
Adri masih diam mematung duduk seorang diri. Makanan yang tadi rasanya sangat enak, kini sudah menjadi hambar, selera makan Pria itu sirna seketika. Diam-diam Mila memperhatikan dari balik steling makanan.
Ada rasa bersalah karena telah membohongi, mungkin juga sudah melukai perasaan Pria itu. Tapi Mila merasa sedikit tak percaya, apakah mungkin Adri masih menyimpan cinta untuknya sedalam itu?
Mila sudah tak ingin ambil pusing, ia segera menyibukkan diri dengan segala aktivitasnya. Walau sebenarnya dihati kecilnya masih ada rasa peduli yang begitu besar. Namun kembali lagi ia mengingat pesan Ayah dan Ibu.
Ah, rasanya sakit sekali bila cinta tam direstui. Tapi apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya adalah bentuk kasih sayang yang begitu besar padanya.
Ayah dan Ibu tak ingin melihat dirinya suatu saat nanti menderita bila terkena sasaran emosi mertuanya, biarlah hidup sederhana asalkan kedua belah pihak saling merestui.
Entah mengapa Adri tak ingin beranjak dari tempat duduknya, entah apa yang ada dalam pikiran Pria itu. Mila tak ingin menghiraukan, ia hanya fokus dengan pekerjaannya.
Sore setelah Kantin tutup, Adri segera meminta izin pada Mbak Amera untuk membawa Mila jalan keluar sebentar. Karena Mbak Amera sudah tahu mereka pacaran, maka sudah tak ada lagi rasa curiga.
"Mbak, aku minta izin untuk membawa Mila keluar sebentar ya, ada hal penting yang harus kami bahas," ujar Pria itu minta izin.
"Oh, baiklah. Tapi jangan lama-lama pulangnya ya," pesan wanita itu memberi izin.
"Mas, kamu mau aku kemana? Aku tidak ingin pergi denganmu," ujar Mila sedikit memelankan suaranya.
"Ssstt.. Jangan berisik Mila, nanti Mbak Amera tahu tentang hubungan kita," ujar Adri sembari berbisik.
"Biarkan saja Mbak Ame tahu, memang kenyataannya begitu, Mas, kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi," balas wanita itu menatap tidak suka.
"Baiklah, jika kamu memang tak menginginkan hubungan kita berlanjut, tapi aku ingin kita bicara lebih serius terlebih dahulu, tolong jangan menolak untuk kali ini saja," ujarnya memohon.
Merasa tidak tega, maka gadis itu menerima tawarannya untuk keluar dengan perjanjian hanya sebentar saja. Mila pamit dengan Mbak Amera, tentu saja di izinkan.
Diperjalanan kedua insan itu diam seribu bahasa, entah apa yang ada dalam otak mereka masing-masing. Adri membawa Mila kesebuah Cafe.
"Silahkan duduk Dek," ucap Adri menarik sebuah kursi untuk diduduki oleh gadis yang ia cintai.
Mila hanya mengangguk tipis, entah kenapa perasaannya masih saja gugup saat mendapat perhatian dari Pria itu.
"Sebentar ya, Dek, aku pesan minum dulu." Adri segera menemui pelayan Cafe, entah apa yang ia bicarakan dengan pelayanan Cafe itu, setelah itu ia segera menuju toilet.
Tak berselang lama pelayan datang membawakan pesanan pasangan itu. Mila hanya mengangguk ramah menyambut hidangan pelayan Cafe.
"Maaf ya agak lama," ujar Adri berbasa-basi.
"Iya tidak apa-apa." Mila menjawab sekenanya saja.
"Ayo minum, Dek," ucap Pria itu mempersilahkan Mila untuk minum, sembari menyesap minumannya sendiri.
Gadi itu mengangguk tipis, segera menyesap jus mangga kesukaannya. Adri masih memperhatikan gadis yang teramat dirindukannya. Andai saja wanita itu tak menolak dirinya, maka saat itu juga ia akan mendekap tubuh itu untuk menjumlahkan rasa rindu.
"Mau bicara apa, Mas?" tanya Mila langsung pada pokok pembahasan.
"Ah, aku ingin bicara sesuatu padamu."
"Iya, apa itu?" tanya Mila sangat penasaran.
"Dek, aku ingin kita tetap menikah, meskipun tidak ada restu dari kedua orangtua kita."
