Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Sudah mulai akrab


"Benar Mbak, saya istrinya Mas Adri," jawab Mila dengan wajah menunduk.


"Ayo duduklah," ucap Zahira membawa Mila untuk kembali duduk.


"Boleh saya tahu ada keperluan apa kamu datang kesini?" tanya Zico.


"Mas, suami saya..."


"Ya saya sudah tahu, Adri tersandung kasus, bukan?" potong Zico yang sudah tahu. Karena kasus Adri akan berlanjut ke meja hijau.


"Apakah Mas Zico sudah tahu?" tanya Mila.


"Ya, saya sudah tahu. Kasusnya akan di sidang dua hari kedepan."


"Loh, kok kamu tidak kasih tahu aku, Mas?" timpal Zahira.


"Sebenarnya tadi malam aku ingin memberi tahu kamu, tetapi kamu keburu tidur jadinya aku kelupaan," jelas Zi pada sang istri.


"Terus, sekarang bagaimana, Mas? Kamu bisa bantuin Mas Adri 'kan?" tanya Zahira berharap.


"Nanti aku sendiri yang akan mendalami kasusnya. Aku yang akan datang langsung ke TKP. Dan aku sendiri yang akan menyelidiki," jelas Zi.


Seketika senyum Mila mengembang saat mendengar ucapan Zico yang berniat akan membantunya.


"Terimakasih banyak, Mas," ucap Mila tersenyum cerah.


"Ya, jika memang insiden itu terjadi bukanlah karena kelalaian Adri, maka aku akan berusaha untuk membebaskannya," sambung Zico yang membuat hati Mila menjadi lebih tenang.


"Kamu sabar ya, Mas Zi pasti akan bantu suami kamu," sambung Zahira sembari mengusap bahu wanita itu dengan lembut.


"Sekali lagi terimakasih, Mbak Zahira dan Mas Zi. Kalian memang benar-benar baik," ucap Mila dengan tulus.


"Sama-sama. Kamu tidak perlu begitu memuji. Mari kita sama-sama berdo'a agar semua usaha kita berjalan sesuai keinginan."


Setelah berjanji akan membantu, kini Mila dan Zahira sudah tampak akrab. Kedua wanita itu banyak ngobrol. Sementara kedua bocah yang seumuran juga tampak sudah akrab.


"Mbak, aku kami pamit pulang dulu ya, soal sudah mau siang juga," ucap Mila berpamitan.


"Kenapa buru-buru sekali, Mila. Disini saja dulu. Lagian aku sudah minta Bibik masak yang banyak biar kita bisa makan siang bareng," ujar Zahira menahan Mila dan Rayyan agar lebih lama lagi disana.


"Benar, Tante. Aku masih ingin main bareng Rayyan. Nanti saja pulangnya, Tan," timpal Zaf yang belum rela teman barunya pulang.


Mila tersenyum sembari menoel pipi bocah itu dengan gemas. "Baiklah, Sayang, Tante akan disini biar kamu dan Rayy puas bermain."


"Yeee... Terimakasih, Tante!" bocah itu tersenyum sumringah penuh kegembiraan.


"Rayyan sudah besar, apakah kamu tidak ingin memberinya adik?" tanya Zahira pada wanita yang juga baru beberapa jam menjadi temannya.


"Lagi proses, Mbak, Do'ain ya biar diberikan lagi rezeki sama Allah," jawab Mila tersenyum.


"Emang umur kamu berapa? Kok aku merasa tua ya, dipanggil Mbak," kelakar Zahira.


"Umurku dua puluh lima. Kamu sendiri?" tanya Mila penasaran.


"Berarti kita seumuran. Kamu panggil nama saja."


"Ah baiklah."


Cukup lama mereka ngobrol. Mila sedikit melupakan kesedihannya karena mendapat hiburan dari keluarga hakim itu.


Sementara Zico begitu sabar mengasuh putrinya demi memberi kebebasan pada sang istri agar bisa ngobrol sepuasnya dengan teman barunya. Lagipula Pria itu sangat menikmati perannya sebagai ayah siaga untuk baby Zhera, mumpung dia masih mempunyai waktu satu hari ini sebelum kembali tugas.


Tak terasa waktu berjalan, kini hari sudah beranjak sore, Mila dan Rayyan pamit pulang pada keluarga baik itu.


"Sama-sama, Mila. Kamu yang sabar ya. Mas Zi pasti akan membantumu."


"Zaf, aku pulang dulu ya. Besok-besok giliran kamu yang main ketempat aku," celoteh Rayy berpamitan pada Zafran.


"Oke, besok-besok aku dan Umi akan main ketempatmu," jawab Zaf tersenyum senang.


