tubuh wanita cantik itu.


"Sayang, sabar ya, kamu harus kuat, jangan tinggalkan aku dan Zafran, Dek," lirihnya dengan air mata yang tak dapat terbendung.


"Mas, a-aku ngantuk," ucap Zahira dengan suara lemah.


"Tidak, Dek! Kamu tidak boleh tidur. Kamu harus tetap bangun!" Pekik Pria itu dalam ketakutan.


"Tolong lebih cepat lagi!" sentaknya pada pengemudi itu.


Pria yang diminati pertolongan itu segera menambah kecepatan mobil itu, hingga tak berapa lama mobil sudah berhenti di depan lobi RS. Dokter dan perawat segera membantu membawa Zahira untuk masuk kedalam ruang IGD.


"Pasien harus segera dibawa ke ruang operasi, Pak. Mohon mengurus segala persetujuannya," ucap seorang Dokter jaga di IGD.


"Saya akan mengurusnya, sekarang tolong selamatkan istri saya!" jawab Zico, Pria itu tampak begitu kacau.


"Baiklah, kami akan segera mengambil tindakan." Zahira yang telah tak sadarkan diri, segera dibawa keruang operasi untuk pengambilan peluru yang masih bersarang di organ tubuhnya.


Begitu panik, Pria itu terlihat mondar mandir di Depan pintu ruang operasi itu. Pikirannya begitu kalut. Zico menghubungi kedua orangtuanya dan menceritakan kejadian naas itu.


Mendapatkan kabar dari putranya sontak membuat pasangan itu terkejut, Mama sangat histeris mendengar bahwa Zahira sedang kritis.


"Tidak! Ini tidak mungkin, Pa! Mama takut terjadi sesuatu pada Zahira. Ya Allah, kenapa berat sekali ujian ini. Hiks..."


"Tenang dulu, Ma. Ayo kita ke RS sekarang," ujar Papa mencoba menenangkan istrinya yang baru beberapa jam mendapatkan kebahagiaan atas pertemuan dengan menantu dan cucunya.


"Pasangan yang tak lagi muda itu segera beranjak menuju ke RS, mereka juga membawa Zafran, tak ingin meninggalkan bayi mungil itu.


Setibanya di RS mereka melihat Zico sedang menarik kerah baju seorang Dokter di depan pintu RS. Pria itu terlihat tak bisa menahan emosi dan tangisnya.


"Dok, saya mohon tolong selamatkan istri saya!" pekik Zico pada Dokter yang menangani.


"Maaf, Pak. Kami sudah melakukan semaksimal mungkin. Tapi memang fisik pasien sangat lemah, maka mengalami koma. Mari kita sama-sama berdo'a. Semoga Bu Zahira mempunyai semangat hidup yang kuat agar dia bisa melawannya untuk masuk ke alam kesadaran."


Dokter menjelaskan dan memberi alasan mengapa Zahira bisa koma, mau tidak mau Zico dan keluarga harus menerima kenyataan pahit itu. Pria tiga puluh lima tahun itu menatap kedua orangtuanya.


Zico menangis dalam pelukan sang Papa menumpahkan segala perasaannya yang tak terkira rasa sedih mendera. Mama Dian tak kuasa menahan tangisnya yang ikut pecah bersama sang Putra.


Bersambung.....


Happy reading 🥰