
Sesaat pasangan halal itu saling bertukar Saliva. Zico menyudahi pergumulan lidah mereka karena hari sudah beranjak magrib, Pria itu harus bersiap untuk berbersih dan melaksanakan ibadah tiga rakaat.
"Dek, masih lama ya?" tanya lelaki itu sebelum masuk kedalam kamar mandi.
"Masih, Mas. Kan baru satu minggu," jawab Zahira sembari menuju lemari pakaian.
"Kenapa Mas? Ayo mandi, nanti keburu magrib," titah wanita itu saat melihat suaminya yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Sayang, aku tidak tahan," keluh pria itu dengan wajah melas.
"Mas, jangan gitu ah. Nanti malam aku bantuin kamu ya, sekarang ayo mandi dan bersiap untuk sholat berjamaah," ucap wanita itu yang di iringi senyum sumringah di bibir Zico.
"Kamu serius, Dek?" tanyanya masih tak percaya.
"Serius dong. Apa sih yang nggak buat suami aku yang tampan ini," gombal wanita itu dengan senyum manis.
Zico menghujani wajah wanita itu dengan kecupan. "Terimakasih, Sayang. Kamu benar-benar bidadari surgaku," balas Zi tak kalah manisnya.
"Udah sana mandi," ucap Zahira mencubit pipi suaminya dengan gemas.
Setelah Zico masuk kedalam kamar mandi, Zahira gegas menyediakan pakaian ganti. Setelah itu ia keluar untuk menyambangi kamar putri kecilnya.
"Loh kenapa nangis adek Zhera?" tanya Zahira segera mengambil bayi itu dari dalam boksnya.
"Oma mana, Bang?" tanya Zahira pada Zafran.
"Oma ambil wudhu mau sholat, Umi," jawab bocah yang berumur delapan tahun itu.
"Oh, yaudah sekarang Abang siap-siap. Sholat berjamaah sama Abi ke masjid," titah wanita itu.
"Baik, Umi." Bocah itu segera melesat ke kamarnya untuk bersiap.
Zahira duduk di ranjang yang ada di kamar baby Zhera. Mumpung ia sedang libur sholat, maka Zahira sedikit lebih santai. Ia memberi bayi itu ASI.
"Bang Zaf! Udah belum!" panggil Abi menyambangi kamar dimana Zahira sedang mengasihi putrinya.
"Bentar Abi!" jawab bocah itu dari dalam kamarnya.
"Cepatan, Bang, selak magrib!"
"Dek, ke masjid dulu ya," ucap Zi berpamitan pada istri dan putrinya.
"Iya, hati-hati Mas."
"Aku sudah siap, Abi!" panggil Zafran yang sudah berdiri depan pintu, bocah itu segera menyalami tangan sang Ibu.
"Oke, ayo kita berangkat sekarang." Ayah dan anak itu beranjak menuju masjid untuk mendapatkan pahala.
Tak berselang lama Mama sudah kembali nongol menyambangi kamar cucu perempuannya itu.
"Belum pulang Zico dari masjid?" tanya Mama yang masih menggunakan mukenanya.
"Belum, Ma. Mungkin sebentar lagi. Papa kapan pulang, Ma?" Zahira balik nanya.
"Mungkin besok. Hari ini baru selesai proyeknya," jawab Mama sembari mengambil Zhera dari pelukan Zahira.
"Ma, apakah Mama tidak capek momong cucu terus? Udah Mama istirahat saja. Lagipula Zhera tidak rewel," ucap Zahira yang tak tega melihat Mama yang akhir-akhir ini lupa waktu sejak kehadiran Zhera.
"Tidak, Nak. Mama sama sekali tidak capek. Apaan capek cuma main sama cucu. Ini akibatnya cuma mempunyai anak semata wayang. Jadinya Mama puasin aja main sama cucu," jawab Mama.
"Oya, kenapa dulu Mama tidak memberikan adik untuk Mas Zico?" tanya Zahira cukup penasaran kenapa suaminya tak mempunyai saudara.
"Mama dulunya juga wanita karir, jadi kami sepakat untuk memberikan Zico adik setelah Zi benar-benar mandiri. Namun, setelah Mama coba lagi ternyata sudah tidak diberikan kepercayaan lagi oleh Allah. Mungkin karena Mama menunda terlalu lama. Maka dari itu Mama minta agar kamu dan Zi tidak perlu menunda-nunda untuk punya anak. Jika kalian ingin tambah anak lagi setelah umur Zhera satu tahun, tidak apa-apa. Biar Mama yang akan merawat Zhera," jelas Mama.
"Kayaknya nggak dulu deh, Ma. Tunggu Zhera besar dulu. Jika nanti Allah masih berikan rezeki aku juga tidak akan menolak," jawab Zahira.
"Yaya... Mama sangat berharap kalian mempunyai keturunan yang banyak, biar rumah kita ramai."
Zahira hanya mengaminkan Do'a sang Mama. Saat mereka sedang ngobrol, terdengar suara ucapan salam dari kedua lelaki kesayangan mereka.
