Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Lanjut kuliah


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kini usia baby Zhera sudah berjalan tiga bulan. Dan tiba waktunya Zahira akan kembali melanjutkan kuliahnya di kota tempat dirinya menuntut ilmu semula.


Rencananya Zahira pergi akan diantarkan oleh Pak Iwan, tetapi Zico tidak mengizinkan, melainkan dirinyalah yang akan mengantarkan sang istri.


"Mas, kamu beneran punya waktu nganterin aku? Apakah pekerjaanmu tidak terganggu?" tanya Zahira pada sang suami.


"Benar, Dek. Kamu tenang saja, hari ini aku izin khusus untuk dirimu," jawab Zi sembari membantu Zahira berkemas.


Zahira tersenyum bahagia sembari memeluk suaminya. "Terimakasih ya, Mas, aku sangat bahagia bisa diantar oleh kamu," ucapnya sembari membenamkan wajahnya di dada bidang Pria itu.


"Iya, Sayang, mana mungkin aku membiarkan istriku pergi sendiri," ujar Pria itu membalas pelukan hangat dari wanitanya.


Sungguh rasanya sangat berat berpisah dengan wanita kesayangannya. Tetapi Zi tak ingin egois, ia tidak ingin menjadi penghalang bagi sang istri untuk mewujudkan impiannya.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Zi pada sang istri.


"Sudah, Mas. Aku tidak bawa pakaian banyak-banyak, karena setiap dua minggu sekali aku pasti pulang kesini," jawab Zahira sembari menutup kopernya.


"Baiklah, tapi setiap minggu aku yang akan datang mengunjungimu," jawab Zi tersenyum sembari mengecup pipi wanita itu.


"Apakah kamu tidak capek? Bukankah waktu libur kamu hanya satu hari?"


"Untuk dirimu aku tidak akan merasakan capek," jawabnya dengan pasti.


"Baiklah, terserah padamu saja."


Pasangan itu keluar dari kamar. Mereka melihat kedua anaknya sedang di ruang keluarga bersama Mama.


"Kalian sudah mau pergi?" tanya Mama.


"Iya, Ma, karena sampai disana aku harus langsung ke kampus untuk mengurus keperluan kuliahku," jawab Zahira sembari menggendong putrinya.


"Abi, Umi, Abang boleh ikut anterin Umi?" tanya Zaf dengan kedua orangtuanya.


Seketika Zi dan Zahira saling pandang. Awalnya bocah itu tidak terlalu ambil pusing dengan kepergian sang Ibu, tetapi sepertinya Zaf merasa sedih saat akan di tinggalkan oleh sang ibu.


Zahira mengangguk, itu menandakan ia mengizinkan putranya untuk ikut mengantarkan dirinya.


"Baiklah, ayo sekarang Abang siap-siap. Umi izin dulu sama wali kelas kamu ya," ucap Zahira.


"Yeeee.... Terimakasih, Umi!" seru bocah itu terlonjak kegirangan.


Zahira dan Zi hanya terkekeh kecil dengan gelengan kepala. Zafran segera melesat masuk kedalam kamarnya untuk bersiap.


Tak berselang lama bocah itu keluar dengan stelan perginya. Zafran kembali bergabung dengan kedua orangtuanya yang sedang sibuk menimang adik Zhera.


"Abang sudah siap?" tanya Zi sedikit merapikan rambut putranya.


"Ma, aku titip Zhera ya. Maaf bila aku akan merepotkan Mama, tapi ini hanya enam bulan saja, Ma," ucap Zahira begitu sungkan pada ibu mertuanya.


"Kamu jangan bicara seperti itu, Nak, Mama sangat senang bila mempunyai waktu banyak untuk mengurusi cucu-cucu Mama. Lagipula ada Bibik yang akan ngebantuin Mama, yang penting sekarang kamu fokus dengan kuliahmu," jawab Mama penuh pengertian.