Akhirnya Mila dan Rayyan beranjak meninggalkan kediaman Pak hakim. Wanita itu pulang dengan perasaan sedikit lebih tenang dari yang biasanya.


Ke esokan harinya, Zico sudah bersiap untuk berangkat dinas. Pria itu sudah terlihat rapi dan tampan dengan stelan kerjanya. Zahira sedikit memberengut, ini kali pertama dirinya tak bisa ikut lagi dengan suami pasca melahirkan.


"Mas, kamu kenapa tampan sekali?" tanyanya sembari merapikan dasi lelaki itu.


Tentu saja pertanyaan Zahira membuat Zico terkekeh. "Kenapa pertanyaan kamu menggemaskan, Sayang? Bukankah setiap hari penampilan aku seperti ini?" ucap Zico sembari mengecup bibir wanita itu.


"Tapi biasanya aku selalu mengawasi kamu, sedangkan sekarang aku sudah tidak bisa lagi ikut denganmu," cicit wanita memberengut.


"Terus, sekarang kamu mau ikut denganku?"


"Ya nggak mungkinlah, tapi aku kesel aja lihat kamu berpenampilan seperti ini. Seharusnya kamu jangan terlalu rapi dan tampan. Bagaimana jika nanti banyak cewek cantik yang terpikat denganmu," serunya membuat Zico menggelengkan kepala.


Muuaach!


"Udah nggak usah mikir yang aneh-aneh. Semua pikiran kamu itu tidak benar sedikitpun. Seandainyapun ada yang suka padaku, namun hatiku sama sekali tak tertarik. Karena dalam hatiku sudah mentok nama dirimu seorang," jawab Zi begitu manis dan tak lupa mengecup bibir tipisnya.


Zahira tersenyum senang mendengar ucapan manis dari sang suami. "Kamu serius 'kan?"


"Sayang, aku tidak perlu menjelaskan bahwa semua perkataanku ini serius. Karena aku rasa kamu sendiri sudah bisa membuktikannya. Tapi demi membuatmu bahagia, maka aku akan mengatakan bahwa aku sangat serius."


"Hehe... Terimakasih suamiku sayang. Ingat, jaga hati dan mata, karena akulah tempat yang selalu membuatmu nyaman," ujar Zahira membalas kecupan sayang dari sang suami.


"Tentu saja, Sayang. Kamu adalah rumah ternyamanku, sehingga aku tidak mungkin bisa berpaling walau sedikitpun."


Zahira memeluk Pria itu dengan hati bahagia. Siapa wanita yang tak bahagia bila selalu di prioritaskan, dan sangat di manjakan oleh pasangannya.


"Ayo kita sarapan sekarang," ajak wanita itu yang tak henti-hentinya mengulas senyum di bibirnya. Ya, Zahira memang tidak menggunakan niqab bila dikamar bersama sang suami.


"Ayo kita sarapan. Putriku mana?" tanya Zi tak melihat baby Zhera ada di kamar.


"Lagi berjemur sama Mama."


"Abi, Umi!" sapa jagoan neon mereka yang sudah duduk anteng dengan seragam sekolahnya.


"Nanti Abang pergi sekolahnya sama Abi ya. Pulang baru di jemput Pak Iwan, karena pagi ini Pak Iwan mau anterin Bibik dulu belanja bulanan," ucap Zahira pada putranya.


"Siap, Umi!" seru bocah itu sangat penurut.


Pasangan itu sarapan bersama, Mama masih sibuk dengan cucunya sehingga wanita baya itu tak ingin lepas dari bayi itu barang sebentar saja. Sedangkan Papa berada di luar kota karena ada bisnis yang sangat penting, jadinya mereka hanya sarapan bertiga saja.


"Hari ini apa agenda kamu, Mas?" tanya Zahira di sela makan mereka.


"Hari ini ada dua sidang yang akan aku pimpin. Mungkin hari ini aku pulang sedikit terlambat, karena selesai memimpin sidang, aku harus menemui Pengacara dari pihak Adri untuk mengumpulkan barang bukti yang akurat," jelas Zi.


"Oh, yasudah. Yang penting kamu harus hati-hati dalam melaksanakan tugas. Aku masih trauma dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, Mas," ujar Zahira mengingat pernah terjadi penyerangan secara tiba-tiba pada sang suami sehingga salah sasaran kepada dirinya.


"Insya Allah, aku akan selalu hati-hati, Dek. Yang penting Do'amu selalu menyertai langkahku."


Selesai sarapan, Zico dan Zafran pamit pada wanita itu. Zahira mengantarkan kepergian suami dan anaknya hingga mobil yang di tumpangi mereka hilang dari pandangan.


Bersambung....


Happy reading 🥰