
Zico segera meraih tubuh istrinya membawa kedalam pelukan. Ia berusaha menekankan rasa sabar seluas samudera untuk menghadapi sikap sang istri selanjutnya.
"Benaran kamu tidak kesal?" tanya Zahira masih terisak.
"Benar, Sayang, aku tidak kesal. Udah, jangan nangis lagi. Ayo kita tidur kembali ya." Pria itu membawa sang istri untuk kembali naik keatas ranjang.
Zahira hanya mengangguk patuh mengikuti perintah suaminya. Namun mata wanita itu masih enggan untuk menemui kantuknya.
"Mas, ponsel aku mana?" tanyanya merubah posisi tidurnya menghadap pada Pak Hakim yang hampir memasuki alam mimpi.
"Hmm, itu dinakas, Dek," jawabnya masih enggan membuka mata.
"Ambilkan, Mas," pinta Zahira masih merusuh ditengah malam buta.
Zico terpaksa meraba benda pipih itu, lalu menyerahkan pada sang istri yang mendadak banyak polah itu. "Mau ngapain tengah malam begini pegang ponsel Dek?"
"Aku mau nonton drama Malaysia Mas, kamu lihat deh, Mas. Cowoknya romantis dan penyabar banget," ucap wanita itu. Zico yang semula tak peduli, sedikit tertarik dengan drama dari negri Jiran itu untuk mengintipnya.
"Ya Allah, beruntung banget sih kamu dapat suami seperti dia," oceh wanita itu sendiri masih fokus menatap layar ponselnya, yang sebenarnya sedikit mengenai bekas luka dihati Pria itu. Namun Zico berusaha untuk mengabaikan saja segala ucapan istrinya itu.
Zico membiarakan saja wanita itu berselancar di dunia halunya. Ia segera memejamkan mata, tangan sebelah kirinya memeluk tubuh sang istri.
"Ya Allah, kalau dedek bayinya diberi laki-laki lagi, semoga mirip sama aktor tampan ini," ucap Zahira yang segera membuat mata Zi membelalak sempurna.
"Eh, apaan sih kamu. Dia ini anak aku. Ya tentu saja mirip akulah bapaknya," protes Pria itu tak terima. Rasanya gemas sekali dengan sang istri yang sedari tadi memancing huru hara diantara mereka.
"Nggak usahlah. Mending mirip dia saja. Udah tampan, baik, penyayang, perhatian, penyabar, Sholeh, wes pokoknya komplit lah," balas Zahira masih fokus dengan layar tipisnya.
Klik!
Zico mengembalikan ponselnya ke layar semula. Tentu saja wanita itu tak terima, padahal sedang asyiknya nonton dengan serius.
"Mas Zi! Kenapa dimatikan. Iihh, kamu tuh rese banget jadi orang!" omel wanita itu kesal sekali.
"Kenapa kamu yang jadinya marah? Seharusnya aku yang kesal mendengarnya. Enak banget minta wajah anak aku mirip sama aktor itu. Yang memproses aku, kenapa dia yang mendapat nama." Kini giliran lelaki itu yang mengomeli istrinya.
"Ish, itu aja ngambek. Ya nggak apa-apa juga mirip dengan dia, biar anak kita jadi terkenal," balas Zahira sembari memberi kecupan pada bibir lelaki yang sedang ngambek itu.
"Nggak usah rayu-rayu. Nggak mempan," oceh Pria itu masih mode ngambek.
"Hehe, jangan ngambek dong Abi tampan nan rupawan, Umi hanya canda saja."
"Mas, pengen minum, tolong tuangin minumnya dong," ucap Zahira merasa tenggorokannya kering.
"Minta tuangin sama aktor itu saja," jawab Zi masih sensi.
"Hiks, hiks, kamu kok ngomong gitu sih, Mas. Kamu udah nggak sayang lagi sama aku? Tentu saja aku minta tolong sama kamu, karena hanya kamu suami aku." Kembali wanita itu mengeluarkan jurus andalannya, yaitu tangisan.
Zico menghela nafas dalam. Tiba minta sesuatu saja sama Ayah biologisnya, tapi pas berhayal wajah anaknya diminta supaya mirip dengan aktor Sholeh menurutnya itu.
Hah, harus sabar Zico, sudah lumrah menghadapi sikap wanita hamil dengan hormonnya yang turun naik. Pria itu duduk dan segera menuangkan air putih kedalam gelas, lalu menyerahkan pada wanita hamil itu.