"Terimakasih banyak ya, Ma. Kalau begitu aku pamit dulu. Titip salam pada Papa" Zahira menyalami tangan ibu mertuanya dengan takzim.


"Aku juga pamit anterin Zahira dulu ya, Ma," ucap Zi ikut menyalami sang Mama.


"Kalian hati-hati di jalan. Jangan ngebut, kalau capek istirahat," pesan Mama.


"Siap, Mama!" ucap Zi sembari mengecup pipi sang Ibu.


"Abang pergi dulu ya, Dek. Jangan nakal sama Oma, nanti Abang beliin Adek oleh-oleh," celoteh bocah itu berpamitan pada adiknya.


"Baiklah Abang tampan, adek mana mungkin nakal, Adek adalah gadis yang pintar dan patuh," jawab Oma menirukan suara anak kecil.


Zico dan Zahira kembali mengecup wajah bayi mereka sebelum beranjak. Zahira tak kuasa juga menahan haru saat meninggalkan bayi mungil itu. Tetapi ini tidak akan lama, lagipula ia akan pulang setiap free makul.


Mama mengantarkan anak dan menantunya keluar dari rumah itu. Zico mengendarai mobilnya sendiri.


"Da-da Oma!" seru Zaf pada Oma dan sang adik yang masih dalam gendongan wanita baya itu.


"Da-da... Kalian hati-hati!"


Kini kendaraan roda empat itu sudah keluar dari kediaman mewah yang ada di kompleks perumahan elite itu.


Zico melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Zahira tampak termenung saat berpisah dengan putri kecilnya. Masih terasa canggung, ini kali pertama mereka berpisah.


"Kok melamun? Katanya sudah siap untuk segalanya?" ucap Zi sembari mengusap mahkota sang istri.


"Iya, tapi terasa canggung saat berpisah dari Zhera, Mas. Semoga aku bisa secepatnya menyelesaikan skripsiku," ucapnya yakin.


"Aamiin. Tapi kalau ingin cepat gunakan saja joki skripsi," kelakar Zi


"Hahaha... Jangan begitu, Sayang, nanti kamu tidak mendapatkan ilmunya, walaupun lulus dengan nilai terbaik, tetapi tidak membuatmu pintar untuk apa?"


"Tuh kamu tahu. Tapi jika aku sedang kesulitan, kamu mau bantu aku 'kan?" tanya Zahira dengan senyum manja.


Zico mengusak kepala istrinya dengan lembut. "Tentu saja, Dek, tapi aku hanya akan mengajari teorinya saja, untuk konsep kamu yang menentukan," jelas Zi.


"Oke, aku hanya butuh petunjuk dari senior aku, alias kekasih halalaku," gombal wanita itu.


"Pinter banget kamu ngegombalnya." Zico mencubit pipi Zahira dengan gemas.


"Umi, besok kalau Abang sudah besar, Abang ingin kuliah di tempat Umi juga," celoteh bocah itu ikut nimbrung.


"Kenapa harus di tempat Umi? kenapa tidak di tempat Abi kuliah saja?" protes Zi.


"Tidak mau, aku maunya di tempat Umi. Karena disana itu kampung halaman Sesil," jawab bocah itu. Seketika Zico dan Zahira saling pandang.


"Sesil? Siapa dia?" tanya Zico penasaran.


"Dia adik kelas Abang yang waktu itu Abang ceritakan," jawabnya enteng.


"Oh, jadi dia yang kamu belikan boneka Barbie itu?" tanya Zi menggoda putranya.


"Benar Abi. Abang masih berharap bisa bertemu kembali dengan Sesil, soalnya dia gadis pintar dan sangat baik," celotehnya begitu menyanjung gadis kecil itu.


"Benarkah?" timpal Umi tersenyum geli.


"Benar Umi, kata Sesil kampung halamannya sama dengan tempat Umi kuliah. Emangnya jauh ya, Umi?"


