Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Kedatangan Mila


Kebahagiaan pasangan itu sungguh sudah lengkap. Zafran yang tadi tampak malu-malu, kini bocah itu sudah tampak begitu akrab dengan dedek bayi. Ia tak henti-hentinya mencium pipi gemoy sang adik.


"Kamu tidak tugas hari ini, Zi?" tanya Mama sembari menimang baby Zhera.


"Nggak, Ma. Aku akan kembali tugas jika Zahira sudah pulang," jawab Zi.


"Baguslah kalau begitu, jadi kamu masih punya waktu banyak untuk bersama anak dan istrimu."


"Biasanya waktuku selalu banyak untuk mereka, Ma."


"Iya, tapi untuk full kan sangat jarang."


"Mama lupa bahwa istriku ini selalu ngintilin aku terus kemana aku pergi," jawab Zi membuat Mama terkekeh mendengarnya.


"Iya, Mama lupa."


Zahira hanya tersenyum malu mendengar pengakuan suaminya. Terkadang ia merasa heran, entah kenapa sekarang dirinya begitu ketergantungan dengan lelaki itu. Apakah benar ia sudah termakan dengan kata-kata sendiri yang dulu mengatakan tidak akan pernah mau dengan lelaki itu.


Ah entahlah, Zahira tak ambil pusing, yang jelas hidupnya sekarang sangat bahagia karena Allah telah memberinya suami yang begitu menyayanginya, dan kedua anak-anak yang lucu. Semoga saja mereka akan selalu bahagia hingga selamanya.


Tak berselang lama Dokter masuk kedalam ruangan itu untuk visit pagi. Zahira segera di periksa oleh Dokter kandungan itu.


"Bagaimana dengan kondisi istri saya, Dok?" tanya Zaf.


"Alhamdulillah Bu Zahira sudah mulai pulih, dan juga sudah boleh pulang," jelas sang dokter.


"Benarkah, jadi kapan kami bisa pulang, Dok?" tanya Zahira.


"Terserah Bu Zahira saja. Hari ini boleh, besok juga boleh."


"Baiklah, kalau begitu saya akan pulang hari ini saja, Dok," jawab Zahira sudah tak sabar ingin segera keluar dari RS.


"Baik, Bu. Nanti akan di urus oleh perawat kami."


Zico mengangguk paham saat mendengar penjelasan Dokter. Ia segera pamit sebentar pada istrinya untuk mengurus administrasi.


Setelah semuanya beres, pasangan itu pulang. Tentunya di kediaman Mama karena Zahira baru melahirkan, maka Mama yang ingin mengurus cucunya.


***


Sudah dua hari Zahira setelah pulang dari RS, malam ini Zahira terasa sangat mengantuk sekali setelah sering begadang.


"Mas, aku tidur duluan. Nanti kalau baby Zhera rewel bangunin aku ya," ucapnya pada sang suami.


"Oke, Sayang. Tidurlah," jawab Zico sembari mengecup kening istrinya.


Zahira segera memejamkan mata, hanya hitungan menit wanita itu sudah berada di alam mimpi. Zico mengamati wajah cantik istrinya saat tak menggunakan niqab.


"Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, Sayang. Aku sangat mencintaimu," ujar lelaki itu kembali meninggalkan jejak sayang di wajah sang istri.


Zico kembali fokus dengan pekerjaannya melalui layar tipis yang ada di pangkuannya. Ia melihat ada sebuah perkara yang harus di sidang dua hari yang akan datang. Namun, nama terdakwa sedikit membuatnya tertarik.


"Adriansyah? Rasanya aku pernah dengar nama ini?" tanyanya mencoba untuk berpikir sendiri.


"Ya aku baru ingat, dia adalah orang yang waktu itu bertemu di pulau. Dan dialah orang yang sudah membantu Zahira saat dalam kesulitan. Tersandung kasus apa dia?" Zi segera memeriksa dengan detail.


Ternyata Adriansyah terduga lalai dalam pengawasan sebagai manajer disebuah perusahaan minyak yang sedang dia pimpin. Sehingga membuat karyawannya ada yang meninggal dunia dalam insiden kebakaran tabung penampungan minyak mentah yang ada di gate 125.