"Ayo duduk dulu, Sayang," ujarnya selembut mungkin, mungkin lebih lunak gigi daripada lidah demi membujuk sang istri.
"Nggak mau!" Wanita itu merajuk memunggungi suaminya.
"Sayang, Istriku yang Sholeha dan bidadari surga. Ayolah, jangan merajuk. Nanti anak Abi kehausan," bujuk Pria itu dengan rayuan manis.
"Nggak mau, kamu masih marah kesal padaku, padahal aku sudah bilang, aku hanya mengagumi aktor itu, bukan menyukainya. Tapi kami masih saja marah padaku," rungut wanita itu sembari menyembunyikan wajahnya di balik bantal gulingnya.
"Iya, Sayang, aku minta maaf ya. Benar-benar minta maaf. Udah, jangan nangis lagi ya," ucap Pria itu bersungguh-sungguh agar sang istri percaya.
"Benaran kamu udah nggak marah lagi?" tanya Zahira masih manyun menghadap padanya.
"Benar, Sayang. Aku tidak marah."
Zahira segera duduk dan bersandar di kepala ranjang menerima uluran gelas dari Zico. Setelah minum, ia kembali berbaring. Ternyata wanita itu masih enggan memejamkan mata.
Perempuan itu masih blusukan mencari posisi yang nyaman untuk tidur, sungguh hamilnya yang kedua sedikit rusuh. Mungkin bayinya ingin menguji kesabaran sang Ayah.
Saat Zahira sudah mulai menemui mimpinya, suara tangisan bayi yang berumur satu tahun itu kembali mengusik tidur kedua orangtuanya.
"Mas, anak kamu bangun, buatin sufor untuk Zafran Mas," ucap wanita itu masih memejamkan matanya.
"Ya, Dek." Dengan mata berat Pak Hakim yang dulunya begitu galak dan dingin, kini sudah menjadi suami dan Ayah yang begitu sempurna bagi wanita itu.
Zico segera mengambil botol su su kosong yang sudah direndam dengan air panas. Ia segera menakar bubuk milk kaleng itu dan mengisi air hangat dari dispenser khusus yang tersedia di kamar mereka.
"Ayo mimik dulu Sayang." Zico menyerahkan botol yang berisi sembari mengusap kening bayi itu dengan lembut sehingga bayi mungil itu kembali menemui kantuknya setelah menghabiskan sebotol sufor di tangannya.
Setelah memastikan Zafran sudah terlelap kembali, Zico segera berbaring disamping bayi mungil itu. Akhirnya ia bisa kembali tidur dengan nyaman hingga subuh menyapa.
Pagi ini Zico sudah bersiap untuk menjalani tugas negara, yaitu untuk menjatuhi hukuman pada terdakwa kasus korupsi. Pria itu tak ingin mengganggu tidur lena sang istri. Ia tahu bahwa istrinya sedang ngantuk berat karena drama martabak dan film layar lebar dari negri Jiran itu.
Zico hanya mengecup kening dan bibir sang istri. Dan tak lupa juga bayi mungil itu tak luput dari kecupan dari sang Ayah.
"Abi berangkat kerja dulu ya. Umi sama anak-anak baik-baik dirumah. Sampai ketemu nanti sore, kesayangan," ujar Pria itu meskipun tak mendapatkan tanggapan dari istri dan anaknya yang masih begitu lelap.
Pria itu segera beranjak menuju pengadilan negeri. Baru pertengahan jalan, suara vibrasi ponselnya berdering. Zico segera menerima panggilan dari kekasih halalnya.
"Assalamualaikum, Sayang," ucapnya dengan lembut.
"Mas, kamu dimana?" tanya Zahira di ujung sambungan.
"Lagi dijalan menuju PN Dek," jawab Pria itu jujur sekali.
"Kamu udah berangkat kerja? Kenapa tidak bangunin aku?" Rengeknya begitu manja.
"Iya, maaf ya, tadi aku ingin bangunin, tapi aku tak tega karena kamu masih terlelap. Udah, nggak usah sedih ya. Nanti Abi usahakan cepat pulang," bujuk Pria itu begitu sabar.
"Yaudah, nanti cepat pulang ya, Mas. Hati-hati dalam bertugas. Ingat! Harus menjadi Hakim yang bijak dan harus menimbang dengan seadil-adilnya," pesan wanita itu pada suaminya.
"Siap laksanakan Ibu Ka polda!" jawab Pria itu dengan senyuman, lalu memutus sambungan ponselnya.
Bersambung....
Happy reading 🥰