Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bimbang


Setelah urusan mereka beres, Zico harus balik ke kota tempat dirinya berdomisili. Itu tandanya kedua lelaki kesayangan Zahira itu harus meninggalkan dirinya sendiri disana.


"Sayang, kamu harus setiap saat memberiku kabar," pesan lelaki itu pada sang istri.


"Ya baiklah, Mas. Kamu juga begitu ya," pinta Zahira sebaliknya.


"Tentu saja, Sayang." Zico memeluk tubuh istrinya sesaat dan mengecup wajahnya berulang kali. "Aku pulang dulu ya, kamu jaga diri baik-baik. Jangan keluyuran kemana-mana," pesannya sembari merangkum kedua pipi mulus wanita itu.


"Baik, Mas. Kamu disana jaga diri dan juga anak-anak," pesan Zahira sebaliknya.


"Oke, Sayang. Aku pamit ya."


"Umi, Abang pamit ya. Umi jaga kesehatan kami pasti sangat merindukan Umi," ucap Zaf sembari menghambur dalam dekapan wanita kesayangannya.


"Tentu, Sayang, Umi pasti akan jaga kesehatan. Abang jangan nakal ya. Harus nurut sama Abi, Oma dan opa," pesannya pada sang Putra.


"Baik, Umi." Zafran mengecup kedua pipi sang Ibu. Ini kali pertama mereka berpisah dan tentu saja membuat mereka terasa begitu canggung.


Zahira memeluk putranya begitu erat. Andai saja tidak sayang dengan pendidikannya yang sudah hampir selesai, maka ia tidak akan mungkin mau berpisah dengan suami dan anak-anaknya.


"Aku berangkat ya." Zico kembali memeluk wanita itu dengan penuh kehangatan.


"Titip anak-anak ya, Mas. Aku pasti akan merindukan kalian," lirih wanita itu dengan isakan kecil.


"Baik, Sayang. Sudah jangan menangis lagi. Katanya mau semangat. Ayo semangat dong," ucap Zi memberi penghiburan.


Zahira segera melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata dengan cepat. Wanita itu mengantarkan kepergian suami dan anaknya hingga mobil yang dikendarai Zi hilang dari pandangannya.


Zahira kembali ke kamarnya setelah memastikan kedua lelaki kesayangannya telah pergi. Rasanya berat sekali harus berpisah.


"Aku tidak boleh cengeng seperti ini. Lagian Mas Zi akan datang mengunjungiku setiap minggunya," ucapnya menyemangati diri sendiri.


***


Tak terasa waktu terus bergulir, kini sudah hampir satu minggu Zahira mengulang studinya. Karena ilmu yang selama ini ia pelajari masih segar dalam ingatan, maka Zahira tidak kesulitan untuk mengejar ketertinggalannya.


Zahira segera bersiap setelah jam kuliah selesai, Wanita itu masih fokus menyusun buku-buku yang akan segera ia bawa.


"Zahira, nanti ke ruangan saya ya!" ucap Pak Anwar, yaitu dosen pembimbingnya.


"Ah, maaf. Ada apa ya, Pak?" tanya Zahira ingin tahu.


"Ada yang ingin saya sampaikan, yaitu tentang tugas PKL kamu," jelas Pak dosen.


"PKL? Kenapa saya harus PKL lagi? Bukankah waktu itu saya sudah mengerjakannya, Pak?" tanya wanita itu tak mengerti.


"Zahira, sesuai kesepakatan kita waktu itu. Kamu hanya perlu PKL selama tiga bulan, dan habis itu baru kamu di perbolehkan untuk menyusun skripsi kembali," tegas sang dosen tak bisa di bantah. Lelaki yang di perkirakan berumur empat puluh tahun itu segera beranjak meninggalkan Zahira yang masih terpaku disana.


"Ck, kenapa harus ada PKL lagi? Kira-kira aku akan di tugaskan kemana ini," rutu wanita itu sembari menumpuk buku-bukunya dan segera mengikuti langkah Pak Anwar menuju ruangannya.


"Permisi, Pak!" ucap Zahira diambang pintu.


"Ayo masuk dan duduklah!" titah Pria yang mengenakan kacamata itu.


Zahira mengangguk patuh dan segera duduk. Wanita itu menatap sekilas pada raut wajah dosennya yang terkenal sedikit killer.