"Nggak juga, cuma makan waktu tiga jam saja. Oya, kalau Umi boleh tahu, kenapa Sesil harus pindah ke kampung halamannya?" tanya Umi sedikit penasaran.


"Kata Sesil, ayahnya sudah di PHK dari tempat kerjanya, jadi mereka memutuskan untuk pulang kampung, karena ayahnya sudah tidak mampu untuk bayar sekolah Sesil," jelas Zaf. Ternyata sedetail itu Sesil curhat pada Zafran.


"Oh, begitu... Ya Umi Do'ain semoga kelak kalian bisa bertemu kembali," Do'a wanita itu yang segera diaminkan oleh Zafran.


Hanya tiga jam perjalanan, kini mobil yang dikendarai oleh Zico sudah memasuki kota dimana tempat sang istri menuntut ilmu.


"Sayang, bagaimana jika kamu tinggal di apartemen saja?" tawar Zi pada wanita itu.


"Nggaklah, Mas, aku mau ngekost saja, karena bisa cari dekat dengan kampus. Kalau di APA, nanti takut terkena macet jika aku ada makul pagi," jelas wanita itu memberi alasannya.


"Kamu beneran nggak mau di apartemen saja?" tanya Zi meyakinkan sekali lagi.


"Bener, Mas. Aku lebih nyaman di kost. Kita langsung ke alamat tempat aku ngekost dulu ya. Mana tahu masih ada yang kosong disana," ujar Zahira.


"Baiklah kalau begitu." Zico mengikuti perintah istrinya untuk segera menuju alamat yang ia minta.


Sesampainya di sana, Zahira segera menemui Ibu kost. Dan tentu saja kehadiran Zahira membuat Bu kost terlonjak senang, karena gadis itu terkenal begitu baik dan ramah.


"Assalamualaikum, Bu!" ucap Zahira.


"Wa'alaikumsalam... Zahira! Masya Allah ini beneran kamu 'kan?" tanya Bu kost menatap tak percaya karena bisa bertemu dengan wanita itu kembali.


"Ternyata Ibu masih ingat sama aku," ujar Zahira sembari menyalami tangan wanita itu.


"Tentu saja Ibu ingat. Meskipun Ibu tidak melihat wajahmu, tetapi suaramu saja Ibu sudah tahu," ujar Bu kost.


"Apakah masih ada kamar yang kosong, Bu?"


"Kamu mau ngekost lagi? Dan selama ini kamu kemana saja, Zahira?" tanyanya heran.


"Ah, maaf jika saat itu aku pergi tanpa memberi Ibu kabar. Oya, Bu, kenalkan ini suami aku, dan ini anakku." Zahira memperkenalkan Zico dan Revan pada Ibu kostnya.


Zico menyalami wanita itu dengan ramah, dan di ikuti oleh Zaf tak mau ketinggalan.


Akhirnya wanita baya itu membawa tamunya untuk masuk terlebih dahulu. Mereka ngobrol di dalam dan Alhamdulillah masih ada kamar kost yang kosong untuk di tempati oleh Zahira nantinya.


Setelah mendapatkan kunci, Zahira dan Zico segera menuju kamar kostnya, keluarga kecil itu berbersih terlebih dahulu agar Zahira menempati dengan nyaman.


Jangan lupakan sibocil Zaf yang tampak begitu semangat membantu Umi dan Abinya.


Selesai berberes, Zico membawa anak dan istrinya untuk makan siang di luar. Rencananya setelah makan mereka langsung menuju kampus untuk menemui pihak kampus. Apa saja yang harus di lakukan sebelum Zahira kembali mengejar ketertinggalannya.


Akhirnya sore hari pasangan itu kembali ke kost-an setelah selesai dengan urusan mereka. Dan besok wanita itu sudah bisa kembali mengikuti kegiatan di kampusnya.


Bersambung....


Happy reading 🥰