Keluarga itu makan malam bersama, selesai makan, mereka ngobrol ringan di ruang keluarga. Setelah cukup obrolan malam, pasangan itu beranjak menuju kamar untuk istirahat.
"Ma, malam ini Zhera tidur sama aku saja ya," pinta Zahira.
"Nggak pa-pa, Zhera biar sama Mama saja. Lagian stok ASI sudah kamu simpen kan di kulkas? Kamu istirahat saja, karena wanita yang baru melahirkan itu istirahatnya harus cukup agar tetap waras dan cantik," jawab Mama membuat Zahira menggeleng tak habis pikir.
"Ma, sungguh aku merasa bersalah dan berdosa bila anakku selalu Mama yang urus," lirih wanita itu merasa sangat tidak enak hati.
"Zahira, ini semua keinginan Mama. Jadi kamu tidak perlu merasa seperti itu. Lagian Mama happy bersama cucu-cucu mama," jawab Mama.
"Sudahlah, Sayang. Biarkan Mama menikmati masa-masa bersama cucunya. Kamu tidak perlu merasa bersalah, karena ini semua keinginan Mama," ucap Zi mencoba meyakinkan sang istri agar tak merasa berdosa.
"Baiklah, kalau begitu." pasangan itu mengecup pipi bayi mungilnya dengan sayang. Dan tak lupa pula menyambangi kamar Abang Zaf untuk memastikan bahwa putra sulung mereka sudah tidur dengan nyaman.
Setibanya di kamar, Zahira segera menuju lemari pakaian untuk mengambil piyama tidur suaminya.
"Ganti pakaian kamu, Mas. Kok bengong?" tanya Zahira sembari menyerahkan pakaian tidur itu pada suaminya.
"Sayang, kamu masih ingat janji kamu tadi sore 'kan?" tanya Pria itu menagih janji sang istri.
"Masya Allah, ternyata ingatan kamu masih sangat tajam soal itu ya, Mas," jawab Zahira tersenyum gemas.
"Tentu saja, Dek. Aku buka sekarang ya," ucap Zi tersenyum penuh harap.
"Ya baiklah." Demi menyenangkan hati sang suami, maka wanita itu akan melakukannya.
Zico begitu bersemangat melucuti pakaiannya sendiri. Dan setelah itu Zahira mulai membantu memenuhi kebutuhan biologisnya.
Zico tersenyum puas diatas tempat tidur. Sementara Zahira segera menuju kamar mandi untuk membersihkan area mulutnya yang tadi di pergunakan melancarkan aksinya.
Tak berselang lama wanita cantik berambut sebahu itu sudah keluar dari kamar mandi.
"Sana berbersih dulu, Mas," titahnya sembari menyerahkan sehelai Handuk pada Pria itu.
"Oke, Sayang. Terimakasih ya." Zi kembali mengecup wajahnya dan terima kasih pada wanita kesayangannya yang telah begitu ikhlas melayani dirinya.
Zahira hanya mengangguk dan tersenyum lembut. "Ayo mandi, habis itu istirahat."
Zico mengangguk segera melesat masuk kedalam kamar mandi.
Kini pasangan itu tidur saling memberi kehangatan satu sama lain hingga waktu pagi menjelang.
Pagi ini Zico sudah bersiap untuk berangkat dinas. Jadwalnya hari ini sangat padat, selain memimpin beberapa sidang, ia juga akan bertolak ke kota tempat Adri bertugas untuk mencari bukti yang akurat. Dan hari ini adalah sidang pertama untuk kasus yang sedang di jalani oleh Adri.
"Berangkat dulu ya, Ma," ucap Zaf sembari menyalami tangan sang Mama.
"Iya, hati-hati ya, Nak."
Zico beralih pada istrinya yang sedang menggendong bayi mungil mereka.
"Sayang, Abi berangkat dulu ya. Kamu nggak boleh rewel ya," gumam Zi pada putrinya, dan tak lupa meninggalkan jejak sayang di pipi comelnya.
"Hati-hati ya, Abi. Tetap waspada di setiap tempat. Dan kami akan mendo'akan agar Abi selalu dalam lindungan Allah SWT," jawab Zahira sembari menyalami tangan suaminya.
"Siap, Sayang. Abi jalan sekarang ya." Pria itu meninggalkan jejak sayang di pipi Zahira, lalu melangkah keluar dari rumah.
Selesai tugasnya di pengadilan negeri, Zico dengan beberapa penyidik segera menuju lokasi kejadian tempat perkara, untuk meminta keterangan bagi staf-staf yang ada di lapangan.
Setibanya disana, kedatangan ketua hakim itu banyak di soroti oleh berbagai media. Kasus ini cukup pelik karena banyak petinggi-petinggi perusahaan itu terlibat dalam kelalaian sehingga mengakibatkan beberapa karyawannya meninggal dunia.
Zico mengamati lokasi kejadian itu. Ia memanggil segala saksi saat insiden itu terjadi. Yang pertama kali dimintai keterangan pada SOP CCTV. Namun, mereka mengatakan sama sekali tidak mengetahui bahwa CCTV di gate tidak berfungsi dengan alasan waktu itu mereka tidak memeriksanya.
Bersambung....
Happy reading 🥰