Sementara itu di lain tempat, Mila masih belum bisa memejamkan mata. Sudah tiga hari suaminya berada dalam tahanan karena kasus yang sedang di alami. Sebenarnya bukan kelalaian dari pihak manajemen, tetapi pihak mandor lapangan yang tidak menegur karyawannya saat tak menggunakan safety dalam beroperasi.


Mila duduk seorang diri dengan air mata yang jatuh berderai. Bagaimana nasibnya bila lelaki yang ia cintai tak ada disampingnya.


"Mas, baru dua hari kita tidak bersama, tapi aku sudah sekacau ini. Aku kangen banget sama kamu, Mas. Hiks..." tangis wanita itu pecah dalam keseorangan.


Saat Mila masih larut dalam tangisan, terdengar suara rengekan putranya. Bocah itu tidur tidak tenang sembari memanggil papanya.


"Papa lagi ada kerjaan, Sayang. Kamu tidak perlu sedih ya. Besok Papa pasti pulang," ucap Mila berbohong pada putranya.


Setelah berhasil menenangkan putranya, Mila kembali membawa bocah yang berumur enam tahun itu untuk kembali tidur.


Pagi-pagi sekali Mila sudah bangun, ia teringat dengan seseorang yang pernah di ceritakan oleh suaminya, yaitu Zahira, wanita yang dulu pernah ia bantu. Dan kini wanita itu sudah menikah dengan lelaki yang berprofesi sebagai seorang hakim agung. Ia ingin meminta bantuan pada lelaki itu.


"Ma, kita mau kemana?" tanya Rayyan saat dalam perjalanan.


"Kita kerumah teman Mama. Nanti disana kamu tidak boleh nakal ya, Sayang," ucap wanita itu mewanti-wanti putranya.


"Apakah disana juga ada Papa?" tanya Rayy.


"Tidak, Sayang. Papa sedang ada tugas diluar kota." Mila berusaha untuk meyakinkan Rayy.


Kini mobil yang dikendarai oleh Mila sudah berhenti di sebuah bangunan yang tampak mewah. Sedikit ragu untuk menemui pasangan itu. Namun, ia harus meminta bantuan agar suami bisa bebas dari jeratan hukum.


"Mau cari siapa, Bu?" tanya Art yang berpapasan dengannya.


"Maaf, saya mau bertemu dengan Bu Zahira dan Pak Zico. Apakah mereka ada di rumah?" tanya Mila sedikit ragu.


"Oh, ada, Bu. Mari silahkan masuk." Bibik mempersilahkan masuk.


"Terimakasih, Mbak," jawab Mila segera menggandeng tangan putranya untuk masuk kedalam hunian Pak hakim.


"Silahkan duduk, Bu. Akan saya panggilkan beliau."


"Baik, terimakasih." Mila segera membawa putranya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Sementara itu Zico dan Zahira sedang menikmati sarapan mereka di kamar. Panggilan bibik membuat Zi berhenti sesaat.


"Ada apa, Bik?" tanyanya.


"Itu, Pak. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak dan Bu Zahira," jelas bibik.


"Siapa?" tanya Zi penasaran.


"Seorang wanita bersama anak kecil," jelas bibik.


Mendengar hal itu membuat Zahira segera berdiri dari tempat duduknya. "Seorang wanita?" sambung Zahira.


"Iya, Bu. Dia ingin bertemu dengan Bu Zahira dan Pak Zico.


"Baiklah, bibik boleh pergi."


"Baik, permisi, Bu." Bibik pun pergi dari hadapan mereka.


Zahira menatap Zico dengan tajam. "Siapa dia, Mas?"


"Mana aku tahu, Dek. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh sama aku. Ayo sekarang kita temui." Zico segera merangkul bahu sang istri untuk membawanya bertemu dengan tamu itu.


"Maaf, dengan siapa ya?" sapa Zahira seketika membuat Mila segera berdiri menyalami tuan rumah itu.


"Nama saya, Mila. Maaf jika kedatangan saya mengganggu. Apakah benar ini dengan Mbak Zahira dan Mas Zico?"


"Benar dengan kami sendiri. Kamu siapa ya?" tanya Zico.


"Saya adalah istri dari Mas Adri," jelasnya dengan sungkan.


"Mas Adri!" seru Zahira terkejut.


Bersambung....


Happy reading 🥰