"Maaf, Mas, aku tidak bisa," jawab Mila masih kokoh dengan pendiriannya.
"Tapi aku tidak peduli, kamu setuju atau tidak," balas Adri.
"Apa maksud kamu, Mas?" tanya Mila tak mengerti, Gadis itu tampak duduk tak tenang dengan gelisah.
"Kamu kenapa Mila?" tanya Adri sedikit heran.
"Nggak tahu, Mas. Kenapa rasanya gerah ya." Mila sudah mulai mengibaskan pakaiannya.
"Ayo kita pergi sekarang, Adri tak ingin tingkah aneh gadis itu dilihat oleh orang.
Mila hanya ikut saja saat tangannya digenggam oleh Adri. Ada perasaan sesuatu dihatinya saat bersentuhan dengannya. Ada gelayar sesuatu sehingga membuat tubuhnya beraksi tak bisa ditahan.
"Mas, kita mau kemana?" tanya gadis itu begitu manja, tanpa sadar tangannya sudah mulai memegang tangan Adri.
Pria itu tak menyahut, ia menambah kecepatan mobilnya untuk sampai di kediamannya. Tak berselang lama mobil yang dikendarai oleh Pria itu sudah menepi dihalaman rumahnya. Adri segera menggiring Mila untuk masuk kedalam rumah.
Mila dengan semangat mengikuti langkah Adri menuju kamarnya, Mila masih bergelayut manja di lengannya, Adri segera masuk dan mengunci pintu kamarnya.
Tak ada cara lain untuk mendapatkan gadis itu seutuhnya, rasanya sudah mentok akal, maka dengan cara menyimpang agar gadis itu mau menikah dengannya. Adri segera menghampiri Mila yang sudah tak tahan untuk tempur.
"Mas, aku sudah tidak tahan," lirihnya saat Pria itu sedang memberi sentuhan pada seluruh tubuh sintalnya. Adri tak menghiraukan, sebagai lelaki normal tentu saja tubuhnya juga beraksi begitu menantang.
Adri menidurkan wanita itu diatas ranjangnya. Kedua insan itu telah dilanda kabut gai rah. Hubungan yang seharusnya belum boleh mereka lakukan, maka telah mereka nikmati surga dunia itu.
Adri mengambil barang berharga dari wanita itu. Ada sesal dihatinya saat menatap wajah cantik yang sudah tepar disampingnya. Adri menyelimuti tubuh polos itu agar tidur dengan nyaman.
Pria itu mengecup seluruh wajah wanita yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Bahkan ia berharap dengan percintaan ini dapat membuahkan hasil di rahim sang kekasih agar dia segera menikahinya.
"Maafkan Mas, Dek, Mas tahu setelah mengetahui yang sebenarnya kamu pasti akan membenciku. Tapi aku yakin kamu tidak akan mungkin bisa menolakku lagi," gumam Pria itu sendiri sembari meninggalkan jejak sayang di keningnya.
Adri segera berbaring sembari memeluk sang kekasih untuk menemui mimpinya. Adri begitu nyaman mendekap tubuh wanita itu. Tak perlu lama ia segera masuk ke alam mimpi.
Pagi sudah menjelang, Mila membuka matanya, perlahan ia mengembalikan kesadaran naik kepermukaan. Dengan perlahan ia mengamati sekeliling ruangan itu. Saat ingin bergerak, namun ada sesuatu yang membelenggu tubuhnya.
"Aaaahkk!!" Pekiknya saat menyadari tubuhnya sedang tak menggunakan apapun selain kain tebal itu yang membungkus.
"Pagi, Sayang!" balas Pria itu dengan mata setengah terbuka. Ia tahu Mila sedang shock melihat kenyataan yang ada dihadapannya.
Saat Mila hendak beranjak, namun ia merasakan tubuh bagian intinya begitu sakit dan ngilu. Mila meringis dan segera menangis histeris. Ia kembali mengingat kejadian semalam, sungguh ia merasa Malu saat teringat bagaimana ia sangat menginginkan sentuhan dari Pria yang ada disampingnya.
"Hiks... Hiks... Apa yang terjadi, kenapa aku bisa menjadi bodoh seperti ini. Huuu..." Tangis Mila pecah.