"Maaf, Pak. Kalau saya boleh tahu, dimanakah saya akan mengikuti Praktek kerja lapangan?" tanya Zahira cemas jika ia akan lebih jauh lagi dengan suami dan anak-anaknya.


Zahira terdiam sejenak. Ia masih bimbang, bagaimana nanti harus di tugaskan jauh? Atau bahkan bisa keluar negeri. Ah, rasanya ia ingin menyerah saja.


"Zahira, kenapa kamu terlihat tidak senang begitu? Seharusnya kamu senang karena pihak dosen dan para rektor tak memintamu mengulang ketertinggalan kamu. Kamu cukup melakukan dua tugas itu saja. Saya rasa jika kamu benar-benar serius melakukannya, maka dalam waktu enam bulan ini kamu sudah bisa wisuda," terang Pak Anwar pada mahasiswinya.


"Baiklah, Pak. Saya akan coba membicarakan hal ini dengan suami saya. Kalau bisa saya minta di tugaskan jangan sampai terlalu jauh, Pak, karena saya mempunyai bayi yang harus mendapatkan perhatian dari saya," jelas Zahira memohon pengertian Pak dosen.


"Akan kami pertimbangkan. Ayo semangat, agar studimu selesai dengan cepat dan efisien!" ucap Pria itu menyemangati.


"Baiklah, terimakasih Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit wanita itu.


"Ya silahkan!"


Zahira segera keluar dari ruangan Pak dosen. Hati wanita itu mendadak galau sehingga langkahnya tak bersemangat. Zahira keluar dari gedung perkuliahan itu dengan wajah lesu.


Tin! Tin!


Suara klakson mobil mengagetkan dirinya yang sedang tidak fokus karena pikirannya sedang berjalan entah kemana-mana.


"Hai, cantik!" suara bariton yang sudah tak asing lagi. Lelaki itu segera berdiri di depan mobilnya dengan senyum semanis madu.


"Mas Zi!" pekik Zahira dengan senyum sumringah. Zahira berlari kecil menyongsong lelaki itu yang sudah merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang istri.


Zahira segera menubruk tubuh tegap itu dengan penuh rasa kerinduan. "Masya Allah, aku seneng banget kamu datang, Mas!" ujarnya memeluk erat seraya membenamkan wajahnya di dada bidang Zico.


"Aku juga sangat bahagia bisa mendekap tubuhmu kembali, setelah satu minggu tak aku temui kenyamanan disini," sahut Zi tak kalah mesranya menyambut sang istri.


Ternyata adegan mesra pasangan halal itu di tonton orang-orang sekeliling mereka. Mereka tampak kagum melihat kedua insan yang saling merindukan dan juga saling menyayangi.


"Bahagia banget nih!" sapa seseorang sembari menghampiri mereka yang membuat Zahira segera melerai pelukannya.


"Eh, Vera. Kenalin ini suami aku Mas Zico," ucap Zahira memperkenalkan sahabat barunya pada sang suami.


"Salam kenal, Pak hakim," ucap Vera tersenyum ramah.


"Ah, biasa saja panggilnya," jawab Zico dengan senyuman.


"Hehe... Kan memang benar Bapak hakim," celoteh wanita itu.


"Oya, aku mau buru-buru nih, kamu nggak jadi balik sama aku kan, Za?" tanya Vera.


"Tentunya sangat tidak. Karena sudah ada saya disini," timpal Zi sembari merangkul bahu wanitanya dengan posesif.


"Yaya... Saya tahu. Kalau begitu saya duluan ya, Pak. Aku duluan ya, Za. Selamat bersenang-senang dengan kekasih halal," bisik Vera menggoda sahabatnya. Sebagai sama-sama wanita yang sudah menikah tentu saja Vera dapat merasakan bagaimana perasaan Zahira saat di kunjungi oleh sang suami.


"Oke, kamu hati-hati!" jawab Zahira sembari melambaikan tangan pada sahabatnya yang juga ngekost dekat dengannya.


"Ayo masuk!" ajak Zi merangkul pinggang istrinya membawa masuk kedalam mobil.


"Kok kamu jam segini sudah sampai disini, Mas?" tanya Zahira heran dengan kedatangan lelaki itu secara mendadak, bahkan dia tak mengabari terlebih dahulu.


Bersambung....


Happy reading 🥰