Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 49


Selesai berbersih, pasangan itu segera mengisi perutnya. Semua hidangan sudah tersedia setelah pegawai hotel mengantarkan ke kamar mereka.


"Makan yang banyak, Dek, soalnya masih lama hari pagi," seloroh Pria itu sembari mengisi piring untuk kekasihnya.


Mila hanya tersenyum simpul menerima piring yang telah berisi makanan. Setelah makan pasangan itu duduk beberapa saat, setelah itu Mila beranjak naik keatas ranjang untuk istirahat. Sementara itu Adri masih sibuk dengan ponselnya.


Merasa bosan dengan ponselnya, Adri menutup layar tipis itu dan menatap ke arah ranjang. Terlihat Mila sudah terlelap dengan nyaman. Gadis itu percaya bahwa Pria bersamanya tidak akan pernah bertindak buruk, karena Mila tahu mereka saling mencintai, maka mereka saling percaya.


Adri menyusul wanita itu dan berbaring di sampingnya, sebelumnya ia memperbaiki selimutnya. Tak ingin menjadi munafik, suasana seperti ini sungguh menguji iman dan rasa sabarnya. Adri memeluk wanita itu dengan perlahan, jangan ditanya bagaimana reaksi tubuhnya yang lain saat tidur posisi bersentuhan seperti ini.


Pagi-pagi sekali Mila terbangun dari tidurnya, ia merasakan ada tangan kekar yang sedang memenjarakan tubuhnya. Seketika matanya membelalak saat menyadari Pria itu sedang memeluk dirinya.


Mila memeriksa pakaiannya. Alhamdulillah masih utuh. Perlahan ia melepaskan tangan Adri yang masih melingkar di pinggangnya. Dengan pelan ia memutar tubuh menghadap pada Pria itu.


Mila menatap wajah tampan yang sedang tidur begitu damai, senyum membingkai di bibirnya melihat pemandangan yang membuat hatinya nyaman. Tangannya terulur mengusap wajah itu dengan lembut.


Apakah kita bisa bersama, Mas? Kenapa hatiku ragu dengan hubungan kita ini, rasanya sulit menjalani hubungan ini tanpa restu Mama kamu.


Wanita itu bicara sendiri di batinnya. Masih terlena membelai pipi Pria itu, tanpa sadar yang punya badan sudah membuka matanya dengan sempurna.


Adri menumpuk telapak tangannya di punggung tangan wanita itu, dengan lembut ia meraihnya dan meletakkan di dadanya.


"Ah, Mas, sudah bangun?" tanya Mila sedikit gelagapan sembari ingin menarik tangannya, tetapi Pria itu menahan, lalu mengecup dengan lembut.


"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanyanya lembut.


"Mas, tidak perlu anterin aku ke kampung. Aku naik travel saja. Lagipula tangan kamu pasti tidak akan bisa mengemudi sejauh itu," jelas Mila, ia juga tidak ingin merepotkan Pria itu. Apalagi hari lebaran pertama, seharusnya Adri bersama keluarga besarnya. Mila tak ingin keluarga Adri semakin membencinya.


"Jangan pikirkan itu, aku akan telpon driver, mereka yang akan mengantarkan kita," jawab Adri begitu enteng.


"Tapi, Mas?"


"Tapi kenapa? Kamu tidak suka jika aku datang mengunjungi orangtuamu?"


"Bu-bukan itu maksud aku, Mas, tapi aku takut jika Mama kamu akan semakin membenciku, seharusnya kamu pulang dan berkumpul bersama keluarga besar kamu," ungkapnya jujur sekali.


"Jangan pikirkan itu lagi, aku sudah memutuskan akan tetap menikahi kamu meskipun tak ada restu dari Mama," ujar Pria itu tampak serius.


"Mas, jangan lakukan hal itu. Kita tidak akan bahagia bila menikah tanpa restu orangtua kamu," jelas Mila.


"Dek, untuk kali ini aku tidak bisa mengikuti keinginan Mama, aku berhak menentukan kebahagiaanku sendiri. Aku tidak peduli, tolong jangan menolak pengorbanan aku." Adri menggengam tangan Mila dengan erat.


"Aku takut, Mas," lirihnya.


"Jangan takut, Sayang, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Karena hanya kamu kebahagiaanku."


Akhirnya wanita itu tak bisa berkata-kata lagi, tak bisa di pungkiri bahwa hatinya juga tak mampu berpisah dari kekasih hatinya.


Pasangan itu segera bersiap untuk melaksanakan sholat Ied, setelah itu mereka akan melakukan perjalanan menuju kota Padang. Adri berniat untuk melamar Mila pada kedua orangtuanya.


