
"Bu-bukan itu maksud aku, Mas. Aku hanya takut Ayah dan Ibu tidak mau merestui kita," ucap Mila dengan raut wajah sedih.
"Jika mereka tak merestui kita, apakah kamu tidak bersedia ikut denganku?" tanya Adri ingin tahu bagaimana kesungguhan hati wanita itu.
"Baiklah, aku akan ikut kemanapun kamu pergi, Mas. Aku tidak ingin kita berpisah. Kamu janji ya, jangan pernah tinggalkan aku," jawab wanita itu begitu pasrah, dua titik buliran bening jatuh di pipinya.
Adri segera meraih tubuh calon ibu dari anaknya itu, membawanya masuk kedalam pelukan. Berulang kali ia memberi tanda sayang di wajahnya.
"Jangan takut akan hal itu, Dek, aku tidak mungkin pergi meninggalkan kamu. Saat ini hanya dirimu dan calon anak kita yang akan aku perjuangkan," ucapnya meyakinkan Mila.
Mila mengangguk percaya dengan segala ucapan yang keluar dari bibir calon suaminya. Untuk saat ini ia tak mempunyai pilihan lain lagi selain pasrah mengikuti keinginan Adri. Anak yang ada dalam kandungannya memang harus di perjuangkan haknya untuk mempunyai keluarga yang utuh.
Setibanya di kamar hotel, Adri membantu Mila untuk berbaring. Dengan sayang Pria itu membelai rambut Mila untuk mengantarkannya ke alam mimpi.
"Tidur, Sayang, perjalanan kita masih jauh," ucapnya masih membelai dengan lembut, sehingga tak perlu lama Mila sudah berada di alam mimpi.
Pagi-pagi sekali Adri sudah bersiap mengemasi barang-barang memasukkan kedalam bagasi mobil. Dan sebelum berangkat, mereka kembali singgah ke dapur oleh-oleh yang ada di kota itu untuk mengambil pesanan mereka.
Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, pasangan itu kembali melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman Mila. Berharap untuk kali ini tak gagal lagi mendapatkan restu orangtua.
Di perjalanan Mila tak banyak bicara, ia hanya menghabiskan waktu untuk tidur, mungkin bawaan hamil muda. Adri juga tak ingin mengganggu ketenangan calon istrinya itu.
Tak terasa waktu berjalan, kini kendaraan roda empat itu sudah memasuki wilayah kampung halaman Mila. Adri memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah sederhana itu.
"Sayang, ayo bangun, kita sudah sampai," ujar Pria itu membangunkan dengan lembut.
"Hah? kita udah sampai, Mas? Ya Allah, aku kok kebablasan banget tidurnya," ucap Mila merasa benar-benar membiarkan Adri sendiri tanpa teman dalam mengemudi.
"Nggak pa-pa, Sayang, ayo kita turun," ajak Adri begitu lembut dan penuh perhatian.
Saat kedua pasangan itu turun dari mobil, Ayah dan Ibu sudah menunggu dengan tatapan yang heran. Apa-apaan ini, kenapa Mila pulang membawa Adri. Bukankah kedua orangtuanya sangat melarang dirinya untuk tidak dekat lagi dengannya.
"Assalamualaikum, Bu, Yah," ucap pasangan itu sembari menyalami tangan kedua orangtuanya.
"Wa'alaikumsalam..." Ayah dan ibu menjawab dengan datar.
Pasangan itu duduk dihadapan kedua orangtuanya. Adri sudah tak ingin menunggu lagi untuk menyampaikan niatnya yang ingin segera menikahi Mila.
"Maaf, Bu, Yah, mungkin kalian tidak mengharapkan kehadiranku kembali. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Mila, aku dan Mila saling mencintai. Tolong restui pernikahan kami," ujar Adri langsung dengan pokok pembahasan.
"Kenapa kamu ini keras kepala sekali? Ayah sudah katakan, ayah tidak ingin Mila menderita, karena orangtuamu tidak menginginkan Mila untuk menjadi menantunya," jawab ayah masih mengemukakan alasan yang sama.
"Tapi aku berjanji tidak akan pernah mengabaikan Mila, aku tidak akan membiarkan Mama menyakitinya. Dan aku akan menjauhkan Mila dari Mama sebelum Mama bisa menerimanya. Tolong, Yah, aku sangat memohon," ujar Pria itu masih berjuang.
"Tidak! Jawabannya tetap tidak!" bantah Ayah dengan tegas.
"Jika Ayah dan Ibu masih belum bisa memberi restu, maka aku dan Mila akan mengambil jalan pintas, yaitu kami akan tetap menikah meskipun tak ada restu dari kalian!" balas Adri juga begitu tegas.
"Kamu berani mengancamku? Silahkan kalau kamu berani, aku akan melaporkanmu ke kantor polisi!"
"Tidak! Ayah tidak bisa melakukan hal itu! Karena di dalam rahimku sudah ada anak yang sangat membutuhkan pengakuan dari ayahnya, dan aku akan tetap menikah dengan Mas Adri meskipun tanpa restu Ayah dan Ibu!" ucap Mila yang membuat jantung Ayah dan Ibu berasa ingin lompat seketika.
"Dasar anak tak tahu di untung!" Ayah ingin menampar Mila dengan emosi yang mendidih, namun Adri dengan sigap menggantikan pipinya untuk pelampiasan amarah calon ayah mertuanya itu.
Plakk!
"Ayah boleh menghajar diriku sesuka hati Ayah untuk membalas segala rasa sakit yang Ayah dan ibu rasakan saat ini. Tapi tolong jangan sakiti Mila sedikitpun. Karena semua yang terjadi adalah perbuatan aku. Aku yang merencanakan segalanya, Mila tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Karena aku kehabisan cara untuk membuat Mila tak lepas dariku," ujar Adri menjelaskan dengan jujur.
Bersambung....
Happy reading 🥰