Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Kenapa jahil sekali?


Zahira segera beranjak keluar dari kamar mandi. Wanita itu benar-benar dibuat tak berkutik oleh sang suami.


Sementara itu Zico tersenyum puas melihat ekspresi sang istri yang ketakutan. "Hng, diajak enak-enak nggak mau kamu, Sayang," gumamnya dengan senyum jahil.


"Ck, Mas Zico kenapa jahil banget sih. Padahal hanya pengen nemani dia mandi," kesal wanita itu sembari menyediakan pakaian ganti untuk suaminya.


Hanya lima belas menit Zico sudah keluar dari kamar mandi. Ia melihat istrinya duduk dengan wajah memberengut.


Pria itu tersenyum mendekati. "Kenapa wajah kamu seperti itu? Masih pengen?" ucapnya yang membuat mata Zurra terbelalak saat lelaki itu dengan santai membuka handuk di depannya.


"Mas Zi! Kenapa kamu nakal sekali!" pekik wanita itu sembari memukul suaminya yang ingin mengecup bibirnya.


"Hahaha... Ayolah, Sayang. Bukannya kamu sangat senang nempel terus sama aku," ucap Zico dengan kekehannya.


"Mas, kamu nggak usah macam-macam, aku panggil Mama ya!" ancam Zahira.


"Hahah... Itu aja ngadu. Dasar anak kecil," ejek Zico sembari mencuri kecupan di kedua pipi wanita itu dengan gemas.


"Biarin, habisnya kamu nakal banget!"


"Masih ingin ikut aku?" tanya Zi. Sebenarnya Pria itu sengaja melakukannya agar wanita itu jera.


"Masih lah," jawab Zahira santai.


"Dasar bandel kamu." Zico hanya menggelengkan kepala saat mendengar jawaban istrinya.


Zahira tak menyahut, ia segera meninggalkan lelaki itu. Zahira yang sudah rapi dan cantik, ia bergabung dengan kedua mertuanya yang sudah berada di ruang makan.


"Pagi, Mama, Papa!" seru wanita hamil itu sembari menduduki kursi bagiannya.


"Pagi, Sayang. Mana suami kamu?" tanya Mama.


"Masih pake baju, Ma," jawab Zahira sembari mengisi tempat bekal untuk ia bawa menemani suaminya saat sidang.


"Kamu mau ikut Zi lagi?" tanya Mama.


"Iya dong, Ma," jawab Zahira tersenyum senang.


"Za, kenapa kamu tidak dirumah saja istirahat. Mama takut nanti kamu kelelahan, karena kandungan kamu sudah menunggu hari," ucap Mama khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Mama. Jangan khawatir ya," jawab wanita itu sembari mengecup pipi sang Ibu mertua.


"Kamu bandel ya." Mama menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, Ma. Biarkan saja. Zahira ini sama seperti kamu, dulu saat kamu hamil Zi juga sangat manja," timpal Papa membela anak menantu satu-satunya.


"Hah, Papa malah mendukung. Mama itu hanya khawatir dengan kondisi Zahira yang sudah kandungan besar begini."


"Tahu nih, Papa," sambung Zico yang sudah berada disana. Pria itu menatap istrinya tampak tersenyum senang karena mendapat belaan dari Papa.


"Selagi Zahira masih bisa menjaga kandungannya tidak apa-apa," jawab Papa yang dibalas anggukan oleh Zahira.


"Terimakasih Papa mertuaku yang baik hati," ucap wanita itu tersenyum sumringah.


"Awas kalau pecicilan ya," ucap Zi memperingati.


"Eh, mana ada aku pecicilan. Aku itu duduk anteng dengerin kamu mengadili para tersangka," jawab wanita itu.


"Apaan, aku tuh sering tidak fokus saat melihat kamu tidak ada di tempat duduk kamu. Ternyata malah asyik makan rujak di depan," ucap lelaki itu jengkel karena perangai istrinya.


"Hehe, janji nggak gitu lagi. Nanti kalau aku mau beli sesuatu aku chat kamu." Wanita itu cengengesan tanpa dosa.


"Awas ya kalau gitu lagi, besok aku tidak akan pernah mau bawa kamu. Aku akan kunci kamu di kamar," ancam Zi tak main-main.


"Sadis banget ancamannya, Mas," rutu wanita itu sembari menikmati makanannya.