***


"Sayang, bawa sini Zafran, udah, sana kamu mandi dan bersiap," ujar Zico mengambil alih pekerjaan istrinya.


Pria itu sudah mengenakan pakaian Koko dan kain sarung yang serba new, Ketampanan Pak Hakim itu semakin tergambar nyata. Rasanya tak ada wanita yang tak terpesona melihatnya.


Zahira masih terpaku melihat pesona Ayah dari satu anak itu. Sementara yang sedang diperhatikan sibuk dengan bayi mungil yang sedang aktif itu.


"Sayang, kamu kok bengong?" tanya Zico kedapatan sang istri sedang menatap dirinya.


"Ah, i-iya. Aku akan segera mandi." Zahira segera melesat masuk ke kamar mandi.


Zico hanya menggeleng, sejenak pikirannya terusik, apakah wanita itu kembali lupa? Ah, itu tidak mungkin rasanya. Pria itu kembali menyelesaikan memasang pakaian bayi yang berumur tujuh bulan itu.


"Hah, akhirnya selesai juga anak Abi pake baju barunya. Kamu tampan sekali sayang," celoteh Pria itu dengan putranya.


Zahira keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang masih melilit ditubuhnya. Kehadiran wanita itu mencuri atensi Ayah dari anaknya.


Zahira mengambil pakaian gamisnya di lemari, dan segera mengenakannya. Setelah selesai bersiap dan rapi. Pasangan itu keluar untuk bergabung dengan Papa dan Mama yang sudah menunggu di ruang keluarga.


"Kalian sudah siap? MasyaAllah tampan sekali cucu Nenek. Sini gendong sama Nenek." Wanita baya itu mengambil Zafran dari gendongan Abinya.


"Sudah siap? Ayo kita pergi sekarang," ajak Papa berjalan terlebih dahulu.


Keluarga itu melaksanakan ibadah Ied di sebuah masjid yang ada di kompleks itu. Selesai sholat, mereka saling bermaafan. Zahira memohon maaf pada Mama mertuanya.


"Ma, mohon maaf lahir dan batin, maafkan segala kesalahan yang aku, mungkin selama menjadi menantu Mama, aku banyak menyakiti perasaan Mama," ujarnya mengambil tangan wanita baya itu.


"Sama-sama, Nak, Mama juga minta maaf bila belum bisa menjadi Ibu mertua yang baik untukmu," jawab Mama mengecup kening anak menantunya dengan sayang.


Selesai bermaaf-maafan, keluarga itu pulang terlebih dahulu untuk menyicipi menu lebaran yang sudah lengkap diatas meja. Ada opor ayam, lotek, lontong sayur. Dan bermacam menu lainnya. Selesai makan bersama, keluarga itu duduk diruang keluarga untuk menunggu keluarga dari adik-adik pasangan setengah abad itu.


Karena mereka adalah Kakak tertua, maka adik-adiknya yang akan berkunjung terlebih dahulu kekediaman Abang dan Kakaknya. Zahira pamit untuk kekamar ingin menidurkan Zafran yang sudah mulai rewel karena mengantuk.


Zico menyusul istrinya yang merasa tak kunjung keluar dari kamarnya. Pria itu membuka pintu dengan perlahan, terlihat sang istri sedang terlelap bersama buah hatinya.


"Ya Allah, ditungguin dari tadi malah asyiknya tidur kamu, Dek," ucap Zi sembari menghampiri ranjang.


Pak Hakim juga ikut berbaring disamping istrinya, lalu memeluk dengan lembut. Zahira yang mode tidur tipis, ia terbangun karena merasa ada tangan yang membelenggu tubuhnya.


Sesaat wanita itu teringat bahwa dirinya belum meminta maaf pada suaminya, karena tadi ia berniat ingin meminta maaf saat berdua seperti ini, maka suasananya akan mendukung.


"Mas Zi, aku minta maaf ya, maafkan segala kesalahanku selama ini. Mungkin aku sering membuat kamu sakit hati, sikapku yang masih kekanak-kanakan, terkadang tutur bicaraku yang yang tak sengaja menyakitimu. Dan tolong maafkan aku, karena tanganku sudah pernah menampar dirimu. Maafkan aku Mas," lirihnya merasa berdosa.


Zico tersenyum sembari mengecup kening wanita itu. "Sebelum kamu minta maaf, aku sudah terlebih dahulu memaafkan kesalahanmu, Dek. Aku minta maaf juga ya Sayang, akulah yang paling banyak dosa karena sudah banyak menyakiti perasaan kamu," ujar Pria itu meminta maaf.


Bersambung....


Happy reading 🥰