"Ssstt.. Jangan menangis, Dek, semua sudah terjadi. Kita harus segera menikah," timpal Pria itu tampak begitu santai sembari ingin memeluk kembali.
"Lepas, Mas! Jangan sentuh aku!" sentak wanita itu menghempaskan tangan Adri.
Adri tahu bahwa hati wanita itu sedang tak baik-baik saja. Adri memberi ruang untuk Mila menumpahkan segala rasa sedih dan kecewanya.
Pria itu segera bangun dan menuju kamar mandi. Selesai ritual mandi wajibnya, Adri keluar. Ia kembali mencoba untuk mendekati gadis itu yang masih dengan tangis kecewanya soda diri sendiri.
"Sayang, mandilah. Nanti Mbak Ame resah menunggu dirimu," ujar Adri mengingatkan.
Mila tak menyahut, tapi segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dalam kamar mandi Kembali tangisnya tumpah. Hati wanita itu hancur, teringat kembali pesan Ayah dan Ibu agar tak lagi menjalin hubungan dengan Pria itu, ini bahkan tak sekedar menjalin hubungan, tapi telah menyerahkan kehormatan yang selama ini ia jaga.
Mila menangis terisak-isak, dia memang mencintai Pria itu, tapi bukan berarti harus melakukan hal tekutuk itu.
"Dek, apakah kamu baik-baik saja?" teriak Adri dari luar, ia merasa cemas, karena sudah setengah jam gadis itu berada di kamar mandi, tapi belum juga keluar.
"Selang beberapa saat Mila keluar dengan wajah kuyu, matanya terlihat begitu sembab. Tak tahu harus bicara apa, bahkan ia tak tahu siapa yang salah diantara mereka.
"Sayang, kenapa wajah kamu pucat sekali? Ayo istirahat kembali ya, besok pagi aku akan mengantarkan kamu pulang kerumah Mbak Amera," ujar Adri memberi solusi, tak tega melihat wanitanya yang tampak masih kacau.
"Antarkan aku pulang sekarang, Mas," ujar Mila datar.
"Tidak, kamu harus istirahat disini. Aku akan meminta izin pada Mbak Ame," balasnya kembali tak ingin dibantah.
"Aku tidak akan mau disini!" sentak Mila dengan tatapan tajam.
"Terserah, suka tidak suka, yang jelas kamu harus disini!"
Adri juga tak mau kalah. Dia tak mengizinkan Mila untuk pergi, entah apa lagi yang ada dalam pikirannya. Pria itu tampak begitu santai menghadapi masalah besar yang telah ia timbulkan. Tampak begitu pasrah menghadapinya.
"Mas, kamu tidak ada hak melarang diriku! Ini semua gara-gara kamu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sehingga aku tak mempunyai harga diri dihadapanmu! Apakah ini semua kamu yang melakukan?" tanya wanita itu menatap penuh curiga.
Adri hanya diam tak menanggapi. Dia segera keluar dari kamar, tak ingin berdeba. Ia tahu hati wanita itu sedang kacau. Sebaiknya ia menepi sesaat, membiarkannya untuk sedikit lebih tenang.
Melihat Adri beranjak pergi, maka Mila juga bergegas mengikuti langkah Pria itu. Ia segera membuka pintu utama untuk pergi dari tempat itu. Namun Adri segera meraih tangan Mila dan mengunci pintu rumah itu, lalu mencabut anak kuncinya.
"Mas, apa yang kamu lakukan!" sentak wanita itu tak terima atas priaku Pria yang tampak berubah.
"Aku hanya ingin kamu tetap disini, kita akan segera menikah besok pagi," ujar Pria itu yang membuat hati Mila ketar ketir.
"Aku tidak mau, Mas!"
"Kenapa tidak mau? Apakah kamu kira ada orang yang mau menerima dirimu setelah apa yang telah kita lakukan!" sanggah Pria itu begitu gemas dengan tingkah wanitanya yang masih saja menolak.
"Aku tidak mau menikah bila orangtua kamu tidak menyukai aku, Mas! Dan apa kata Ibu dan Ayah? Kenapa kamu tidak mengerti, apakah sengaja memberi masalah?" pekik wanita itu sangat kesal.
"Ya, aku sengaja mencari masalah agar kita bisa menikah. Bahkan aku berharap dirahimmu akan segera tumbuh benihku," jawab Adri dengan jujur.