"Biarin," jawab Zi acuh.


Hari ini Zico sengaja nyetir sendiri. Diperjalanan Pria itu hanya diam saja. Dan tentu saja membuat wanita hamil itu kembali bertingkah.


"Mas, kamu kok diam saja dari tadi?" tanyanya menatap kesal.


"Biasa aja, Dek," jawab Zi masih fokus mengemudi.


"Kamu pasti tidak suka karena aku selalu mengikuti kamu 'kan?" tuduhnya.


"Enggak, Sayang. Aku itu hanya khawatir dengan kondisi kamu sekarang. Bagaimana jika nanti kamu tiba-tiba ingin melahirkan, sementara aku sedang memimpin sidang," jelas Zico agar wanitanya paham dengan segala kecemasannya.


"Tenang saja, Mas. Aku tadi sudah bisikin sama baby kita, aku sudah bilang begini. Dek, jangan keluar dulu ya, tunggu nanti saat Abi sudah cuti baru keluar," ucap Zahira yang membuat Zico gemas.


"Kamu kenapa ngeyelan sekarang, Dek? Aku benar-benar gemas sama kamu," balas Zi.


"Hehe... Maafkan aku paksu, sungguh aku tidak bisa berpisah denganmu walau sedetik saja," celoteh wanita itu sembari bergelayut di lengan suaminya.


"Untung aja cinta, kalau nggak udah aku gigit kamu," timpal lelaki itu sembari mengecup kening sang istri.


Tak berselang lama, saat mobil ingin memasukkan perkarangan pengadilan negeri, tetiba Zahira merasakan sesuatu di perutnya sehingga tidak nyaman.


"Akwhh! Perut aku, Mas," desisnya menahan sakit.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Zi dengan cemas.


"Nggak tahu, Mas, perut aku tiba-tiba sakit. Aahh! Sakit banget, Mas!" keluh Zahira semakin kuat.


"Apakah kamu ingin melahirkan?" tanya Zi semakin cemas.


"Se-sepertinya iya, Mas," rintihannya sembari mencengkeram lengan Zico dengan kuat.


"Ayo kita ke RS sekarang!" Zico memutar arah mobilnya untuk kembali keluar. Ia menambah kecepatan agar segera sampai.


"Mas, sakit banget!" pekik Zahira menahan sakit yang semakin luar biasa.


"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai." Zico mendahului kendaraan yang lainnya dengan membunyikan klakson berulang kali agar mereka memberi jalan.


Tak berselang lama mobilnya sudah berada di di teras IGD. Zico dan petugas RS membantu Zahira untuk masuk kedalam ruangan itu.


Zahira segera mendapatkan penanganan. Tentu saja Zico selalu setia mendampingi sang istri.


"Bagaimana, Dok? Apakah istri saya akan melahirkan?" tanya Zi dengan cemas.


"Benar, Pak. Istri anda akan segera melahirkan. Ini sudah buka delapan, kami akan membawa ke ruang bersalin," ucap Dokter umum yang menangani.


"Apakah perlengkapan bayi sudah di sediakan?" tanya mereka.


"Ah, sebentar saya akan menghubungi keluarga untuk mengantarkan." Zico ingin keluar sebentar untuk menghubungi Mama, namun Zahira meraih tangan suaminya.


"Mas, jangan tinggalkan aku. Temani aku disini," ucapnya tampak sedih sembari menahan rasa sakit.


Zico mengusap kepala Zahira, lalu mengecup keningnya dengan lembut. "Aku akan mendampingi kamu, Sayang. Sebentar ya, Mas cuma mau beritahu Mama,"


Zahira mengangguk pelan. Ia tidak mau di tinggalkan lelaki itu, tak ingin melahirkan sendiri lagi seperti dulu saat ia melahirkan Zafran tanpa ada suami yang mendampingi.


Zico segera menghubungi Mama untuk memberi kabar bahwa Zahira akan segera melahirkan, dan tentu saja membuat wanita baya itu ikut kelimpungan.


"Baiklah, Nak. Mama akan segera ke RS."


"Baik, Ma. Aku tunggu. Cepat ya Ma, karena bayinya akan segera lahir." Zico segera memutus sambungan telepon selulernya.


Pria itu bergegas kembali masuk kedalam ruang bersalin dengan perasaan tak menentu.


Bersambung....


Happy reading 🥰